1355. Korupsi vs Etika

22-01-2024

Jangan pernah berharap pada yang tidak punya etika, yang tidak paham etika, dan mengolok-olok etika. Terlebih dalam soal korupsi. Korupsi yang sudah begitu menggila seperti sekarang ini, di tangan yang tidak punya etika, yang tidak paham etika, dan mengolok-olok etika (lagi) maka korupsi akan semakin jahat saja. Semakin bengis. *** (22-01-2024)

1356. Yang Dipertaruhkan (1)

23-01-2024

Apa yang sedang dipertaruhkan dalam sebuah kontestasi pemilihan umum? Demokrasi? Nasib negara-bangsa ke depannya? Jawabannya bisa mudah, dan tidak. Bagaimana jika demokrasi mendapat saingan beratnya: konsumerisme? Ternyata apa yang terjadi di ‘basis’ itu tidak hanya menentukan rasa-merasa soal dunia politik, tetapi juga dunia konsumsi. Jangan-jangan penghayatan akan dunia politik itu sudah begitu diwarnai oleh penghayatan konsumsi? Konsumsi yang semakin mendorong dan meluasnya apa yang sering disebut sebagai ‘throw-away society’. Istilah pertama kali muncul hampir 70 tahun lalu, di puncak keberhasilan welfare state a la pasca Perang Dunia II. Ditambah dengan merebaknya jaringan internet, kecepatan dalam seliwerannya informasi ini semakin mendorong berkembangnya ‘logika waktu pendek’, terutama di ranah media massa. Dua-belas tahun setelah istilah ‘throw-away society’ itu menampakkan diri, Guy Debord merilis ‘tesis-tesis’-nya dalam The Society of the Spectacle (1967). Bagaimana jika ‘kombinasi’ dari ‘throw-away society’, ‘the society of the spectacle’, dan ‘logika waktu pendek’, bersekutu menginvasi penghayatan dalam ranah politik? Terlebih ketika logika ‘multi-polar’ semakin mendesak logika ‘mono-polar’ dalam bermacam ranah kehidupan? Bahkan dalam dunia konsumsi.

Yang kemudian terpinggirkan dalam ‘logika waktu pendek’ terutama adalah soal kedalaman. Tetapi apakah soal ‘kedalaman’ ini semata soal cukupnya ‘waktu terluang’. Bagaimana jika di tengah-tengah ‘pendeknya waktu’ karena harus bersaing dengan yang ‘serba cepat’ tetapi pada saat yang sama ada kesempatan luas untuk sebuah ‘inter-subyektifitas’? Tetapi bukankah di dunia digital-internet ini juga seliweran tidak hanya hoax, dis-informasi, ‘sampah digital’, tetapi juga sebentar akan semakin merebak: deep fake yang difasilitasi oleh bermacam bentuk Artificial Intelligence itu? Dari image sampai sound bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga mana yang asli dan palsu sering sulit untuk dibedakan. Bahkan bisa-bisa hadir sesuatu yang mendekat pada ‘shock doctrine digital’. Maka tetaplah kita memberikan apresiasi tinggi kepada yang tanpa lelah melakukan counter terhadap bermacam dis-informasi atau hoax yang ditebar oleh para buzzerRp itu, misalnya. Atau oleh ahli-ahli propaganda, para ‘spin doctors’. ‘Umpan lambung’ –disinformasi, terus saja bertebaran mencari mangsa.

Arab Spring merebak sekitar 6 tahun setelah Facebook muncul, atau 4 tahun setelah Twitter. Tetapi kira-kira 5 tahun setelah Arab Spring merebak, apa yang kita kenal sekarang sebagai Skandal Cambridge Analytica itupun berperan penting dalam memenangkan Trump di pilpres AS tahun 2016. Dan ada yang juga mengatakan berperan penting dalam Brexit di Inggris sana. Skandal, karena melibatkan ‘bocor’-nya puluhan juta data pribadi pengguna Facebook, dan dengan algoritma tertentu profil psikologis dari para pengguna dikelompok-kelompokkan, kemudian dikirimlah pesan-pesan (politik-kampanye) yang sudah disesuaikan dengan kelompok profil psikologisnya. Atau bahkan –disinyalir, untuk tidak usah aktif dalam referendum Brexit. Golput dalam referendum Brexit itu. Banyak yang ‘anti-Brexit’ kemudian ‘golput’, dan dari beberapa tayangan-wawancara, banyak yang menyesal bertahun kemudian. Apa yang mau disampaikan di sini adalah, ada ‘movement-counter movement’ yang sebenarnya ‘berlangsung sengit’. Apa yang dibayangkan oleh Zapatista sebagai yang pertama-tama menggunakan jaringan internet untuk meluaskan perjuangannya di bagian akhir abad-20, menjadi tidak mudah-mudah saja.

Era Pengetahuan di masa Revolusi Informasi ini ternyata dihadapkan pada segala nuansa chaotic-nya. Tidak hanya soal kecepatan-nya, tetapi juga ‘content’-nya. Tetapi bukankah ‘dunia-ketiga’-nya popperian itu memang selalu mempunyai potensi besar untuk nuansa chaotic-nya? Baik ketika modus komunikasi masih dominan tatap-muka, maupun ketika masuk dalam perkembangan modus komunikasi man-to-mass, lewat media cetak, radio, film, televisi itu? ‘Dunia ketiga’ popperian adalah dunia tempat bermacam olah mental manusia dilempar. Tidak jauh-jauh amat dari ‘dunia obyektifikasi’ jika mengambil istilah dari Peter L. Berger. Dan siapa yang mampu membatasi-nya? Akan ada kompetisi, ya, tapi membatasi?

Maka tidak mengherankan jika Gramsci kemudian mengenalkan istilah ‘intelektual organik’, atau di sekitar masa itu -sebelumnya, ada yang mengintrodusir soal ‘partai pelopor’. Atau 50 tahun kemudian, Paulo Freire tiada lelah mendorong lahirnya ‘pendidikan kritis’. Atau dulu sekali di era manuskrip, Platon banyak mengajukan kritik pada kaum Sofis. Peristiwa ‘internalisasi’ itu ternyata sering tidak mudah-mudah saja. Bahkan setelah ‘metafora camera obscura’ sudah berumur lebih dari 100 tahun. *** (23-01-2024)

1357. Rule by the Few

24-01-2024

Rule by the few’ adalah terjemahan dari oligarki, olig+arki. Dan apa musuh utama dari oligarki itu? Apakah terlalu naif jika dikatakan bahwa yang mampu menjadi musuh utamanya adalah bahasa? Mengapa George Orwell dalam 1984 hampir seabad lalu menulis soal newspeak? Itu bukanlah berangkat dari ruang kosong. Atau bagaimana ‘tata-krama-bicara’ di istana yang berbeda dengan di luar istana. Atau bagaimana Mangunwijaya pernah menandaskan peran sentral retorika dalam sebuah perkembangan peradaban. Maka kaum oligarki, terlebih jika ada dalam nuansa ‘sultanic oligarchy ’ akan menaruh perhatian lebih pada bahasa, entah digunakan untuk membangun ‘monopoli tafsir’ atau sesuai perkembangan jamannya, kata-kata dikosongkan dari konsekuensinya. Dikosongkan dari isinya, seperti nampak dengan sungguh telanjang dan brutal, bertahun-tahun terakhir. Ada upaya keras dan membabi-buta untuk pembiasaannya. Atau yang terakhir, bahasa bahkan diolok-olok, omon-omon katanya. Kucluk.

Mengapa bahasa menjadi ‘pusat perhatian’ dari kaum oligark? Karena dibalik bahasa, sebelum berbahasa itu ada soal berpikir. Berpikir itu mendahului bahasa. Tidak mengherankan dalam ‘pendidikan klasik’, bagian trivium itu terdiri dari grammar, retorika dan logika, mendahului ‘permainan angka’ dalam quadravium. Dan ‘pendidikan klasik’ itu sering disebut sebagai ‘pendidikan liberal’, dalam arti ‘me-merdeka-kan’. Menjadikan manusia bebas. Atau lihat ketika mesin cetak massal itu ditemukan, dan Bible kemudian dicetak dengan terjemahan bahasa-bahasa lokal, tiba-tiba saja oligarki yang menguasai Eropa saat itu mengalami keretakan besarnya. ‘Komunitas terbayang’ itu semakin menampakkan diri didorong oleh kesamaan bahasanya, demikian kata Ben Anderson.

Maka dalam bahasa ada power, pertama-tama lebih dalam arti dunamis-nya, seperti sebuah ‘gaya’ dalam ilmu fisika. Seperti sebuah potensi yang menunggu aktualisasi-nya. Memang tidak semua potensi akan mewujud dalam aktualisasi-nya, terlebih power (dunamis) yang ada dalam bahasa. Ia sungguh akan berubah menjadi arché ketika ‘hinggap’ terutama dalam ‘entitas’ yang berpikir. Manusia yang berpikir. Tetapi, mungkinkah itu? Bukankah manusia itu secara esensial adalah soal hasrat? Bahkan ada yang mengatakan, rasio bisa-bisa akan diperbudak oleh hasrat? Masih mungkin-lah. Paling tidak jika kita –salah satunya, melihat upaya keras dari kaum Stoa, dua-ribu tahun lalu.[1] Apa yang mau disampaikan di sini adalah meski oligarki ‘ada di mana-mana’ tetapi janganlah kembali pada situasi ‘sultanic oligarchy’, paling tidak digeser pada apa yang disebut oleh Jeffrey Winters sebagai ‘civil oligarchy’. Dan itu pertama-tama adalah dengan upaya sungguh-sungguh mengembalikan retorika pada tempat yang semestinya. Mengembalikan bahasa kembali ke tempat yang terhormat. *** (24-01-2024)

[1] Lihat, Tulisan-51, No. 1329, https://pergerakankebangsaan.org/tulisan-51

1358. Joe Biden Berkhianat!

25-01-2024

Pemilihan presiden Amerika Serikat 2024 nanti akan menarik, karena kandidatnya tidak hanya sama-sama perempuan, tetapi juga sama-sama cerdas dan belum tua-tua amat. Nikki Haley dari kubu Partai Republik vs Kemala Harris dari Partai Demokrat. Tetapi bisik-bisik Joe Biden justru akan berkhianat. Ia ternyata sudah mempersiapkan diri untuk mendukung Nikki Haley! Dan tidak hanya siap kampanye untuk Nikki Haley, tetapi juga akan mengerahkan semua apparat negara untuk mendukung Nikki. Padahal Joe Biden masih anggota Partai Demokrat, dan bahkan ia menjadi wakil presiden dua kali dan menjabat presiden melalui dan didukung Partai Demokrat! Maka berkembang luas tidak hanya di kalangan anggota Partai Demokrat tetapi juga masyarakat luas, nama baru bagi Joe Biden: sik-Joe-sang PENGKHIANAT. Dan bagi rakyat Amerika sono, pengkhianatan dalam politik adalah sungguh tercela, dan media-sosial-pun ramai-ramai untuk bersepakat: tidak akan memilih yang didukung oleh seorang pengkhianat. Tidak akan mendengar apapun yang keluar dari mulut seorang pengkhianat. Jika partainya sendiri dengan tanpa beban di-khianati, siap berani jamin negara-bangsa nantinya akan tidak dikhianati juga?

“Bener kuwi Tok?” Nyah Ndut takon nang Totok.

“Apané Nyah?”

“Kuwi berita mau, sing diwoco Cuk Bowo …”

“Ora bener Nyah …,” sing jawab Kang Yos.

“Ngono yo Kang …”

“Cuk Bowo gèk nulis satiré Nyah …,” Koh Bos mèlu jelaské.

“Opo kuwi satiré?”

Mètafora ….” Likwan nimbrung.

“Opo kuwi mètafora?”

Mas Amir: “Éthok-éthok-é Nyah …”

“Ngono yo …, pura-pura dalam perahu yo Mas …”

“He’eh Nyah ….” *** (25-01-2024)

1359. "Desak Anies" Sebagai Postulat Demokrasi

25-01-2024

Di tengah-tengah segala kehebohan pemilihan umum saat ini, kita sebagai bangsa patut bangga dengan adanya jenis kampanye seperti “Desak Anies”. Di tengah-tengah ratusan juta pemilih, ketika “Desak Anies’ itu dilempar ke dunia digital-internet percayalah itu akan menggetarkan banyak khalayak. Hampir empat-puluh tahun lalu Gayatri Spivak menulis esai Can the Subaltern Speak?, “Desak Anies” seakan sedang membuka pintu-jendela bagi yang tidak punya otoritas itu untuk bicara. Dan didengar.

Jika dilihat dari ilmu neuroscience, “Desak Anies” bisa dilihat sebagai yang sungguh membuat hidup bersama seakan ada yang menahan dari situasi yang terus saja meluncur ke bawah. Bahkan seakan berlomba-lomba menuju ke dasar. Mengapa? Karena “Desak Anies” memberikan alternative lain sehingga tidak semua yang hadir di depan kita –untuk kita ‘tiru’ melalui ‘aktifasi’ neurons mirror system, bukanlah ‘tontonan’ yang ècèk-ècèk saja. Kalau rentang penilaian 0-100, bahkan nilainya paling tinggi hanya 11, makanya ècèk-ècèk. Contoh goyang gemoy itu. Bahkan jika koprol dan kayang ikut-ikutan diperagakan, tetaplah paling tinggi nilainya 11.

Tidak hanya soal neurons mirror system, tetapi bagaimana respon publik terhadap “Desak Anies” menunjukkan bahwa tidak selalu ‘bagian otak yang mengelola emosi, hasrat, insting’ itu menang. Dalam dunia konsumsi, seperti ditunjukkan oleh Clotaire, bagaimana ‘bagian otak yang mengelola emosi, hasrat, insting’ di-eksploitasi memang kemudian hampir selalu saja kemenangan (produsen) dicapai. Orang mengkonsumsi itu sering tidak berdasarkan pertimbangan rasional-nya. Maka tidak mengherankan jika dalam kontestasi, ketika pemilih dihayati sebagai ‘konsumen’, sebagai ‘pemirsa’ saja dari sebuah ‘tontonan’ maka pula yang akan di-eksploitasi adalah ‘bagian otak yang mengelola emosi, hasrat, insting’.

Tetapi hari-hari ini semakin terkuak terkait dengan perkembangan otak, bahwa ‘bagian otak yang mengelola emosi, hasrat, insting’ ternyata bukanlah ‘hal purba’ yang menyebabkan bagian lain dari otak kemudian berkembang, bagian yang mengelola hal rasional, misalnya. Ternyata tidak begitu, tetapi semua bagian otak itu sudah ada sejak evolusi ada dalam fase-fase awalnya. Hanya saja memang bagian otak yang mengelola hal rasional itu berkembang lebih lambat. Pemahaman ini menjadi penting karena jika dalam ranah politik ‘bagian otak yang mengelola emosi, hasrat, insting’ dibiarkan menang dengan segala penampakan eksploitasi-nya maka bagian otak yang mengelola hal rasional itu seakan ia hidup dalam sebuah ‘habitat’ yang ‘kontra-produktif’ terhadap perkembangannya. Jangka panjangnya? Salah satunya adalah kita akan selalu saja ada sebagai ‘bangsa konsumen’, bukan ‘bangsa produsen’.

Tampak dengan sungguh telanjang dan vulgar, rejim bertahun terakhir dan klaim-klaim dari ‘penerus’-nya, yang di-eksploitasi adalah ‘bagian otak yang mengelola emosi, hasrat, insting’. Yang seperti ini akan dilanjutkan? Tidak-lah. *** (25-01-2024)