30-03-2026
Yang dimaksud ‘kabir’ ini adalah kapitalisme birokrat (bureaucrat capitalism), atau sebenarnya tak jauh-jauh amat dari istilah pemburu rente (rent seeking activities). Sebagaimana kapitalisme banyak ‘varian’-nya, sosialisme juga mengenal macam-macam ‘varian’, salah satunya adalah ‘soska’ atau sosialisme kanan (right-wing socialism). Apa persamaan dari ‘kabir’ dan ‘soska’ itu? Nampaknya secara sederhana bisa dikatakan: maksud baik. Kabir mempunyai maksud baik terhadap modal, sedangkan soska mempunyai maksud baik terhadap rakyat. Dan sama-sama mengharapkan ‘timbal balik’ dari maksud baik itu, sik-kabir jelas mengharapkan bagian dari modal itu, sedangkan sik-soska mengharapkan ada bagian dari sosio untuk semakin ‘mencintai’-nya.
Bagaimana jika kabir dan soska bertemu? Dari tulisan Ignas Kleden dalam Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe (1996), kita bisa membayangkan ‘penerapan’ pendapat dosen dari Jerman Timur yang menjadi sumber tulisan itu. Dosen dari Jerman Timur itu mengatakan bahwa sosialisme itu baik jika tidak diganggu, sedangkan kapitalisme itu baik jika diganggu oleh sistem lain. Dari ‘peta kesadaran’ Freud sedikit banyak bisa menjelaskan hal di atas, dimana menurut Freud ego -bagian sadar, adalah semacam puncak gunung es yang nampak di permukaan. Seperti kita ketahui, gunung es di laut itu yang nampak di permukaan hanyalah bagian kecil saja, sedangkan bagian besarnya tidak nampak, ada di bawah permukaan. Yang di bawah permukaan itulah dimana bagian tidak sadar ada, atau juga id yang berdasarkan ‘prinsip kesenangan’. Sedangkan super-ego -bawah sadar, merupakan lapisan tipis antara yang nampak di atas permukaan dan yang di bawah permukaan. Super-ego ini ‘bekerja’ berdasarkan ‘prinsip moralitas’, sedangkan ego berdasarkan ‘prinsip realitas’.
Para pendukung kapitalisme sering memakai argumentasi ‘natural’, maka mereka demen dengan istilah survival of the fittest –‘darwinisme sosial’. Mereka akan membiarkan manusia ‘apa adanya’ dalam arti id merupakan bagian terbesarnya, diterima sebagai yang wajar saja -termasuk dalam hal ini, kepentingan diri, dan dibiarkan masuk dalam kehidupan sosial, tentu termasuk dalam hal ini ‘kesenangan’ dalam menumpuk modal. Mereka meyakini tangan-tangan tak terlihat-lah yang membuat tertib sosial terbentuk. Tetapi fakta-fakta tidaklah sesederhana itu, realitas sebagai akibat ugal-ugalannya kapitalisme abad 18-19 akhirnya memunculkan gerakan sosialisme, mulai dari yang dikenal kemudian sebagai sosialisme utopia itu. Dari ‘peta’ Freud di atas, itu lebih didorong oleh super-ego, berdasar prinsip moralitas. Marx di kemudian hari melengkapi dengan bagaimana realitas seperti itu dibaca, dengan nalar -ego, secara ‘ilmiah’.
Dari hal-hal di atas maka bisa dibayangkan ‘jalan cerita’ ketika sik-kabir bertemu dengan sik-soska dalam satu lapangan. Apalagi jika sik-soska hanya mengandalkan ‘maksud baik’ saja, tetapi malas berpikir. Bisa-bisa bablas anginé. Sudah timbal balik untuk semakin dicintai sosio tidak tercapai, atau jauh dari harapan, lapangan-pun akhirnya dikuasai oleh sik-kabir. Dikuasai oleh segala gejolak hasrat (bagian gelap-nya) yang ada di id itu. Akhirnya yang lebih nampak adalah ‘prinsip kesenangan’ saja, senang-senang dalam menumpuk modal atau kekayaan. Secara vulgar harafiah, ya joget MBG itu.
Tulisan ini didorong terkait dengan proyek MBG dan Koperasi Desa, jika dikaitkan dengan hal-hal di atas, apakah ini hanya soal ‘malas berpikir’? MBG misalnya, mengapa jalan ‘universal’ lebih dipilih dari pada ‘jalan targeted’? Target lebih pada yang membutuhkan, atau katakanlah lebih pada kaum miskin? Dari studi mirror-neuron system kita bisa ‘curiga’ ada ketakutan dari sik-think-tank di belakang sik-kabir jika per-hati-an tertuju pada yang miskin, maka perlahan akan juga membentuk sebuah komitmen tertentu yang berlawanan dengan kepentingan modal pada umumnya. Di belakang kapitalisme yang ‘mengabdi’ pada id itu jelas ada pihak-pihak yang sungguh tangguh juga dalam membangun teorinya. Maupun dalam hal taktik-strategi melawan apapun yang menghalangi kepentingan atau ‘ideologi’-nya. Maka bisa dibayangkan nantinya ketika Koperasi Desa itu menapak jalan ceritanya sendiri, bisa-bisa tak jauh berbeda. Dicintai oleh banyak orang itu bagaimanapun adalah juga hasrat yang ngendon di id, dan sebenarnya sangat mudah dieksploitasi sehingga perlahan akan ‘membunuh’ juga kemampuan berpikirnya yang ngendon di ego itu. Hasilnya? Prinsip realitas itu semakin menjauh, atau dalam bahasa sehari-hari: kepala batu. *** (30-03-2026)