14 Aug

Noam Chomsky - “10 strategies of manipulation” by the media

Renowned critic and always MIT linguist Noam Chomsky, one of the classic voices of  intellectual dissent in the last decade, has compiled a list of the ten most common and effective strategies resorted to by the agendas “hidden” to establish a manipulation of the population through the media. Historically the media have proven highly efficient to mold public opinion. Thanks to the media paraphernalia and propaganda, have been created or destroyed social movements, justified wars, tempered financial crisis, spurred on some other ideological currents, and even given the phenomenon of media as producers of reality within the collective psyche. But how to detect the most common strategies for understanding these psychosocial tools which, surely, we participate? Fortunately Chomsky has been given the task of synthesizing and expose these practices, some more obvious and more sophisticated, but apparently all equally effective and, from a certain point of view, demeaning. Encourage stupidity, promote a sense of guilt, promote distraction, or construct artificial problems and then magically, solve them, are just some of these tactics.

Continue Reading »

12 Aug

Indonesia Di Antara Politik dan Perkara Manajerial Yang Baik

Bukan tanpa alasan bahwa pada masa-masa menjelang dan sesudah Pemilihan Umum Presiden 9 Juli 2014 hingga saat ini, media-media informasi, khususnya kantor-kantor berita luar negeri seperti BBC, CNN, Reuters, Channel News Asia, Le Monde, dan masih banyak lagi, semua memberikan perhatian serta pemberitaan khusus kepada Indonesia. Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia yang juga negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan tingkat demografi keempat terbesar di dunia, dan kandungan kekayaan energi alam yang juga salah satu yang terbesar di dunia, sosok yang akan menduduki jabatan tertinggi dan juga paling berat di Republik ini tentu saja merupakan hal yang strategis, dan secara mendasar juga dapat berpengaruh bagi peta kepentingan dunia internasional pada umumnya. Pertanyaannya: apakah seluruh hiruk-pikuk ‘pesta’ demokrasi itu, dan presiden yang kemudian terpilih, dapat sungguh-sungguh memiliki dampak positif yang nyata, langsung dan mendasar bagi kehidupan sehari-hari warga masyarakat biasa yang pada umumnya termasuk dalam golongan pekerja/wirasawasta kelas menengah ke bawah?

Salah satu kantor berita internasional yang membahas persoalan tersebut adalah salah satu kantor berita tertua di Prancis, yaitu kantor berita La Croix, yang sudah berdiri sejak 1883, dan sekarang berada di bawah bendera salah satu penerbit besar Bayard-Presse. Sebagai kantor berita tertua dan mewakili pandangan republikan-sekuler Republik Prancis, persoalan mengenai demokrasi dan dampak-dampak sosial serta ekonomi-politik nyata yang dapat ditimbulkannya menjadi fokus pemberitaan. Berkaitan dengan persoalan ini pula Pergerakan Kebangsaan turut menyumbangkan gagasan dan suaranya dalam kancah interpretasi dan arus pemahaman dunia internasional atas Indonesia, sebagaimana dimuat di dalam La Croix.

Di muat dalam liputan khusus edisi nasional Prancis pada Kamis, 10 Juli 2014, dengan judul “Indonesia di antara politik dan perkara manajerial yang baik,” (untuk membaca naskah lengkap dalam bahasa Prancis sebagaimana terbit di Paris silakan klik tautan berikut: Indonesie_Oligarchie). Berikut adalah cuplikannya:

Continue Reading »

25 Jul

Gangs Of Jakarta

”Peraturan pertama politik…the ballot not make the result, the counters makes the result. The counters. Keep counting!” demikian teriak kubu dukungan komunitas Irlandia ketika diadakan pemilihan umum di kota New York dalam film Gangs of New York, film dengan latar belakang kehidupan kota New York di tahun 1840-an.

Continue Reading »

16 Jul

Suara Dua Pemilu Yang Lalu

Eradicating corruption - first crush the oligarchy

The new government has vowed to take real action against corrupt officials in its first 100 days as a form of “shock therapy” in an effort to gain public trust. But properly enforcing the law against such a widespread problem, with so many involved, is nothing short of a monumental task.

The previous presidents of Indonesia have failed to eradicate corruption, although a lot of regulations have been reviewed and new laws enacted. However, corruption in this country has not been reduced, but has spread further — to every level of the government and beyond.

Continue Reading »

02 Jul

Pelajaran dari Bung Karno

Kolom Politik Kompas 20 Juli 2013 memberikan kita banyak inspirasi. Kolom politik edisi 20 Juli itu ditulis oleh James Luhulima dengan judul “Yang Diperlukan adalah Solusi Kreatif”.[1] Luhulima pada tulisan itu mengangkat satu contoh bagaimana Bung Karno pada masanya dapat membuat keputusan yang ujungnya mampu melahirkan kreatifitas anak bangsa.

Tahun 1962 Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, dan untuk itu diperlukan suplai listrik besar ke Gelanggang Olahraga Senayan dari pembangkit tenaga listrik di Tanjung Priok. Maka tahun 1961 Bung Karno memberikan tenggat waktu pada Prof Dr Ir Sedijatmo sebagai pejabat Perusahaan Listrik Negara membangun menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol, Jakarta.[2]

Continue Reading »

26 Jun

Koentjaraningrat, 40 Tahun Kemudian

“Kebetulan pada akhir tahun 1973 saya dihubungi oleh wartawan KOMPAS dan diberi suatu daftar pertanyaan untuk dijawab, sedangkan jawaban-jawaban tadi dimaksudkan untuk dijadikan bahan bagi suatu reportase dalam surat kabar mengenai masalah mentalitas dan pembangunan,”[1] demikian ditulis Koentjaraningrat dalam Kata Pengantar bukunya, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Empatpuluh tahun kemudian, 2014 –separuh lebih usia Republik, di tengah hangatnya pemilihan presiden, beberapa opini di Kompas berseliweran bicara soal mentalitas, terlebih terkait dengan program unggulan capres Joko Widodo: Revolusi Mental.

Continue Reading »

19 Jun

NKRI Harga Mati dan Perang Modern

Perang Modern adalah pemikiran Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAD 2002-2005 dan NKRI Harga Mati adalah yang tidak henti-hentinya ditegaskan oleh Jenderal Ryamizard, baik ketika masih aktif sebagai anggota TNI maupun sesudahnya. Jika kita lihat lebih jauh keduanya maka dapat kita lihat bahwa NKRI Harga Mati sebenarnya adalah gudang amunisi yang penuh energi dan tidak pernah habis-habisnya dalam menghadapi Perang Modern itu.

Continue Reading »

05 Jun

Elektabilitas Di Atas Pasir: Jokowi dan Arus Baliknya

Don’t want to be American Idiot

One nation controlled by the media

Information age of hysteria

Green Day, American Idiot

Bagi sebagian warga Jakarta, hadirnya (lagi) baju kotak-kotak dalam Pilpres 2014 ini bukanlah sebuah perayaan, tetapi adalah simbol dari janji-janji yang sama sekali belum tuntas. Melalui baju kotak-kotak

Continue Reading »

04 Jun

Pilpres di Tengah Segalanya Blusukan

Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah-air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka –nasionalis yang bukan chauvinis….

Soekarno dalam Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926)

“Kerajaan adalah ekspresi sekaligus infrastruktur yang timbul selaku ‘keharusan perkara’ dari budaya agraris, sedangkan republik atau kerajaan konstitusional yang kini merupakan bentuk dominan memang adalah ekspresi sekaligus infrastruktur dari budaya industri dengan sistem perdagangan yang khas…… Generasi budaya informatika semakin merasa betapa nasionalisme ayah bunda mereka semakin lebih menjadi penghalang daripada penolong perkembangan diri mereka, bukan karena mereka mengalami erosi patriotisme, tetapi karena memang patriotisme kaum agraris, kaum industri, dan kaum informatika (dan sebentar lagi generasi mikrobiologi) sudah menjadi lain: dari kepompong menjadi kupu-kupu. Identitas sama, tetapi gaya hidup lain. Dan panggilan sejarahnya pun sudah lain,”[1] demikian Y.B. Mangunwijaya menulis dalam Memasuki Era Globalisasi sekitar awal tahun 1990-an, satu-dua tahun setelah Alvin Toffler menerbitkan Power Shift, buku ke-3 dari triloginya. Apa yang ditulis Mangunwijaya itu sebenarnya sudah dimulai ditulis beliau pada tahun 1986 (!) dalam tulisan “Realitas Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein” yang dimuat dalam majalah kebudayaan Seni, edisi ke-2 –hampir 30 tahun lalu.

Continue Reading »

26 May

“The Myth Of The Lazy Native”

Bung Karno dalam Indonesia Menggugat menuliskan: “Berabad-abad kami mendapat cekokan “Inlander bodo”, berabad-abad kami diinjeksi rasa kurang karat, turun temurun kami menerima sistim ini, -ketambahan lagi kami ditetapkan “rendah” dan ditetapkan “kecil” sebagai laporan tentang kemakmuran itu tadi mengatakannya, dipadam-padamkan segenap enersi kami, sekarang percayalah kebanyakan bangsa kami, bahwa kami, sesungguhnya, memang adalah bangsa kurang karat yang tidak bisa apa-apa!”[1] Indonesia Menggugat adalah pembelaan Soekarno di depan pengadilan yang diselenggaraan di Bandung, 18 Agustus 1930. Pembelaan terhadap digerebek dan ditangkapnya Bung Karno pada tanggal 29 Desember 1929 setelah si Bung berpidato tentang kemerdekaan. Kutipan di atas adalah bagian ketiga dari “empat kontra” yang mesti dilakukan dalam penyusunan kekuatan melawan empat “urat-urat dan saraf-saraf” imperialisme. Perlawanan sebagai bagian dari segala upaya merebut kemerdekaan sebagai tujuan, dan bukan semata sebagai akibat. Bagi Bung Karno, kemerdekaan adalah syarat mutlak sehingga kita sebagai bangsa bisa mengatur rumah-tangga sendiri.

Continue Reading »

22 May

Landreform Bagi Kang Marhaen

Pada suatu pagi yang cerah aku bangun dengan keinginan untuk tidak pergi kuliah-suatu hal yang sering kulakukan. Aku terlalu sibuk dengan kegiatan politik sehingga kurang tertarik untuk pergi kuliah.

Berkeliling mengayuh sepeda tanpa tujuan -sambil berpikir- tiba-tiba kusadari aku telah sampai di belakang selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat di mana para petani bekerja di sawahnya yang sempit, dengan luas kurang dari sepertiga hektar. Perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul di tanah miliknya. Dia seorang diri. Pakaiannya lusuh. Gambaran yang khas ini membuatku ingin menjadikannya sebagai perlambang dari rakyatku. Aku berdiri di sana dan diam-diam memperhatikannya. Kami adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Tanyaku dalam bahasa Sunda, “Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?”

Continue Reading »

21 May

Sekali Lagi, Wasit Yang Tidak Ikut Bermain

Dalam hitungan minggu Piala Dunia segera digelar di Brasil. Kompetisi paling akbar di planet ini akan segera menyihir sebagian besar manusia di seluruh dunia. Dan keberhasilan perhelatan akbar ini, sukses atau tidaknya, salah satunya tergantung pada wasit dan tim pembantunya. Jika wasit ikut bermain, katakanlah berpihak pada satu tim saja dapat dipastikan Piala Dunia Brasil akan dikenang karena keburukannya, dan bukan yang lain.

Tentu mengelola negara tidak akan pernah bisa disejajarkan dengan sebuah pertandingan olah raga, tetapi metafora ‘wasit tidak ikut bermain’ tetap bisa kita gunakan sebagai pintu masuk memahami permasalahan pokok yang kita hadapi sebagai bangsa. Dan permasalahan itu adalah begitu mengguritanya peran pemburu rente dalam penyelenggaraan negara. Dalam praktek aktifitas pemburu rente ini kadang kita kenal sebagai kong-ka-li-kong atau pat-gu-li-pat. Menggunakan berbagai aspek yang melekat pada negara untuk mengeruk keuntungan yang berlipat-lipat jauh di luar kewajaran bagi diri sendiri atau kelompoknya.

Continue Reading »

12 Apr

Ugal-ugalan di Republik

Continue Reading »

08 Apr

Terbit: “Urip [kok] Mung Mampir Nyoblos”

URIP [KOK] MUNG MAMPIR NYOBLOS

Oleh

: Redaksi Likwan

Continue Reading »

08 Apr

Carl Schmitt yang Bangkit dari Kubur

Ito Prajna-Nugroho

“Politik bersandar pada kekhasannya yang utama, yang darinya berasal segala tindakan yang secara khusus bersifat politik. […] Kekhasan yang khas dari politik, yang darinya segala tindakan dan motif politik dapat diasalkan, adalah pembedaan antara kawan dan lawan. […] Pembedaan kawan dan lawan menunjuk pada derajat intensitas tertinggi dari setiap penyatuan atau pemisahan, dari setiap asosiasi atau disasosiasi.[1] […] Konsep kawan dan lawan perlu dipahami dalam artinya yang konkret dan eksistensial, bukan sebagai metafor atau simbol, bukan dicampur-aduk dan dilemahkan dengan pengertian-pengertian ekonomi, moral, apalagi disalahpahami dalam artinya yang privat individualistik sebagai ekspresi psikologistis dari emosi-emosi pribadi. […] Secara rasional tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa-bangsa terus-menerus mengelompokkan diri menurut kutub kawan dan lawan, dan itu berarti pembedaan tersebut tetap aktual. Bagi setiap orang yang berada dalam medan politik, konsep pembedaan tersebut adalah sebuah kemungkinan nyata yang terus menerus hadir sebagai kemungkinan.[2]

Kutipan di atas bukanlah suatu preskripsi, melainkan sebuah deskripsi. Artinya, rumusan di atas adalah penggambaran obyektif yang menunjuk langsung pada spektrum pergerakan realitas politik sebagaimana adanya, bukan anjuran tentang bagaimana seharusnya. Kutipan di atas juga bukan suatu retorika omong kosong, melainkan sebuah gramatika politik. Artinya, rumusan Carl Schmitt di atas menunjuk pada logika dasar yang diandaikan oleh setiap bentuk tindakan politik, sebuah tata-logis atau tata-bahasa (grammar) yang mendasari setiap bahasa politik, dan bukan sekadar permainan kata-kata sampah layaknya kampanye pemilu atau bahasa instrumental omong kosong layaknya marketing politics yang tidak berbeda dengan pertunjukan sulap. Dengan kata lain, Carl Schmitt menunjuk pada dasar yang selalu ada-di-sana (Dasein) dalam setiap aktivitas politik, sebuah ontologi-fundamental yang sering tidak terlihat dan tidak tertampakkan tetapi ada di sana sebagai hal yang tidak terbantahkan dalam politik. Tidak setuju? Silakan baca baik-baik dan coba bantahlah Schmitt jika memang mampu.

Continue Reading »

07 Apr

Kuat Di Tengah Pasar

Pasar memang tidak ada ketika manusia mulai menapak sejarah evolusinya. Tetapi dalam perjalanan sejarah manusia, pasar terbangun entah itu disengaja atau tidak. Manusia menciptakan berbagai peralatan untuk mendukung apa yang menjadi hasrat dasarnya: melangsungkan hidup. Pasar adalah salah satunya. Apa yang disebut sebagai hasrat melangsungkan hidup itu ada karena manusia selalu dihadapkan pada kematian. Maka pasar sebagai ‘alat dukung’ kelangsungan hidup pun adanya bayang-bayang kematian adalah tidak terhindarkan. Kita kemudian bisa mengatakan bahwa pasar dalam bentuk paling awalnya sebagai kegiatan barter tidak akan berhasil jika manusia gagal menunda hasrat-hasrat membunuhnya. Maka adalah tepat pendapat Baron Montesquieu yang mengatakan bahwa perdagangan itu mendorong peradaban.

Continue Reading »

01 Apr

Rasa Aman Di Depan ‘Juggernaut’

Proses globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi kadang digambarkan sebagai juggernaut, katakanlah sebuah truk raksasa yang melaju kencang seakan tidak terkendali berlari secara zig-zag dan siap menabrak apa saja yang ada di depannya. Juggernaut diambil dari bahasa Sansekerta, Jagannātha, terkait dengan cerita epos Kresna. Bagi manusia-manusia yang ada di depannya, jelas juggernaut akan mengusik hasrat paling mendasarnya yaitu hasrat melangsungkan hidup. Tetapi bagaimanapun juga juggernaut atau gelombang globalisasi itu tidak mungkin dihindari lagi. Apalagi jika juggernaut itu kita tayang dalam gerak lambat, perlahan sebenarnya akan nampak adanya jaring-jaring saling-ketergantungan yang semakin intens. Membuat benteng melawan juggernaut selain tidak mungkin juga akan membuat diri terlempar dari pergaulan yang saling tergantung itu dan upaya membangun kesejahteraan bagi rakyat pun bisa jadi hanya sebuah mimpi kosong. Tetapi sebaliknya jika tidak mampu memberikan respon produktif terhadap terjangan juggernaut itu, ketergantunganlah ujungnya. Akibatnya tidak jauh berbeda, membangun kesejahteraan bagi rakyat hanya sebuah mimpi kosong juga.

Continue Reading »

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan