1190. Ide "Berbahaya" Anies B.

17-07-2023

Setelah ada gelombang globalisasi, maka bisa dikatakan juga ada gelombang ‘masyarakat jaringan’. Jika ada ‘gelombang besar’ itu maka sebenarnya yang paling ‘berbahaya’ adalah bukan si-‘pembendung’ atau ‘penolak’, tetapi adalah siapa yang paling piawai ‘berselancar’ di atasnya. Pertanyaannya adalah ‘berbahaya’ buat siapa? Bagi para pejuang kemerdekaan doeloe, gelombang merebaknya modus komunikasi man-to-mass adalah berkah yang memberikan kesempatan berselancar di atasnya, untuk selain meningkatkan kapasitas diri juga kesempatan untuk membangun jaringan di ‘rakyat-terjajah’ semakin besar kemungkinannya. Tentu tidak hanya para pejuang kemerdekaan, para pemilik modal-pun akan berselancar di atasnya, dan lahirnya masyarakat konsumen itu dalam ukuran gigantisnya. Maka ‘ide-ide berbahaya’ yang kemudian piawai dalam berselancar di atas gelombang besar itu bisa berasal dari ranah pasar, negara, atau masyarakat sipil. Semua-nya bisa ‘berbahaya’ karena tidak hanya mampu menjaga keseimbangan, tetapi bisa-bisa menjungkir-balikkan keadaan.

Pada dasarnya apa yang disebut Manuel Castells sebagai masyarakat jaringan, network society itu sudah ada sejak jaman doeloe, yang membedakan adalah kecepatan, kedalaman, dan keluasannya. Kalau tidak ada sejak jaman doeloe maka mungkin saja kita tidak mengenal istilah devide et impera. Masyarakat jaringan sekarang ini lebih didasari oleh berkembang pesatnya modus komunikasi mass-to-mass, melalui jaringan digital-internet. Judul lebih menunjuk bagaimana pengalaman di ranah negara Anies Baswedan membuktikan mampu ‘berselancar’ di atas gelombang merebaknya masyarakat jaringan dengan memberikan ‘nuansa’ kepentingan bersama melalui ranah negara. Kalau memakai alur pemikiran Adam Smith, melalui berkembangnya masyarakat jaringan maka orang-orang akan lebih berkesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya masing-masing, dan the wealth of nations adalah sesuatu ‘yang tidak ditujukan pada awalnya’ tetapi tercapai dengan sendirinya karena masing-masing menjadi sejahtera. Benarkah demikian? Benarkah pemikiran yang ‘diradikalkan’ oleh kaum neolib melalui paradigma ultra-minimal state itu akan kejadian? Artinya, peselancar utama –atau bahkan satu-satunya, di atas ‘gelombang-gelombang besar’ itu hanyalah modal, atau pasar? Dan negara kemudian hanya berperan sebagai David Hasselhoff dkk dalam serial Baywatch itu? Atau juga masyarakat sipil hanya sebagai penonton dengan tepuk tangannya? Sedangkan si-peselancar utama -modal atau pasar, karena pethakilan tak tahu batasnya tiba-tiba saja ‘terpeleset’ jatuh maka segeralah ia perlu ditolong secara all-out, karena too big to fail?

Bagi paradigma ultra-minimal state, calon pemimpin ranah negara kesayangan adalah yang sukanya lari-lari saja, pethakilan gak jelas juntrungannya bagi ranah negara, atau sukanya ngibal-ngibul doang, menipu rakyat kebanyakan. Bahkan jika perlu nantinya jika terpilih, cukup disibukkan dengan nonton film porno saja. Rusak-rusakan. Elektabilitas lebih melalui jalan fake-famous. Atau calon yang nantinya akan berperan sebagai David Hasselhoff habis-habisan, si-pengawal modal saat berselancar di atas gelombang, lebih-lebih ketika berselancar secara ugal-ugalan. Masyarakat sipil yang nggak mau tepuk tangan akan diinjak kakinya, misalnya. Atau jika terpeleset, nantinya toh di bail-out dengan uang pajak. Enak sekali.

Maka pemikiran Adam Smith seperti disinggung di atas adalah benar, dalam batas-batas tertentunya. Majunya Jepang adalah juga menunjukkan bagaimana peran ranah negara dalam mendorong kesejahteraan masing-masing warganya. Bahkan ada yang mengatakan di balik jalan kapitalisme, Jepang melalui kebijakan negara juga mengadopsi langkah-langkah ‘sosialisme’. Juga bagaimana jaringan di masyarakat dikembangkan melalui pendampingan negara bagi bermacam industrinya. Maka memang ide-ide Anies B. itu “berbahaya”, berbahaya bagi paradigma ‘boneka’ maupun ‘per-cènthèngan’ di ranah negara. Belum pasti memang, tetapi paling tidak ada harapan untuk sebuah perubahan. Karena jika tidak berubah, apa yang sudah diperingatkan oleh Cak Nun, kejadian bisa-bisa kita menjadi bangsa jongos total.[1] *** (17-07-2023)

[1] https://www.pergerakankebangsaan.com/002-Cak-Nun-dan-Elysium/

1191. Amerika dan Perang Saudaranya

18-07-2023

Apakah perang saudara Amerika Serikat (1861-1865) semata karena soal perbudakan? Apakah sesuatu di balik perbudakan, misal kesadaran akan kemanusiaan sudah berkembang untuk ancang-ancang ikut membangun ‘semangat jaman’? Atau peran budak saat itu, semakin mempunyai banyak budak maka semakin kaya. Di balik perbudakan ada lekat soal kekayaan. Soal kekuatan ‘alat-alat produksi’. Ditambah lagi soal Revolusi Industri yang sedang merangkak menuju puncaknya. Atau Inggris masih terganggu juga dengan merdekanya Amerika? Mungkin benar tidak ada sebab tunggal yang mendorong pecahnya perang saudara itu, tetapi paling tidak kita bisa meraba apa yang menjadi sebab utamanya, dan nampaknya adalah soal ‘basis’, relasi-relasi kekuatan produksi, dalam hal ini perbudakan. Jantung dimana orang-orang itu bisa menjadi begitu kayanya itu terusik begitu kuatnya. Seakan saat itu sedang terjadi power shift, meminjam buku Alvin Toffler. Power shift dari Revolusi Pertanian ke Revolusi Industri.

Apakah pergeseran dari Revolusi Industri ke Revolusi Informasi juga akan mendorong pecahnya bermacam perang? Qatar atau juga Norwegia bisa menjadi contoh bagaimana kekayaan yang ditumpuk saat Revolusi Industri, sebagai penyedia bahan bakar, dengan SWF-nya ia kemudian mampu menyongsong Revolusi Informasi dengan segala fleksibitasnya. Mungkin di era Revolusi Informasi mereka bukan ‘pemain utama’ tetapi tetaplah mampu untuk berselancar di atas gelombang, bukan tenggelam. Apa yang mau dikatakan di sini adalah, apapun itu setiap pergeseran tetaplah harus dihadapi dengan memaksimalkan hal timbang-menimbang dalam keputusannya. Terlebih jika mengikuti Alvin Toffler, di era Revolusi Informasi ini kekuatan pengetahuan-lah yang akan ‘memimpin’.

Kekuatan pengetahuan tentu tidak hanya berarti hanya soal ‘jalan akademik’ –meski sebenarnya ini adalah ‘axis mundi’-nya, tetapi bagaimana ketika bermacam pengetahuan itu tidak hanya menjadi lebih mudah diakses, tetapi sebenarnya juga di-saling komunikasikan. Bahwa kemudian pada satu saat kata post-truth dijadikan ‘international word of the year’ di tahun 2016 oleh Oxford Dictionaries tetap saja Revolusi Informasi memberikan bermacam kemungkinan, bermacam kesempatan-peluangnya. Juga soal rasa-merasa. Dan apa yang disebut oleh Manuel Castells sebagai masyarakat jaringan (network society) juga berkembang. Pertanyaannya adalah, ‘jaringan’ untuk apa? Misal, gerakan Zapatista di Mexico sana menurut Castells termasuk yang pertama menggunakan internet untuk membangun jaringan pergerakannya. Dalam bidang bisnis bahkan jaringan internet ini mampu mengantarkan beberapa figure menjadi orang-orang terkaya di dunia. Atau juga bagaimana yang kita kenal sebagai Arab Spring itu muncul sekitar 12 tahun lalu itu. Tetapi juga misal terkuaknya skandal Cambridge Analytica yang terkait dengan kemenangan Trump di tahun 2016. Atau polah-tingkah para buzzerRp yang seakan memperoleh kesempatan tanpa batas dalam upaya pecah-belahnya. Maka Revolusi Informasi itu seakan ‘obat generik’ yang penampakannya bisa-bisa dalam bermacam merek.

Revolusi Informasi di ranah negara tentu akan berbeda dengan di ranah pasar maupun di ranah masyarakat sipil. Yang membedakan adalah soal ‘rasa-merasa’ khalayak terkait dengan etika. Apa yang difasilitasi oleh kemajuan teknologi komunikasi adalah juga soal baik-buruk, soal etika yang terus menerus dikomunikasikan satu sama lain dan di ujung sana bisa-bisa akan membangun ‘semangat jaman’-nya sendiri. Misal seperti soal kedaruratan iklim ini. Padahal isu lingkungan semacam ini sudah disuarakan sekitar 50 tahun lalu oleh Club of Rome dan MIT, yang kemudian berlanjut dalam istilah ‘pembangunan berkelanjutan’. Apakah ‘narasi’ kedaruratan iklim ini akan lebih berkhasiat dibanding ‘narasi’ pembangunan berkelanjutan dalam soal membangun ‘rasa-merasa’ bagi kebanyakan orang? Terlebih ketika melalui jaringan internet menjadi lebih mampu menjangkau khalayak? Atau kita bandingkan bagaimana peran ensiklopedia di era mesin cetak itu berperan dalam mendorong Revolusi Perancis. Atau juga seperti disinggung di atas, semacam gerakan Zapatista.

Apa yang mau disampaikan di sini adalah ketika terjadi power shift, hati-hati ketika terjadi (juga) pergeseran terkait dengan bagaimana orang menjadi begitu kaya-nya itu. ‘Bobot’ rasa-merasa khalayak soal etika di ranah negara itu akan membesar lebih cepat dibandingkan dengan ranah pasar dan masyarakat sipil. Paling tidak jika kita bicara soal harapan, karena bagaimanapun juga ranah negara itu mempunyai bermacam ‘kuasa’ yang pasar dan masyarakat sipil tidak bisa memperoleh legitimasi untuk melakukannya, misal soal penggunaan kekerasan, pembuatan undang-undang peraturan, penarikan pajak, dan masih banyak lagi. Maka jika ranah negara menjadi hal dominan untuk menjadi kaya misal melalui korupsi, pemburuan rente, dan sejenisnya, power shift bisa-bisa berlangsung dengan tidak damai-damai saja. Ketika etika di ranah negara semakin ditinggalkan dan masih saja suka main kayu ala Revolusi Industri, maka perlawanan-pun akan semakin keras. Jika ‘si-katalis’ itu tiba-tiba saja hadir di tengah-tengah kegundahan, apa yang akan terjadi? Jaman Revolusi Industri dengan modus komunikasi dominan man-to-mass, soal baik-buruk bisa-bisa dimonopoli oleh negara, tetapi tidak lagi di jaman sekarang ini. *** (18-07-2023)

1192. Tamat di Hitam Putih

21-07-2023

Ada yang mengatakan, aksi politik adalah soal bicara, omong untuk mempengaruhi yang lain. Termasuk juga ketika masuk ranah debat atau sejenisnya. Maka Platon-pun dalam pendidikannya, seni debat (dialektika) ada di bagian akhir. Mungkin maksudnya supaya debat tidak hanya asal debat saja, seperti dilakukan oleh kaum Sofis yang memang bertebaran saat jaman Platon. Jika politik lekat dengan bicara, dengan bahasa, maka sebenarnya juga tidak hanya soal bicara verbal, tetapi termasuk soal bahasa tubuh. Bahkan dalam komunikasi, menurut Albert Mehrabian, bahasa tubuh justru akan lebih menentukan dalam berhasilnya sebuah komunikasi. Macam-macam bentuk bahasa tubuh, dari yang ‘personal’ sampai melibatkan ratusan ribu orang baris-berbaris dengan membawa simbol-simbol kebanggaan. Termasuk juga warna-warna kebanggaan.[1] PDIP sebagai partai politik, dalam bahasa tubuh melalui warna misalnya, ia memilih warna merah. Dan bukan hitam-putih. *** (21-07-2023)

[1] Lihat misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Political_colour

1193. Hak Prerogative dan Hak Sosial

22-07-2023

Dalam pencarian melalui Google Books Ngram Viewer, kata prerogative mengalami penurunan signifikan sejak tahun 1820-an[1], dan terlebih ketika mulai menginjak abad 20, turun terus. Tentu data ini perlu pendalaman lebih jauh, tetapi mungkin saja berdasarkan itu kita boleh bertanya, apakah ini juga karena semakin terkikisnya nuansa feodalisme? Dimana bermacam bentuk kerajaan itu semakin dibatasi hak-hak prerogative-nya dengan bermacam konstitusi? Bandingkan pula misalnya dengan trend pemakaian kata ‘social rights’[2] yang mengalami peningkatan signifikan sejak tahun 1940-an. Apakah menguatnya kata ‘hak sosial’ itu ada peran serta dari Perang Dingin?

Apakah juga kata prerogative sebagai hak-khusus masih saja ditemukan di konsep ‘negara modern’ itu karena seperti dikatakan Carl Schmitt hampir seabad lalu, bahwa konsep negara modern itu adalah sekularisasi dari konsep agama? Dimana si-pemimpin tetap saja diberikan ‘hak-khusus’ layaknya Tuhan saja? Jika benar maka dalam bayangan kita, Tuhan pastilah Maha Baik, dan seterusnya. Ia akan memutuskan sesuatu pastilah dengan maksud baik, kira-kira begitu. Maka si-pemimpin yang seakan ditempatkan dalam posisi Tuhan itu, mempunyai hak prerogative tentunya bukan ‘cek-kosong’, tetapi adalah untuk ‘maksud baik’, dimaksudkan untuk hadirnya hal-baik di dunia ini, di dunia yang dipimpinnya. Dan ‘hal-baik’ di dunia ini bagi warga yang dipimpinnya adalah selain diakuinya hak-hak individu, adalah juga terpenuhinya hak-hak sosial-nya. Sejak ia lahir, bahkan ketika masih dalam kandungan, sampai ajal menjemput. Dua hal yang diperjuangkan oleh manusia, bahkan dengan harus mengorbankan berjuta nyawa ketika masing-masing bandul ditarik ke ujung ekstremnya, dan saling mengingkari.

Jika Mangunwijaya dalam Kini Kita Semua Perantau (1989) menandaskan bahwa “sifat, watak, wajah, dan suasana suatu bangsa ditentukan langsung oleh derajat kemampuan, seni, dan efektivitas bangsa itu dalam mengendalikan kekuasaan” maka kita juga bisa membayangkan terkait kekuasaan yang ada dalam hak-prerogative, bahwa “sifat, watak, wajah, dan suasana pemegang hak ditentukan langsung oleh derajat kemampuan, seni, dan efektivitas orang itu dalam mengendalikan kekuasaan-hak-prerogative-nya”. Karena terkait dengan ‘pimpinan tertinggi’ maka suka atau tidak, sifat, watak, wajah, dan suasana pemegang ‘hak-khusus’ itu juga akan mempengaruhi suasana yang dipimpinnya. Menurut Machiavelli, ketika merebut kuasa itu bisa-bisa berbeda saat menggunakan kuasa, misal Hitler, merebut kuasa melalui jalan demokrasi, tetapi ketika menggunakan kuasa ia lebih mendekat pada fasisme. Dari bagaimana hak prerogative kemudian berdampak pada berkembangnya hak individu dan hak sosial, kurang lebih kita bisa meraba rejim apa yang sedang dihayati oleh si-pemegang hak prerogative itu, apakah rejim monarki, aristokrasi, atau demokrasi. Atau bahkan ‘model busuk’-nya, tirani, oligarki, atau mob-rule. *** (22-07-2023)

[1] https://books.google.com/ngrams/graph?content=prerogative&year_start=1800&year_end=2019&corpus=en-2019&smoothing=1

[2] https://books.google.com/ngrams/graph?content=social+rights&year_start=1800&year_end=2019&corpus=en-2019&smoothing=1

1194. Mengakrabi Kemungkinan

24-07-2023

Para politisi akan cenderung membatasi pilihan, bahkan jika mungkin menjadikan pendapatnya, omongannya menjadi satu-satunya pilihan. Para cendekiawan akan cenderung ‘meluaskan’ kemungkinan, sebagian mendekati dengan metode-metode tertentu. Seniman akan ‘bermain-main’ di ‘batas’ kemungkinan, dan dengan segala gairahnya melongok-menembus batas. Kita sebagai khalayak biasa sebaiknya memang mengakrabi kemungkinan, supaya tidak dimakan mentah-mentah oleh kaum politisi. Atau para ‘nabi-nabi palsu’. Atau ideolog beku. Supaya juga menjadi lebih mampu menghayati kerja-kerja ‘intelektual-praksis’ dari si-cendekiawwan dalam segala gairahnya ‘meluaskan’ kemungkinan. Tidak hanya menghayati laku si-cendekiawan, tetapi diharapkan juga melakukan ‘intelektual-praksis’ di bermacam tingkatannya. Atau juga lebih mampu mengakrabi-menghayati para seniman yang sedang ‘bermain-main’ di batas. Sehingga bermacam kemungkinan itu tidak menakutkan lagi. Maka ketika para cendekiawan diikat kakinya, para seniman semakin ogah menembus batas karena bermacam sebabnya, maka khalayak-pun akan menjadi makanan empuk bagi para politisi, melalui bermacam apparatus-nya. Atau ditelan habis oleh ‘nabi-nabi palsu’ atau juga para ‘ideolog beku’ melalui bermacam ‘sihir’-nya. Bahkan bagi politisi, musik-pun bisa menjadi salah satu senjata andalan, misal ‘musiknya Hitler’ itu. Atau kebalikannya, sebagai perlawanan di satu masa di satu tempat melawan kegilaan kaum politisi yang ditiru orang kebanyakan, berkembangnya musik blues.

Mengakrabi kemungkinan bukanlah kemungkinan yang mudah, paling tidak bisa kita raba dari karya-karya Paulo Freire, misalnya. Bahkan menurut Freire, kesadaran fanatik sebenarnya hampir masuk ke kesadaran kritis –tetapi ‘gagal’. Dan bahkan seringnya terjadi di kota-kota besar. Freire menulis karya-karyanya di puncak modus komunikasi man-to-mass, akankah ketika modus komunikasi mass-to-mass merebak seperti sekarang ini melalui jaringan digital-internet, kesadaran fanatik itu juga tidak hanya banyak terjadi di kota-kota besar? Ditambah lagi adanya kesadaran temaram, twilight state –menurut Hermann Broch, rasa-rasanya kebutuhan akan ‘yang pasti-pasti’ saja-pun bisa-bisa akan meningkat. Maka tidak mengherankan Castells kemudian berpendapat bahwa dalam dunia semakin cepat ini bisa-bisa identitas menjadi sumber utama ketika orang mencari makna hidupnya. Padahal, paling tidak menurut Victor Frankl, makna bisa dicari pula dalam pekerjaan, dalam cinta, bahkan dalam penderitaan. Dibanding ketiga hal itu, nampaknya memang identitas bisa dikatakan ‘lebih pendek, lebih dekat, bahkan lebih pasti’ untuk dapat segera dijangkau. Atau juga ‘lebih heroik’? ‘Heroik’ ketika lebih tereksploitasi ‘an instinct to exclude’-nya?

Maka di tengah-tengah merebaknya korupsi, pemburuan rente, dagang-kuasa, makelaran kasus, kong-ka-li-kong, pat-gu-li-pat, dan sejenisnya, ada yang sungguh dikorbankan, menyempitnya kemungkinan makna-makna dihayati. Dalam pekerjaan bisa-bisa jatuh dalam situasi burnout misalnya, berkerja seakan seperti robot saja, tanpa makna. Makna semakin terkikis terus ketika dihadapkan masif-terstrukturnya korupsi dan sogok-sogok-an. Penderitaan karena banting-tulang seakan juga semakin menipis dalam memberikan makna hidup. Kecintaan dalam penelitian misalnya, tiba-tiba seakan retak ketika lembaga penelitian dikelola secara ugal-ugalan. Secara ‘kampungan’. Dan banyaaak lagi dirasakan dalam hidup bersama kemungkinan-kemungkinan dalam pencarian makna menjadi semakin sempit. Dari slogan-slogan kosong melompong sampai ngibul tak tahu batas lagi. Maka tidak mengherankan pula jika kemudian yang ‘lebih pendek, lebih dekat, bahkan lebih pasti’: identitas, menjadi banyak dipilih sebagai sumber utama dalam pencarian makna. Tidak ada yang salah dalam hal ini, hanya saja ketika ketemu ‘politisi-gila-ideolog-beku-nabi-nabi-palsu’ dan kemudian tereksploitasi ‘an instinct to exclude’-nya, maka kegelapan sejarah-pun akan semakin membayang. Tak jauh seperti pernah dikatakan oleh CP Snow: “When you think of the long and gloomy history of man, you will find more hideous crimes have been committed in the name of obedience than have ever been committed in the name of rebellion.” *** (24-07-2023)