03 Mar

Problem Dunia dan Kita: Masalah Lingkungan Hidup

Bangsa Indonesia merdeka bukanlah kemerdekaan sebuah bangsa yang hidup sebagai layaknya seekor ‘katak dalam tempurung’. Tetapi sejak kemerdekaan bangsa Indonesia sangat concern dengan problematik dunia. Hal ini nampak jelas dan sangat meyakinkan jika kita membaca Pembukaan UUD 1945, alinea pertama:

“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” (cetak tebal ditambahkan)

Selain concern terhadap problematik dunia, hal di atas bisa dimaknai juga bahwa bangsa Indonesia siap hidup secara dialektis terhadap problema-problema hidup yang berkembang di muka bumi ini. Problem dunia adalah juga menjadi problem bangsa Indonesia. Dunia adalah juga ruang eksistensi dari bangsa Indonesia. Sebuah tekad kemerdekaan yang secara cerdas telah dirumuskan oleh pendiri-pendiri bangsa ini.

Karena itu, kita sebagai bangsa tidak melihat secara sempit bahwa penjajahan yang dialami oleh rakyat Indonesia – yang bahkan itu diderita beratus tahun lamanya, hanya masalah bangsa Indonesia sendiri. Tetapi ini (penjajahan) adalah juga masalah dunia. Kemerdekaan bangsa Indonesia tidak hanya merupakan tekad bangsa Indonesia lepas dari penjajahan, tetapi lebih dari itu sekaligus sebagai seruan pada dunia untuk ikut membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan.

Mengingat semangat Proklamasi yang tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 itu, maka ketika sekarang kita menghadapi masalah lingkungan hidup, sudah sewajarnyalah jika kita juga concern dan menjadikan upaya pemecahan rusaknya masalah lingkungan hidup di Indonesia ini sebagai bagian tidak terpisahkan dari keterlibatan Indonesia dalam menghadapi masalah lingkungan hidup global. Maka cara pandangnya adalah, menghadapi masalah lingkungan hidup di Nusantara ini adalah juga merupakan bagian atau kontribusi Indonesia terhadap masalah lingkungan hidup dunia. Dan itu harus jadi titik pijak dan langkah awal dalam pergaulan internasional, terlebih terkait dengan masalah lingkungan hidup dalam hal ini.

***

Bagi Heidegger, masalah manusia dan ruang merupakan hal penting dalam bangunan filsafatnya. Manusia tidak terletak dalam sebuah ruangan, tetapi manusia meruang. Ruang tersebut sudah diapropriasi menjadi bagian dari eksistensinya. Manusia menjadi berakar karenanya. Gambaran mudah untuk menerangkan ini adalah, katakanlah seorang profesor dan ruang kerjanya yang penuh dengan buku yang berserakan. Meski berserakan, ia telah hapal betul buku A terletak di sana, B di situ dan seterusnya. Bagaimana jika itu kemudian di tata oleh pembantunya yang mengira buku-buku yang berserakan itu mesti dirapikan? Betul buku dan ruang kerja itu menjadi rapi, tetapi ketika sang profesor masuk ruang kerjanya, ia menjadi bingung, dan tiba-tiba saja ia tidak merasa “kerasan” lagi. Keberserakan buku-buku di ruang kerjanya itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Masalah lingkungan hidup di sekitar kita adalah juga sebuah ruang. Tidak hanya sekedar ruang tempat kita hidup, tetapi lebih dari itu, dia sudah menjadi bagian dari eksistensi kita sebagai manusia. Jika kita sebagai manusia kemudian dipahami secara luas sebagai bangsa, atau umat manusia di seluruh dunia, maka tidak ada salahnya jika kita memahami juga bahwa lingkungan hidup nusantara, ataupun global, juga terkait dengan “kerasan”nya kita untuk hidup di dalamnya.

Maka bicara soal lingkungan hidup sebenarnya tidak hanya bicara masalah hutan, pohon, sampah dan lain sebagainya, tetapi pada hakekatnya adalah bicara soal manusia. Kalau kita lihat keterkaitannya dengan bidang lain, masalah lingkungan hidup juga kemudian bisa menjadi bahan refleksi kita saat bicara soal pendidikan, misalnya. Sayangnya, masalah pendidikan dan lingkungan hidup kadang dimaknai secara jalan gampang, yaitu bagaimana siswa mengenal tentang lingkungan sekitarnya. Padahal masalahnya adalah lebih dari itu. Lebih dari sekedar tahu tentang. Adalah penting untuk diingat bahwa manusia mempunyai segala potensi, atau bakat-bakat manusiawi. Dan ini sangat mungkin berbeda satu dengan yang lain. Maka pendidikan mestinyalah memberikan ruang yang seluas-luasnya sehingga potensi-potensi yang beragam itu bisa berkembang secara optimal. Untuk itu, bagaimana lingkungan sekitar dapat memberikan situasi yang mendukung berkembangnya beragamnya potensi anak adalah sangat penting. Ini yang sering dilupakan dalam pendidikan ketika kita bicara soal lingkungan hidup. Kita terlalu cepat membawa anak pada hal-hal yang jauh dari kehidupan mereka, tetapi lupa memberikan lingkungan terdekatnya. Lupa akan hal mendasar, yaitu bahwa anak itu ‘meruang’ juga. Lingkungan akan dimaknai dalam hidup seorang anak, dan dengan itu ia akan mengembangkan potensi dirinya secara bebas. Kita sering terjebak untuk mendiktekan segala hal-hal yang menurut kita baik, tetapi lupa mengembangkan model-model yang hadir disekitar anak untuk mendukung berkembangnya potensi anak.

Sebagai negara bangsa yang merdeka, ketika kita bicara lingkungan hidup di Nusantara ini, mau tidak mau kita harus bertanya juga kepada negara sebagai pembuat kebijakan publik, atau pemerintahan dalam hal ini. Kenapa? Karena negara punya kebijakan dan hukum, dan lebih dari itu ia juga punya hak monopoli penggunaan kekerasan. Meski demokrasi sudah berkembang, tetap saja kita harus dalam posisi yang mampu mengambil posisi kritis terhadap kebijakan negara. Terlebih jika melihat konteks Indonesia sekarang ini, mau tidak mau kita akan sampai pada masalah “pakta dominasi”.

Sayangnya, ketika kita bicara pakta dominasi, yang kita temui sekarang adalah dominannya apa yang sering kita sebut sebagai senyawa oligarki politik-pemburu rente. Sebuah komplotan sangat rakus yang bisa kita lihat sendiri, bagaimana hutan, sumber daya alam, kekayaan laut dan sebagainya, menjadi rusak karena ketamakannya. Demokrasi yang kita jalani selama reformasi ini faktanya adalah tetap bercokolnya senyawa oligarki politik-pemburu rente yang dengan segala laku pat-gu-li-pat mampu mengotak-atik kebijakan negara. Harapan dan aspirasi rakyat yang semestinya menjadi hal sentral dalam demokrasi ternyata terlalu sering ditelikung oleh komplotan itu.

Karena keserakahan senyawa oligarki politik-pemburu rente kita sebagai bangsa terlalu sering menghadapi berbagai penderitaan, baik itu banjir bandang, tanah longsor, dirampasnya hak atas tanah, rusaknya terumbu karang dan kekayaan laut kita, hilangnya plasma nutfah yang begitu kaya ragamnya di NKRI ini, rusaknya habitat-habitat binatang-binatang langka, dan lain sebagainya. Tetapi hal-hal yang menimpa rakyat itu ternyata tidak membuat mereka intropeksi diri. Semua penderitaan itu dilihat mereka sebagai hal yang mesti dijinakkan belaka, dengan janji-janji manis, dengan retorika kosong, dengan remah-remah roti, atau yang lain, tetapi jelas tidak akan pernah menjadi bahan instropeksi diri yang dalam.

Maka jika kita bicara soal lingkungan hidup, ada dua hal, yang primer adalah: ini (masalah lingkungan hidup) adalah masalah politik –masalah pakta dominasi. Atau jika kita telusuri lebih dalam lagi adalah masalah cara pandang bagaimana melihat manusia. Senyawa oligarki politik-pemburu rente akan memandang manusia adalah sekedar alat belaka, alat untuk mengamankan dan menebalkan segala kekayaan mereka. Dan ini juga berakibat dalam melihat lingkungan hidup. Alam dengan segala kekayaannya adalah alat belaka saja. Yang kedua, masalah-masalah kongkret lingkungan hidup yang di depan mata, dan menuntut juga untuk segera dihadapi dengan serius. Sampah yang menyumbat selokan harus dibersihkan, tanah gundul harus dihijaukan, dan seterusnya. Bagi rejim yang serakah ini, masalah lingkungan hidup tentu hanya akan diarahkan pada yang kedua. Pastilah itu akan tetap berguna –lepas bahwa ini sekedar sebagai tirai asap yang menyembunyikan perilaku serakah mereka, atau betul-betul dilakukan dengan serius, tetapi akankah itu akan menyelesaikan masalah jika rejim serakah yang menguasai pakta dominasi ini tetap bercokol di Nusantara ini? Kalau kita ingin sungguh-sungguh dalam menghadapi masalah lingkungan hidup ini, yang fundamental harus kita hadapi pula, apapun resikonya itu. Akar masalah harus dijebol dan dibangun lagi pondasi hidup bersama seperti yang kita cita-citakan. *** (3/03/2013)

Leave a Reply

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan