<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments for Pergerakan Kebangsaan</title>
	<atom:link href="http://www.pergerakankebangsaan.org/?feed=comments-rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pergerakankebangsaan.org</link>
	<description>Membangun Keberanian Mengalah Keraguan</description>
	<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 16:15:59 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
		<item>
		<title>Comment on Dokumentasi by Dedy Mardiansyah</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?page_id=202#comment-7336</link>
		<dc:creator>Dedy Mardiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 04:03:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?page_id=202#comment-7336</guid>
		<description>Salam Pergerakan! Saya seorang tenaga pengabdi di sebuah pesantren di daerah lumbung pangannya Sumatera Selatan, yaitu Kabupaten OKU Timur. Saya mau tanya, di daerah (distrik) saya sudah ada apa belum anggota Pergerakan Kebangsaan (PK)? Kalau sudah saya ta tolong dikirimkan kontaknya. Kalau belum mohon kiranya saya di daftarkan sebagai Anggota PK. Atau tolong kontak saya di 085268867906 / 085664901662 / 082881415719. Sekian dan terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Pergerakan! Saya seorang tenaga pengabdi di sebuah pesantren di daerah lumbung pangannya Sumatera Selatan, yaitu Kabupaten OKU Timur. Saya mau tanya, di daerah (distrik) saya sudah ada apa belum anggota Pergerakan Kebangsaan (PK)? Kalau sudah saya ta tolong dikirimkan kontaknya. Kalau belum mohon kiranya saya di daftarkan sebagai Anggota PK. Atau tolong kontak saya di 085268867906 / 085664901662 / 082881415719. Sekian dan terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on NKRI vs NNRI by Prihandoyo Kuswanto</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=189#comment-7332</link>
		<dc:creator>Prihandoyo Kuswanto</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 18:39:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=189#comment-7332</guid>
		<description>Beranika kita mengumandangkan bahwa 17 Agustus 2010 ,sebagai Hari Kembali ke Titik NOL. dimana memperingati hari yang bersejarah itu setelah 65 tahun merdeka Indonesia telah diselewengka. oleh sebab itu maka harus kembali ke TITIK NOL , dalam arti kembali pada UUD 1945, dan Cita-cita Proklamasi.hanya dengan jalan mengumandangkan REFERENDUM kembali ke UUD 1945 negara ini akan selamat .Jika memang PERGERAKAN KEBANGSAAN ini bukan hanya slogan tentu nya akan memandegani ide REFERENDUM kembali ke UUD 1945 dan Proklamasi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Beranika kita mengumandangkan bahwa 17 Agustus 2010 ,sebagai Hari Kembali ke Titik NOL. dimana memperingati hari yang bersejarah itu setelah 65 tahun merdeka Indonesia telah diselewengka. oleh sebab itu maka harus kembali ke TITIK NOL , dalam arti kembali pada UUD 1945, dan Cita-cita Proklamasi.hanya dengan jalan mengumandangkan REFERENDUM kembali ke UUD 1945 negara ini akan selamat .Jika memang PERGERAKAN KEBANGSAAN ini bukan hanya slogan tentu nya akan memandegani ide REFERENDUM kembali ke UUD 1945 dan Proklamasi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Dokumentasi by basar siahaan</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?page_id=202#comment-7331</link>
		<dc:creator>basar siahaan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 12:13:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?page_id=202#comment-7331</guid>
		<description>bung o'conroy emailku : basarshn@gmail.com.
salam. merdeka !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bung o&#8217;conroy emailku : <a href="mailto:basarshn@gmail.com">basarshn@gmail.com</a>.<br />
salam. merdeka !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Di Depan Makam Para Pahlawan by greg</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=800#comment-7330</link>
		<dc:creator>greg</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 11:02:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=800#comment-7330</guid>
		<description>Itu namanya ”togel teroris” .... Hotel JW Marriot lan Hotel Ritz Carlton Jakarta diledakkan tanggal 17 – 7 – 2009, kalau dijumlah jadi: 1+7+7+2+0+0+9=26, terus 2+6 = 8. 
Penyergapan teroris di Temanggung, mulai 7-8-2009 (7+8+2+0+0+9=26, terus 2+6=8) dan selesai tanggal 8-8-2009 (8+8+2+0+0+9=27, terus 2+7=9).
Coblosan Presiden 8-7-2009 terus 8+7+2+0+0+9=26, terus 2+6 = 8
Pasangan SBY-Boediono, dapat suara 73.874.562, terus 7+3+8+7+4+5+6+2=42, terus 4+2=6, karena pasangan nomer urut 2 maka 6+2 = 8 ….
Tanggal lahir Boediono 25 – 2 (Februari) – 1943, Dijumlah, 25+2+1943=1970, terus 1+9+7+0 = 17, terus 1+7 = 8
Dst- he he he …. Salam .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Itu namanya ”togel teroris” &#8230;. Hotel JW Marriot lan Hotel Ritz Carlton Jakarta diledakkan tanggal 17 – 7 – 2009, kalau dijumlah jadi: 1+7+7+2+0+0+9=26, terus 2+6 = 8.<br />
Penyergapan teroris di Temanggung, mulai 7-8-2009 (7+8+2+0+0+9=26, terus 2+6=8) dan selesai tanggal 8-8-2009 (8+8+2+0+0+9=27, terus 2+7=9).<br />
Coblosan Presiden 8-7-2009 terus 8+7+2+0+0+9=26, terus 2+6 = 8<br />
Pasangan SBY-Boediono, dapat suara 73.874.562, terus 7+3+8+7+4+5+6+2=42, terus 4+2=6, karena pasangan nomer urut 2 maka 6+2 = 8 ….<br />
Tanggal lahir Boediono 25 – 2 (Februari) – 1943, Dijumlah, 25+2+1943=1970, terus 1+9+7+0 = 17, terus 1+7 = 8<br />
Dst- he he he …. Salam .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Di Depan Makam Para Pahlawan by wahyu</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=800#comment-7329</link>
		<dc:creator>wahyu</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 01:52:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=800#comment-7329</guid>
		<description>7 Agustus 2010, 7-8-2010 = 7+8+2+0+1+0 = 18, kemudian 1+8 = 9

17 Juli 2009, 17-7-2009 = 1+7+7+2+0+0+9 = 26, kemudian 2+6 = 8

22 Januari 2010, 22-1-2010 = 2+2+1+2+0+1+0 = 8

kenapa jadi seperti togel yah????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>7 Agustus 2010, 7-8-2010 = 7+8+2+0+1+0 = 18, kemudian 1+8 = 9</p>
<p>17 Juli 2009, 17-7-2009 = 1+7+7+2+0+0+9 = 26, kemudian 2+6 = 8</p>
<p>22 Januari 2010, 22-1-2010 = 2+2+1+2+0+1+0 = 8</p>
<p>kenapa jadi seperti togel yah????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Pendapat Anda by Krd jember</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?page_id=200#comment-7325</link>
		<dc:creator>Krd jember</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 12:09:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?page_id=200#comment-7325</guid>
		<description>SANTRI MENYIKAPI GLOBALISASI
Oleh : H. Abd. Hamid Wahid, M.Ag. 

Suatu kenyataan sosial-budaya (globalisasi) yang sudah di pridiksi oleh banyak futurolog (ahli tentang masa depan), kini telah benar-benar terwujud. Globalisasi atau dunia tanpa batas, terutama dalam sekat-sekat wilayah (teritorial) dan komunikasi, telah manifes (tampak) dengan kekuatan serba cepat dan serba canggih. Kecepatan dan kecanggihan kekuatan masyarakat (manusia) abad ini, di dasarkan pada dua hal yang tak dapat di pisahkan, ketika diciptakan sebagai seperangkat mekanik maupun strategi untuk mencapai tujuannya. 

Tujuan yang dimaksud adalah, terciptanya suatu era baru secara mendunia yang tentu saja membutuhkan berbagai syarat mendasar dan realistis. Era baru yang dimaksud, yaitu lahirnya pasar ekonomi global atau pasar terbuka (global market). Di sebut pasar terbuka, disini karena mengacu pada beberapa prinsip terbuka pula, termasuk pembentukan-pembentukan wilayah (area bebas visa dan bebas bea-cukai) yang sering kita dengar dengan istilah “pasar bebas”, hal mana yang sudah dipersiapkan untuk Asia adalah Asia Free Trade Area (AFTA), besar kemungkinan beberapa tahun lagi akan diberlakukan. 

Terkait dengan momentum-momentum yang bersifat internasional, di satu sisi merupakan indikasi-indikasi kemajuan yang mendorong terciptanya kompetisi terbuka antar negara-negara yang masing-masing memiliki karakter dan keberpihakan dengan persamaan wawasan strategis jangka panjang maupun kepentingan jangka pendek. Di sisi lain merupakan ancaman (threat) tertama bagi negara-negara yang masih (terus-menerus) mengalami krisis identitas, seperti kasus Negara Palestina-Israel, India-Pakistan, Afganistan dan negara-negara kawasan teluk lainnya, yang belum terukur hingga kapan mereka dapat keluar dari krisis. 

Namun yang jelas, saat ini, selain dua kemungkinan positif dan persoalan-persoalan krisis tersebut. Tampaknya, globalisasi terus berjalan begitu saja, seperti di bukanya kran informasi dan komunikasi melalui jaringan internet dan jaringan selular lainnya, kian hari kian menemukan konsumennya. Dan oleh berbagai pihak, kenyataan tersebut telah dirasakan fungsi atau manfaatnya. Para Futurolog bilang: kenyataan ini susah kita tolak secara ekstrem, sebagaimana kekhawatiran banyak negara yang masih berkembang, seperti akan memperkeruh; paradox atau benturan-benturan antar peradaban maupun antar budaya (clash of civilizations and clash of cultures). Melainkan yang bisa kita lakukan adalah reserve dan solusi terhadap masalah-masalah baru yang diakibatkannya. Lebih dari itu, kita harus punya daya-cara baca maupun cara membangun sikap kritis, tanpa berprasangka buruk terlebih dahulu, melainkan harus lebih meningkatkan persiapan sumberdaya manusia (SDM) secara memadai, yang pada gilirannya bisa dipastikan kita dapat mengambil/menciptakan pula peluang-peluang strategis itu sendiri. 

Dalam konteks yang lebih mikro, pemahaman terhadap globalisasi ini, terkait dengan penataan ruang-wilayah di Indonesia, yang menjadi infrastruktur paling signifikan untuk suatu keberperanan masyarakat lokal dalam tatananan makro (global). Adalah masyarakat Pesantren (santri), yang memiliki basis kultur dan tradisi yang sudah mengakar sejak lama. Oleh karena itu, masyarakat Pesantren (santri) memiliki nilai lebih (urgensi) ke depan, untuk dapat merespon secara positif, dengan segi pemahaman-pemahaman yang memiliki arah yang jelas. 

Yang menjadi pertanyaan kini adalah, bagaimanakah pesantren (santri) meletakkan posisinya pada perkembangan di dalam Milenium III [1] di mana situasi persaingan global akan semakin kompleks dan batas-batas global, seperti batas teritorial, negara, bangsa, dan budaya seakan-akan lenyap. Dalam tatanan dunia baru tersebut, para kapitalis global yang liberal akan mengerumuni suatu kawasan di dalam dusun global ketika mereka membayangkan sebuah keuntungan besar, dan mereka akan segera angkat kaki ketika tidak ada lagi sesuatu yang dapat diharapkannya di sana. Mereka tak ubahnya seperti kaum nomad di masa lalu, yang merasa tidak memerlukan batas teritorial, batasnegara, atau batas kebudayaan. 

Jacques Attali di dalam bukunya Millenium (1997), mengatakan bahwa di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh setidak-tidaknya tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun terutama berdasarkan prinsip kedamaian. Kedua, adalah kekuatan militer, yang dibangun berdasarkan prinsip kekuasaan. Ketiga, adalah kekuatan pasar, yang dibangun terutama berdasarkan prinsip keuntungan. Menurutnya, dalam pertarungan di era global ini kekuatan pasar pada akhirnya akan tetap menjadi pemenangnya. Asumsi di atas barangkali ada benarnya walaupun tidak seluruhnya tepat, karena di era global di milenium ke tiga, yang dalam hitungan waktu, baru akan dimulai 1 Januari 2001 nanti, pada hakikatnya adalah mendunianya persaingan bebas yang didasarkan pada penguasaan kapital. Runtuhnya ideologi komunis di awal 1990-an sesungguhnya adalah naiknya kapitalisme ke panggung dunia dalam format yang diperbaharui. 

Sementara di satu sisi, justeru menurut beberapa futrolog lain, semisal John Naisbit dalam Megatrend 2000 (1996), justeru munculnya pola global akan juga menimbulkan kebangkitan agama pada milenium ke tiga, sebagai respon bagi kejenuhan dan kekeringan spiritual manusia. Artinya bahwa dalam kegalauan manusia melakukan persaingan yang keras di gelanggang pasar, aspek spiritualitas agama mempunyai peran untuk mengendalikan dan menyuburkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang terdistorsi. Globalisasi dalam bidang ekonomi tersebut akhirnya akan merambah kepada bidang-bidang lain seperti kebudayaan, politik, ideologi, dan lain-lain. 
Bahkan juga dalam beberapa sektor, globalisasi telah mendahului percepatan laju globalisasi ekonomi. Di dalam teknologi informasi misalnya, sekarang kita telah melihat bahwa teknologi komputer dengan dunia maya-nya (cyber space) di Internet, telah membentuk suatu komunitas manusia tersendiri yang telah lepas dari sekat-sekat negara dan batas-batas geografis, di mana informasi dari belahan dunia manapun dapat sampai ke belahan dunia lainnya dalam waktu segera informasi tersebut dimasukkan ke internet.Sungguhpun tantangan terbesar adalah tantangan globalisasi ekonomi, akan tetapi untuk mampu mempertahankan eksistensinya suatu negara atau masyarakat tentunya bukan hanya sektor-sektor ekonomi dan pelaku pasar saja yang aktif. Akan tetapi peran serta seluruh komponen masyarakat dan bangsa sangat diperlukan. Bahkan menurut Peter F Drucker (1998) dan Frans Magnis Suseno, globalisasi dianggap hanya dapat dikuasai apabila civil society, lewat LSM dan sebagainya, memainkan peranan lebih besar. (Kompas Online 16 Maret 1998 dan Opini Kompas Cyber Media 15 April 1999). 

Peranan seluruh komponen masyarakat yang dimaksud diatas adalah bagaimana kita mampu meletakkan diri kita untuk memiliki (a) daya tahan dalam percaturan global tersebut dan (b) kemampuan untuk berkompetisi dalam tatanan tersebut. Kedua hal diatas tentunya sangat erat kaitannya dengan kwalitas sumber daya manusia untuk memiliki wawasan dan informasi perkembagan global dalam segala aspeknya, pengetahuan yang luas dan memadai didalam bidang yang ditekuni dan sekaligus juga keterampilan (Skill) yang didasarkan pada wawasan dan pengetahuan diatas. 
Pesantren (santri) sebagai institusi yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dengan watak dan karakter yag akomodatif dengan budaya lokal serta karakter religiusnya, sesungguhnya mempunyai peluang peran yang sangat vital dalam perkembangan globalisasi di millenium III kini. Hal ini sekurang-kurangnya karena tiga hal: 

1. Pesantren selama ini bergerak untuk memberdayakan masyarakat sipil (civil society) khususnya di dalam mempersiapkan peningkatan kualitasnya melalui jalur-jalur pendidikan secara formal maupun non formal termasuk juga melakukan penyiapan kader-lader pemimpin masyarakat. Hal ini memberikan peluang yang besar bagi keberperanan NU karena sektor pemberdayaan SDM yang ditekuni oleh NU dan pesantren adalah merupakan sektor primadona bagi kemampuan suatu bangsa untuk memiliki daya tahan dan daya saing yang baik dalam menghadapi globalisasi; 

2. Karakter keagamaan sebagai watak dasar NU dan pesantren, memberikan peluang yang besar terhadap keberperanan keduanya karena sebagaimana dinyatakan oleh Naisbitt dalam Megatrend 2000 (1990), keagamaan justeru akan semakin mengalami perkuatan nantinya sebagai kebutuhan masyarakat global ; 

3. Kelekatan karakter budaya lokal dengan NU dan pesantren. Peluang dalam hal ini muncul karena justeru semakin dunia menyatu dalam kesatuan global, justeru warna dan karakter lokal akan semakin menguat dan manusia-manusia di belahan dunia akan semakin memperhatikan untuk mempertahankan ciri lokalitasnya. (John Nisbit, dalam Global Paradox, 1994) 

Sungguhpun demikian, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pesantren (santri) dalam kaitan milenium III dalam kerangka melakukan percepatan pembangunan kualitas SDM warganya antara lain dengan penyelarasan antara struktur dan kultur, profesionalitas dan spesialisasi, serta pengembangan wacana. 
Pengembangan wacana yang dimaksud adalah, pengembangan wacana fiqh sebagai wacana yang dominan mewarnai dan membentuk pola pemikiran NU pesantren. Sebagaimana kita ketahui, di dalam khazanah wacana NU dan pesantren, kitab fiqh mempunyai peran kunci dan kadar penguasaan tingkat kitab fiqh tertentu "berfungsi" menentukan tingkat/derajat penguasaan keagamaan seseorang, sementara disiplin ilmu-ilmu keagamaan lain seperti aqidah dan lain-lain menjadi pelengkap atau penunjang. Pada perkembangannya, fiqh yang ada sekarang sesungguhnya telah mengalami reduksi yang sangat drastis. Lebih-lebih apabila dikembalikan kepada masa Nabi, kata fiqh pada saat itu adalah berarti penguasaan terhadap seluruh ajaran agama sehingga seorang faqih sangat terpuji karena telah menguasai semua ajaran agama secara mendalam, seperti terlihat dalam sabda Nabi yang artinya: "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, ia dijadikan orang yang menguasai pengertian yang sangat mendalam dalam ilmu agama." Begitu pula kata tafaqquhyang dimaksud dalam firman Allah yang menganjurkan sebagian dari orang hendaknya melakukan tafaqquh fi al-Din yang artinya melakukan pendalaman dan penguasaan terhadap ajaran agama. 

Kemudian fiqh berkembang dan bidang-bidang kajian keagamaan ikut berkembang pula, maka pada masa Abu Hanifah fiqh dibagi dua ada yang disebut al-Fiqh al-Akbar yang memuat bahasan-bahasan tentang aqidah dan keimanan, adapula yang disebut al-Fiqh al-Ashghar yang memuat kajian tentang hukum-hukum fiqh, seperti wujud fiqh pada masa sekarang, sedangkan bidang kajian yang lain muncul dengan namanya sendiri seperti ilmu tasawuf, akhlak dan sebagainya. Sangat disayangkan bahwa setelah fiqh berubah seperti yang dikemukakan di atas yang berkembang sekarang hanyalah fqh dalam arti kedua, sedang dalam arti yang pertama dan ilmu-ilmu lain yang berkembang pada masa abad I H. dan terutama pada masa keemasan Islam yang waktu itu ragam bidang kajian keilmuan Islam sangat luas kesemuanya itu sudah tidak diperhatikan lagi kecuali fiqh dalam arti yang disebut terakhir. 

Maka keinginan untuk memperkaya wacana kitab kuning kiranya perlu mengembalikan bidang kajian kitab kuning kepada bidang kajian yang sangat beraneka ragam pada masa abad pertama dan masa keemasan Islam yang sempat memunculkan ilmuwan-ilmuwan dalam berbagai bidang dan tidak sedikit menyumbangkan hasil kajiannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, sehingga fiqh tidak seperti yang ada sekarang dan dikaji di pesantren di mana hanya direduksi hanya kitab-kitab madzhab Syafi'i [2] dan hal itu kurang lebih hanya terbatas pada tradisi kajian terhadap matan (teks karya asal), mukhtashar (summary, ringkasan), syarh (komentar) dan hasyiyah (komentar yang lebih luas terhadap syarh) di dalam madzhab Syafi'i. Reduksi tersebut lebih-lebih dijustifikasi dengan hadirnya pembatasan terhadap kitab-kitab yang boleh dibaca karena kualifikasinya memenuhi syarat (mu'tabarah) yang sampai saat ini belum jelas rujukan kriteria ataupun sumber munculnya pembatasan tersebut. 

Model dan tradisi yang berkembang ini tentunya membiasakan kalangan pesantren untuk terfokus pada pemahaman teks dan pengembangan pemahaman teks fiqh dalam kitab-kitab kuning. Sedangkan bagaimana aplikasi pemahaman tersebut dalam realitas empirik, dan keutuhan perpektif permasalahan dari sudut selain fiqh tentunya menjadi permasalahan tersendiri yang selama ini belum mendapat perhatian. Ini misalnya terlihat di dalam tradisi kajian yang sangat berkembang di pesantren selama ini, di mana pengkajian masalah yang bahkan dilakukan secara kolektif di dalam sebuah forum (bahtsul masa'il) adalah sekedar mencari rujukan tekstual bagi kasus yang ditemui. 

Di era tahun 1980-an akhir dan era 1990-an ini sesungguhnya telah ada upaya-upaya termasuk dari sebagian kalangan pesantren (santri) sendiri, termasuk NU untuk melihat permasalahan-permasalahan yang muncul ke permukaan tidak sekedar dengan perspektif fiqh, tetapi dengan dimensi-dimensi lain seperti dimensi teologis, politis, ekonomis, dan historis, bahkan dengan meminjam wacana yang selama ini oleh kaum pesantren dianggap masuk dalam kategori "ilmu umum" seperti sosiologi, psikologi dan ilmu kedokteran. Akan tetapi tradisi ini belum dapat tersosialisasi secara merata kepada seluruh kalangan pesantren dan bahkan cenderung untuk tabayyun (klarifikasi) di dalam sesuatu masalah yang membutuhkan dukungan disiplin ilmu lain selain fiqh, sedang pembahasannya masih tetap dalam konteks fiqh, antara lain seperti hukum bursa efek, operasi ganti kelamin, penggunaan kontrasepsi, hukum kepala negara wanita, euthanasia, dan lain-lain. 

Pada era yang sama, pemahaman pintu ijtihad yang selama ini dianggap tertutup di kalangan pesantren juga telah mengalami perkembangan dengan melakukan langkah-langkah yang masuk dalam koridor ijtihad seperti taqlid manhaji (mengikuti suatu imam dengan menggunakan metode serta instrumen ijtihad dari imam tersebut), men-tarjih beberapa pendapat yang ada baik di dalam suatu lingkup pendapat imam tertentu yang ini memerlukan pengerahan kemampuan pikiran semacam ijtihad dalam tingkat permulaan (ijtihad bi al-madzhab), bahkan yang sudah dilakukan NU di dalam salah satu MUNAS-nya telah memutuskan sistem pengambilan keputusan secara manhaji sekalipun hampir belum pernah digunakan apalagi disosialisasikan di kalangan pesantren-pesantren NU. 

Hal terpenting dalam perkuatan wacana kitab kuning di pesantren dan NU adalah pengembangan lingkup kajian dengan tidak hanya memfokuskan pada wacana fiqh dan memperluas pada dimensi-dimensi wacana keislaman lainnya seperti yang terjadi pada masa keemasan Islam. Tidak kalah pentingnya dengan hal tersebut di atas, adalah pengembalian metode-metode pengajaran keilmuan yang dulu tidak monoton seperti yang menjadi kecenderungan di lingkungan pondok pesantren dewasa ini. 

Para ulama dahulu, di dalam menyampaikan ilmunya kepada santri menggunakan metode yang bervariasi, yakni bandongan, weton, dan sorogan yang sekarang, nama-nama tersebut masih tetap menjadi sebutan di lingkungan pondok pesantren yang pelaksanaannya hanya yang pertama saja, yakni bandongan. Ini berakibat hilangnya dorongan terhadap tingkat kreatif dan sikap kritis dari para santri karena pengaliran ilmu dari kiai ke murid hanya berjalan sepihak. Padahal, apabila digunakan sorogan santri lebih aktif dan sikap kritis mereka lebih berkembang. Imam Syafi'i sendiri dalam penyampaian ilmunya sering dilakukan dengan mendialogkan materi bahasan dengan muridnya seperti yang terjadi terhadap santrinya bernama Rabi'. 
Memang pada beberapa pesantren diadakan klub musyawarah santri sebagai wahana untuk mendiskusikan pelajaran yang telah diberikan oleh kiai untuk lebih menguasai dan memperkaya materi yang telah diberikan oleh kiai pada saat mengaji, namun ini hanya ada di beberapa pesantren dan nampaknya kurang efektif dan tidak efisien, sehingga memerlukan waktu yang berlama-lama bagi penguasaan sesuatu kitab tertentu. 

Disamping itu, praktik penerapan kurikulum pesantren yang selama ini lebih mengacu pada kitab, juga perlu mendapat perhatian, misalnya dengan membuat kurikulum yang mengaju pada tema bahasan (maudlu'). 
Paiton 

Penulis, 

Keterangan 
[1] Milenium: satuan waktu 1000 tahun 
[2] Ini barangkali erat kaitannya dengan perkembangan munculnya perkuatan madzhab oleh penganut-penganutnya di Timur Tengah, sebagai kiblat perkembangan Islam Indonesia, pada sekitar abad III H. dengan munculnya madrasah-madrasah di bidang madzhab tertentu seperti madrasah Uhadiyah Tsuna'iyah tsulatsiyah dan ruba'iyah (madrasah yang mengkaji satu, dua, tiga, atau empat madzhab</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SANTRI MENYIKAPI GLOBALISASI<br />
Oleh : H. Abd. Hamid Wahid, M.Ag. </p>
<p>Suatu kenyataan sosial-budaya (globalisasi) yang sudah di pridiksi oleh banyak futurolog (ahli tentang masa depan), kini telah benar-benar terwujud. Globalisasi atau dunia tanpa batas, terutama dalam sekat-sekat wilayah (teritorial) dan komunikasi, telah manifes (tampak) dengan kekuatan serba cepat dan serba canggih. Kecepatan dan kecanggihan kekuatan masyarakat (manusia) abad ini, di dasarkan pada dua hal yang tak dapat di pisahkan, ketika diciptakan sebagai seperangkat mekanik maupun strategi untuk mencapai tujuannya. </p>
<p>Tujuan yang dimaksud adalah, terciptanya suatu era baru secara mendunia yang tentu saja membutuhkan berbagai syarat mendasar dan realistis. Era baru yang dimaksud, yaitu lahirnya pasar ekonomi global atau pasar terbuka (global market). Di sebut pasar terbuka, disini karena mengacu pada beberapa prinsip terbuka pula, termasuk pembentukan-pembentukan wilayah (area bebas visa dan bebas bea-cukai) yang sering kita dengar dengan istilah “pasar bebas”, hal mana yang sudah dipersiapkan untuk Asia adalah Asia Free Trade Area (AFTA), besar kemungkinan beberapa tahun lagi akan diberlakukan. </p>
<p>Terkait dengan momentum-momentum yang bersifat internasional, di satu sisi merupakan indikasi-indikasi kemajuan yang mendorong terciptanya kompetisi terbuka antar negara-negara yang masing-masing memiliki karakter dan keberpihakan dengan persamaan wawasan strategis jangka panjang maupun kepentingan jangka pendek. Di sisi lain merupakan ancaman (threat) tertama bagi negara-negara yang masih (terus-menerus) mengalami krisis identitas, seperti kasus Negara Palestina-Israel, India-Pakistan, Afganistan dan negara-negara kawasan teluk lainnya, yang belum terukur hingga kapan mereka dapat keluar dari krisis. </p>
<p>Namun yang jelas, saat ini, selain dua kemungkinan positif dan persoalan-persoalan krisis tersebut. Tampaknya, globalisasi terus berjalan begitu saja, seperti di bukanya kran informasi dan komunikasi melalui jaringan internet dan jaringan selular lainnya, kian hari kian menemukan konsumennya. Dan oleh berbagai pihak, kenyataan tersebut telah dirasakan fungsi atau manfaatnya. Para Futurolog bilang: kenyataan ini susah kita tolak secara ekstrem, sebagaimana kekhawatiran banyak negara yang masih berkembang, seperti akan memperkeruh; paradox atau benturan-benturan antar peradaban maupun antar budaya (clash of civilizations and clash of cultures). Melainkan yang bisa kita lakukan adalah reserve dan solusi terhadap masalah-masalah baru yang diakibatkannya. Lebih dari itu, kita harus punya daya-cara baca maupun cara membangun sikap kritis, tanpa berprasangka buruk terlebih dahulu, melainkan harus lebih meningkatkan persiapan sumberdaya manusia (SDM) secara memadai, yang pada gilirannya bisa dipastikan kita dapat mengambil/menciptakan pula peluang-peluang strategis itu sendiri. </p>
<p>Dalam konteks yang lebih mikro, pemahaman terhadap globalisasi ini, terkait dengan penataan ruang-wilayah di Indonesia, yang menjadi infrastruktur paling signifikan untuk suatu keberperanan masyarakat lokal dalam tatananan makro (global). Adalah masyarakat Pesantren (santri), yang memiliki basis kultur dan tradisi yang sudah mengakar sejak lama. Oleh karena itu, masyarakat Pesantren (santri) memiliki nilai lebih (urgensi) ke depan, untuk dapat merespon secara positif, dengan segi pemahaman-pemahaman yang memiliki arah yang jelas. </p>
<p>Yang menjadi pertanyaan kini adalah, bagaimanakah pesantren (santri) meletakkan posisinya pada perkembangan di dalam Milenium III [1] di mana situasi persaingan global akan semakin kompleks dan batas-batas global, seperti batas teritorial, negara, bangsa, dan budaya seakan-akan lenyap. Dalam tatanan dunia baru tersebut, para kapitalis global yang liberal akan mengerumuni suatu kawasan di dalam dusun global ketika mereka membayangkan sebuah keuntungan besar, dan mereka akan segera angkat kaki ketika tidak ada lagi sesuatu yang dapat diharapkannya di sana. Mereka tak ubahnya seperti kaum nomad di masa lalu, yang merasa tidak memerlukan batas teritorial, batasnegara, atau batas kebudayaan. </p>
<p>Jacques Attali di dalam bukunya Millenium (1997), mengatakan bahwa di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh setidak-tidaknya tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun terutama berdasarkan prinsip kedamaian. Kedua, adalah kekuatan militer, yang dibangun berdasarkan prinsip kekuasaan. Ketiga, adalah kekuatan pasar, yang dibangun terutama berdasarkan prinsip keuntungan. Menurutnya, dalam pertarungan di era global ini kekuatan pasar pada akhirnya akan tetap menjadi pemenangnya. Asumsi di atas barangkali ada benarnya walaupun tidak seluruhnya tepat, karena di era global di milenium ke tiga, yang dalam hitungan waktu, baru akan dimulai 1 Januari 2001 nanti, pada hakikatnya adalah mendunianya persaingan bebas yang didasarkan pada penguasaan kapital. Runtuhnya ideologi komunis di awal 1990-an sesungguhnya adalah naiknya kapitalisme ke panggung dunia dalam format yang diperbaharui. </p>
<p>Sementara di satu sisi, justeru menurut beberapa futrolog lain, semisal John Naisbit dalam Megatrend 2000 (1996), justeru munculnya pola global akan juga menimbulkan kebangkitan agama pada milenium ke tiga, sebagai respon bagi kejenuhan dan kekeringan spiritual manusia. Artinya bahwa dalam kegalauan manusia melakukan persaingan yang keras di gelanggang pasar, aspek spiritualitas agama mempunyai peran untuk mengendalikan dan menyuburkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang terdistorsi. Globalisasi dalam bidang ekonomi tersebut akhirnya akan merambah kepada bidang-bidang lain seperti kebudayaan, politik, ideologi, dan lain-lain.<br />
Bahkan juga dalam beberapa sektor, globalisasi telah mendahului percepatan laju globalisasi ekonomi. Di dalam teknologi informasi misalnya, sekarang kita telah melihat bahwa teknologi komputer dengan dunia maya-nya (cyber space) di Internet, telah membentuk suatu komunitas manusia tersendiri yang telah lepas dari sekat-sekat negara dan batas-batas geografis, di mana informasi dari belahan dunia manapun dapat sampai ke belahan dunia lainnya dalam waktu segera informasi tersebut dimasukkan ke internet.Sungguhpun tantangan terbesar adalah tantangan globalisasi ekonomi, akan tetapi untuk mampu mempertahankan eksistensinya suatu negara atau masyarakat tentunya bukan hanya sektor-sektor ekonomi dan pelaku pasar saja yang aktif. Akan tetapi peran serta seluruh komponen masyarakat dan bangsa sangat diperlukan. Bahkan menurut Peter F Drucker (1998) dan Frans Magnis Suseno, globalisasi dianggap hanya dapat dikuasai apabila civil society, lewat LSM dan sebagainya, memainkan peranan lebih besar. (Kompas Online 16 Maret 1998 dan Opini Kompas Cyber Media 15 April 1999). </p>
<p>Peranan seluruh komponen masyarakat yang dimaksud diatas adalah bagaimana kita mampu meletakkan diri kita untuk memiliki (a) daya tahan dalam percaturan global tersebut dan (b) kemampuan untuk berkompetisi dalam tatanan tersebut. Kedua hal diatas tentunya sangat erat kaitannya dengan kwalitas sumber daya manusia untuk memiliki wawasan dan informasi perkembagan global dalam segala aspeknya, pengetahuan yang luas dan memadai didalam bidang yang ditekuni dan sekaligus juga keterampilan (Skill) yang didasarkan pada wawasan dan pengetahuan diatas.<br />
Pesantren (santri) sebagai institusi yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dengan watak dan karakter yag akomodatif dengan budaya lokal serta karakter religiusnya, sesungguhnya mempunyai peluang peran yang sangat vital dalam perkembangan globalisasi di millenium III kini. Hal ini sekurang-kurangnya karena tiga hal: </p>
<p>1. Pesantren selama ini bergerak untuk memberdayakan masyarakat sipil (civil society) khususnya di dalam mempersiapkan peningkatan kualitasnya melalui jalur-jalur pendidikan secara formal maupun non formal termasuk juga melakukan penyiapan kader-lader pemimpin masyarakat. Hal ini memberikan peluang yang besar bagi keberperanan NU karena sektor pemberdayaan SDM yang ditekuni oleh NU dan pesantren adalah merupakan sektor primadona bagi kemampuan suatu bangsa untuk memiliki daya tahan dan daya saing yang baik dalam menghadapi globalisasi; </p>
<p>2. Karakter keagamaan sebagai watak dasar NU dan pesantren, memberikan peluang yang besar terhadap keberperanan keduanya karena sebagaimana dinyatakan oleh Naisbitt dalam Megatrend 2000 (1990), keagamaan justeru akan semakin mengalami perkuatan nantinya sebagai kebutuhan masyarakat global ; </p>
<p>3. Kelekatan karakter budaya lokal dengan NU dan pesantren. Peluang dalam hal ini muncul karena justeru semakin dunia menyatu dalam kesatuan global, justeru warna dan karakter lokal akan semakin menguat dan manusia-manusia di belahan dunia akan semakin memperhatikan untuk mempertahankan ciri lokalitasnya. (John Nisbit, dalam Global Paradox, 1994) </p>
<p>Sungguhpun demikian, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pesantren (santri) dalam kaitan milenium III dalam kerangka melakukan percepatan pembangunan kualitas SDM warganya antara lain dengan penyelarasan antara struktur dan kultur, profesionalitas dan spesialisasi, serta pengembangan wacana.<br />
Pengembangan wacana yang dimaksud adalah, pengembangan wacana fiqh sebagai wacana yang dominan mewarnai dan membentuk pola pemikiran NU pesantren. Sebagaimana kita ketahui, di dalam khazanah wacana NU dan pesantren, kitab fiqh mempunyai peran kunci dan kadar penguasaan tingkat kitab fiqh tertentu &#8220;berfungsi&#8221; menentukan tingkat/derajat penguasaan keagamaan seseorang, sementara disiplin ilmu-ilmu keagamaan lain seperti aqidah dan lain-lain menjadi pelengkap atau penunjang. Pada perkembangannya, fiqh yang ada sekarang sesungguhnya telah mengalami reduksi yang sangat drastis. Lebih-lebih apabila dikembalikan kepada masa Nabi, kata fiqh pada saat itu adalah berarti penguasaan terhadap seluruh ajaran agama sehingga seorang faqih sangat terpuji karena telah menguasai semua ajaran agama secara mendalam, seperti terlihat dalam sabda Nabi yang artinya: &#8220;Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, ia dijadikan orang yang menguasai pengertian yang sangat mendalam dalam ilmu agama.&#8221; Begitu pula kata tafaqquhyang dimaksud dalam firman Allah yang menganjurkan sebagian dari orang hendaknya melakukan tafaqquh fi al-Din yang artinya melakukan pendalaman dan penguasaan terhadap ajaran agama. </p>
<p>Kemudian fiqh berkembang dan bidang-bidang kajian keagamaan ikut berkembang pula, maka pada masa Abu Hanifah fiqh dibagi dua ada yang disebut al-Fiqh al-Akbar yang memuat bahasan-bahasan tentang aqidah dan keimanan, adapula yang disebut al-Fiqh al-Ashghar yang memuat kajian tentang hukum-hukum fiqh, seperti wujud fiqh pada masa sekarang, sedangkan bidang kajian yang lain muncul dengan namanya sendiri seperti ilmu tasawuf, akhlak dan sebagainya. Sangat disayangkan bahwa setelah fiqh berubah seperti yang dikemukakan di atas yang berkembang sekarang hanyalah fqh dalam arti kedua, sedang dalam arti yang pertama dan ilmu-ilmu lain yang berkembang pada masa abad I H. dan terutama pada masa keemasan Islam yang waktu itu ragam bidang kajian keilmuan Islam sangat luas kesemuanya itu sudah tidak diperhatikan lagi kecuali fiqh dalam arti yang disebut terakhir. </p>
<p>Maka keinginan untuk memperkaya wacana kitab kuning kiranya perlu mengembalikan bidang kajian kitab kuning kepada bidang kajian yang sangat beraneka ragam pada masa abad pertama dan masa keemasan Islam yang sempat memunculkan ilmuwan-ilmuwan dalam berbagai bidang dan tidak sedikit menyumbangkan hasil kajiannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, sehingga fiqh tidak seperti yang ada sekarang dan dikaji di pesantren di mana hanya direduksi hanya kitab-kitab madzhab Syafi&#8217;i [2] dan hal itu kurang lebih hanya terbatas pada tradisi kajian terhadap matan (teks karya asal), mukhtashar (summary, ringkasan), syarh (komentar) dan hasyiyah (komentar yang lebih luas terhadap syarh) di dalam madzhab Syafi&#8217;i. Reduksi tersebut lebih-lebih dijustifikasi dengan hadirnya pembatasan terhadap kitab-kitab yang boleh dibaca karena kualifikasinya memenuhi syarat (mu&#8217;tabarah) yang sampai saat ini belum jelas rujukan kriteria ataupun sumber munculnya pembatasan tersebut. </p>
<p>Model dan tradisi yang berkembang ini tentunya membiasakan kalangan pesantren untuk terfokus pada pemahaman teks dan pengembangan pemahaman teks fiqh dalam kitab-kitab kuning. Sedangkan bagaimana aplikasi pemahaman tersebut dalam realitas empirik, dan keutuhan perpektif permasalahan dari sudut selain fiqh tentunya menjadi permasalahan tersendiri yang selama ini belum mendapat perhatian. Ini misalnya terlihat di dalam tradisi kajian yang sangat berkembang di pesantren selama ini, di mana pengkajian masalah yang bahkan dilakukan secara kolektif di dalam sebuah forum (bahtsul masa&#8217;il) adalah sekedar mencari rujukan tekstual bagi kasus yang ditemui. </p>
<p>Di era tahun 1980-an akhir dan era 1990-an ini sesungguhnya telah ada upaya-upaya termasuk dari sebagian kalangan pesantren (santri) sendiri, termasuk NU untuk melihat permasalahan-permasalahan yang muncul ke permukaan tidak sekedar dengan perspektif fiqh, tetapi dengan dimensi-dimensi lain seperti dimensi teologis, politis, ekonomis, dan historis, bahkan dengan meminjam wacana yang selama ini oleh kaum pesantren dianggap masuk dalam kategori &#8220;ilmu umum&#8221; seperti sosiologi, psikologi dan ilmu kedokteran. Akan tetapi tradisi ini belum dapat tersosialisasi secara merata kepada seluruh kalangan pesantren dan bahkan cenderung untuk tabayyun (klarifikasi) di dalam sesuatu masalah yang membutuhkan dukungan disiplin ilmu lain selain fiqh, sedang pembahasannya masih tetap dalam konteks fiqh, antara lain seperti hukum bursa efek, operasi ganti kelamin, penggunaan kontrasepsi, hukum kepala negara wanita, euthanasia, dan lain-lain. </p>
<p>Pada era yang sama, pemahaman pintu ijtihad yang selama ini dianggap tertutup di kalangan pesantren juga telah mengalami perkembangan dengan melakukan langkah-langkah yang masuk dalam koridor ijtihad seperti taqlid manhaji (mengikuti suatu imam dengan menggunakan metode serta instrumen ijtihad dari imam tersebut), men-tarjih beberapa pendapat yang ada baik di dalam suatu lingkup pendapat imam tertentu yang ini memerlukan pengerahan kemampuan pikiran semacam ijtihad dalam tingkat permulaan (ijtihad bi al-madzhab), bahkan yang sudah dilakukan NU di dalam salah satu MUNAS-nya telah memutuskan sistem pengambilan keputusan secara manhaji sekalipun hampir belum pernah digunakan apalagi disosialisasikan di kalangan pesantren-pesantren NU. </p>
<p>Hal terpenting dalam perkuatan wacana kitab kuning di pesantren dan NU adalah pengembangan lingkup kajian dengan tidak hanya memfokuskan pada wacana fiqh dan memperluas pada dimensi-dimensi wacana keislaman lainnya seperti yang terjadi pada masa keemasan Islam. Tidak kalah pentingnya dengan hal tersebut di atas, adalah pengembalian metode-metode pengajaran keilmuan yang dulu tidak monoton seperti yang menjadi kecenderungan di lingkungan pondok pesantren dewasa ini. </p>
<p>Para ulama dahulu, di dalam menyampaikan ilmunya kepada santri menggunakan metode yang bervariasi, yakni bandongan, weton, dan sorogan yang sekarang, nama-nama tersebut masih tetap menjadi sebutan di lingkungan pondok pesantren yang pelaksanaannya hanya yang pertama saja, yakni bandongan. Ini berakibat hilangnya dorongan terhadap tingkat kreatif dan sikap kritis dari para santri karena pengaliran ilmu dari kiai ke murid hanya berjalan sepihak. Padahal, apabila digunakan sorogan santri lebih aktif dan sikap kritis mereka lebih berkembang. Imam Syafi&#8217;i sendiri dalam penyampaian ilmunya sering dilakukan dengan mendialogkan materi bahasan dengan muridnya seperti yang terjadi terhadap santrinya bernama Rabi&#8217;.<br />
Memang pada beberapa pesantren diadakan klub musyawarah santri sebagai wahana untuk mendiskusikan pelajaran yang telah diberikan oleh kiai untuk lebih menguasai dan memperkaya materi yang telah diberikan oleh kiai pada saat mengaji, namun ini hanya ada di beberapa pesantren dan nampaknya kurang efektif dan tidak efisien, sehingga memerlukan waktu yang berlama-lama bagi penguasaan sesuatu kitab tertentu. </p>
<p>Disamping itu, praktik penerapan kurikulum pesantren yang selama ini lebih mengacu pada kitab, juga perlu mendapat perhatian, misalnya dengan membuat kurikulum yang mengaju pada tema bahasan (maudlu&#8217;).<br />
Paiton </p>
<p>Penulis, </p>
<p>Keterangan<br />
[1] Milenium: satuan waktu 1000 tahun<br />
[2] Ini barangkali erat kaitannya dengan perkembangan munculnya perkuatan madzhab oleh penganut-penganutnya di Timur Tengah, sebagai kiblat perkembangan Islam Indonesia, pada sekitar abad III H. dengan munculnya madrasah-madrasah di bidang madzhab tertentu seperti madrasah Uhadiyah Tsuna&#8217;iyah tsulatsiyah dan ruba&#8217;iyah (madrasah yang mengkaji satu, dua, tiga, atau empat madzhab</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Encouragement by maya</title>
		<link>http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=797#comment-7324</link>
		<dc:creator>maya</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 03:35:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=797#comment-7324</guid>
		<description>Terima kasih Pak rhenald atas artikelnya semoga menjadi inspirasi bagi banyak orang, saya sangat kagum dengan kalimat terakhir. ada orang yang tambah pinter dan ada orang yang malah sebaliknya, dan anehnya para pengajar kita merasa lebih pinter sehingga lebih mengenal budaya menghukum bukannya memberikan penjelasan yang membuat muridnya lebih percaya diri. salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Pak rhenald atas artikelnya semoga menjadi inspirasi bagi banyak orang, saya sangat kagum dengan kalimat terakhir. ada orang yang tambah pinter dan ada orang yang malah sebaliknya, dan anehnya para pengajar kita merasa lebih pinter sehingga lebih mengenal budaya menghukum bukannya memberikan penjelasan yang membuat muridnya lebih percaya diri. salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
