04-02-2026
Dari asal katanya, informasi memang lekat dengan pengertian bentuk, form. Formasio di sini dalam konteks ‘membentuk, pembentukan’. Informasi, in-formasio, memang mempunyai kemampuan membentuk (seseorang). Informasi ‘asal bapak senang’ misalnya, bisa dahsyat akibatnya dalam praktek ‘penggunaan kuasa’, komplit dengan segala akibatnya bagi khalayak kebanyakan. Atau bagaimana segala informasi dalam ensiklopedia doeloe sekali itu ikut mengubah lanskap hidup keseharian, terutma di sekitar-sekitar café di Perancis sono. Sekali lagi, dengan segala akibat ikutannya. Atau ketika Bible dicetak massal dalam berbagai bahasa setelah inovasi mesin cetak massal Guttenberg. Atau bagaimana Jepang keranjingan menerjemahkan bermacam pengetahuan termasuk politik dan filsafat yang berkembang di Barat doeloe itu di akhir abad 19 dan awal-awal abad 20. Atau hari-hari ini menyebarnya ‘ensiklopedi’ penyingkap ijazah palsu oleh RRT. Juga bermacam informasi yang digendong dalam Dirty Vote, sampai pada Reset Indonesia itu. Bahkan di republik ada Komisi Informasi dan juga Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Lihat, dengan berjalannya waktu dan bermacam informasi masuk, satu buku ketika dibaca ulang yang di-stabilo bisa berbeda atau bertambah.
Bahkan Machiavelli-pun memandang penting soal informasi ini. Keberuntungan (Dewi Fortuna) adalah satu peristiwa saja, bisa berulang memang, tetapi ia bukanlah keseluruhan peristiwa, menurut Machiavelli. Peristiwa lanjutan harus dihadapi dengan ‘virtue’ dalam arti situasi yang terus berubah harus dihadapi dengan cara-cara lain pula. Bagaimana menghayati situasi berubah-ubah itu faktor informasi yang sampai menjadi sangat penting. Makanya Machiavelli juga menaruh perhatian terhadap penjilat-penjilat di sekitar kuasa. Kata Machiavelli: “Tidak ada cara lain untuk melindungi diri dari penjilat kecuali membiarkan orang lain mengerti bahwa Anda tidak akan tersinggung jika mereka mengatakan yang sebenarnya kepada Anda …” Ini -hal di atas, dari sudut pandang kepentingan sik-penguasa, bagaimana ketika ada ‘gerombolan-machiavellis’ ketika penguasa berubah dari satu ke yang lain, misalnya? Apakah ia akan juga memainken ‘virtue’ seperti disinggung di atas ketika menghadapi penguasa berbeda ‘gaya’ dari waktu ke waktu? Banyak tulisan Machiavelli mendasarkan pada ‘manusia apa adanya’ dengan segala hasrat dan emosinya. Maka ‘gerombolan-machiavellis’ ini akan selalu menempatkan ‘kandungan’ hasrat dan emosi dari sik-penguasa sebagai salah satu ‘kunci sukses’. Jadi, ‘saran-saran’ Machiavelli itu tidak hanya untuk sik-penguasa atau pangeran, tetapi ternyata bisa juga sebagai ‘masukan-strategis’ bagi para predator kuasa. Sik-pangeran jika tidak jeli, bisa-bisa dimakan bulat-bulat.
Salah satunya seperti yang menjadi focus tulisan ini, bagaimana in-formasi dimainken. Tidak hanya terkait dengen ‘melesetnya’ penghayatan akan situasi berkembang dari sik-pangeran, tetapi sekaligus ‘membentuk’ sik-pangeran sehingga berkembang seperti diharapkan oleh para predator kuasa itu. Orang mempunyai ‘hasrat berbuat baik’ ketika pegang kuasa bisa-bisa menjadi lebih mudah untuk ‘dijerumuskan’ pada obsesi akan ‘hal-hal besar’. Tidak lulus ujian, cuk. Apalagi ketika ia menggendong kecenderungan emosi ‘sumbu pendek’. Kombinasi yang sebenarnya ‘disukai’ oleh para predator kuasa. Kata Machiavelli, orang bisa dengan mudah dilupakan, tetapi tidak dengan warisannya. Jadi ada ‘arus bawah’ kuat untuk membangun ‘warisan baik’ sehingga ‘orangnya’-pun dibayangkan menjadi tidak mudah dilupakan. Dan itulah yang kemudian dieksploitasi oleh ‘gerombolan-machiavellis’ itu. Apalagi ada situasi seakan sedang kejar-kejaran dengan ‘waktu tersisa’. Dikurung, dipepet terus. Aslinya, dijerumuskan. *** (04-02-2026)