1860. (Paradoks) Perang Berlarut

23-01-2026

Sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan negara juga harus siap untuk melakukan berbagai langkah-langkah preventif dan preemtif, bahkan kita siap untuk perang berlarut di dalam mempertahankan kemerdekaan dan NKRI,” demikian dikatakan oleh Sjafrie Sjamsoedin saat Rapim Kementerian Pertahanan -TNI di Gedung Dewan Pertahanan Nasional beberapa hari lalu. ‘Perang berlarut’ mungkin saja tidak hanya peringatan kepada jajaran TNI, tetapi juga pesan bagi siapa saja yang ingin invasi/penguasaan akan menghadapi perang panjang perlawanan atau pertahanan. Dalam Perang Modern yang pernah diungkap oleh Ryamizard Ryacudu, tahap terakhir adalah invasi/pencapai sasaran/penguasaan. Tahap-tahap sebelumnya adalah infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak. Maka dalam konteks Perang Modern ini, kita bisa membayangkan bahwa upaya preventif dan preemtif akan terkait dengan infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak, yang juga bisa kita hayati lebih sebagai ‘soft power’. Kita bisa bayangkan pula pendapat Mao Zedong tentang politik, katanya: “Politik adalah perang tanpa pertumpahan darah, sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah.”

Dari pendapat ketua Mao, dalam konteks perang, infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak bisa dilihat sebagai bagian perang (tanpa pertumpahan darah). Delapan tahun lalu dalam halaman depan https://www.pergerakankebangsaan.com/ telah disampaikan tentang Perang Modern ini, dan semakin lama semakin nampak bagaimana infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak telah berlangsung. Jika ‘cuci otak’ kita bicarakan hari-hari ini, nampak bertahun-tahun terakhir ‘yang dicuci’ adalah soal kehormatan dan integritas. Yang sebenarnya kehormatan dan integritas dalam ranah timbang-menimbang bisa menjadi salah satu bahan bakar utama atau elan vitalnya. Apa yang hancur dalam kasus ijazah palsu? Hal timbang menimbang, itu semua karena kehormatan dan integritas yang terus digerus. Untung ada trio RRT dan lingkaran dekatnya yang tanpa lelah, tanpa takut terus membela hal timbang-menimbang ini. Dan apa taktik ‘mereka’? Sama, maunya terus menghancurkan kehormatan dan integritas, lihat saja kasus ES dan DHL hari-hari ini. Bahkan sambil pamer mobil mewahnya sebagai bagian penghancuran kehormatan dan integritas. Gila. Belum lagi kita bicara ranah-ranah lainnya. Lihat juga misalnya, bagaimana ‘ritual’ kemartabatan bangsa yang katakanlah digelar hanya satu kali dalam setahun itu, ‘dicuci’ dengan jogat-joget di tempat yang sama dimana ‘ritual’ digelar. Jogat-joget tidak karu-karuan dan ‘sik-raja’ manggut-manggut sambil pecingas-pecingis di atas panggung. Bandingkan dengan ‘joget-koplo’ saat peringatan hari keagamaan lalu, banyak yang merasa jengah. Bukankah semua itu bagian dari cuci otak?

Eksploitasi (isu) bisa menjadi bagian dari politik adu domba. Tetapi eksploitasi bisa merambah di tiga ranah kekuatan, pengetahuan, uang, kekerasan. Eksploitasi dalam ranah kekuatan uang tidak hanya soal ‘jebakan utang’, tetapi juga soal ‘menghambur-hamburkan’ sumber daya. Sebagai bablasan dari hancurnya kehormatan dan integritas, hal timbang-menimbang juga akan kehilangan salah satu sumber bahan bakar utamanya. Akibatnya? Selain semakin tidak prudence, hal etika yang lekat dengan timbang-menimbang itupun akan meredup juga. Tahu batas menjadi hal langka. Akhirnya, semau-maunya. Infiltrasi? Akankah yang ada di Morowali itu hanyalah puncak gunung es? Soal politik adu domba? Lihat saja jejak-jejak digital rejim terdahulu itu. Dari hal-hal di atas, ‘perang berlarut’ seperti disinggung oleh Menhan Sjafrie sebenarnya sudah berlangsung lama, sadar atau tidak. Artinya, ‘perang berlarut’ itu akan menghadapi dua front ketika benar-benar invasi terjadi, dari dalam dan dari luar. Terlebih jika ‘perang berlarut’ itu mengambil jalan ‘perang gerilya’, menjadi lebih repot ketika harus berhadapan juga dengan pengkhianat-pengkhianat republik. Yang bahkan berkhianat sambil pecingas-pecingis, tanpa beban. *** (23-01-2026)

1861. Romantika

24-01-2026

Judul mengacu pada ungkapan si-Bung, romantika, dinamika, dialektika. Semuanya serapan bahasa asing. Masalah? Tidaklah …, santai saja. Bahkan manusia sejak lahir sudah mengalami ro-din-da ini, begitu lahir ia sudah memberikan segala romantika terkait dengan kelahirannya. Bermacam imajinasi bisa-bisa melampaui segala imajinasi yang mungkin. Karena kelahiran si-‘manusia kecil’ di dunia. Bagi si-bayi, tiba-tiba saja ia terputus dengan segala ‘kepasifan’ saat dalam kandungan. Jika lapar ia mesti merengek supaya dikenyangkan, dan itupun nantinya ia harus berusaha sendiri menghisapnya. Tidak lagi diam saja dan kenyang melalui plasenta. Ia juga dihadapkan dengan bermacam situasi yang berubah-ubah. Tiba-tiba saja di depannya ada wajah bahagia, atau bahkan konyol kekanak-kanakan seakan ingin berteman. Juga tiba-tiba saja ia ada dalam dunia dimana bermacam bakteri atau virus siap menembus tubuhnya. Dan normalnya, tubuh akan melawan dan membangun pertahanan diri ketika bermacam bakteri atau virus itu masuk dalam tubuh. Bermacam rangsangan dari luar atau stimulasi, akan membuat keseluruhan tubuhnya semakin cerdas. Dan seterusnya seakan tubuh kecil itu selalu sibuk saja ber-tesis-anti tesis, bahkan tidak pernah berhenti untuk menikmati ‘sintesis’. Ketika ia berjalan untuk pertama kalinya, segera saja romantika (baru) merebak di sekitarnya. Hal-hal barupun hadir di depannya, ro-din-da itupun terus saja berlangsung.

Bagaimana ketika ada peristiwa ‘bayi baru lahir’ dalam ranah ‘penggunaan kuasa’? Dimana sudah berbulan-bulan dalam ‘kandungan perebutan kuasa’, katakanlah dalam periode pemilihan umum? Atau ada yang menghayati dalam rentang waktu lebih lama, bertahun-tahun mempersiapkan diri? Sangat jelas bagaimana romantika saat kelahirannya itu: menang pemilu! Dengan segala ‘perayaannya’. Masalah? Tidaklah …, apapun itu sebuah ‘kemenangan’ memang layak untuk dirayakan. Masalahnya adalah, bagaimana romantika itu dalam perjalanan selanjutnya tidak lepas dari dinamika dan dialektikanya.

Tetapi bagaimana jika ternyata orang tuanya ‘nakal’ dan (sebenarnya) tidak pernah memikirkan tentang sik-anak, dan hanya kepentingan diri sik-orang tua yang dipikirkan saja? Katakanlah nakalnya sik-orang tua itu adalah nakalnya sik-oligarki? Sik-anak hanya diajari tentang romantika saja, sedang dinamika dan dialektika adalah (tetap) milik sik-oligarki? Mungkinkah itu? Mungkin saja, lihat romantika pencabutan PIK-2 sebagai PSN itu. Faktanya, dinamika dan dialektika tetaplah milik sik-oligarki. Bagaimana ‘romantika-romantika’ lainnya setelah itu?

Menurut si-Bung, jika hanya berhenti pada romantika saja maka yang terjadi adalah sekedar ‘revolusi istana’, yang pastilah dimaksudkan sebagai ‘seolah-olah revolusi’. Atau kalau meminjam tilikan banyak pengamat terhadap pemilihan umum atau demokrasi di jaman old: ‘demokrasi seolah-olah’. Yang (riil) memegang kuasa, loe lagi loe lagi … Siapapun yang ‘dilahirkan’, dulu-sekarang-atau nantinya. Dan itu semua karena hanya berhenti pada romantika saja, sedang dinamika dan dialektika entah siapa yang menjalankannya dengan serius. Sik-oligarki itu tidak pernah tidak serius! Maka ‘lawannya’ memang harus (super) serius juga, sekali lagi tidak hanya suka ber-romantika saja, tetapi dengan berani (terbuka) dan serius, dalam ber-dinamika dan ber-dialektika. Ingat, romantika itu memang cenderung atau salah satu wajahnya adalah ‘menyenangkan’, apalagi di sekitar-sekitar penuh dengan penjilat, ujung di sana bisa-bisa jadinya: alangkah menyenangkannya. Hebat … Hebat …. Hebat …. Plok … plok … plok …. Mentega! *** (24-01-2026)

1862. Jaman (Bergerak) Retak (1)

26-01-2026

Menurut Thomas Piketty dalam Kapital Pada Abad ke-21 (terbit pertama kali tahun 2013 dalam bahasa Perancis), kesenjangan di awal-awal abad 21 ini mirip dengan kesenjangan jaman kapitalisme ugal-ugalan abad-18. Apakah ini didorong oleh paradigma neoliberalisme yang merebak mulai awal-awal 1970-an itu, dengan diuji-coba di Cile pasca kudeta terhadap Allende oleh Pinochet, dalam arahan Chicago Boys? Dua puluh tahun setelah neoliberalisme mendapat momentum di Inggris dan AS, Pierre Bourdieu mendiskripsikan neoliberalisme sebagai a programme for destroying collective structures which may impede pure market logic.[1] Sekitar tiga-empat tahun sebelum krisis subprime mortgage meledak dengan segala akibatnya, David Harvey dalam A Brief of Neoliberalism (2005) menyebut modus pokok akumulasi dalam neoliberalisme yang disebutnya accumulation by dispossession, terdiri dari privatisasi, finansialisasi, manajemen dan manipulasi krisis, dan state redistributions. Ditambahkan juga dengan mass incarceration. Ada yang mengatakan fenomena mass incarceration ini menonjol di AS sono, pemenjaraan meningkat lebih dari 500% antara tahun 1980-an hingga 2014. Kadang di republik itu disebut juga sebagai ‘kriminalisasi’. Atau bahkan, ‘tebang pilih’. Lalu bagaimana nasib neoliberalisme ‘ultra-minimal state’ di tahun ke-50 dalam keyakinan dan prakteknya sejak Allende di-kudeta itu?

Dalam wawancara santai dengan Budiman Tanuredjo[2], Mgr. I. Suharyo menyinggung soal kesenjangan bahkan di tingkat global sebagai akibat dari keserakahan akan uang yang sudah seakan seperti truk besar turun dari bukit melaju tanpa kendali dan menabrak semua yang di depannya. Dalam narasi globalisasi beberapa waktu silam, dikenal istilah juggernaut, ya persis seperti digambarkan oleh ‘mo Haryo di atas. Dikatakan dalam ‘narasi besar’ itu bahwa globalisasi itu tak terelakkan dan akan menghantam semua penghalang di depannya. Hanya saja semakin lama semakin tersingkap bahwa pembonceng utama dari globalisasi itu adalah (keserakahan) modal. Yang menghalangi masuk-bebasnya modal termasuk para ‘diktator’ abad-20 kemudian satu per satu ‘disingkirkan’. Modal yang ‘berkonsensus di Washington’ (1989) mengusung hal-hal seperti di awal tulisan. Di bagian lain ‘mo Haryo juga menyinggung bedanya antara pemimpin dan penguasa. Dan itulah yang menjadi focus tulisan ini, soal peran negarawan dalam jaman yang semakin bopeng-retak.

Apakah ‘jaman bergerak’ itu pada dasarnya akan lekat dengan ‘modal bergerak’ juga? Yang bergeraknya laksana juggernaut itu? Yang dengan ini pula sebenarnya sangat relevan bicara soal pemimpin dan penguasa, misalnya. Ada hal menarik dalam pertemuan WEF Davos 2026 yang baru saja berakhir itu, yaitu (perbandingan) antara sosok Donald Trump dan Mark Carney, PM Kanada, ketika bicara di atas panggung. DT bicara laksana penguasa, MC bisa dilihat bicara sebagai pemimpin. Layaknya ketika si-Bung bicara di depan forum PBB September 1960: To Build the World Anew. Tetapi apa hal mendasar dapat membedakan antara pemimpin dan penguasa? Dari apa-apa yang dialami republik, satu hal mendasar bisa disebut: tahu batas. Pemimpin adalah yang mau dan mampu menghayati tentang batas-batas, sedang penguasa cenderung untuk tidak tahu batas.

To govern is to foresee” demikian dikatakan politisi Perancis di abad 19. Apa pertama-tama yang dilihatnya ke depan itu? Batas-batas. Melihat ke depan itu adalah juga melihat ‘batas horison’, dan dengan adanya horizon maka kemungkinan-kemungkinan menjadi lebih mungkin dilihat dengan jelas. Termasuk juga batas-batas relasi-relasi kekuatan produksi di ‘basis’ dimana modal bisa-bisa menjadi ugal-ugalan, bahkan bisa berperilaku seperti juggernaut di atas. Dengan segala akibatnya sebagai sebuah kemungkinan-kemungkinan. Maka di sini pula kita bisa bicara soal beda antara negarawan dan politisi. Memang beda antara negarawan dan politisi sering tidak mudah dibedakan ketika ada dalam ranah ‘perebutan kuasa’, tetapi akan semakin jelas bedanya ketika masuk dalam ranah ‘penggunaan kuasa’.

Seorang negarawan atau pemimpin sebuah negara, ia akan menjadikan persoalan bangsa atau rakyatnya sebagai ‘batas’ dari kepentingan diri (atau lingkaran dekatnya). Tetapi seorang penguasa atau politisi, khalayak kebanyakan adalah untuk diterobos habis-habisan demi kepentingan diri (atau lingkaran dekatnya). Atau kalau memakai kata-kata Mark Carney, khalayak kebanyakan akan menjadi menu di atas meja makan saja. Bukan yang duduk bersama untuk membicarakan bermacam persoalan. Maka ‘to govern is to foresee’ itu pada saat bersamaan adalah soal ‘mendengar’, bagi seorang negarawan. Mengapa? Supaya lebih tepat dalam memilih dari sekian kemungkinan yang ada. Memilih ‘keputusan-kebijakan’ terkait dengan persoalan-persoalan mendasar yang ia ‘dengar’ dari khalayak kebanyakan. Maka adalah penting bagi khalayak kebanyakan untuk ‘bersuara’ juga. Tanpa rakyat bersuara, sulit diharapkan bagaimana suatu kenegarawanan itu diuji. Liarnya sebuah imajinasi itu perlulah ‘diuji-coba’ dengan imajinasi-imajinasi lain. Terutama yang berangkat dari realitas kongkret keseharian. Realitas yang dihayati khalayak kebanyakan sehari-hari. *** (26-01-2026)

[1] https://mondediplo.com/1998/12/08bourdieu

[2] https://www.youtube.com/watch?v=au3AhY02pwg

1863. Jaman (Bergerak) Retak (2)

27-01-2026

Karena salah satu ‘syarat’ penting untuk menjadi negarawan adalah kemampuan ‘mendengar’ maka di beberapa negara, bagi yang bertahun aktif di dunia ketentaraan jika ingin ikut politik electoral misalnya, ia harus ada masa jeda dulu, tidak bisa kemarin menyatakan mundur dari dunia tentara, untuk besok ikut pemilu. Dunianya memang lain. Dalam dunia tentara, adalah dunia siap grak, harus ikut garis komando. Bayangkan jika dalam perang tidak selalu siap grak, bisa-bisa kacau nantinya. Tentu untuk yang dari luar tentara bukan berarti terus saja serta merta punya kemauan dan kemampuan mendengar. Tidak ada jaminan, sebab bagaimanapun juga kemampuan untuk mendengar itu perlu latihan, latihan, dan latihan. Sama dengan yang berasal dari dunia perang, meski sudah lama meninggalkan dunia ketentaraan, jika tidak latihan, latihan, dan latihan mendengar ya tetap saja tidak ada jaminan untuk mempunyai kemauan dan kemampuan mendengar.

Narasi Trump sebenarnya tidak jauh-jauh amat dari narasi Thatcher (dan Reagen, komplit dengan ‘star-wars’-nya) hampir 50 tahun lalu. Thatcher matang di Partai Konservatif dengan melihat secara langsung bagaimana ‘generasi bunga’ merebak antara tahun 1965-an-1975-an. Nampaknya ia terusik, karena ini jauh dari salah satu pandangan dasar partainya, survival of the fittest. Ungkapan ‘get on your bike’ dari salah satu menteri Thatcher kemudian jadi salah satu ‘cambuk’ untuk khalayak kebanyakan supaya tidak ‘malas-malas-an’ lagi. Trump tak jauh berbeda, hanya saja ia melihat negara-negara sekutunya itu seakan sedang ber-‘generasi bunga’. Sasarannya bukan orang-per-orang, tetapi negara-negara sekutunya. Kalau dulu kemudian ada imajinasi ‘ultra-minimal state’ sekarang justru ada pergeseran menuju ‘ultra-maximal state’, di bawah arahan ‘bapak’ Trump, atau menurut istilah George Lakoff: sik-strict father. Tetapi pada dasarnya ‘pembonceng utama’-nya sama saja. Contoh kongkret hari-hari ini adalah board of peace untuk masalah Gaza itu. Dengan segala kemampuan dan dukungan AS, sebenarnya jika mau Israel akan mempunyai kemampuan menghadapi Hamas tanpa harus menghancurkan bermacam bangunan dan infrastruktur secara gila-gilaan. Faktanya, hancur-hancuran, dan akhirnya hari-hari ini tesingkap secara telanjang mengapa harus hancur-hancuran itu. Maka baik ‘ultra-minimal state’ atau ‘ultra-maximal state’ pada dasarnya adalah persoalan keserakahan modal dalam ‘super-akumulasi’-nya.

Maka di sinilah peran penting dalam hal mendengar (bagi negarawan), sebab modal seperti cerita di atas ia tidak akan pernah mendengar apa yang ada dirasakan khalayak kebanyakan. Board of peace misalnya, faktanya tidak mau mendengar apa yang dirasakan oleh rakyat Palestina. Bagaimana dengan board of nutrition di republik? Board of ‘koperasi’, board of ‘cipta kerja’, dan lain-lain. Board of ‘PSN’? Jangan-jangan itu semua adalah bagian dari modus akumulasi? Sementara khalayak kebanyakan cukup remah-remahnya saja? Dengan ‘bonus’-nya: mimpi tentang hal-hal besar, besok-besoook-nya, akan bla … bla … bla. Sayangnya, maunya memberikan ‘bonus’ bagi khalayak kebanyakan, tetapi obsesi akan hal-hal besar itu faktanya -sejarah banyak mencatat, justru akan menekan kemauan dan kemampuan dalam mendengar. Akhirnya, negara kemudian memang tidak diurus oleh kaum negarawan, bukan pula oleh seorang pemimpin, tetapi oleh penguasa. Penguasa yang lekat dengan kepentingan modal, bahkan modal yang sudah ugal-ugalan seperti ugal-ugalannya sik-juggernaut. Siapa saja menghalangi akan ditabraknya, semau-maunya. *** (27-01-2026)