1840. Segera Dirombak KPU!
04-01-2026
Berita besar hari-hari ini adalah ditangkapnya presiden Venezuela Nicholas Maduro, dan dibawa ke Amerika oleh tentara khusus AS, Delta Force. Kok bisa? Lebih dari 2000 tahun lalu, Thucydides dalam Dialog Melian telah menulis apa yang menjadi salah satu ‘pakem’ kaum realis: yang lemah harus mengikuti kemauan yang kuat. Sudah beberapa tahun ini kita melihat dari pemberitaan bagaimana itu dinampakkan oleh ‘yang kuat’ tanpa mempedulikan lagi ‘hukum-hukum internasional’ yang disepakati. Dan nampaknya itu akan terus saja berlanjut di masa depan, entah dalam bentuk kekuatan kekerasan, kekuatan uang, ataupun kekuatan pengetahuan. Dari segi sebuah ‘operasi’, maka ada pelajaran dari peristiwa ‘tertangkapnya’ Maduro itu. Jika ada tahap pertama, itu adalah sebuah ‘sukses’ besar, penuh dengan presisi sebuah operasi. Bagaimana dengan pembebasan sandera pesawat Garuda di bandara Don Mueang Bangkok tahun 1981 oleh Kopassus saat itu? Presisitas akhirnya yang menentukan suksesnya sebuah operasi.
Tetapi dalam konteks Venezuela hari-hari ini, ‘keberhasilan’ operasi Amerika di atas tentu bukan sekedar soal datangnya ‘ancaman’ yang dipersiapkan lama itu, tetapi juga soal ‘respon’ dari pihak Venezuela. Jangan-jangan ada ‘keterbelahan’ yang membuat respon menjadi tidak ‘adekuat’. Atau banyak pihak yang ‘tersihir’ dengan bermacam retorika Maduro sehingga ‘ke-siap-siaga-an’ menjadi berkurang. Seakan segala yang dipikirkan, yang diucapkan itu dengan serta-merta akan terjadi, akan mewujud. Maka dari kaum Stoa kita bisa belajar tentang ‘apa yang tergantung pada kita’ dan ‘yang tidak’. Amerika atau lainnya membangun kekuatan militernya, apapun itu, tidaklah tergantung pada kita. Kita tidak bisa melarang, mengutuk silahkan. Tentu semua itu akan dipelajari dengan seksama, salah satunya untuk menetapkan respon kita, atau ‘apa-apa yang tergantung’ pada kita.
Venezuela adalah negara kaya sumber daya alam, apakah kegagalan respon dari angkatan bersenjatanya itu karena banyak petingginya yang sibuk sebagai penikmat (menikmati dengan ugal-ugalannya) kekayaan alam itu? Sehingga ‘lupa’ terhadap tugas dan tanggung jawab utamanya? Ketika Trump pada periode pertamanya mengangkat Mark Milley sebagai Komandan Tentara Gabungan, pada suatu peristiwa Trump begitu kecewa terhadap klarifikasi Mark Milley yang berfoto bersama dengannya saat protes terkait kasus George Floyd: “I should not have been there’. Maksudnya, itu bukan ranah militer, dan Mark Milley minta maaf terkait dengan foto bareng Trump lengkap dengan seragam (komandan) serdadunya saat itu. Dalam rejim demokrasi, apa yang dikatakan oleh Mark Milley adalah sangat mendasar. Lima tahun kemudian, di era Trump periode kedua, baru-baru ini Trump terpaksa menarik pengerahan Garda Nasional di tiga kota, Chicago, Portland, Los Angeles, karena kalah dalam gugatan di Supreme Court. Dalam rejim demokrasi, independennya lembaga pengadilan adalah hal mendasar lain yang perlu dijaga.
Bagaimana dengan komisi pemilihan? Kita bisa bayangkan juga ia semacam lembaga pengadilan. Sayangnya, menilik sepak terjangnya selama ini kita bisa sampai pada kesimpulan, KPU (dan Bawaslu) mesti dirombak total. Tidak usah tunggu masa jabatan berakhir, rombak, ganti semua, termasuk Sirekap-nya itu. Jika kita melihat laku-laku sontoloyo banyak pejabat, atau anggota DPR, nampaknya salah satu hal penting adalah karena merasa mampu untuk menyetir KPU (dan Bawaslu). Ugal-ugalan akan membuat hilangnya suara dalam pemilihan berikutnya? Tidaklah …, begitu pikirnya, kan KPU-nya ada di tangan! Mau suara akan disulap-disalip berapapun bisa-bisa saja. Begitu pikirnya.
KPU kelas medioker akan berperan penting terjadinya badai ke-mediokeran di sana, dalam ranah negara. Akibatnya? Apa yang tergantung pada kita itupun akan dikelola secara medioker juga, secara pas-pas-an saja. Bahkan dengan tidak adanya kepedulian sama sekali. Dan jika tiba-tiba mengalami situasi seperti yang dihadapi Venezuela hari-hari ini? Bisa dipastikan, tidak akan jauh berbeda hasilnya. Apalagi jika serangan datang masih saja sibuk ngencengin baut dulu, Apes … apes … [1]*** (04-01-2026)
[1] Astaga: https://www.youtube.com/watch?v=nQRCaUm5NbM
Begitu banyak rintangan yang harus dihadapi
Lalu mengapa kau diam saja tak berdaya
Di belia usia di masa yang paling indah
Kau tampak tak bergairah
Sementara yang lainnya duduk seenaknya
Seakan waktu takkan pernah ada akhirnya
Hanya mengejar kepentingan diri sendiri
Lalu cuek akan derita sekitarnya
Oh oh astaga uh
Apa yang sedang terjadi
Oh oh astaga uh
Hendak kemana semua ini
Oh oh astaga
Sementara yang lainnya duduk seenaknya
Seakan waktu takkan pernah ada akhirnya
Hanya mengejar kepentingan diri sendiri
Lalu cuek akan derita sekitarnya
Oh oh astaga uh
Apa yang sedang terjadi
Oh oh astaga uh
Hendak kemana semua ini
Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah
Hanya mengejar kepentingan diri sendiri
Lalu cuek akan derita sekitarnya
Oh oh astaga uh
Apa yang sedang terjadi
Oh oh astaga uh
Hendak kemana semua ini
Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah
Astaga uh
Apa yang sedang terjadi
Oh oh astaga uh
Hendak kemana semua ini
Astaga (astaga)
Apa yang sedang terjadi
Oh oh astaga (astaga)
Hendak kemana semua ini
Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah
Astaga uh
Apa yang sedang terjadi
Oh oh astaga uh
Hendak kemana semua ini
Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
Mudah putus asa dan kehilangan arah
Astaga (astaga)
Oh oh astaga (astaga)
Oh oh astaga (astaga)
Wowo
Astaga (astaga)
Oh oh astaga
1841. Bertahun Kemudian
06-01-2026
Revolusi Perancis berlangsung 1789-1799. Daendeles diangkat jadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda tahun 1806, terutama untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Kedua hal tersebut disandingkan karena dalam sebuah wawancara, Peter Carey menceritakan bagaimana awal ia bisa meneliti hidup Pangeran Diponegoro (1785-1855). Disinggung bahwa pada awalnya ia ingin meneliti pengaruh Revolusi Perancis terhadap kehidupan local atau di daerah-daerah Perancis, tetapi ia disarankan oleh mentornya untuk meneliti di nun jauh sana, apa pengaruh Revolusi Perancis di Hindia Belanda yang mungkin saja dibawa oleh Daendeles? Ingat, Belanda pernah ada dalam cengkeraman Perancis -saat Napoleon Bonaparte berkuasa, antara tahun 1795-1813.
Sebuah penelitian tentang sejarah dari waktu ke waktu akan selalu saja ada, apapun alasannya, apapun tema atau fokusnya. Apapun ‘kepentingannya’. Bertahun kemudian, apa yang akan ditulis tentang sejarah republik oleh Gen Z, misalnya? Apakah ada yang akan meneliti -misalnya, pengaruh isu ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal bagi republik? Perang Diponegoro berlangsung 5 tahun (1825-1830), sedangkan ‘perang’ pembodohan republik jika dikaitkan keterlibatan isu ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal itu telah berlangsung lebih dari 10 tahun -dan masih berlangsung, jadi wajar jika bertahun kemudian, entah kapan, ada yang berminat menelitinya. Akankah nantinya akan ditemukan dua arus benturan ‘kebenaran’, yang satu mengklaim kebenaran karena adanya orang-orang berkerumun memberikan dukungan sekaligus juga merebaknya ‘jalur propaganda’, sedang satunya melalui jalan ilmiah? Satunya ‘jalan gampang’, lainnya ‘jalan berliku’? Apakah akan muncul istilah ‘mega-sandera-kasus’, dimana petinggi tertinggi pada dasarnya adalah yang tersandera kasus juga? Kasus ijazah palsunya, atau juga misalnya laku-laku korupnya? Dan dampak dahsyat dari ‘mega-sandera-kasus’ itu, misalnya ketika para ‘pelindungnya’ kemudian minta jatah atau konsensi atau apapun itu, bisa semau-maunya. Yang dulu merasa diri sebagai sik-tuan, tiba-tiba saja berbalik menjadi sik-budak yang harus memenuhi permintaan sik-tuan-tuan baru yang bersedia melindunginya. Akankah Gen Z bertahun kemudian menemukan bagaimana republik menjadi kurus kering karena ‘logika’ tersebut?
Apakah penelitian Gen Z bertahun kemudian akan menemukan bahwa meski ‘jalan gampang’ kemungkinana menangnya besar, tetapi jika ‘jalan sulit’ tetap memperoleh kesempatan dalam perlawanan, perlahan iapun mempunya potensi menang juga, dan bahkan semakin lama semakin besar potensi itu. Seakan menggelinding sebagai proses-proses molekuler? Mengapa? Mungkinkah akan ditemukan juga bahwa ada beberapa hal mendukung, pertama, bagaimanapun tidak ada satu bentuk hidup bersama yang tidak pernah belajar. Masyarakat pembelajar itu akan selalu ada, bahkan ketika ia mengambil jalan pembelajaran melalui ‘hal-hal negatif’ di sekitar. Dari ‘hal-hal negatif’-pun bisa merangsang sebuah pembelajaran juga. Kedua, siapa tahu Gen Z yang memilih di luar kerumunan itu ada yang kemudian menempatkan ‘pihak ilmiah’ sebagai ‘model’ sehingga menjadi berkeinginan kuat untuk meneliti bertahun kemudian. Dalam dunia ‘propaganda’ dan kerumunan, kaum peneliti bagaimanapun juga merupakan salah satu potensi yang mempunyai kemungkinan masuk dalam ranah ‘minoritas kreatif’. Jauh lebih potensial dibanding dengan yang tenggelam dalam kerumunan. Untuk berdiri paling depan dalam membangun respon terhadap bermacam tantangan hidup bersama di depan mata. Kaum peneliti adalah salah satu yang bisa diharapkan mampu ‘meretakkan’ kungkungan sihir dari ‘jalur propaganda’. Yang bisa saja kemudian berkembang sebagai sik-minoritas kreatif, dimana dinamika dan keluaran yang dibangunnya, menurut Toynbee, ia akan ‘ditiru’ oleh khalayak kebanyakan. Dan tentu ini perlu waktu. Juga kompetisi dari laku sontoloyo dari ‘minoritas iblis’ di sisi lain. Sik-minoritas iblis yang terus saja meyakini bahwa semua masalah akan selesai melalui kerumunan dan jalur propaganda. Jalur sihir yang terus saja mengurung.
Ketiga adalah soal ‘hati nurani’. Setiap orang pastilah punya hati nurani, masalahnya adalah apakah ia terlatih dan terlatih untuk mendengarkan ‘suara hati nurani’-nya. Suara hati nurani yang bisa saja menjadi salah satu bahan bakar utama dalam membangun sebuah ‘semangat’, sebuah passion, yang salah satu ujungnya adalah kemauan kuat untuk menggunakan akal budinya. Akal budi untuk melawan ‘kejahatan hasrat’ yang telah memperbudak secara ugal-ugalan ‘(kejahatan) logika’. ‘Kejahatan hasrat’ terutama dalam keserakahan tanpa ujung terhadap uang, uang, uang. Rampok sana, rampok sini. Korup, korup, korup. *** (06-01-2026)
1842. Terkorup Nomer Dua Se-Planet


