1925. Tiga Jogetan

29-03-2026

Yang dimaksud di sini jogetan di ranah kuasa negara, dan jogetan dalam arti harafiah. Tentu di ranah kuasa pada rentang waktu kampanye, meski serasa memuakkan, jogetan tidak bisa dicegah dan memang silahkan saja. Tetapi ketika menang dan masuk rentang penggunaan kuasa? Tiga jogetan dimaksudkan ketika jogetan hadir di depan publik saat peringatan kemerdekaan Agustusan di tempat sama ketika upacara digelar, yang kedua di ruang sidang DPR sebelum heboh demonstrasi Agustus tahun lalu, dan terakhir joget MBG itu oleh salah satu pengelola SPPG. Dalam banyak halnya sebenarnya termasuk juga joget-panggul-beras oleh petinggi saat bencana. Atau juga joget bibir dimana keluarannya adalah asal mangap, asal njeplak. Terakhir ketika menghadapi krisis energi, menterinya menyarankan pada khalayak ‘kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros’. Maksudnya mungkin mematikan kompor gas setelah masakannya matang? Apapun itu, itu pejabat memang sering asal mangap. Mengapa yang seperti ini terus saja berulang?

Negri dan Hardt dalam Empire (2000) mengangkat lagi apa yang sudah ditulis oleh Polybius lebih dari 2000 tahun lalu, rejim campuran, antara monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Apakah seperti Inggris, misalnya? Nampaknya tidak, karena di Inggris monarki (dan aristokrasinya) sudah sangat dibatasi melalui konstitusi, dan dengan itu pula demokrasi kemudian mendapat kesempatan lebih untuk berkembang. Bagaimana jika monarki dan aristokrasi tidak dibatasi oleh konstitusi? Maka bisa dibayangkan, ketika kuasa lebih untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh, kaum monarki dan aristokrasi itu akan (lebih) bersekutu untuk melawan demokrasi. Melawan sik-demos. Melawan ‘yang banyak’, demi segala kenikmatan tanpa putus.

Bertahun terakhir sebenarnya bisa dilihat sebagai upaya tanpa henti untuk membangun ‘rejim campuran’ ini. Bahkan di sana-sini berlangsung dengan vulgarnya, misalnya mengintrodusir istilah ‘raja jawa’ itu. Juga lihat bagaimana sibuknya dalam membangun kelas bangsawannya itu. Bagi-bagi jabatan semau-maunya, atau juga lapak-lapak korupsi dan pemburuan rente, komplit dengan pendisiplinan melalui sandera kasusnya. Termasuk lagi bagaimana membangun kelas bangsawan kesayangan: yang pegang senjata, terutama yang pegang senjata api, pentungan, dan gas air mata di rejim terdahulu. Police-state yang disinggung dalam Empire itu kemudian diterjemahkan secara harafiah selama paling tidak sepuluh tahun. Jika dilihat lebih jauh, sebenarnya bangunan rejim yang diangankan itu persis sama dengan bangunan rejim jaman old. Ada sik-mono, sik-aristo-sik-olig(arki), yang bersama-sama memanipulasi sik-demos. Penampakan sik-mono memang ‘mono’ tetapi pada dasarnya semacam board of power, tidak di tangan tunggal, kalau memakai istilah Jeffrey Winters, sudah bukan lagi oligarki sultanistik setelah jaman old ‘runtuh’. Di bawahnya adalah kaum bangsawannya, aristokrasi, dengan bangsawan ‘pilihan’ adalah yang pegang kekuatan kekerasan. Tak jauh-jauh amat dari bangunan Empire yang dibayangkan oleh Negri dan Hardt. Dengan segala kenikmatan diperoleh, tugas kaum bangsawan terutama adalah mengendalikan sik-demos. Dengan cara pengendalian dari jogetan seperti di atas sampai pada yang paling brutal jika diperlukan. Newspeak Orwellian itu tidak hanya soal bahasa verbal, tetapi juga dengan bahasa tubuh. Tubuh yang terpenjara, tubuh yang bonyok, sampai tubuh yang terkelupas karena siraman air keras. Bahkan sampai tubuh yang meregang nyawa. Brutal. *** (29-03-2026)

1926. Sosialis Malas Berpikir?

29-03-2026

Justru data menunjukkan semakin rawan pangan suatu wilayah, semakin jarang program MBG diadakan.

https://x.com/BurhanMuhtadi/status/2037359532834447753

1927. Saat Kabir Ketemu Soska

30-03-2026

Yang dimaksud ‘kabir’ ini adalah kapitalisme birokrat (bureaucrat capitalism), atau sebenarnya tak jauh-jauh amat dari istilah pemburu rente (rent seeking activities). Sebagaimana kapitalisme banyak ‘varian’-nya, sosialisme juga mengenal macam-macam ‘varian’, salah satunya adalah ‘soska’ atau sosialisme kanan (right-wing socialism). Apa persamaan dari ‘kabir’ dan ‘soska’ itu? Nampaknya secara sederhana bisa dikatakan: maksud baik. Kabir mempunyai maksud baik terhadap modal, sedangkan soska mempunyai maksud baik terhadap rakyat. Dan sama-sama mengharapkan ‘timbal balik’ dari maksud baik itu, sik-kabir jelas mengharapkan bagian dari modal itu, sedangkan sik-soska mengharapkan ada bagian dari sosio untuk semakin ‘mencintai’-nya.

Bagaimana jika kabir dan soska bertemu? Dari tulisan Ignas Kleden dalam Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe (1996), kita bisa membayangkan ‘penerapan’ pendapat dosen dari Jerman Timur yang menjadi sumber tulisan itu. Dosen dari Jerman Timur itu mengatakan bahwa sosialisme itu baik jika tidak diganggu, sedangkan kapitalisme itu baik jika diganggu oleh sistem lain. Dari ‘peta kesadaran’ Freud sedikit banyak bisa menjelaskan hal di atas, dimana menurut Freud ego -bagian sadar, adalah semacam puncak gunung es yang nampak di permukaan. Seperti kita ketahui, gunung es di laut itu yang nampak di permukaan hanyalah bagian kecil saja, sedangkan bagian besarnya tidak nampak, ada di bawah permukaan. Yang di bawah permukaan itulah dimana bagian tidak sadar ada, atau juga id yang berdasarkan ‘prinsip kesenangan’. Sedangkan super-ego -bawah sadar, merupakan lapisan tipis antara yang nampak di atas permukaan dan yang di bawah permukaan. Super-ego ini ‘bekerja’ berdasarkan ‘prinsip moralitas’, sedangkan ego berdasarkan ‘prinsip realitas’.

Para pendukung kapitalisme sering memakai argumentasi ‘natural’, maka mereka demen dengan istilah survival of the fittest –‘darwinisme sosial’. Mereka akan membiarkan manusia ‘apa adanya’ dalam arti id merupakan bagian terbesarnya, diterima sebagai yang wajar saja -termasuk dalam hal ini, kepentingan diri, dan dibiarkan masuk dalam kehidupan sosial, tentu termasuk dalam hal ini ‘kesenangan’ dalam menumpuk modal. Mereka meyakini tangan-tangan tak terlihat-lah yang membuat tertib sosial terbentuk. Tetapi fakta-fakta tidaklah sesederhana itu, realitas sebagai akibat ugal-ugalannya kapitalisme abad 18-19 akhirnya memunculkan gerakan sosialisme, mulai dari yang dikenal kemudian sebagai sosialisme utopia itu. Dari ‘peta’ Freud di atas, itu lebih didorong oleh super-ego, berdasar prinsip moralitas. Marx di kemudian hari melengkapi dengan bagaimana realitas seperti itu dibaca, dengan nalar -ego, secara ‘ilmiah’.

Dari hal-hal di atas maka bisa dibayangkan ‘jalan cerita’ ketika sik-kabir bertemu dengan sik-soska dalam satu lapangan. Apalagi jika sik-soska hanya mengandalkan ‘maksud baik’ saja, tetapi malas berpikir. Bisa-bisa bablas anginé. Sudah timbal balik untuk semakin dicintai sosio tidak tercapai, atau jauh dari harapan, lapangan-pun akhirnya dikuasai oleh sik-kabir. Dikuasai oleh segala gejolak hasrat (bagian gelap-nya) yang ada di id itu. Akhirnya yang lebih nampak adalah ‘prinsip kesenangan’ saja, senang-senang dalam menumpuk modal atau kekayaan. Secara vulgar harafiah, ya joget MBG itu.

Tulisan ini didorong terkait dengan proyek MBG dan Koperasi Desa, jika dikaitkan dengan hal-hal di atas, apakah ini hanya soal ‘malas berpikir’? MBG misalnya, mengapa jalan ‘universal’ lebih dipilih dari pada ‘jalan targeted’? Target lebih pada yang membutuhkan, atau katakanlah lebih pada kaum miskin? Dari studi mirror-neuron system kita bisa ‘curiga’ ada ketakutan dari sik-think-tank di belakang sik-kabir jika per-hati-an tertuju pada yang miskin, maka perlahan akan juga membentuk sebuah komitmen tertentu yang berlawanan dengan kepentingan modal pada umumnya. Di belakang kapitalisme yang ‘mengabdi’ pada id itu jelas ada pihak-pihak yang sungguh tangguh juga dalam membangun teorinya. Maupun dalam hal taktik-strategi melawan apapun yang menghalangi kepentingan atau ‘ideologi’-nya. Maka bisa dibayangkan nantinya ketika Koperasi Desa itu menapak jalan ceritanya sendiri, bisa-bisa tak jauh berbeda. Dicintai oleh banyak orang itu bagaimanapun adalah juga hasrat yang ngendon di id, dan sebenarnya sangat mudah dieksploitasi sehingga perlahan akan ‘membunuh’ juga kemampuan berpikirnya yang ngendon di ego itu. Hasilnya? Prinsip realitas itu semakin menjauh, atau dalam bahasa sehari-hari: kepala batu. *** (30-03-2026)

1928. Kupu-kupu dari (Klaster) UGM

31-03-2026

(1) Bagaimana menghadapi segala ketidak-pastian yang terus saja semakin membesar? Atau bagaimana menghadapi badai jika ada badai sendiri dalam ‘rumah’? Efek kupu-kupu (butterfly effect) memberitahukan bahwa perubahan kecil bisa saja membuat badai nun jauh di sana. Kepakan kecil kupu-kupu di Amazon bisa-bisa membuat badai besar di Texas. Dalam konteks apa kupu-kupu itu menampakkan diri sedang berkepak, dan dengan reaksi berantai yang kadang sulit dirunut jalur rantainya, hal-hal ‘tak terduga’ bisa terjadi? Bagaimana dengan hidup bersama, ketika bisa saja tiba-tiba diterjang badai tak terduga? Dicontohkan memang itu terjadi ‘perubahan kecil’ alam, bagaimana ketika itu akibat dari ulah manusia? Seorang tak tahu diri menyalakan rokok di SPBU dan tiba-tiba saja terjadi kebakaran hebat. Kelihatannya itu soal ‘sepele’, kasus ijazah palsu, dan kebetulan ijazah itu diakui sebagai keluaran Universitas Gadjah M (selanjutnya disingkat UGM), bagaimana semestinya UGM bersikap? Apakah petinggi UGM ketika mengepakkan sayap-sayapnya, dan kemudian tidak peduli lagi kemungkinan munculnya akibat berantai yang akan ditanggung oleh seluruh warga republik? Badai menerjang republik, bahkan kemungkinan ujung akhirnya adalah perang saudara dan republik akan terpecah belah? Mengada-ada? Coba bayangkan jika yang pegang diduga ijazah palsu itu pernah dibaptis sebagai finalis pemimpin terkorup di planet ini. Bukankah masuk sebagai finalis terkorup se-planet juga memberitahukan bahwa semua itu akan menghadirkan segala kenikmatan tanpa ujung? Dan apa saja upaya yang akan dilakukan untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh dan dinikmati itu? Dan jika bisa sampai finalis terkorup sedunia, tentu ini bukanlah ‘prestasi’ solo karier, ia perlu habitat yang dibangun oleh banyak pihak sehingga mampu menjadikannya sebagai finalis pemimpin terkorup itu. Dan banyak pihak itupun pastilah ikut menikmati ‘suasana kebantinan’ korup itu. Maka banyak pihak akan mau melakukan apa saja untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya itu. Apa saja. Dan bagaimana jika kepakan petinggi UGM itu membuat gelombang kehormatan semakin pasang karena petinggi UGM saat itu mampu menggelar ‘kepak kehormatan’?

(2) Republik merdeka karena tokoh-tokoh pergerakan mampu mengambil kesempatan dari ‘ketidak-pastian’ akibat Perang Dunia II. Ketika terbentuk rantai terlemah dari kaum imperialis. Jika memakai pembagian Freud, dengan super-ego dan juga ego (nalar), sehingga mampu menilai situasi berkembang, dan dinyatakanlah segala hasrat untuk menjadi bangsa merdeka berdaulat itu. Dan tentu ada proses-proses molekuler panjang sebelumnya sehingga ‘rantai terlemah’ itu bisa menjadi ‘katalis’ dalam perjalanan panjang menuju Proklamasi. Tetapi hari-hari ini, dan sudah berlangsung lebih dari 10 tahun terakhir, super-ego dan ego semakin terpinggirkan, dan diganti dengan segala hasrat gelap yang merupakan bagian dari id itu. Padahal ketidak-pastian hari-hari ini bisa-bisa meledak tak kalah gelapnya dibanding kegelapan saat republik merdeka atau sedang berjuang untuk kemerdekaannya. Ego yang dituntun oleh nalar yang berdasarkan ‘prinsip realitas’ dicampakkan dengan brutal. Super-ego yang berdasarkan ‘prinsip moralitas’ digeser dengan brutal oleh jogetan dan asal mangap, asal njeplak, pamer-pamer kemewahan dari para pejabat, dan banyaaak lagi. Kehormatan melenyap entah dibuang kemana.

(3) Kadang diyakini krisis ekonomi 1998 lalu salah satu penyangganya sehingga tidak sampai ke dasar adalah peran UMKM. Pelajaran apa dari ini? Dalam hidup bersama, kadang diperlukan satu, dua, tiga ranah yang mesti dijaga sehingga ketika badai menerjang -entah kapan, hidup bersama seakan masih tetap mempunyai ‘axis mundi’-nya sehingga chaos tidak betul-betul menghancur-leburkan. Peran (klaster) UMKM di atas bisa dikatakan ada di ranah ‘kekuatan uang’, bagaimana di ranah ‘kekuatan pengetahuan’ dan ‘kekuatan kekerasan’? Itulah mengapa kita bicara peran penting dari (klaster) UGM atau perguruan tinggi lain. Dan juga sebenarnya di ranah pengetahuan ini, pengadilan dalam bermacam bentuknya. Inilah peran penting mengapa kehormatan, martabat, integritas perguruan tinggi harus selalu diupayakan untuk dijaga supaya ia bisa menjadi salah satu pemegang obor ketika tiba-tiba saja kegelapan datang menghantam dengan dahsyatnya. Jika petinggi UGM tetap tidak pernah mau dan mampu mengambil langkah bermartabat setelah ada gugatan CLS, gugatan di KIP, bermacam proses di kepolisian, dan bermacam suara-suara dari masyarakat pembayar pajak, maka mereka adalah pengkhianat republik. Tidak pantas sejengkal-pun mereka-mereka itu ikut menggunakan uang-uang pajak yang terkumpul. Sama sekali tidak pantas. *** (31-03-2026)