08 Apr

Carl Schmitt yang Bangkit dari Kubur

Ito Prajna-Nugroho

“Politik bersandar pada kekhasannya yang utama, yang darinya berasal segala tindakan yang secara khusus bersifat politik. […] Kekhasan yang khas dari politik, yang darinya segala tindakan dan motif politik dapat diasalkan, adalah pembedaan antara kawan dan lawan. […] Pembedaan kawan dan lawan menunjuk pada derajat intensitas tertinggi dari setiap penyatuan atau pemisahan, dari setiap asosiasi atau disasosiasi.[1] […] Konsep

Continue Reading »

11 Mar

SEJENAK BERFENOMENOLOGI (1): APA ITU FENOMENA?

Oleh: Ito Prajna-Nugroho

(Naskah studi akademis berikut dituliskan sebagai tanggapan sekaligus pemberian filosofis kepada Bpk. Soedaryanto, anggota DPR-RI periode 1992-1997 Fraksi PDI, anggota DPA bidang Hankam periode 1997-2002, kini penggagas dan komite nasional Pergerakan Kebangsaan, dan lebih dari semua itu adalah seorang fenomenolog)

Continue Reading »

04 Sep

Terbit Buku “Fenomenologi Politik”

FENOMENOLOGI POLITIK

Membongkar Politik Menyelami Manusia

Oleh

: Ito Prajna-Nugroho

Kata Pengantar

: Sudaryanto

Epilog

: A. Setyo Wibowo

Continue Reading »

03 May

Bedah Buku: Fenomenologi Politik

Continue Reading »

04 Mar

Pembasisan Pancasila : Merekonstruksi Pemahaman

Pembasisan Pancasila : Merekonstruksi Pemahaman

Oleh: Sudaryanto

[Sudaryanto, Komnas Pergerakan Kebangsaan, disampaikan pada pengarahan Lokakarya dan Konperensi Studi Pembasisan Pancasila 2013, Yogyakarta, 7– 9 Februari 2013]

PENGANTAR

Manusia hanyalah sebutir pasir yang tercebur ke dalam lautan; tetapi sebutir pasir tadi juga mampu membawa seluruh alam semesta ke dalam penghayatan dan kesadarannya. Pergerakan Kebangsaan juga hanya sebutir pasir yang tercebur ke dalam “kemelut” globalisasi di Indonesia. Tetapi, meskipun hanya sebutir pasir, Pergerakan Kebangsaan harus berupaya untuk memetakan “kemelut” itu, dan kemudian membawa peta kemelut globalisasi tersebut ke dalam kesadarannya.

Kodrat manusia sebagai makhluk simbolis: bermain (dengan) dan dipermainkan (oleh) simbol-simbol buatannya sendiri. Manusia bertindak sesuai dengan struktur simbolis, atau konstruksi pemahamannya atas dunia yang terbangun dalam kesadarannya.

Continue Reading »

31 Jan

Intensionalitas dan Intersubjektivitas dalam Fenomenologi Husserl

Oleh: Ito Prajna-Nugroho

STF Driyarkara

Pengantar Tematis ke dalam Fenomenologi Transendental

Abstrak

Lebih dari satu abad sejak terbitnya karya monumental Edmund Husserl Logische Untersuchungen (Penyelidikan-penyelidikan Logika) pada 1900-01, fenomenologi masih tetap menduduki posisi yang kuat tidak tergoyahkan di dalam arus filsafat Eropa-Kontinental saat ini. Fenomenologi Husserl menjadi batas horizon yang melaluinya filsafat Kontinental-Kontemporer bergeser dari Modernisme ke Pasca-Modernisme, dari Metafisika ke Pasca-Metafisika, dari filsafat identitas ke filsafat dispersi. Tetapi persis pada posisinya yang berdiri di tapal batas inilah fenomenologi Husserl paling rentan dan sering disalahpahami sebagai bagian dari salah satu ekstrem yang dibatasi, entah itu sebagai filsafat identitas-kesadaran, metafisika ataupun modernisme. Tulisan ini hendak membongkar-membuang segala salah kaprah pemahaman itu dengan secara radikal-fundamental kembali kepada dua pengandaian paling dasar yang membangun fenomenologi Husserl sebagai suatu sistem filsafat menyeluruh, yaitu: 1) intensionalitas, dan 2) intersubjektivitas.

Continue Reading »

21 Jan

Otentisitas Diri dan Keberakaran Budaya

OTENTISITAS DIRI DAN KEBERAKARAN BUDAYA*

Pengantar Tematis-Kritis ke dalam Fenomenologi Kebudayaan

Oleh: Ito Prajna-Nugroho

STF Driyarkara

Pengantar

Soekarno, dalam pidato Tavip (Tahun-tahun vivere pericoloso 1964), mengajukan tiga konsep terkenal yang disebut sebagai triçakti. Tiga konsep dasar tersebut meliputi tiga bidang pokok yang mencakup ekonomi (berdiri di atas kaki sendiri), politik (bebas untuk menentukan diri),

Continue Reading »

24 Oct

Fenomenologi Politik II

Fenomenologi Politik II: Membongkar Krisis Legitimasi, Depolitisasi, dan Dehumanisasi Dalam Politik*

(Naskah Kerja yang dibawakan dalam Forum Studi Sanggar Kebangsaan di Toba, Sumatera Utara)

Oleh: Ito Prajna-Nugroho**

Sebelum kita mempertimbangkan satu pertanyaan yang selalu tampil seolah-olah sebagai satu-satunya pertanyaan yang paling penting dan mendesak: ‘apakah yang harus kita perbuat?’, terlebih dahulu kita perlu mempertimbangkan pertanyaan ini: ‘bagaimanakah kita harus berpikir?’ Sebab, berpikir adalah perbuatan/tindakan yang sejati dan sesungguhnya.[i]

Manusia tidak lagi dapat mencari dan mengarahkan diri sebab ia tidak lagi dapat berpikir.[ii]

[Martin Heidegger]

Continue Reading »

24 Jul

Indonesia Modern Terjebak Politik Hasrat dan Politik Uang -Sebuah Perspektif Filsafat

Oleh: Ito Prajna-Nugroho

STF Driyarkara

Seorang filsuf politik dari abad ke-17, Thomas Hobbes (1588-1679), mengajukan sebuah rumusan menarik tentang sifat dasar kekuasaan:

“Pertama-tama, saya tetapkan sebagai dorongan paling dasar semua manusia, yaitu hasrat terus-menerus (perpetual) dan tak kenal lelah (restless) untuk mengejar kekuasaan demi kekuasaan. Hasrat ini hanya akan berhenti dalam kematian.”[i]

Continue Reading »

27 May

FENOMENOLOGI POLITIK

FENOMENOLOGI POLITIK: DARI FENOMENOLOGI HUSSERL DAN HEIDEGGER HINGGA KE TEORI POLITIK CARL SCHMITT

Oleh: Ito Prajna-Nugroho

(Dibacakan dalam Konferensi Studi Pergerakan Kebangsaan pada Sabtu 12 Mei 2012, di BSD)

Sejak dimulai oleh Edmund Husserl, fenomenologi sebagai gerakan pemikiran memulai setidaknya empat bidang kajian filsafat yang khusus: 1) hermeneutika, 2) fenomenologi eksistensial dan eksistensialisme, 3) fenomenologi kebudayaan dan agama, 4) fenomenologi politik. Pokok pertama sampai ketiga telah diulas dan diperdalam melalui publikasi-publikasi ilmiah yang begitu kaya bahkan membludak. Pokok keempat, mengenai fenomenologi politik, hanya dapat kita jumpai dalam terbitan-terbitan yang terbatas bahkan langka.[1] Pemikir kontemporer yang secara khusus mengupayakan suatu telaah fenomenologis atas politik tidaklah banyak. Beberapa di antara mereka yang terkenal antara lain Hannah Arendt, Claude Lefort, Leo Strauss, Jan Patočka dan khususnya Carl Schmitt.

Pertanyaannya, bagaimana fenomenologi yang secara khusus membatasi kajiannya pada bidang ontologi/metafisika dan epistemologi itu dapat memberikan dampak mendalam dan meluas tidak saja pada refleksi filsafat politik tetapi juga dalam praktik politik?

Continue Reading »

23 Mar

Pendidikan Sebagai Sebuah Pemberontakan dan Praktek Pembebasan

Oleh: Ito Prajna Nugroho*

Catatan Awal

Dalam konteks pemikiran Paulo Freire, pendidikan memiliki peranan utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Perkembangan kepribadian seseorang ditentukan oleh tingkat kesadaran kritis yang dimilikinya. Artinya, kesadaran yang bersikap kritis terhadap dirinya sendiri mau pun terhadap lingkungan sosial tempat seseorang berada. Kesadaran kritis ini dibedakan dari kesadaran naif yang hanya tunduk, pasif dan sekedar menyesuaikan diri dengan segala keadaan yang dihadapinya.

Kesadaran kritis mampu membuat orang memahami dunianya dengan baik, dunia yang bersama dengannya manusia hidup. Maka pendidikan merupakan usaha untuk menciptakan kesadaran kritis dalam kepribadian seseorang. Melalui kesadaran kritisnya seseorang mampu memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan terhadap lingkungannya.

Continue Reading »

29 Jan

“Surat Dari Seorang Filsuf Kepada Pergerakan Kebangsaan”

Democracy and the Question of Virtue

Written for the community of Pergerakan Kebangsaan by Ito Prajna-Nugroho

(STF Driyarkara)[i]

More than thirteen years have passed since Indonesia, in 1998, freed itself from Suharto’s authoritarian regime, and set sail into a vast democratic ocean, a new horizon of unlimited possibilities of democratization, which is being consensually called as Reformation. After almost fourteen years of democratization, a bunch of questions still lingers and confronts us: have we changed for the better? Have we made ourselves better along the road of democratization? Or are we as disoriented as before or even worse?

Continue Reading »

01 Jan

KRISIS HIDUP BERBANGSA DAN KRISIS CARA BERPIKIR KITA. Permenungan Fenomenologi Husserl-Heidegger tentang Makna Krisis

Oleh: Ito Prajna-Nugroho (STF Driyarkara)

Cobalah perhatikan arus informasi di media-media massa akhir-akhir ini. Segera kita dengar dan lihat berita tentang saling gebuk, saling injak, saling seruduk, saling memaki, saling makan di antara sesama orang yang sebetulnya disatukan oleh ikatan politik-spiritual yang sama: Nusantara (yang di zaman modern menjadi Republik Indonesia). Tetapi orang boleh-boleh saja meragukan kredibilitas media, sebab media massa tidak lain dari re-presentasi atau upaya menghadirkan kembali fakta-fakta yang sudah terjadi. Pemberitaan media selalu telah merupakan penafsiran (interpretasi) atas fakta. Jika demikian halnya, maka amatilah saja baik-baik relasi antar-manusia di sekililing kita. Dari hubungan pribadi ataupun profesional, perilaku orang di jalan-jalan raya, terminal, stasiun dan di pasar-pasar, hingga ke tingkat politik nasional, kita segera akan menemukan gejala yang sama: saling gebuk, saling injak, saling seruduk, saling memaki, dan saling makan. Kalau mau dirumuskan dengan singkat, semua gejala itu tidak lain dari hasrat saling mendestruksi diri. Padahal, seseorang yang punya kecenderungan untuk mendestruksi dirinya sendiri dan diri orang lain secara psikologis adalah orang yang jiwanya sakit (orang sakit jiwa). Suatu bangsa (Nation) yang digerakkan oleh gerak kesadaran-jiwa manusia-manusia di dalamnya secara mendasar juga merupakan sebuah entitas/satuan spiritual yang ber-jiwa. Suatu bangsa yang hampir di setiap penjurunya sehari-hari hanya ribut kisruh saling gebuk saling membinasakan tidak lain adalah bangsa dengan jiwa yang sakit (bangsa sakit jiwa).

Continue Reading »

19 Dec

Merawat-Jiwa sebagai Problem Dasar dalam Tatanan Politik dan Gerakan Jiwa Pembahasan atas Pemikiran Jan Patočka dalam Teks Plato and Europe

Merawat-Jiwa sebagai Problem Dasar dalam Tatanan Politik dan Gerakan Jiwa

Pembahasan atas Pemikiran Jan Patočka dalam Teks Plato and Europe

Oleh: Ito Prajna-Nugroho, S.S*

1. Pengantar: Sekilas tentang Jan Patočka

Jan Patočka (1907-1977), profesor filsafat di Universitas Charles Praha, pertama-tama mungkin paling tepat disebut sebagai seorang fenomenolog. Ia adalah fenomenolog berkebangsaan Czekoslovakia. Sebagai fenomenolog berkebangsaan Ceko, ia memiliki ikatan darah dan tanah (Blut und böden) yang sama seperti gurunya Edmund Husserl, Thomas Masaryk (Kepala Negara pertama Cekoslowakia), dan muridnya Vaclav Havel (Presiden Ceko saat ini). Kuatnya keberakaran ontologis-primordial pada darah dan tanah itu tidak saja mewarnai keseluruhan pemikirannya, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama yang membuat Patočka berani hidup menderita bahkan melawan rezim Komunisme yang banal dan tidak berakar itu, sampai akhirnya ia meninggal saat disiksa StB, polisi rahasia komunis. Patočka meninggal pada 13 Maret 1977, di usia 70 tahun, karena perdarahan otak dan komplikasi jantung saat sedang diinterogasi dan disiksa dinas rahasia komunis Ceko. Ia ditangkap dan disiksa dinas rahasia komunis (yang banal, tidak berakar, dan anti-kritik itu) semata-mata karena ia menjadi salah satu penggagas dan penyusun Piagam 77 (Charta 77), sebuah pernyataan kemanusiaan yang bahkan tidak menyebut satu katapun mengenai rezim komunis. Piagam 1977 semata-mata hendak menyadarkan semua pihak untuk mengingat kembali (re-member-ing) hak asasi manusia sebagai prinsip hidup bersama, dan dengan itu mengajak semua untuk kembali pada (re-turn-ing) asas-asas yang termuat dalam Piagam Hak Asasi Manusia.[i]

Continue Reading »

19 Dec

FENOMENOLOGI SEBAGAI SUATU SIKAP HIDUP

FENOMENOLOGI SEBAGAI SUATU SIKAP HIDUP

Selayang Pandang mengenai Fenomenologi Edmund Husserl dan Martin Heidegger

Makalah Presentasi untuk Diskusi di Komunitas “Pergerakan Kebangsaan” 27 Nopember 2011

Oleh: Ito Prajna-Nugroho, S.S[i]

Pengantar: Problem Modernitas sebagai Titik Tolak

Dalam dunia kehidupan sehari-hari, kita larut dan hanyut dalam berbagai kesibukan dunia modern: mulai dari kerja rutin di kantor, memakai kompor dan listrik di rumah, memakai mobil dan motor, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, asyik berkutat dengan perangkat teknologi-komunikasi termutakhir, sampai ikut berpartisipasi dalam debat politik terkini tentang demokrasi. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa saat ini modernitas dan teknologi telah menjadi totalitas horizon yang melingkupi seluruh hidup kita, dan darinya tidak dapat kita lepas. Tetapi di tengah-tengah semua hingar-bingar hidup modern itu kita perlu sedikit bertanya: Apakah semua hal yang sekarang kita geluti-hidupi sehari-hari itu muncul dan terjadi begitu saja? Apakah dunia modern itu begitu berkuasa sehingga kita tidak bisa lain kecuali tertawan-tersandera dalam horizonnya yang total? Ataukah sebenarnya modernitas itu sendiri sebenarnya tidak lebih dari sebuah cara-pandang dunia tertentu, sebuah model tertentu tentang cara berada manusia, yang juga memiliki sebab-musabab serta asal-usulnya?

Continue Reading »

19 Nov

Asal Omong, Asal ‘Njeplak’, dan asal “Mbacot” !!!!

(Di bawah adalah tanggapan atas contoh atau ilustrasi tentang kesederhanaan hidup pejabat publik seperti yang dilaporkan oleh Kompas, 19 Nov. 2011 (lihat posting di bawah) yang disampaikan oleh Nudirman Munir, politisi senior, dan aktif di Komite Etik DPR)

****

Bagaimana di Indonesia? Di DPR saja berjajar mobil mewah diparkir. Nudirman Munir, anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar, bilang, ada pertimbangan keamanan dan kenyamanan ketika memilih mobil:

“Jika naik Toyoya Alphard, kami dapat rapat di dalam mobil karena di dalam mobil itu ada meja. Kalau naik mobil (menyebut merek lain) yang jalan 80 kilometer per jam saja sudah goyang, akan banyak anggota DPR yang meninggal karena kecelakaan,” kata Nudirman….

Continue Reading »

07 Jul

Marhaenisme & Kedaulatan Politik

Oleh: Sudaryanto

Pengantar

Saya diminta untuk menyampaikan paparan dengan judul “Marhaen­is­me dan Kedaulatan Politik.” Agar paparan ini dapat mencakup apa yang diindikasi­kan oleh tema seminar (Marhaenisme dan Kedaulatan Bangsa) dan sekaligus ha­rapan yang diinginkan melalui Kerangka Acuan seminar (berjuta-juta rakyat Mar­­haen yang masih kelaparan . . . Kapankah mereka akan memperoleh kedau­lat­an politik dan ekonomi?), maka dalam paparan ini “kedaulatan politik” akan saya bicarakan dalam konteks “negara-bangsa” maupun dalam konteks kedaulat­an politiknya “berjuta-juta rakyat Marhaen” itu.

Continue Reading »

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan