12 Apr

Ugal-ugalan di Republik

Continue Reading »

08 Apr

Terbit: “Urip [kok] Mung Mampir Nyoblos”

URIP [KOK] MUNG MAMPIR NYOBLOS

Oleh

: Redaksi Likwan

Continue Reading »

08 Apr

Carl Schmitt yang Bangkit dari Kubur

Ito Prajna-Nugroho

“Politik bersandar pada kekhasannya yang utama, yang darinya berasal segala tindakan yang secara khusus bersifat politik. […] Kekhasan yang khas dari politik, yang darinya segala tindakan dan motif politik dapat diasalkan, adalah pembedaan antara kawan dan lawan. […] Pembedaan kawan dan lawan menunjuk pada derajat intensitas tertinggi dari setiap penyatuan atau pemisahan, dari setiap asosiasi atau disasosiasi.[1] […] Konsep kawan dan lawan perlu dipahami dalam artinya yang konkret dan eksistensial, bukan sebagai metafor atau simbol, bukan dicampur-aduk dan dilemahkan dengan pengertian-pengertian ekonomi, moral, apalagi disalahpahami dalam artinya yang privat individualistik sebagai ekspresi psikologistis dari emosi-emosi pribadi. […] Secara rasional tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa-bangsa terus-menerus mengelompokkan diri menurut kutub kawan dan lawan, dan itu berarti pembedaan tersebut tetap aktual. Bagi setiap orang yang berada dalam medan politik, konsep pembedaan tersebut adalah sebuah kemungkinan nyata yang terus menerus hadir sebagai kemungkinan.[2]

Kutipan di atas bukanlah suatu preskripsi, melainkan sebuah deskripsi. Artinya, rumusan di atas adalah penggambaran obyektif yang menunjuk langsung pada spektrum pergerakan realitas politik sebagaimana adanya, bukan anjuran tentang bagaimana seharusnya. Kutipan di atas juga bukan suatu retorika omong kosong, melainkan sebuah gramatika politik. Artinya, rumusan Carl Schmitt di atas menunjuk pada logika dasar yang diandaikan oleh setiap bentuk tindakan politik, sebuah tata-logis atau tata-bahasa (grammar) yang mendasari setiap bahasa politik, dan bukan sekadar permainan kata-kata sampah layaknya kampanye pemilu atau bahasa instrumental omong kosong layaknya marketing politics yang tidak berbeda dengan pertunjukan sulap. Dengan kata lain, Carl Schmitt menunjuk pada dasar yang selalu ada-di-sana (Dasein) dalam setiap aktivitas politik, sebuah ontologi-fundamental yang sering tidak terlihat dan tidak tertampakkan tetapi ada di sana sebagai hal yang tidak terbantahkan dalam politik. Tidak setuju? Silakan baca baik-baik dan coba bantahlah Schmitt jika memang mampu.

Continue Reading »

07 Apr

Kuat Di Tengah Pasar

Pasar memang tidak ada ketika manusia mulai menapak sejarah evolusinya. Tetapi dalam perjalanan sejarah manusia, pasar terbangun entah itu disengaja atau tidak. Manusia menciptakan berbagai peralatan untuk mendukung apa yang menjadi hasrat dasarnya: melangsungkan hidup. Pasar adalah salah satunya. Apa yang disebut sebagai hasrat melangsungkan hidup itu ada karena manusia selalu dihadapkan pada kematian. Maka pasar sebagai ‘alat dukung’ kelangsungan hidup pun adanya bayang-bayang kematian adalah tidak terhindarkan. Kita kemudian bisa mengatakan bahwa pasar dalam bentuk paling awalnya sebagai kegiatan barter tidak akan berhasil jika manusia gagal menunda hasrat-hasrat membunuhnya. Maka adalah tepat pendapat Baron Montesquieu yang mengatakan bahwa perdagangan itu mendorong peradaban.

Continue Reading »

01 Apr

Rasa Aman Di Depan ‘Juggernaut’

Proses globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi kadang digambarkan sebagai juggernaut, katakanlah sebuah truk raksasa yang melaju kencang seakan tidak terkendali berlari secara zig-zag dan siap menabrak apa saja yang ada di depannya. Juggernaut diambil dari bahasa Sansekerta, Jagannātha, terkait dengan cerita epos Kresna. Bagi manusia-manusia yang ada di depannya, jelas juggernaut akan mengusik hasrat paling mendasarnya yaitu hasrat melangsungkan hidup. Tetapi bagaimanapun juga juggernaut atau gelombang globalisasi itu tidak mungkin dihindari lagi. Apalagi jika juggernaut itu kita tayang dalam gerak lambat, perlahan sebenarnya akan nampak adanya jaring-jaring saling-ketergantungan yang semakin intens. Membuat benteng melawan juggernaut selain tidak mungkin juga akan membuat diri terlempar dari pergaulan yang saling tergantung itu dan upaya membangun kesejahteraan bagi rakyat pun bisa jadi hanya sebuah mimpi kosong. Tetapi sebaliknya jika tidak mampu memberikan respon produktif terhadap terjangan juggernaut itu, ketergantunganlah ujungnya. Akibatnya tidak jauh berbeda, membangun kesejahteraan bagi rakyat hanya sebuah mimpi kosong juga.

Continue Reading »

27 Mar

Kita, di antara dua pergeseran ruang

Background, horison dalam fenomenologi menempati peran penting ketika seseorang memahami sesuatu atau kemudian bertindak. Dalam politik pun, katakanlah masalah siapa mendapat apa, bagaimana, dan kapan, meluasnya dan dalamnya sebuah horison akan mempengaruhi bagaimana praktek politik kita. Seorang Bung Karno, ketika horisonnya mampu meraba potensi pecahnya perang Pasifik, si Bung menjadi begitu yakin adanya kesempatan luas untuk merdeka ketika perang itu benar-benar pecah. Dan tanpa ragu Bung Karno mengajak rakyat untuk bisa memahami itu sebagai bagian dari praktek-praktek perjuangan merebut kemerdekaan. Kita sekarang ini sedang dihadapkan dengan horison yang begitu dinamis, sebuah pergeseran geopolitik. Akankah horison ini mempengaruhi praktek politik kita menuju cita-cita Proklamasi?

Continue Reading »

25 Mar

Kegiatan Surabaya 22-23 Maret 2014

Tanggal 22 Maret 2014 di PUSHAM Surabaya dilaksanakan Diskusi “Merajut Problematika Bangsa Di Tengah Kepungan Arus Liberal” dengan narasumber Soedaryanto, dan diskusi tentang Fenomenologi: “Politik Sebagai Fenomena” dengan narasumber Ito Prajna Nugroho. Minggu malam, 23 Maret 2014 dilanjutkan dengan pagelaran Wayang Kampung Sebelah bersama Ki Jlitheng Suparman dari Solo dengan lakon “Mawas Diri, Menakar Berani”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Kebangsaan Surabaya.

Continue Reading »

22 Mar

Hikayat Negeri “Tongkat dan Batu Jadi Tanaman”

21 Mar

Sambutan tertulis Jenderal (Purn.) Ryamizard Ryacudu dalam acara Deklarasi dan Do’a Nasional untuk Indonesia di Tapanrejo, Muncar, Banyuwangi

Sambutan tertulis Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu

MENGINDONESIAKAN KEMBALI INDONESIA

(Disampaikan dalam acara Deklarasi dan Do’a Nasional untuk Indonesia yang diselenggarakan oleh Pergerakan Kebangsaaan bersama-sama dengan Yayasan Semar Indonesia Mesem, Yayasan Jami’yah Tauhid Al-Hikam Banyuwangi, dan organisasi-organisasi lainnya, tanggal 15 Maret 2014)

Ryamizard Ryacudu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Continue Reading »

20 Mar

Mega dan Marhaenisme

Man is essentially a story-telling animal” demikian Alasdair MacIntyre dalam After Virtue.[1] Dalam dunia komunikasi manusia sebagai “binatang/makhluk simbolis” yang didominasi oleh logika waktu pendek seperti sekarang ini, story-telling akan menjadi lebih efektif dengan hadirnya sebuah prototipe sebagai bagian dari dunia simbolik. Prototipe layaknya sebuah ‘jembatan keledai’ bagi massa kebanyakan.

Continue Reading »

18 Mar

Demi Bangsa Dan Negara Di Tengah Saling-ketergantungan: Konsekuensi Politiknya

Jika dalam praktek politik berjalan dalam jejak-jekak siapa mendapat apa, bagaimana, dan kapan, apakah akan ada konsekuensinya ketika pemahaman bahwa dunia ini berjalan semakin saling-tergantung terus menggumpal? Atau apa konsekuensinya jika dalam politik pemahaman akan ke-saling-ketergantungan ini sama sekali tidak hadir dalam imajinasi kita? Akankah politik kemudian menjadi ‘makanan empuk’ bagi konsultan-konsultan politik (baca: konsultan propaganda) asing di mana mereka sampai terkekeh-kekeh melihat kita sebagai bangsa yang begitu mudah ditipu?

Continue Reading »

13 Mar

Demi Bangsa Dan Negara Di Tengah Saling-ketergantungan

Character is like a tree and reputation is like its shadow. The shadow is what we think of it; the tree is the real thing

Abraham Lincoln

“Hati-hati dengan pikiran-pikiranmu, karena bisa menjadi kata-katamu. Hati-hati dengan kata-katamu, karena bisa menjadi tindakan-tindakanmu. Hati-hati dengan tindakan-tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu. Hati-hati dengan kebiasaan-kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu. Dan karakter akan menjadi takdirmu.” Kata bijak ini menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai karakter itu bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Memerlukan waktu lama sehingga sebuah karakter terbangun. Jelas juga tidak mungkin seseorang itu ‘mendadak berkarakter’.

Continue Reading »

11 Mar

Hikayat ‘Kong-ka-li-kong’

(Bagi rakyat Indonesia, kong-ka-li-kong, pat-gu-li-pat, laku senyawa oligarki politik-pemburu rente ini bagai pisau bermata dua. Mata satu ia mengamputasi atau membendung mengalirnya keuntungan yang mestinya dinikmati rakyat Indonesia. Mata satunya dia menggerogoti kepercayaan para investor, baik investor dalam negeri maupun luar negeri. Potensi di belakang terbendungnya aliran keuntungan ke rakyat dalam jangka waktu tertentu adalah sebuah perlawanan rakyat, dan bagi investor adalah keengganan menanamkan investasi yang sangat diperlukan bagi lanjutnya pembangunan. Tempo edisi 10-16 Maret 2014 menulis laporan tentang kemungkinan laku kong-ka-li-kong, pat-gu-li-pat pengadaan bus Transjakarta. Dan kita bisa belajar darinya.)

————————

Pengumpul Pasir Di Garasi Bus Transjakarta

Proyek pembelian bus senilai Rp 1 triliun lebih oleh pemerintah Jakarta diduga penuh masalah. Kawan separtai Gubernur Jokowi dari Solo diduga ikut bermain. Ada potensi kerugian negara Rp 53 miliar.

Continue Reading »

11 Mar

SEJENAK BERFENOMENOLOGI (1): APA ITU FENOMENA?

Oleh: Ito Prajna-Nugroho

(Naskah studi akademis berikut dituliskan sebagai tanggapan sekaligus pemberian filosofis kepada Bpk. Soedaryanto, anggota DPR-RI periode 1992-1997 Fraksi PDI, anggota DPA bidang Hankam periode 1997-2002, kini penggagas dan komite nasional Pergerakan Kebangsaan, dan lebih dari semua itu adalah seorang fenomenolog)

Beberapa waktu lalu, di tengah pertemuan terbatas dengan para sahabat di badan penelitian Sanggar Pembasisan Pancasila dan Filsafat Fenomenologi, di tengah serunya tukar pikiran serta argumentasi mengenai berbagai tema filsafat politik dan kaitannya dengan tatanan geopolitik, seorang teman sekonyong-konyong bertanya kepada saya: “Mas, apa sebetulnya yang dimaksud dengan ‘fenomena’ dalam fenomenologi? Sebab sekarang, khususnya di media-media informasi, orang bisa sesukanya menyebut apa saja sebagai fenomena. Lalu apa sebetulnya ‘fenomena’?” Pertanyaan ini bagaikan siraman air dingin di tengah panas terik matahari, mengagetkan bahkan agak menjengkelkan tetapi justru menyadarkan. Pertanyaan ini juga membawa saya kembali jauh ke belakang, ke tahun-tahun yang lampau, di saat saya yang ketika itu baru genap berusia 19 tahun memulai proses studi sebagai mahasiswa filsafat.

Continue Reading »

09 Mar

Problem Serius di Republik

06 Mar

“Jangan Cengéngas-Cengèngès”

“Dengan darahku yang mengalir cepat dari perasaan gembira yang tak tertahankan, keluarlah dari bibirku ucapan yang sekarang terkenal: ‘Kaum imperialis, perhatikan! Apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Perang Pasifik menggeledek dan menyambar-nyambar membelah angkasa, apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Samudera Pasifik menjadi merah oleh darah dan bumi sekitarnya bergetar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, di saat itulah rakyat Indonesia akan melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka.’ Ucapan ini bukanlah ramalan tukang tenun […] Bagiku, apa yang disebut ramalan ini adalah hasil dari perhitungan berdasarkan situasi revolusioner di masa mendatang.” Demikian diungkap Bung Karno dalam buku biografi Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams halaman 111. Apa yang diungkap oleh Bung Karno itu sendiri terjadi menjelang tahun 1930-an, ketika si Bung pidato di Solo. Dan Bung Karno pun ditahan penjajah Belanda karena pidatonya itu.

Continue Reading »

01 Mar

Dibalik Sumpah Gajah Mada

Sumpah paling tidak bermakna sebagai pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar.[i] Sumpah Gajah Mada atau dikenal dengan Sumpah Palapa diucapkan oleh Gajah Mada saat ia diangkat sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1336 Masehi. Tahun-tahun dimana Eropa Barat sedang menunggu Renaissance. Jangan (sekali-kali) meninggalkan sejarah, demikian Bung Karno menegaskan, maka apa yang dapat kita ambil dari sejarah Sumpah Palapa itu?

Continue Reading »

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan