Kebersahajaan dan ‘self help’ dari Boja
Belajar Melalui “Reading Group”. Mengulas Novel Asing Berbahasa Inggris
Hawa dingin yang mulai merayap mencumbui kulit tak mengurangi suasana hangat di Pondok Maos Guyub Bebengan, Boja, Kendal, tempat pelaksanaan acara perdana reading group pada 24 Juni 2010. Hari itu kami membahas sebuah novel berbahasa asing, bahasa Inggris karya sastrawan Ernest Hemingway, berjudul The Old Man and The Sea (TOMaTS). TOMaTS merupakan karya terakhir penulis yang lahir pada tahun 1899 itu.
Acara ini merupakan salah satu program Divisi Kajian Sastra Asing, Komunitas Lerengmedini, sebuah komunitas yang menitikberatkan pada proses belajar memahami, mengkaji, dan menulis baik jenis sastra maupun non-sastra. Komunitas yang dikoordinir oleh Kak Heri Chandrasantosa ini lahir di Boja pada 3 Agustus 2008. Selain reading group berbahasa asing, Komunitas Lerengmedini melalui Divisi Kajian Sastra Indonesia juga menyelenggarakan reading group novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tiap Selasa pukul 14.00.
Reading group TOMaTS yang diikuti oleh guru, mahasiswa, serta pelajar ini bersifat ”sersan” alias serius tapi santai. Pemandu reading group adalah Mbak Esther Mahanani, seorang pengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar dan penerjemah lepas. Reading group ini direncanakan diadakan rutin setiap Kamis pukul 15.30 di Pondok Maos Guyub Bebengan.
Berbeda dengan reading group pada hari Selasa, reading group ini khusus mengulas novel/karya sastra asing berbahasa Inggris. Ada poin tersendiri dalam mengikuti acara ini, yaitu bukan hanya pengetahuan kita akan karya sastra asing bertambah, tapi juga kosakata bahasa Inggris bertambah. Sambil menyelam minm air, bukan? Belajar sastra sekaligus bahasa.
Acara perdana reading group ini diawali dengan penjelasan dari pemandu mengenai riwayat singkat Ernest Hemingway. Kemudian, acara dilanjutkan dengan membaca bersama novel tersebut. Kata-kata yang belum diketahui maknanya dapat ditanyakan kepada Mbak Esther.
Menurut Kak Heri Chandrasantosa, acara reading group terbuka untuk umum. Bagi yang belum punya novel, komunitas menyediakannya selama acara. ”Motivasi dan semangat yang ingin kami tanamkan kepada peserta reading group adalah bahwa menghasilkan karya yang baik itu tidak bersifat instan atau singkat. Perlu proses dan kerja cermat yang cukup panjang,” tutur Kak Heri. ***
(Oleh: Amelia Lailasari, Anggota Komunitas Lerengmedini dan alumnus SMPN I Boja dan diterima di SMAN I Boja Kendal)
Sumber: Kompas Jateng, Selasa 6 Juli 2010, hlm. H






