27-01-2026
Karena salah satu ‘syarat’ penting untuk menjadi negarawan adalah kemampuan ‘mendengar’ maka di beberapa negara, bagi yang bertahun aktif di dunia ketentaraan jika ingin ikut politik electoral misalnya, ia harus ada masa jeda dulu, tidak bisa kemarin menyatakan mundur dari dunia tentara, untuk besok ikut pemilu. Dunianya memang lain. Dalam dunia tentara, adalah dunia siap grak, harus ikut garis komando. Bayangkan jika dalam perang tidak selalu siap grak, bisa-bisa kacau nantinya. Tentu untuk yang dari luar tentara bukan berarti terus saja serta merta punya kemauan dan kemampuan mendengar. Tidak ada jaminan, sebab bagaimanapun juga kemampuan untuk mendengar itu perlu latihan, latihan, dan latihan. Sama dengan yang berasal dari dunia perang, meski sudah lama meninggalkan dunia ketentaraan, jika tidak latihan, latihan, dan latihan mendengar ya tetap saja tidak ada jaminan untuk mempunyai kemauan dan kemampuan mendengar.
Narasi Trump sebenarnya tidak jauh-jauh amat dari narasi Thatcher (dan Reagen, komplit dengan ‘star-wars’-nya) hampir 50 tahun lalu. Thatcher matang di Partai Konservatif dengan melihat secara langsung bagaimana ‘generasi bunga’ merebak antara tahun 1965-an-1975-an. Nampaknya ia terusik, karena ini jauh dari salah satu pandangan dasar partainya, survival of the fittest. Ungkapan ‘get on your bike’ dari salah satu menteri Thatcher kemudian jadi salah satu ‘cambuk’ untuk khalayak kebanyakan supaya tidak ‘malas-malas-an’ lagi. Trump tak jauh berbeda, hanya saja ia melihat negara-negara sekutunya itu seakan sedang ber-‘generasi bunga’. Sasarannya bukan orang-per-orang, tetapi negara-negara sekutunya. Kalau dulu kemudian ada imajinasi ‘ultra-minimal state’ sekarang justru ada pergeseran menuju ‘ultra-maximal state’, di bawah arahan ‘bapak’ Trump, atau menurut istilah George Lakoff: sik-strict father. Tetapi pada dasarnya ‘pembonceng utama’-nya sama saja. Contoh kongkret hari-hari ini adalah board of peace untuk masalah Gaza itu. Dengan segala kemampuan dan dukungan AS, sebenarnya jika mau Israel akan mempunyai kemampuan menghadapi Hamas tanpa harus menghancurkan bermacam bangunan dan infrastruktur secara gila-gilaan. Faktanya, hancur-hancuran, dan akhirnya hari-hari ini tesingkap secara telanjang mengapa harus hancur-hancuran itu. Maka baik ‘ultra-minimal state’ atau ‘ultra-maximal state’ pada dasarnya adalah persoalan keserakahan modal dalam ‘super-akumulasi’-nya.
Maka di sinilah peran penting dalam hal mendengar (bagi negarawan), sebab modal seperti cerita di atas ia tidak akan pernah mendengar apa yang ada dirasakan khalayak kebanyakan. Board of peace misalnya, faktanya tidak mau mendengar apa yang dirasakan oleh rakyat Palestina. Bagaimana dengan board of nutrition di republik? Board of ‘koperasi’, board of ‘cipta kerja’, dan lain-lain. Board of ‘PSN’? Jangan-jangan itu semua adalah bagian dari modus akumulasi? Sementara khalayak kebanyakan cukup remah-remahnya saja? Dengan ‘bonus’-nya: mimpi tentang hal-hal besar, besok-besoook-nya, akan bla … bla … bla. Sayangnya, maunya memberikan ‘bonus’ bagi khalayak kebanyakan, tetapi obsesi akan hal-hal besar itu faktanya -sejarah banyak mencatat, justru akan menekan kemauan dan kemampuan dalam mendengar. Akhirnya, negara kemudian memang tidak diurus oleh kaum negarawan, bukan pula oleh seorang pemimpin, tetapi oleh penguasa. Penguasa yang lekat dengan kepentingan modal, bahkan modal yang sudah ugal-ugalan seperti ugal-ugalannya sik-juggernaut. Siapa saja menghalangi akan ditabraknya, semau-maunya. *** (27-01-2026)