1335. Berpikir Sebagai 'Syarat Mutlak'

27-12-2023

Berpikir tentu bukan syarat mutlak untuk hidup. Sebagian besar hidup kita justru kita jalani dengan ‘ketidak-berpikiran’, katakanlah taken for granted saja. Ketika di persimpangan jalan ada lampu merah menyala kita berhenti saja hampir dengan tidak berpikir lagi. Atau untuk hidup kita perlu udara, air, makan juga. Berpikir adalah salah satunya saja. Tetapi bagaimana jika kita menginginkan kemajuan? Kemajuan dalam hal ini adalah juga soal ‘memajukan horison’? Apakah cukup dengan slogan ‘kerja-kerja-kerja’? Lihat bagaimana slogan ‘kerja-kerja-kerja’ itu salah satu ‘korban’-nya ternyata horison yang mandeg seakan tidak ‘dimajukan’, bahkan dalam banyak hal-nya justru terasa mungkret. Contoh, setelah 10 tahun berlalu masih saja pertanyaan soal singkatan muncul dalam debat cawapres beberapa waktu lalu. Seakan waktu berhenti, horisonnya ya itu-itu saja, sementara komunitas lain dalam 10 tahun bisa-bisa horison hidup bersamanya sudah dimajukan berkali-kali.

Jika ‘kemajuan’ seperti disinggung di atas kita bayangkan sebagai ‘whole’ dalam konteks fenomenologi misalnya, maka ‘berpikir’ itu adalah sebuah ‘moment’ –nonindependent parts, bahkan bisa dihayati sebagai ‘syarat mutlak’-nya. Tentu ini belum cukup, masihlah perlu ‘syarat mencukupi’-nya. Dan syarat mencukupinya adalah bagaimana itu ditindak-lanjuti dalam eksekusi-nya, dalam tindakan konkret-nya, mewujud dalam ‘vita activa’, terlebih dalam ‘tindakan’. Hannah Arendt membedakan bentuk kehidupan dasar manusia sebagai ‘vita contemplativa’ dan ‘vita activa’. ‘Vita activa’ terdiri dari kerja (animal laborans), karya (homo faber), dan ‘tindakan’ (zoon politikon). Atau beberapa hal di atas bisa kita bayangkan bahwa ‘berpikir’ (thinking) itu akan mempengaruhi soal ‘perasaan’ (feeling) yang akan juga mempengaruhi soal ‘kebiasaan’ (behavior). Pertanyaan lebih lanjutnya adalah, dalam konteks di atas, bagaimana ‘berpikir’ itu benar-benar menjadi ‘syarat mutlak’? Maka ‘berpikir terbuka’ (open minded) adalah ‘syarat mencukupi’ sehingga berpikir dalam konteks ‘kemajuan’ di atas bisa menjadi ‘syarat mutlak’-nya.

Hal-hal di atas, itulah hal mendasar yang ada dalam ‘Desak Anies’. Ajakan untuk menggunakan kemampuan manusia yang sungguh mendasar: berpikir. Maka pula dalam bermacam kesempatan Anies sering mencontohkan apa-apa yang sudah dilakukan selama jadi Gubernur DKI. Bagaimana apa-apa yang katakanlah banyak di ‘vita kontemplativa’ itu ternyata bisa juga di-eksekusi dalam ranah ‘vita activa’, terutama dalam ranah kebijakan dan implementasinya. Juga sering dinampakkan bahwa ‘proses berpikirnya’ itu open minded, bahkan saat Desak Anies pula. Open minded terutama terhadap apa-apa yang terjadi dalam dinamika-nya ‘basis’. Sudah terlalu lama ‘kekuatan pengetahuan’ diminggirkan. Dan bahkan banyak pendapat, bukan hanya dipinggirkan tetapi khlayak kebanyakan itu justru sedang dibuat bodoh. Atau paling tidak dianggap bodoh semua. Maka inilah kesempatan untuk melawan rejim ‘pembodohan massal’ ini. Jangan sampai rejim ‘pembodohan massal’ ini masuk ke ‘fase stabilisasi rejim’-nya. Bisa-bisa kita dibuat bodoh permanen! Maka mari kita dukung ‘kekuatan pengetahuan’ untuk memimpin republik. “Desak Anies” bisa kita hayati pula sebagai upaya mendorong sebuah ‘kelahiran baru’ –rebirth, republik. AMIN! *** (27-12-2023)

1336. Lupakan Survei!

28-12-2023

Lupakan survei, demikian ketika berulang melihat unggahan Desak Anies di berbagai tempat. Bukan soal apakah survei itu benar atau tidak, tetapi karena hidup seakan sudah terasa terlalu pengap dengan bermacam ‘simulasi’. Mana yang riil dan yang tidak kadang menjadi sulit dibedakan. Mana yang isi kepalanya asli atau penuh contekan, atau dibisiki melalui kecanggihan teknologi. Orang kadang merindukan saat-saat makan bersama, nongkrong bersama dengan tidak asyik sendiri dengan smart-phone-nya masing-masing. Orang merindukan ketika ia dekat dengan seseorang, betul-betul dekat-lepas tanpa banyak teralihkan pada dunia digital. Orang merindukan peristiwa tatap-muka yang benar-benar mampu memberikan makna. Orang merindukan dialog berisi dari pada monolog yang bahkan setelah itu dilempar-lempari bingkisan, atau kaos, atau lainnya. Monolog ugal-ugalan tanpa etika seperti terakhir itu sudah banyak yang merasa muak. Apalagi ditambah jogetan yang tidak jelas juntrungannya. Semakin banyak saja yang muak melihat ‘tokoh-tokoh-besar’ penthalitan kayak orang kesurupan. Tidak tahu tempat. Maka secara tidak langsung bisa kita raba siapa sebenarnya calon yang akan mampu meningkatkan ‘sumber daya manusia’ republik. Atau siapa-siapa saja yang sebenarnya lebih suka ‘menunggangi’ manusia-manusia di republik.

Tetapi apa yang sebenarnya terjadi di Desak Anies sehingga menjadi begitu menariknya? Dari kacamata Amartya Sen, Desak Anies adalah ‘embrio’ dari sebuah pendekatan ‘kapabilitas’, capability approach. Desak Anies adalah sebuah peristiwa dimana orang-orang merasa bebas untuk mengungkapkan sesuatu, dan terlebih terkait dengan bermacam kebutuhan dasar-nya. Selain itu juga nampak bagaimana masing-masing sesuai dengan gairah dan kemampuan-nya mengungkapkan dirinya. Atau kalau kita bicara soal potensi, ada syarat mendasar sehingga potensi itu bisa berkembang dengan optimal: kebebasan. Ketika ada ‘ruang kebebasan’ maka lihat di Desak Anies itu, segera saja bermacam potensi akan menampakkan diri.

Jika kita memakai term Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, Desak Anies ingin menampakkan apa yang sebenarnya sungguh mendasar dibutuhkan oleh republik. Berpuluh-tahun republik seakan ‘dikelola’ dengan nuansa ‘mitis’, bermacam ‘sihir’ ditebar, salah satunya yang beujung pada fanatisme pendukung. Atau Kang Marhaen sampai lupa dengan potensi diri yang besar karena ‘sihir’ pro-wong-cilik itu. Bukan ‘eksploitasi’ potensi diri tetapi justru rasa takut yang ditebar. Atau mimpi-mimpi yang sebenarnya ‘tak terbeli’. Atau ‘sihir: kerja-kerja-kerja’ yang akhirnya jatuh pada sebuah ‘operasionalisme’. Termasuk juga di sini bagaimana bermacam survei itu banyak yang jatuh pada jurang ‘operasionalisme’. Lupa hal-hal mendasar sebuah survei dijalankan. Maka, ‘lupakan’ survei, dan mari kita mendorong terus berkembangnya ‘embrio’ yang sedang hidup dan terus berkembang dalam Desak Anies. Semoga saja nanti akan mewujud pada sebuah ‘kelahiran baru’ –rebirth, republik. Republik yang mampu mengembangkan segala potensi yang dikandungnya. *** (28-12-2023)

1337. Wajah Republik

29-12-2023

[Oleh karena itu] dalam masa kini dan mendatang, permasalahan dasar yang paling dominan dan harus sangat serius kita olah dan kita kendalikan ialah masalah (yang sudah setua bangsa manusia) kekuasaan, jelasnya akumulasi dan konglomerasi setiap bentuk kekuasaan. Sifat, watak, wajah, dan suasana suatu bangsa ditentukan langsung oleh derajat kemampuan, seni, dan efektivitas bangsa itu dalam mengendalikan kekuasaan.

Y.B. Mangunwijaya, Kini Kita Semua Perantau, 1989

Kutipan di atas tiba-tiba serasa pas dalam situasi akhir-akhir ini. Sifat, watak, atau bahkan wajah republik seperti apakah yang akan nampak dalam proses pemilihan ini? Wajah republik yang dinampakkan ketika urusan kuasa lekat dengan jogat-joget? Urusan kuasa yang lekat dengan soal singkatan-singkatan? Urusan kuasa yang pernah disesaki oleh ulah si-‘pangeran tik-tok’? Urusan kuasa yang dengan enteng-enteng saja memperkosa perundang-undangan? Urusan kuasa yang bahkan sudah terbiasa disesaki oleh insting-kebinatangan beberapa lembaga survei? Atau lihat peristiwa yang sungguh miris terjadi di rentang waktu pemilihan ini, baru-baru ini. Saat gerombolan ‘mahasiswa’ mengusir pengungsi dan kemudian setelahnya …., menari-nari, lonjak-lonjak kegirangan. Apakah iya wajah republik akan seperti itu?

Maka entah anda pendukung, lawan, atau netral-netral saja, sebagai warga republik, bersyukurlah ada kegiatan kampanye seperti Desak Anies yang sudah berjalan di banyak tempat itu. Ada bagian wajah republik terkait dengan urusan kuasa itu hadir dengan nuansa cerah dan cerdas. Ada potensi besar republik didorong oleh kecerdasan kolektif, bukan malah terus-menerus terjerembab dalam bermacam kebodohan. Atau bahkan memang berulang dan berulang terus menerus dibuat bodoh? *** (29-12-2023)

1338. Kegelapan Sejarah Yang Membayang

29-12-2023

When you think of the long and gloomy history of man, you will find more hideous crimes have been committed in the name of obedience than have ever been committed in the name of rebellion,” demikian pernah ditulis C.P. Snow (1905-1980), seorang penulis kelahiran Inggris. Tulisan ini didasari oleh yang viral baru-baru ini, ulah segerombolan ‘mahasiswa’ yang mengusir dengan kasar pengungsi Rohingya dan setelah itu …. lonjak-lonjak kegirangan seakan sedang menari-mari! Dari aspek apapun, apa yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap yang masuk dalam kelompok ‘kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel’ tidak mempunyai satu-pun pembenarannya. Dan jika dilihat dari kutipan pendapat dari C.P. Snow di atas, hal tersebut harus disikapi dengan ekstra hati-hati.

Menurut Rene Girard dalam teori segitiga-hasrat-nya, S (katakanlah subyek) akan menghasrati O (obyek) itu sebagian besarnya karena meniru M (model). Tetapi dalam proses peniruan (mimesis) itu pada titik tertentu akan berkembang sebuah ‘rivalitas’ antara S dan M yang ditirunya. Untuk menghindari ‘rivalitas’ yang akan terus saja berkembang ini dan kemudian dapat menjadi hal yang meretakkan, maka menurut Girard, dihadirkanlah ‘kambing hitam’ yang akan ‘disembelih’ bersama-sama. Dari bermacam peristiwa masa lalu, pada titik inilah kita bisa membayangkan apa yang disebut oleh C.P. Snow di atas -jauh sebelum Girard, the long and gloomy history of man, you will find more hideous crimes have been committed in the name of obedience. Soal ‘penyembelihan’ si-‘kambing hitam’. Dan itulah mengapa kita harus ekstra hati-hati dalam menyikapi ini. Bagaimana jika di masa depan bukan pengungsi yang menjadi ‘kambing hitam’-nya? Atas nama itu, atas nama ini? Jika masa depan adalah soal kemungkinan, maka kemungkinan keganasan yang dinampakkan oleh gerombolan ‘mahasiswa’ terhadap pengungsi beberapa hari lalu itu, kemungkinan akan berulang dengan ‘kejahatan-logika’ yang sama, perlu dipertimbangkan sehingga republik tidak jatuh pada “the long and gloomy history of man”. *** (29-12-2023)

1339. Menjadi Pecundang (ft. Koentjaraningrat)

30-12-2023

Banyak jalan menuju Roma, demikian juga banyak jalan untuk menjadi pecundang, the loser. Mengambil inspirasi dari tulisan Koentjaraningrat sekitar 50 tahun lalu,[1] seorang pecundang bisa kita bayangkan sebagai yang demen dengan ‘mentalitas menerabas’. Cari enaknya sendiri, bahkan kalau perlu aturan-pun diubah. Dengan bantuan sang-paman. Atau menjadi walikota lebih karena bapak atau mertuanya. Atau menjadi ketua partai hanya dalam hitungan hari.

Seorang yang tanpa beban ‘meremehkan mutu’ akan juga mempunyai potensi besar untuk menjadi seorang pecundang. Bayangkan dalam ranah negara, tidak hanya untuk mempermalukan lawan debat tetapi juga untuk ‘meninggikan diri’, ia melempar pertanyaan soal singkatan. Ketika lawan kesulitan menjawab, ia dengan penuh keyakinan melempar olok-olok-nya. Ia tak peduli lagi soal ‘mutu debat’. Ditambah lagi dengan bermacam alat komunikasi menempel-lekat di tubuh-nya, maka segera saja khalayak akan mempunyai persepsi bahwa sesungguhnya ia ‘tidak percaya pada diri sendiri’. Termasuk juga di sini kelitan fa-fi-fu yang intinya menghindari bermacam forum debat yang ditawarkan khalayak.

Juga lihat, meski sudah diperingatkan oleh panitia soal gerakan tangan naik-turun untuk ‘memprovokasi’ pendukung supaya berteriak semakin kencang, eh malah diulang lagi dengan tanpa beban bahkan itu diulang di atas panggung! Jika memakai istilah Koentjaraningrat, ia mempunyai ‘sifat tak berdisiplin murni’.

Maka bisa kita bayangkan jika yang seperti ini memegang kuasa, ‘sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh’ bisa-bisa akan rutin menampakkan diri. Dalam bermacam bentuknya. Dari lempar-lempar tanggung jawab ke bawahan, atau sok-sok-an kaget, geram, kesal, dan sekitar-sekitarnya. Maka terutama bagi kaum muda: mau dipimpin oleh seorang pecundang? Yang tua-tua saja banyak yang tidak mau, apalagi yang muda-muda! *** (30-12-2023)

[1] Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, PT Gramedia, 1985, cet-12, hlm. 45