1230. Partai Setan Gundul

02-09-2023

No matter how many parties run against one another in elections, and no matter who gets the most votes, a single party always wins. It is the Invisible Party of bureaucracy,” demikian ditulis Alvin Tofler dalam Power Shift (hlm. 257) Tetapi apakah hanya birokrasi yang mempunyai potensi seperti ditulis oleh Toffler di atas? Bagaimana dengan ‘Partai Setan Gundul’? Namanya saja ‘setan’, gundul lagi, maka mereka sebenarnya bukan partai seperti biasanya, tetapi lebih sebagai ‘parasit’ yang hidup menyebar di bermacam partai pada umumnya. Biasanya pula sebagian besarnya ada dalam kondisi dormant, baru hidup menampakkan diri melalui bermacam penampakannya ketika memang dibutuhkan. Karena sebenarnya salah satu fungsi partai politik adalah untuk ‘perang’ –tanpa senjata, tidak salah-salah amat jika Perang Modern bisa sebagai salah satu bagian pendekatan. Perang Modern dalam tahap-tahapnya, mulai dari infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, cuci otak, dan terakhir invasi/pencapaian sasaran atau penguasaan. Maka memang ‘Partai Setan Gundul’ itu selalu akan mulai dari infiltrasi.

Bagaimana kita bisa meraba adanya partai setan gundul ini? Tidak lain dari ‘penampakan-penampakan’-nya. Dari hal mirip-mirip, dari waktu-ke-waktu, kita bisa membayangkan ada hal sama. Tentu ini harus di-cek ulang lagi pada realitas, atau dikomunikasikan dengan imajinasi lainnya. Jika itu tidak dilakukan, bisa-bisa menjadi liar apa-apa yang kita bayangkan. Tetapi ada yang ‘cukup sensitif’ dalam melihat penampakan-penampakan si-setan gundul, yaitu ketika penampakan ada dalam 'dimensi eskalatif'-nya. Bagaimanapun juga yang namanya tahap eksploitasi dalam Perang Modern itu sambungannya adalah tahap cuci otak. Dan salah satu pintu masuk cuci otak adalah ‘rute eskalasi’. Naomi Klein dalam The Shock Doctrine dengan gamblang menunjukkan bagaimana ‘eskalasi’ bencana dahsyat di New Orleans bertahun silam akan membuat kesadaran khalayak layaknya ‘kanvas putih’, dan saat itulah kaum neolib mengambil kesempatan,, jadilah apa yang disebut Klein itu sebagai ‘disaster capitalism’. *** (02-09-2023)

1231. Berubah, Berubah, Berubah

02-09-2023

Dalam pergerakan merebut kemerdekaan tentu ada pernak-perniknya. Jika ada perbedaan pendapat, atau bahkan perselisihan diantara para pejuang adalah wajar-wajar saja. Tentu adanya perbedaan bahkan perselisihan antar pejuang kemerdekaan akan membuat penjajah sedikit riang gembira. Sedikit? Ya, sebab selama kata ‘merdeka’ belum terkubur akibat perbedaan atau perselisihan itu maka tetaplah itu akan menjadi batu besar di atas gunung salju. Yang jika pada waktunya mulai menggelinding cepat akan memicu longsoran dengan bola salju yang semakin besar dan besar, dan akan mengubur mereka, para penjajah. Manusia menurut Ernst Cassirer adalah juga animal symbolicum, dan kata ‘merdeka’ saat perjuangan dulu adalah sebuah simbol yang betul-betul mampu menggerakkan. Sebuah simbol ‘yang terdukung’.

Kalau diperhatikan, ada beberapa kata bertahun terakhir seakan gencar untuk dicarikan ‘dukungan’-nya, mulai dari intoleran, kodran-kadrun, yoman-yaman, dan sekitarnya, ternyata itu semua terkikis hebat dalam bulan-bulan terakhir ini, dengan kata: berubah! Mengapa kata ‘perubahan’ itu seakan begitu mudahnya ‘menyapu’ kata ‘intoleran’, ‘koran-kadrun’ atau juga ‘yoman-yaman’ itu? Nampaknya ini lebih terdukung oleh situasi ‘basis’ yang berkembang. Situasi ‘relasi-relasi kekuatan produksi’ yang lebih bernuansa kong-ka-li-kong, pat-gu-li-pat, dimana ujung-ujungnya adalah ‘pembagian kekayaan’ yang jomplang-nya terasa ugal-ugalan. Perubahan adalah gejala biasa-biasa saja, tetapi ketika diangkat dalam ranah simbolik-nya, ia bisa-bisa memberikan kekuatan dahsyat layaknya ketika dulu kata ‘merdeka’ menjadi ‘elan vital’-nya melawan penjajah. Jadi, beranilah untuk (tetap) berseru lantang bahwa inilah saatnya Indonesia berubah! *** (02-09-2023)

1232. Kepentingan Nasional dan Dinamikanya

03-09-2023

Dari alinea 1 dan 2 dalam Pembukaan UUD 1945 kita bisa belajar banyak, salah satunya adalah menempatkan ‘kepentingan nasional’ –saat itu sudah sampai di pintu gerbang kemerdekaan, tidak di ruang kosong, tetapi ada juga ‘di atas dunia’. Ada yang mengatakan –kalau tidak salah ingat, Richard Robinson, untuk menjadi bangsa yang kuat maka ‘kepentingan nasional’ mestinyalah di-‘refleksikan’ pada dinamikanya ‘kepentingan internasional’. Atau bisa kita hayati sebagai katakanlah ‘kepentingan nasional’ adalah sebuah pulau maka akan adakah yang disebut pulau itu jika tidak ada samudera? Tentu ‘dialektika’ pulau-samudera tidaklah ‘statis’ dalam kita membayangkan. Maka kita bisa membayangkan juga akankah pulau ‘kepentingan nasional’ itu akan tanpa daya ketika diterjang gelombang besar samudera-nya dinamika ‘kepentingan internasional’? Ataukah kita mampu membangun indahnya pantai dengan horison samudera yang memang sungguh menggetarkan itu? Maka benar juga si-Bung, kita tidak hanya hidup dalam retorika indahnya pulau yang kita huni misalnya, tetapi juga dalam dinamika dan dialektikanya.

Demikian juga ketika kita menghayati adanya partai politik yang sarat dengan kepentingan mereka masing-masing. Tetapi adakah ‘kepentingan partai’ tanpa adanya ‘kepentingan nasional’ dimana juga tidak akan ada ‘kepentingan nasional’ jika tidak ada ‘kepentingan internasional’? Tentu kita bisa juga membayangkan melenyapnya batas-batas negara-bangsa, tetapi itu nanti setelah ada ‘kepentingan galaksi’ ketika alien-alien sudah menampakkan diri dengan segala kepentingannya juga. Itu nanti. Fakta-akta hari ini kita mestilah meyakini bahwa adanya partai politik yang kuat adalah ketika ia mampu mereleksikan kepentingan partai-nya dalam dinamikanya ‘kepentingan nasional’ dan ‘kepentingan internasional’. Jika kerja partai lebih hanya pada ‘oleh-retorika’ dan terlebih ketika digabungkan dengan ‘olah kepentingan-diri’ semata, maka bisa saja ia ada dalam ukuran besar dalam dunia elektoral, tetapi sebenarnya keropos dalam dunia lainnya. Ketika tidak ada lagi kritik-otokritik dalam diri partai, gantungan akan ‘kebesaran’-nya memang kemudian hanya pada retorika itu. Entah itu melalui bahasa verbal atau bahasa tubuh, dari tubuh tokoh-tokoh ‘panutan’-nya. Bahkan tongkat-mbah-nya-nya pun kalau perlu dimainken.

Bagaimana jika ada koalisi partai-partai dalam dunia elektoral? Sama-lah, jika tidak mampu merefleksikan ‘kepentingan-koalisi’ dalam dinamikanya ‘kepentingan nasional’ dan ‘kepentingan internasional’ ia bisa-bisa tidak menjadi koalisi yang benar-benar kuat. Digoyang dinamika ‘kepentingan nasional’ sedikit saja sudah goyang, belum lagi ketika ‘kepentingan internasional’ ikut main secara all-out. Bisa-bisa amblas anginé. *** (03-09-2023)

1233. 1999 dan Yang Ditakuti

04-09-2023

Congor putih mbah …. Ojo lali, congor putih ….,” demikian seorang laki paruh baya mengayuh sepeda keliling desa. Tanpa bayaran. Itu di pemilu 1999. Juga berdirinya di banyak tempat ‘posko-posko perjuangan’ dengan swadaya dari orang-orang sekitar. Nampaknya situasi seperti inilah yang ‘ditakuti’ oleh ‘mereka’. Tidak sekedar bergerak-berkumpul-berswadaya untuk mendukung sesuatu tetapi lebih dari itu karena alasan-alasannya. Terutama karena adanya latar belakang ‘situasi negatif’ yang lekat dirasakan. Dalam masyarakat dengan power distance tinggi dimana distribusi kekuasaan tidak merata dan menyebabkan ada di tempat lebih tinggi dalam kekuasaan, penerimaan atas perbedaan ini terutama terhadap ‘yang di atas’ akan diterima dengan ‘lapang dada’. Jika dibayangkan ada pusat sebagai kekuasaan lebih tinggi dan khalayak mengelilinginya, maka yang diharapkan paling tidak antara ‘gaya sentripetal’ dan ‘gaya sentrifugal’-nya seimbang syukur-syukur lebih besar sentripetalnya. ‘Elan vital’ yang lebih didorong oleh ‘situasi-situasi negatif’ nampaknya akan memperbesar ‘gaya sentrifugal’ sehingga selama ini si-penikmat di pusat bisa-bisa akan ada dalam situasi keretakannya. Pemilu 1999, 2004, 2019 diwarnai dengan mirip-mirip seperti ini dengan ‘judul’ berbeda-beda. Lalu bagaimana ‘mereka’ mengelola sesuatu yang mengusik ‘mereka’ ini?

Jika ada input-proses-output maka ‘gaya sentrifugal’ yang ‘liar’ ini akan dikelola baik di input atau proses atau output-nya. Tergantung situasi dan kesempatannya. Karena bagaimanapun juga, bukan hanya hasil pemilu yang bisa-bisa ‘menakutkan’ tetapi ketika melalui pemilu itu terbangun kekuatan ‘yang banyak’ secara ‘berkelanjutan’. Hasil pemilu 1999 dan 2019 ‘dikelola’ segera setelah pemilu, atau masih ada dalam proses pemilu di bagian output-nya. Sedangkan dalam pemilu 2004, soal ‘keberlanjutan’-lah yang dikelola.

Bagaimana dengan 2024? Yang semakin nampak bahwa ‘gaya sentrifugal’ dengan dorongan ‘situasi-situasi negatif’ semakin membesar? Nampaknya ‘kerepotan’ pemilu 2019 dalam mengelola di bagian output memberikan pelajaran tersendiri. Dan bermacam jejak digital bisa-bisa akan ‘dipanggil’ lagi ketika ‘tata-kelola’ di tahun 2019 itu akan diulang lagi. Bisa tambah runyam. Tentu kemungkinan itu akan selalu dalam pertimbangan, tetapi nanti sebagai cadangan terakhir. Runyam atau tidak runyam toh masih ada kekuatan kekerasan di belakangnya, begitu paling tidak masih ada dalam imajinasi ‘mereka’ Maka jika bisa dikelola di-input atau proses, mengapa tidak? *** (04-09-2023)

1234. Menjelang 20 Tahun Google Maps

04-09-2023

Salah satu perkembangan terakhir dari Google Maps adalah bantuannya saat kita mencari sebuah lokasi. Tinggal masukkan saja alamat dituju maka google maps akan membantu kita, belok kanan, lurus, atau belok kiri. Bahkan ancang-ancangnya, seperti misalnya nanti 300 meter lagi belok kiri misalnya. Tidak hanya bantuan visual tetapi juga dibisiki melalui kata-kata. Misal saat naik sepeda motor, pakai ear-phone nir-kabel kita turuti saja apakah belok kanan atau kiri atau lurus. Dan sebagian besarnya akan sampai juga di tujuan. Bahkan jika di depan ada kemacetan panjang akan dinampakkan pula. Apakah kita perlahan akan terkikis kemampuan dalam melihat ‘peta besar’-nya ketika kita hidup dalam bingkai modus google maps ini?

Di lain pihak dunia digital membuat otak kita, terutama otak anak-anak kita menjadi semakin terlatih untuk lebih ‘lincah’ saja meloncat dari satu informasi ke informasi lainnya. Kecepatan dan beragamnya informasi yang didapat dari dunia digital memang jauh melebihi dibanding dengan saat dulu kita hanya dihadapkan oleh ‘informasi-berbasis-elektronik’. Maka muncullah kemudian istilah ‘logika waktu pendek’ terutama di ranah media massa. Kecepatan menghadirkan informasi aktual kemudian menjadi ‘logika-dasar’ media kalau tidak mau redup secara ekonomi. Banyak yang kemudian ‘dikorbankan’ –sadar atau tidak, termasuk di sini adalah soal kedalaman dan keluasannya. Tetapi buat apa ‘menjual’ kedalaman dan keluasan ketika ‘pasar’ sudah sedemikian berubahnya?

Tetapi benarkah khalayak kebanyakan sudah ‘tidak peduli’ lagi soal ‘kedalaman dan keluasan’ ini? Mengapa Manuel Castells –di bagian akhir abad 20, kemudian mensinyalir bahwa dalam dunia digital serba cepat ini maka bisa-bisa identitas menjadi sumber utama dalam pencarian makna? Bukankah dalam bermacam halnya kebanyakan makna itu akan ditemukan dalam ‘kedalaman dan keluasannya’, paling tidak dalam proses ‘penemuannya’? Menjadi begitu berarti dan mampu memberikan ‘daya hidup’ mestinya bukan proses serta merta. Ataukah ketika secara kultural adanya pergeseran dari ‘inner direction’ ke ‘other direction’ itu jauh di lubuk hati akan juga mengusik ‘rasa aman’? Pergeseran dari ‘inner direction’ ke ‘other direction’ yang dipotret oleh Reisman dkk dalam masyarakat Amerika dalam The Lonely Crowd itu bahkan ditulis di tahun 1950, saat komputer masih sebesar gajah mini. ‘Kedalaman dan keluasan’ sebenarnya pada ujungnya adalah bicara soal ‘kosmos’. Melalui bahasa, meski tetap saja ada yang tidak bisa terungkap, manusia kemudian membangun ‘dunia’-nya di tengah-tengah segala ‘kekacauan’ semesta. ‘Dunia’ yang seakan memberikan ‘rasa aman’.

Maka di tengah-tengah banyak kehidupan dijalani dengan ‘modus google maps’, dalam hidup bersama semestinyalah ada yang membawa ‘lentera’ tentang peta besar-nya. Dalam ranah agama peran itu lebih ada di pundak kaum agamawan-nya, entah apapun sebutannya. Dalam ranah politik semestinyalah lebih ada di partai politik dan aktivis masyarakat sipil. Ketika partai politik kehilangan gairah akan ‘kedalaman dan keluasan’ dan banyak aktivis menjadi ‘takut’ untuk bersuara lantang bahkan termasuk media-massanya, maka bisa-bisa suara kaum agamawan-lah yang akan lebih didengar. Dan penghayatannyapun akan lebih melalui jalan short-cut-nya, sebagai ‘identitas’.

Maka proses ‘penyederhanaan partai politik’ dan memojokkan ‘politik identitas’ sebenarnya adalah sebuah ‘paket’ yang tak terelakkan. Partai politik dibuat se-sederhana mungkin untuk sekedar urusan gairah elektoral saja dan tidak lagi ‘mengurusi’ soal ‘kedalaman’ dan ‘keluasan’ lagi. Dan dengan itu, siapa-apa ‘other direction’-nya? Jadilah, maunya, (tetap) satu-satu-nya adalah: pasar. *** (04-09-2023)