1410. Kebohongan yang Menculik Kita

07-04-2024

Judul mengambil inspirasi dari tulisan Mangunwijaya dalam Majalah Tempo, 3 Januari 1987 – tigapuluh tujuh tahun lalu: ‘Budaya yang Menculik Kita’. Mangunwijaya saat itu sedang dihadapkan oleh ‘buta huruf’ baru di depan mata: ‘buta huruf’ bahasa komputer. Tiga tahun sebelum trilogi terakhir Alvin Toffler terbit, Powershift (1990) - The Third Wave (1980), Future Shock (1970). Dibayangkan oleh Mangunwijaya nantinya dengan segala kemajuan atau bahkan percepatan kemajuan maka bisa-bisa soal rasa-merasa bisa sedemikian berubah sehingga seolah-olah kita sudah diculik oleh segala dampak dari kemajuan itu. Perluasan horison sebagai dampak dari kemajuan itu salah satunya akan mengubah penghayatan kita akan nasionalisme, misalnya. Yang mungkin saja akan menampakkan diri sebagai sebuah erosi gejolak nasionalisme. Kata Mangunwijaya, kita bisa risau akan hal ini, tetapi juga bisa bersikap untuk tidak usahlah risau. Siapa tahu proses erosi itu adalah gerak alamiah semata, yang kadang justru akan menguak dimensi-dimensi baru.

Dua tahun lebih kemudian - September 1989, Mangunwijaya menulis “Kini Kita Semua Perantau”. Dalam salah satu bagiannya Mangunwijaya menulis: “Sifat, watak, wajah dan suasana suatu bangsa ditentukan langsung oleh derajat kemampuan, seni, dan efektivitas bangsa itu dalam mengendalikan kekuasaan.” Dari ungkapan Mangunwijaya kita bisa sedikit ‘meliarkan’ imajinasi, apa yang dimaksud dengan ‘kekuasaan’ di sini? Atau bagaimana jika kita meminjam istilah Leo Straus saat menggambarkan krisis modernitas gelombang pertama: kapitalisme liberal, dengan imajinasi ‘Machiavelli yang menua’ untuk menggambarkan pendekatan ekonomisme? Atau dalam kata-kata B. Herry Priyono, ‘Machiavelli menumpuk harta’? Atau jika kita kemudian ‘melengkapi’ imajinasi kita soal ekonomi melalui Carl Schmitt –sekitar seabad lalu, apa yang membuat ekonomi itu ada? Menurut Carl Schmitt adalah karena adanya untung dan rugi.

Dan dari masa lalu kita bisa belajar bagaimana soal ‘mencari untung’ ini manusia sampai berani mengarungi samudera atau melalui jalan berat seperti jalur sutera itu. Atau bahkan melakukan pembunuhan massal, genosida, perbudakan, penjajahan. Itulah sebenarnya ‘energi terpendam’ yang ingin dibuka oleh Deng Xiaoping, hampir 50 tahun lalu. Tetapi Ketua Deng dan penerus-penerusnya sangat paham adanya ‘wajah janus’ dari ungkapan Deng, ‘menjadi kaya itu mulia’. Atau katakanlah bagaimana jika kemudian menjadi meraja-lela sosok ‘Machiavelli menumpuk harta’? Bagaimana jika kita ingat juga apa yang pernah ditulis oleh Adam Smith tentang ‘sekte agung’ atau famous sect dalam The Theory of Moral Sentiments (edisi terakhir)? ‘Sekte agung’ yang mempunyai keutamaan lebih dari yang sekedarnya –seperti yang ada dalam pelaku pasar, itu? ‘Menjadi kaya itu mulia’ kemudian dihadapkan oleh bagaimana korupsi yang diberantas dengan sungguh serius, tidak tebang pilih, demikian Ketua Deng dan penerusnya mengambil posisi. Atau kalau kita melihat sejarah Amerika Serikat, bagaimana soal ‘spoils system’ itu kemudian ‘di-amandemen’ melalui keputusan Kongres di penghujung abad-19. ‘Spoils system’ yang merusak tertib-tatanan si-‘sekte agung’ di ranah negara. Perlu waktu hampir 50-an tahun sehingga ‘sistem-patronase’ di ranah pemerintahan federal di AS sono itu sehingga sisa-sisa ‘spoils system’ – yang diintrodusir oleh presiden Andrew Jackson (1829-1837), idolanya Donald Trump, atau ‘sistem patronase’ bisa terkubur dalam-dalam. Di Republik jaman old, dalam praktek namanya adalah: jalur A-B-G. Yang nampaknya sedang dipulihkan lagi bertahun terakhir ini dan bahkan ada tekad untuk melanjutkan, dengan sedikit saja modifikasinya. Kucluk.

Dari masa lalu pula kita bisa melihat bagaimana kelihaian si-‘pencari untung’ ini, salah satunya adalah ketrampilan dalam naik gelombang perubahan atau kemajuan. Jika kita ingat tulisan Mangunwijaya di atas, ‘Kini Kita Semua Perantau’ maka kita akan selalu saja merantau dengan diiringi oleh si-perantau-abadi: si-‘pencari untung’. Tidak hanya itu, menurut Marx, si-perantau-abadi yang ada di ‘basis’ ini bisa-bisa akan sangat menentukan dunia yang sedang kita rantaui. Si-perantau abadi yang sungguh lihai dalam naik gelombang segala perubahan atau kemajuan. Bahkan kemudian menelikungnya.

Tahun 2016 di belahan dunia sono, ada yang sedang dibaptis sebagai word of year: post truth. Meski jauh sebelumnya sebagai ‘fakta potensial’-nya sudah diintrodusir oleh Guy Debord dalam Comment on the Society of the Spectacle (1988) sebagai ‘lanjutan’ tesis-tesis Debord, The Society of the Spectacle (1967). Comment yang terbit beberapa tahun sebelum penelitian soal mirror neuron systems semakin merebak dan menampakkan hasilnya. Jadi ketika ‘buta huruf’ bahasa komputer itu semakin melenyap, ternyata hari-hari ini kita menyaksikan penampakan bahwa ada yang sedang naik gelombang perubahan atau kemajuan dari sisi-gelapnya, memaksimalkan kebohongan dengan lebih mengeksploitasi soal emosi. Dunia post-truth dalam politik. Kebohongan yang sedang menculik kita. Dan suka atau tidak, dilahirkan (lagi) pula ke-buta huruf-an ‘baru’, buta atau paling tidak rabun-huruf bahasa etika. *** (07-04-2024)

1411. Kacung Dadi Ratu

08-04-2024

In traditional Javanese shadow-theatre, Petruk Dadi Ratu is a rollicking farce in which Petruk, a well-loved clown, briefly becomes King, with predictably hilarious and grotesque consequences.

For Petrus, read Killer—see note 12 above (---The organized slaughter of petty hoodlums, often previously agents of the regime. A grim joke of the time called the death-squads of soldiers-in-mufti ‘Petrus’, as in St. Peter, an acronym derived from Penembak Misterius or Mysterious Killers.). Suharto notoriously saw himself as a new kind of Javanese monarch, thinly disguised as a President of the Republic of Indonesia. ( --- Ben Anderson, “Petrus Dadi Ratu,” New Left Review 3, May-Jun 2000.)

Jika, Kacung Dadi Ratu? *** (08-04-2024)

1412. Dari 'Teori Domino' ke 'Efek Kupu-kupu'

09-04-2024

Sebagai istilah, ‘teori domino’ lebih dahulu hadir sebagai basis dari kebijakan AS terlibat secara intens dalam Perang Vietnam di dekade 1960-an. Tetapi sebagai sebuah penelitian, substansi dari ‘efek kupu-kupu’ sudah diteliti tak jauh beda waktunya dari saat ‘teori domino’ dipakai sebagai basis kebijakan. Sebagai istilah, ‘efek kupu-kupu’ (butterfly effect) hadir pertama kali dalam makalah Edward Lorenz, seorang professor meteorology dari MIT, pada tahun 1972.

Tetapi bayangkan pasir yang dijatuhkan satu-per-satu, ia perlahan membuat sebuah gunung pasir. Tetapi pada titik tertentu, tambahan satu butir pasir ternyata akan membuat gunung pasir itu runtuh. Itulah saat ‘hal kuantitas’ berubah menjadi ‘hal kualitas’. Apakah satu butir pasir terakhir itu bisa dibayangkan sebagai satu ‘kepakan kupu-kupu’? Yang katakanlah butir terakhir itu dijatuhkan lama setelah kita lupa proses sebelumnya, dimana satu-per-satu butir pasir jatuh dan sampai membentuk gunung. Ketika kita sudah lupa prosesnya dan sudah (terlalu lama) menghayati adanya gunung pasir itu sebagai fakta yang seakan ‘statis’ saja, tiba-tiba saja kita bisa terkejut bagaimana mungkin satu butir pasir dapat meruntuhkan gunung pasir itu. Kadang memang kita sering lupa bahwa ‘proses-proses molekuler’ itu sudah berlangsung lama, dan menjadi terkaget-kaget ketika kemudian hadir sebuah ‘katalis’ yang mempercepat perubahan. Atau kita memanaskan air perlahan, dan tiba-tiba saja ketika sampai suhu 100 derajat celsius, air berubah jadi gas.

Dalam wawancara dengan Cindy Adams, si-Bung mengaku bahwa di sekitar tahun 1929-an – diusianya yang belum genap 30 tahun, ia sudah memperkirakan jika pecah Perang Pasifik maka Indonesia akan merdeka. Mungkin dalam bayangan si-Bung, ketika kekuatan imperialis itu ada di situasi rantai terlemah-nya maka akan ada momentum untuk melepaskan diri dari cengkeraman penjajah. Bagaimana jika situasinya ‘terbalik’. Bertahun kemudian setelah Proklamasi, ‘calon penjajah’ melihat ketika republik dalam rantai terlemahnya, adakah momentum untuk penguasaan? Jika kita sering mendangar ungkapan ‘republik tidak sedang baik-baik saja’, bukankah bagi pihak lain –si-calon penjajah, mungkin saja akan menghayati bahwa republik sedang dalam rantai terlemah-nya? Dan kalau melihat perjalanan ke belakang, akan nampak juga bagaimana menjadi sebuah ‘rantai terlemah’ itu bukannya tiba-tiba saja. Dari kacamata Perang Modern seperti sering disinggung oleh Ryamizard Ryacudu, mulai dari tahap infiltrasi, eksploitasi, adu-domba, cuci-otak, paling tidak bertahun terakhir memang ‘proses-proses molekuler’ untuk menjadi rantai terlemah semakin jelas, dan tinggal selangkah lagi untuk masuk ke tahap penguasaan. *** (09-04-2024)

1413. Mimpi Yang Terbeli

11-04-2024

Mimpi Yang Terbeli” adalah lagu Iwan Fals tahun 1988 dalam album 1910. Lirik dimulai dengan: “Berjalan di situ … di pusat pertokoan.” Dalam dunia konsumerisme, ‘pertokoan’ dan terutama segala varian-besarnya, jelas tidak hanya terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dasar saja, tetapi juga soal relasi-relasi kuasa. Bagi Nietzsche (1844-1900), hasrat paling mendasar manusia adalah terkait dengan will to power. Atau dalam bahasa yang lebih halus, dalam piramida kebutuhan Maslow (1908-1970), aktualisasi diri ada di puncak hirarki. Bicara soal will to power, bukankah pada ujungnya ia perlu juga sebuah ‘display’? Dan soal ‘display’ ini ujung-ujungnya adalah soal ‘rasa-merasa’ yang kemudian lekat dan menjadi bagian dengan yang kita sebut sebagai kebudayaan. Kebudayaan adalah soal kebiasaan, adalah soal pembiasaan juga. Bagaimana jika ‘display’ seperti dimaksud di atas itu dibiasakan ada di ranah ‘kekuatan uang’ di puncaknya, kemudian di ranah ‘kekuatan kekerasan’ dan baru kemudian yang ada di ranah ‘kekuatan pengetahuan’? Glorifikasi ‘crazy rich’ dan ‘premanisme’ nampaknya bisa menjadi indikasi telanjangnya. Dan juga bagaimana jika yang mengkoordinasi pendidikan dan kebudayaan itu adalah sosok lekat dengan ranah ‘kekuatan uang’. Komplit-lah (rusak-rusak-an-nya). Atau bagaimana dengan adanya produk ‘merek asli’ dan KW-KW-nya. Tidak masalah memang, tetapi bagaimana jika kita bicara relasi kuasa ranah negara? Bagaimana will to power dalam relasi-relasi ‘mikro’ itu menampakkan diri dalam nuansa ‘makro’-nya, katakanlah ranah negara? Atau paling tidak di ranah ‘kolektif’-nya?

Jika Hermann Broch (1886-1950) benar bahwa manusia itu akan selalu menggendong juga kesadaran temaram (twilight state) maka untuk menjadi ‘manusia massa’ memang sungguh ‘menggoda’. Maka pula tak mengherankan jika para ‘manipulator politik’ akan selalu gentayangan saja. Bahkan paling tidak sejak lebih dari 2000 tahun lalu ketika kaum Sofis sudah ‘mapan’ dalam keberadaannya. ‘Mimpi yang terbeli’ dalam relasi kuasa ‘makro’ sering kemudian hadir dalam bentuk mimpi-mimpi untuk ‘ikut’ berkuasa. Kalau ‘junjungan’-nya sudah berkuasa seakan-akan mimpi untuk ikut berkuasa-pun sudah mendatangkan orgasme-nya sendiri. Padahal kenyataannya hanya penuh ngibul saja. Yang ‘tukang ngibul’ itu pastilah tahu batas-batas dari tipu-tipu itu, maka dalam waktu bersamaan pula akan disodorkan si-‘kambing hitam’ yang akan ‘mengalihkan-rivalitas’ antara yang dikibuli dan yang mengibuli. Atau jika mengikuti Naomi Klein dalam The Shock Doctrine, maka beri saja shock –apapun bentuknya, sehingga kesadaran kembali seperti kanvas kosong-putih-bersih dan siap dengan seri per-kibul-an baru. Beri mimpi-mimpi baru, boleh lama dengan bungkus baru, atau sosok ‘pencerita-baru’ dengan tetap menenteng ‘camera obscura’ kesayangan turun tumurun. Slogan sebenarnya tetap sama: “Mangan-ora-mangan asal tetap ngibul”. ‘Ngibul’ soal mimpi-mimpi yang akan ‘dibeli’ dengan kontan oleh khalayak kebanyakan. Tanpa berpikir panjang lagi.

Maka disitulah peran sentral dari ‘partai pelopor’. Atau juga katakanlah, ‘mahkamah pelopor’. Atau ‘cerdik-pandai pelopor’ –si intelektual organik. Atau segala ‘pelopor’ yang mampu dan mau untuk ‘berpikir panjang dan dalam’ dan akhirnya mewujud dalam sebuah tindakan. Atau kalau memakai istilah Toynbee, minoritas kreatif. Minoritas kreatif yang akan membangun respon-genuine-nya dalam menghadapi bermacam tantangan. Dalam bangunan respon terhadap tantangan itulah sebenarnya ada mimpi yang bisa diletakkan. Dan memang tidak ada salahnya mimpi-mimpi dilahirkan, masalahnya, mimpi tentang apa, siapa yang melahirkan, dan untuk apa? Bagi ‘mahkamah pelopor’ atau katakanlah ‘mahkamah konstitusi’, ‘mahkamah agung’ dan sejenisnya, dalam segala respon terhadap tantangan tegaknya hukum atau konstitusi, maka bisa juga dilahirkan bagi khalayak kebanyakan sebuah mimpi akan adanya hukum yang tidak pandang bulu, misalnya. Mimpi-mimpi yang akhirnya menjadi semacam road-map atau ‘peta-jalan’. Dan bukannya mimpi-mimpi yang hanya ‘memabukkan’ saja. *** (11-04-2024)

1414. Republik Tanpa G

12-04-2024

Dari asal katanya, republik dari res-publika, ‘urusan umum’. Jadi memang bukan res-d, ‘urusan dinasti’. Jika republik kemudian menjadi ‘urusan dinasti’ maka bisa-bisa res-publika perlahan akan melenyap. Akan menjadi res-privata, misalnya. Bahkan bisa-bisa akan jadi res-ld, ‘urusan loe doang’.

Karena merupakan ‘urusan umum’ maka biaya hidupnya juga merupakan ‘urusan umum’ juga, sebagian besarnya melalui bermacam bentuk pajak yang dibayar oleh ‘umum’. Maka tidak mengherankan pula pajak-pajak yang dibayar oleh ‘umum’ itu akan dimintakan pertanggungjawaban publik-nya. Pertanggungjawaban ‘umum’-nya. Hal yang mudah-mudah saja dipahami. Tetapi tidak bagi yang hawa-nafsunya sudah mendesak sampai ubun-ubun sehingga mengganggu proses berpikir. Bahkan berpikir yang sederhana sekalipun.

Bagi publik yang berurusan, pajak-pajak yang dikumpulkan dan dikelola oleh pengelola republik diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup bersama, menuju ke-kesejahteraan umum bersama. Sekali lagi, kesejahteraan umum, bukan kesejahteraan dinasti, atau kesejahteraan sedikit orang saja, apalagi kesejahteraan kaum perampok, koruptor, pengemplang, dan sejenisnya. Bukan juga untuk membiayai laku gegayaan, sok-sok-an, atau main raja-raja-an. Karena power tends to corrupt maka res-publika tidak hanya kemudian membuat lembaga-lembaga yang memfasilitasi bermacam ‘urusan publik’, tetapi juga bermacam hukum dan aturan main. Hukum tidak hanya terkait dengan publik -‘si-umum’, tetapi juga untuk mengendalikan siapa-siapa yang mendapat kesempatan untuk mengelola republik dalam kurun waktu tertentu. Celakanya ketika ‘dewi fortuna’ ternyata tidak berpihak pada ‘urusan publik’, bisa-bisa yang didapat sosok pemimpin yang demen kucluk-kucluk-an. Hukum dan aturan main kemudian ditelikung semau-maunya, demi tegaknya res-d seperti disebut di awal tulisan. Rusak-rusak-an. Korupsi-pun kemudian merebak secara ugal-ugalan. Perampokpun berkeliaran semau-maunya. Rampok sana rampok sini. Semua boleh asal res-publika kemudian menjadi res-d. Kucluk-kucluk-an abis. Rusak-rusak-an. Dan res-publika-pun dengan pastinya akan melenyap. Republik akan menjadi ‘redublik’ atau bahkan ‘regublik’. Yang semestinya tanpa d itu. Atau tanpa g. *** (12-04-2024)