1285. Ruang Angkasa

14-11-2023

Ruang angkasa, jauh di atas langit sana selalu menarik perhatian manusia sejak doeloe kala. Bahkan dalam perjalanannya, dari yang begitu menyihir-menakutkan akhirnya menjadi sahabat manusia, paling tidak bagi yang suka melaut. Dengan terus berkembangnya tekhnologi roket dan bermacam bentuk ‘teropong’ mutakhir, bermacam pengetahuan kita tentang ruang angkasa semakin bertambah dari waktu ke waktu. Bahkan pula sudah ada bayangan untuk mulai menambang kekayaan alam semesta di ruang angkasa. Horison kita tentang ruang angkasa terus saja dimajukan. Sayangnya, fakta hari-hari ini memang kita masih jauh tertinggal dari yang sudah mampu mengirim bermacam teleskop super-canggih ke luar angkasa itu.

Terkait dengan ketertinggalan di atas, apakah hanya perlu mengatakan bahwa di tahun 2045 nanti, nantiii cuk … kita akan bla … bla … bla? Hari-hari ini, jika ada yang bicara tentang 2045 kita sebagai pembayar pajak tetap punya hak untuk cukup mengatakan: ndas-mu pecah, cuk … Jelas itu ngibul doang, atau sedang berternak ilusi. Singkatnya, jangan didengar, buang-buang energi saja. Apa yang bisa diharapkan dari yang ingin menunjukkan mempunyai tingkat ‘intelekual’ yang maknyus dengan melalui survei? Para ahli-ahli roket dan teleskop itu direkrut tidak melalui survei! Mereka adalah ahli-ahli yang tidak pernah lelah untuk selalu banting tulang meraih tingkat ke-presisian tinggi dan terobosan-terbosan tehnik yang tak terpikirkan sebelumnya. Lha ini …. cukup melalui survei! Bangsat-lah. Para pembayar pajak, sekali lagi masih punya hak untuk mengumpat: baaang-saaat! *** (14-11-2023)

1286. Para Pembunuh Kecerdasan

16-11-2023

Menjadi semakin cerdas itu tidak hanya soal nature, tetapi juga terlebih adalah soal nurture. Bagi pembayar pajak, bermacam ruang publik mestinya dikelola oleh pemungut pajak sehingga bisa menjadi salah satu ruang yang mencerdaskan. Memberikan lingkungan sehat tidak hanya bagi fisik, tetapi juga kognitif. Pemilihan umum tidak hanya sebuah ‘peristiwa publik’ tetapi juga sebuah ‘ruang publik’ juga. Pemilihan umum dimanapun itu pastilah perlu biaya penyelenggaraannya, dan dari mana sumber biayanya? Sumber utamanya adalah dari para pembayar pajak! Bahkan jika itu dari utang-pun pada akhirnya si-pembayar pajak akan ikut menanggungnya. Apapun bentuk pajak yang harus dibayarnya. Anda beli rokok di warung-pun ada pajaknya. Juga ketika makan di luar rumah. Atau saat beli seragam sekolah untuk anak. Atau buku mainan, susu untuk anak. Bahkan penghasilan ada-pun untuk jumlah tertentu, akan kena pajak juga. Macam-macam. Jadi ini bukan hanya soal siapa dipilih, dan siapa pemilih, tetapi juga melekat erat: pembayar pajak.

Mengapa soal pembayar pajak ini perlu ditekankan? Karena fakta-fakta hari-hari ini, dan juga kemarin-kemarin, pethakilan-nya para calon itu –beserta stakeholder-nya, sering lupa bahwa ia sedang di ruang-ruang publik yang dibiayai oleh rakyat kebanyakan, melalui pajak-pajaknya. Bagi pembayar pajak, pemilihan umum adalah hal yang sungguh serius, uang-uang yang dibayarkan melalui tagihan pajak itu pastilah ingin digunakan dengan serius, tidak dengan glècènan, pecingas-pecingis dan sekitarnya. Uang-uang pajak itu bukanlah untuk membiayai sebuah pesta bahkan jika itu ‘pesta demokrasi’, tetapi adalah untuk membiayai demokrasi yang serius. Bukan untuk membiayai ke-riang-gembiraan-an politik, tetapi untuk membiayai politik yang serius. Politik serius yang mampu ikut mencerdaskan hidup bersama. Terlebih dengan melihat apa-apa yang sedang dipertaruhkan.

Tentu kita boleh tidak setuju dengan pendapat Carl Schmitt hampir seabad lalu yang mengatakan bahwa adanya politik dimungkinkan karena adanya pembedaan antara lawan dan kawan. Atau dalam kata-kata yang lebih ‘lunak’: check and balances. Lihat saja bermacam negara-bangsa yang menapak jalan ‘dua-partai-dominan’ atau ‘dua-koalisi partai-dominan’ itu ternyata banyak yang berhasil meraih kesejahteraan lebihnya. Kawan-lawan-nya jelas. Apakah mereka-mereka itu terus melanjutkan untuk berperang ketika salah satu kalah dalam pemilu? Tidak-lah, sebagian besarnya tidak terus melanjut pada perang. Kalau ‘yang kalah’ terus menjadi satu dengan ‘yang menang’ itu sebenarnya bukan soal jika tidak bersatu nanti akan pecah perang, tidak begitu sebagian besarnya, tidak begitu juga di khalayak kebanyakan. Itu hanyalah soal elit-elit yang ingin merasakan kekuasaan saja. Tidak lebih dari itu. Dan soal check and balances-pun kemudian dikorbankan habis-habisan. Dalam nuansa ‘kontradiksi’ checks and balances itulah salah satunya kecerdasan dalam politik bagi khalayak kebanyakan sebenarnya akan dengan cepat berkembang.

Maka politik semestinya bukanlah jadi ajang ‘pembunuhan kecerdasan’ khalayak, terlebih banyak peristiwa politik itu diselenggarakan atas biaya khalayak kebanyakan, sekali lagi: melalui pajak-pajak yang dibayarnya. Jadi ketika ada elit politik mengajak berpolitik dengan ‘riang-gembira’, kita sebagai pembayar pajak tentu masih punya hak untuk mengumpat: riang-gembira ndas-mu! Atau ada yang suka jogat-joget, kita sebagai pembayar pajak-pun punya hak untuk mempertanyakan: ngapain sih orang itu?! Apalagi yang suka nipu. Bayangkan politik yang dibiayai oleh si-pembayar pajak itu justru digunakan untuk menipu si-pembayar pajak! Anda tidak marah? Atau menggunakan ‘metafora ndèk-ndèk-an’ yang sebenarnya itu menghina kecerdasan khalayak. Anda tidak terusik dengan hal seperti itu? Pastilah perasaan jijik, muak, akan menelusup ke permukaan. Tentu ranah politik akan selalu saja ada momen joke-joke, tetapi itu adalah soal ‘teknis’, soal teknis yang pastinya tidak akan meminggirkan soal esensi. Semestinya. *** (16-11-2023)

1287. Cita-cita, Cita-rasa, Rasa-merasa

17-11-2023

Meraih cita-cita tentu tidak lepas dari tindakan, dari bertindak. Tetapi benarkah kita bertindak hanya ditentukan oleh ‘tarikan’ cita-cita, atau telos tertentu? Cita-rasa terkait dengan soal memilih makanan, dan itu bisa-bisa terkait dengan penampakan makanan, juga bau, rasanya, teksturnya, hangat-dinginnya, dan seterusnya. Bagaimana jika tidak sedang memilih makanan, tetapi ‘memilih’ sebuah tindakan. Masalahnya adalah sebagian besar ‘tindakan’ kita itu tidaklah dalam modus ‘memilih’, tetapi taken for granted kita lakukan saja. Ketika di persimpangan jalan lampu merah menyala, kita berhenti saja. ‘Pilihan’ berhenti itu ‘otomatis’ saja, tidak usah ditimbang-timbang lagi.

Atau bayangkan phobia terhadap ketinggian misalnya, sudah selalu si-A gendong, entah apapun penyebabnya. Maka ketika ia harus naik pesawat terbang, tiba-tiba saja keringat dingin dan kegelisahan sudah mulai ‘naik ke permukaan’ bahkan ketika kaki baru saja melangkah masuk ke bandara. Deep frames menurut George Lakoff adalah tempat dimana surface frames ‘digantungkan’. Phobia terhadap ketinggian itu seakan sebuah deep frames, dan ketika (surface) frame bandara masuk maka segera saja ia digantungkan pada deep frames itu. Bagi Merleau-Ponti kita ada-hidup tidak akan lepas dari ‘keprimeran persepsi’ dalam menjalani kehidupan, demikian ditandaskan dalam bukunya Phenomenology of Perception (1945). Kemungkinan besar pembedaan yang dilakukan Lakoff terkait deep frames dan surface frames sedikit banyak dipengaruhi oleh tulisan Merleau-Ponti ini.

Atau mungkin juga kita bisa katakan bahwa ini adalah soal ‘rasa-merasa’. Bagaimana kita akan ‘menghayati’ sesuatu? Terlebih bagaimana kita ‘menghayati’ sesuatu pada ‘kesempatan pertama’-nya? Sebelum katakanlah, ada kesempatan untuk memikirkan lebih dalam sesuatu itu, sebelum katakanlah juga: kita me-refleksikan sesuatu itu lebih dalam? Tetapi masalahnya sebagian hidup kita memang kita jalani dengan lekat erat pada hal ‘pra-refleksi’, sedikit banyak seperti digambarkan Lakoff dalam istilah deep frames itu. Yang kadang dalam Fenomenologi ini disebut sebagai ‘sikap alamiah’.

Tetapi benarkah sama sekali tanpa proses timbang-menimbang dalam konteks taken for granted di atas? Bukankah ketika masuk di lingkungan rumah sakit misalnya, seakan kita ‘mempersiapkan diri’ untuk berperilaku tertentu? Atau ketika masuk rumah ibadah. Atau sebuah kampus. Apa yang disebut sebagai ‘lifeworld’ itu ternyata juga bisa ‘beroperasi’ dalam bermacam ranah. *** (17-11-2023)

1289. 'Kambing Hitam' atau 'Pihak Ketiga'?

17-11-2023

Seseorang (S) menghasrati O (obyek) lebih karena ia meniru model (M), demikian dikatakan oleh Rene Girad dalam teori segitiga hasrat-nya. Tak jauh amat dari ketrampilan biro iklan ketika memasang figure terkenal dalam mengiklankan produk-produk mereka. Hanya saja Girard menambahkan soal ‘kambing hitam’. Pada titik tertentu, si-M yang ditiru oleh si-S akan terhayati sebagai rival-nya, terlebih jika itu adalah ‘model internal’. Maka untuk menyelamatkan keretakan akibat rivalitas yang semakin membesar, dihadirkan apa yang disebut sebagai ‘kambing hitam’ itu. Katakanlah hadirnya ‘kambing hitam’ itu adalah sebagai penampung energi ledakan rivalitas sehingga hidup bersama bisa terus berlanjut. Kadang dibungkus dalam sebuah ‘perayaan-pembunuhan’ si-‘kambing hitam’.

Soal ‘persahabatan sejati’, menurut Platon, itu hanya akan berkembang dengan hadirnya ‘pihak ketiga’ yang menjadi kepedulian-mendalam bersama. Dan hal yang menjadi kepedulian-mendalam bersama itu biasanya ya hal-hal baik. Meski Aristoteles meluaskan ‘konsep’ tentang persahabatan, ia tidak secara frontal menolak ide Platon tersebut. Dalam ranah politik, seperti kita bisa melihat dari bermacam catatan sejarah, kedua hal di atas, soal ‘kambing hitam’ dan ‘pihak ketiga’ kadang dicampur dalam resep-resep pengendalian massa, apapun jalur atau bentuk propagandanya. Kadang perayaan penyembelihan ‘kambing hitam’ dilakukan tanpa putus dibarengi dengan dongeng-dongeng tentang masa depan sebagai ‘pihak ketiga’-nya. Mengapa ini sering bisa begitu berhasilnya? Paling tidak dari Amy Chua kita bisa memahaminya. Dikatakan oleh Amy Chua dalam Political Tribes (2019) bahwa manusia itu adalah tribal. Masalahnya adalah ini tidak hanya soal insting untuk menjadi anggota sebuah kelompok, tetapi juga soal an instinct to exclude. Maka bisa dibayangkan dalam hal-hal di atas adanya gaya ‘sentripetal’ dan gaya ‘sentrifugal’.

Abraham J. Heschel, seorang rabbi Yahudi dan juga seorang filsuf pernah mengatakan dalam Who Is Man? (1965) bahwa teori tentang bintang tidak akan mengubah esensi tentang bintang, tetapi teori tentang manusia akan mengubah secara esensial apa-siapa manusia. Atau dalam kata-kata Alasdair MacIntyre dalam After Virtue (1981): man is essentially a story-telling animal. Menurut MacIntyre kita hanya dapat menjawab pertanyaan “What am I to do?” jika kita menjawab lebih dahulu pertanyaan utamanya: “Of what story or stories do I find myself apart?” Atau lihat apa yang pernah disampaikan oleh David Korten (2004), merefleksikan politik di AS sono: “The power of the right-wing comes not from their numbers, which are relatively small, but from their ability to control the stories by which we answer three basic questions. How do we create prosperity? How do we achieve security? And how do we find meaning? By monopolizing the stories by which we answer these questions, they define and control the political debate to advance an imperial agenda.[1]

Sekali lagi, dari Marx kita bisa belajar bahwa hal-hal di atas bukanlah isapan jempol saja. Berapa jilid buku ditulis Marx untuk meyakinkan pembacanya bahwa: lihatlah apa yang terjadi di ‘basis’? Dan mengapa Lenin misalnya, begitu menekankan soal pentingnya ‘partai pelopor’ itu? Atau Gramsci soal ‘intelektual organik’. Ataukah seorang Louis Wain dengan lukisan kucing-kucing-nya yang setahun setelah Marx meningggal karya lukisan kucingnya terbit untuk pertama kalinya sebagai ‘gambar Natal’ sebuah terbitan? Dan setelah itu secara ‘revolusioner’ mengubah penghayatan kebanyakan orang tentang kucing? “Anda telah mengubah kucing yang dulu dekat dengan penyihir menjadi kesayangan banyak orang!” demikian kurang lebihnya dialog dalam film The Electrical Life of Louis Wain (2021). Apakah politik-demokrasi nantinya juga akan bergeser menjadi tirai asap tebal dalam bentuk ‘ke-riang-gembira-an’ dan ‘pesta-pesta-an’ melalui bocah-bocah- ingusan-sok-lugu-lucu itu? Proses boleh berbeda, tetapi dalam outcome-nya …: déjà vu? Maka ke-déjà vu-an ini mestinya bukan sekedar penampakan yang terus berlalu saja, tetapi semestinya juga membangunkan ‘kepenasaran’ tentang siapa yang sebenarnya dihadapi, baik dalam konteks ‘lokal’ atau ‘global’ dalam nuansa ‘Perang Dingin Baru’. Yaitu, mereka: orang-orang yang terampil dan sudah tanpa sungkan akan memaksimalkan kekuatan pengetahuan, kekuatan uang, dan … kekuatan kekerasan, demi mencapai tujuannya. Tak peduli itu bahkan jika itu ada dalam ranah demokrasi. Sekarang atau tidak sama sekali, jadi: at all cost, siapapun yang menjadi ‘Tuan Besar’-nya saat ini. *** (17-11-2023)

[1] https://davidkorten.org/balle-renewing-the-american-experiment/

Lukisan Louis Wain, 1884

1289. Merendahkan Martabat Negara!

18-11-2023

Gunung Merapi dengan segala keindahan, anugerah, ancaman-nya akan dilihat oleh si-A, si-B, si-C bisa berbeda-beda, bahkan jika mereka sama-sama melihatnya dari Muntilan, misalnya. Jika itu dituangkan dalam lukisan-pun bisa-bisa akan berbeda hasilnya. Sama-sama ‘presiden’, presiden Jancuk sik-Jack Separo Gendeng dengan presiden partai misalnya, bisa-bisa juga akan lain lukisannya. Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, terbit pertama kali dalam bahasa Belanda di awal 1970-an, menganalisa bagaimana lukisan sebuah danau di lembah pegunungan bisa dilukis secara berbeda oleh yang menghayati secara ‘mitis’, ‘ontologis’, atau ‘fungsionil’.

Demikian juga yang hangat hari-hari ini, sebuah ‘pakta integritas’ dari seorang pejabat yang ‘wajib’ untuk memenangkan salah satu calon dengan perolehan suara 60%+1 itu. Sangat mungkin kasus ini akan dilihat dalam ‘perspektif’ berbeda-beda. Menarik pendapat Anies B –salah satu calon presiden, menanggapi hal tersebut.[1] Berbeda dari kebanyakan pendapat, Anies mulai berangkat bahwa ini adalah soal martabat negara. Tidak ada yang mulai dengan penjelasan soal martabat negara dalam ‘mengurai’ kasus tersebut. Apa yang bisa kita raba dari titik berangkat itu? Anies mulai dari menjelaskan soal esensi-nya: negara yang perlu dijaga martabatnya karena negara mestinya menjadi entitas terpercaya bagi warga negaranya. Lalu bagaimana itu di-operasionalkan? Dalam kasus di atas, pembedaan antara yang publik dan yang privat-lah mesti mampu dihayati oleh para penyelenggara negara. Dan ini sungguh sangat penting dan mendasar dalam ‘tata-kelola’ berbangsa dan bernegara. Maka tidak ada salahnya kita sebagai khalayak kebanyakan berterimakasih pada Anies B. karena banyak lontaran-lontaran yang mengembangkan-memajukan horison hidup bersama. Tèngkyu, dab*** (18-11-2023)

[1] https://twitter.com/BosPurwa/status/1725455819901489152