18 Nov

“Salam Empat Jari” Dari Faisal Basri ….

Faisal Basri: Di Dunia Itu Tidak Ada BBM RON 88

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai, dalam mengimpor bahan bakar minyak (BBM),  Pertamina sangat tergantung dengan pengusaha minyak Riza Chalid. Padahal, menurut dia, Pertamina tidak perlu membeli minyak impor dari Riza Chalid.

“Enggak perlu Muhammad Riza Chalid, tidak perlu. Tapi diciptakan seakan-akan Muhamad Riza Chalid itu sesuatu banget di negara ini,” ujar Faisal Basri di Jakarta, Minggu (7/9/2014).

Continue Reading »

17 Nov

Benarkah Ini?

Ada pihak luar “bermain” pada KTP elektronika?

Jakarta (ANTARA News) - Pakar teknologi informasi dari ITB, Deddy Syafwan, menyesalkan server basis data KTP elektronik seluruh penduduk Indonesia ternyata ada di luar negeri.

“Pada awalnya saya kira server-nya ada di Indonesia, namun ternyata di Belanda. Jika demikian maka ada kepentingan luar yang bermain pada KTP elektronika ini,” ujar Deddy di Jakarta, Minggu.

Continue Reading »

30 Oct

Hebat Dalam Empat Perkara

Hidup yang tidak pernah diperiksa tidak layak dijalani

- Sokrates

Menjelang dan awal abad 20, bangsa Indonesia –seperti bangsa-bangsa lain, ada dalam pusaran perubahan dunia yang semakin cepat. Munculnya Revolusi Industri dan dilanjutkan penemuan-penemuan baru di bidang komunikasi, mulai dari telegraf, telepon, radio dan televisi serta perkembangan di bidang transportasi telah merubah lanskap hidup bersama dunia pada dekade-dekade sekitar peralihan abad 20 tersebut. Terhadap segala perubahan yang ada ini dan dengan keprihatinan mendalam akan nasib saudara-saudara se tanah air, tokoh-tokoh kemerdekaan perlahan semakin terasah kehebatannya. Puncak dari kehebatan pergerakan yang dibangun adalah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Continue Reading »

14 Aug

Noam Chomsky - “10 strategies of manipulation” by the media

Renowned critic and always MIT linguist Noam Chomsky, one of the classic voices of  intellectual dissent in the last decade, has compiled a list of the ten most common and effective strategies resorted to by the agendas “hidden” to establish a manipulation of the population through the media. Historically the media have proven highly efficient to mold public opinion. Thanks to the media paraphernalia and propaganda, have been created or destroyed social movements, justified wars, tempered financial crisis, spurred on some other ideological currents, and even given the phenomenon of media as producers of reality within the collective psyche. But how to detect the most common strategies for understanding these psychosocial tools which, surely, we participate? Fortunately Chomsky has been given the task of synthesizing and expose these practices, some more obvious and more sophisticated, but apparently all equally effective and, from a certain point of view, demeaning. Encourage stupidity, promote a sense of guilt, promote distraction, or construct artificial problems and then magically, solve them, are just some of these tactics.

Continue Reading »

12 Aug

Indonesia Di Antara Politik dan Perkara Manajerial Yang Baik

Bukan tanpa alasan bahwa pada masa-masa menjelang dan sesudah Pemilihan Umum Presiden 9 Juli 2014 hingga saat ini, media-media informasi, khususnya kantor-kantor berita luar negeri seperti BBC, CNN, Reuters, Channel News Asia, Le Monde, dan masih banyak lagi, semua memberikan perhatian serta pemberitaan khusus kepada Indonesia. Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia yang juga negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan tingkat demografi keempat terbesar di dunia, dan kandungan kekayaan energi alam yang juga salah satu yang terbesar di dunia, sosok yang akan menduduki jabatan tertinggi dan juga paling berat di Republik ini tentu saja merupakan hal yang strategis, dan secara mendasar juga dapat berpengaruh bagi peta kepentingan dunia internasional pada umumnya. Pertanyaannya: apakah seluruh hiruk-pikuk ‘pesta’ demokrasi itu, dan presiden yang kemudian terpilih, dapat sungguh-sungguh memiliki dampak positif yang nyata, langsung dan mendasar bagi kehidupan sehari-hari warga masyarakat biasa yang pada umumnya termasuk dalam golongan pekerja/wirasawasta kelas menengah ke bawah?

Salah satu kantor berita internasional yang membahas persoalan tersebut adalah salah satu kantor berita tertua di Prancis, yaitu kantor berita La Croix, yang sudah berdiri sejak 1883, dan sekarang berada di bawah bendera salah satu penerbit besar Bayard-Presse. Sebagai kantor berita tertua dan mewakili pandangan republikan-sekuler Republik Prancis, persoalan mengenai demokrasi dan dampak-dampak sosial serta ekonomi-politik nyata yang dapat ditimbulkannya menjadi fokus pemberitaan. Berkaitan dengan persoalan ini pula Pergerakan Kebangsaan turut menyumbangkan gagasan dan suaranya dalam kancah interpretasi dan arus pemahaman dunia internasional atas Indonesia, sebagaimana dimuat di dalam La Croix.

Di muat dalam liputan khusus edisi nasional Prancis pada Kamis, 10 Juli 2014, dengan judul “Indonesia di antara politik dan perkara manajerial yang baik,” (untuk membaca naskah lengkap dalam bahasa Prancis sebagaimana terbit di Paris silakan klik tautan berikut: Indonesie_Oligarchie). Berikut adalah cuplikannya:

Continue Reading »

25 Jul

Gangs Of Jakarta

”Peraturan pertama politik…the ballot not make the result, the counters makes the result. The counters. Keep counting!” demikian teriak kubu dukungan komunitas Irlandia ketika diadakan pemilihan umum di kota New York dalam film Gangs of New York, film dengan latar belakang kehidupan kota New York di tahun 1840-an.

Continue Reading »

16 Jul

Suara Dua Pemilu Yang Lalu

Eradicating corruption - first crush the oligarchy

The new government has vowed to take real action against corrupt officials in its first 100 days as a form of “shock therapy” in an effort to gain public trust. But properly enforcing the law against such a widespread problem, with so many involved, is nothing short of a monumental task.

The previous presidents of Indonesia have failed to eradicate corruption, although a lot of regulations have been reviewed and new laws enacted. However, corruption in this country has not been reduced, but has spread further — to every level of the government and beyond.

Continue Reading »

02 Jul

Pelajaran dari Bung Karno

Kolom Politik Kompas 20 Juli 2013 memberikan kita banyak inspirasi. Kolom politik edisi 20 Juli itu ditulis oleh James Luhulima dengan judul “Yang Diperlukan adalah Solusi Kreatif”.[1] Luhulima pada tulisan itu mengangkat satu contoh bagaimana Bung Karno pada masanya dapat membuat keputusan yang ujungnya mampu melahirkan kreatifitas anak bangsa.

Tahun 1962 Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, dan untuk itu diperlukan suplai listrik besar ke Gelanggang Olahraga Senayan dari pembangkit tenaga listrik di Tanjung Priok. Maka tahun 1961 Bung Karno memberikan tenggat waktu pada Prof Dr Ir Sedijatmo sebagai pejabat Perusahaan Listrik Negara membangun menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol, Jakarta.[2]

Continue Reading »

26 Jun

Koentjaraningrat, 40 Tahun Kemudian

“Kebetulan pada akhir tahun 1973 saya dihubungi oleh wartawan KOMPAS dan diberi suatu daftar pertanyaan untuk dijawab, sedangkan jawaban-jawaban tadi dimaksudkan untuk dijadikan bahan bagi suatu reportase dalam surat kabar mengenai masalah mentalitas dan pembangunan,”[1] demikian ditulis Koentjaraningrat dalam Kata Pengantar bukunya, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Empatpuluh tahun kemudian, 2014 –separuh lebih usia Republik, di tengah hangatnya pemilihan presiden, beberapa opini di Kompas berseliweran bicara soal mentalitas, terlebih terkait dengan program unggulan capres Joko Widodo: Revolusi Mental.

Continue Reading »

19 Jun

NKRI Harga Mati dan Perang Modern

Perang Modern adalah pemikiran Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAD 2002-2005 dan NKRI Harga Mati adalah yang tidak henti-hentinya ditegaskan oleh Jenderal Ryamizard, baik ketika masih aktif sebagai anggota TNI maupun sesudahnya. Jika kita lihat lebih jauh keduanya maka dapat kita lihat bahwa NKRI Harga Mati sebenarnya adalah gudang amunisi yang penuh energi dan tidak pernah habis-habisnya dalam menghadapi Perang Modern itu.

Continue Reading »

05 Jun

Elektabilitas Di Atas Pasir: Jokowi dan Arus Baliknya

Don’t want to be American Idiot

One nation controlled by the media

Information age of hysteria

Green Day, American Idiot

Bagi sebagian warga Jakarta, hadirnya (lagi) baju kotak-kotak dalam Pilpres 2014 ini bukanlah sebuah perayaan, tetapi adalah simbol dari janji-janji yang sama sekali belum tuntas. Melalui baju kotak-kotak

Continue Reading »

04 Jun

Pilpres di Tengah Segalanya Blusukan

Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah-air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka –nasionalis yang bukan chauvinis….

Soekarno dalam Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926)

“Kerajaan adalah ekspresi sekaligus infrastruktur yang timbul selaku ‘keharusan perkara’ dari budaya agraris, sedangkan republik atau kerajaan konstitusional yang kini merupakan bentuk dominan memang adalah ekspresi sekaligus infrastruktur dari budaya industri dengan sistem perdagangan yang khas…… Generasi budaya informatika semakin merasa betapa nasionalisme ayah bunda mereka semakin lebih menjadi penghalang daripada penolong perkembangan diri mereka, bukan karena mereka mengalami erosi patriotisme, tetapi karena memang patriotisme kaum agraris, kaum industri, dan kaum informatika (dan sebentar lagi generasi mikrobiologi) sudah menjadi lain: dari kepompong menjadi kupu-kupu. Identitas sama, tetapi gaya hidup lain. Dan panggilan sejarahnya pun sudah lain,”[1] demikian Y.B. Mangunwijaya menulis dalam Memasuki Era Globalisasi sekitar awal tahun 1990-an, satu-dua tahun setelah Alvin Toffler menerbitkan Power Shift, buku ke-3 dari triloginya. Apa yang ditulis Mangunwijaya itu sebenarnya sudah dimulai ditulis beliau pada tahun 1986 (!) dalam tulisan “Realitas Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein” yang dimuat dalam majalah kebudayaan Seni, edisi ke-2 –hampir 30 tahun lalu.

Continue Reading »

26 May

“The Myth Of The Lazy Native”

Bung Karno dalam Indonesia Menggugat menuliskan: “Berabad-abad kami mendapat cekokan “Inlander bodo”, berabad-abad kami diinjeksi rasa kurang karat, turun temurun kami menerima sistim ini, -ketambahan lagi kami ditetapkan “rendah” dan ditetapkan “kecil” sebagai laporan tentang kemakmuran itu tadi mengatakannya, dipadam-padamkan segenap enersi kami, sekarang percayalah kebanyakan bangsa kami, bahwa kami, sesungguhnya, memang adalah bangsa kurang karat yang tidak bisa apa-apa!”[1] Indonesia Menggugat adalah pembelaan Soekarno di depan pengadilan yang diselenggaraan di Bandung, 18 Agustus 1930. Pembelaan terhadap digerebek dan ditangkapnya Bung Karno pada tanggal 29 Desember 1929 setelah si Bung berpidato tentang kemerdekaan. Kutipan di atas adalah bagian ketiga dari “empat kontra” yang mesti dilakukan dalam penyusunan kekuatan melawan empat “urat-urat dan saraf-saraf” imperialisme. Perlawanan sebagai bagian dari segala upaya merebut kemerdekaan sebagai tujuan, dan bukan semata sebagai akibat. Bagi Bung Karno, kemerdekaan adalah syarat mutlak sehingga kita sebagai bangsa bisa mengatur rumah-tangga sendiri.

Continue Reading »

22 May

Landreform Bagi Kang Marhaen

Pada suatu pagi yang cerah aku bangun dengan keinginan untuk tidak pergi kuliah-suatu hal yang sering kulakukan. Aku terlalu sibuk dengan kegiatan politik sehingga kurang tertarik untuk pergi kuliah.

Berkeliling mengayuh sepeda tanpa tujuan -sambil berpikir- tiba-tiba kusadari aku telah sampai di belakang selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat di mana para petani bekerja di sawahnya yang sempit, dengan luas kurang dari sepertiga hektar. Perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul di tanah miliknya. Dia seorang diri. Pakaiannya lusuh. Gambaran yang khas ini membuatku ingin menjadikannya sebagai perlambang dari rakyatku. Aku berdiri di sana dan diam-diam memperhatikannya. Kami adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Tanyaku dalam bahasa Sunda, “Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?”

Continue Reading »

21 May

Sekali Lagi, Wasit Yang Tidak Ikut Bermain

Dalam hitungan minggu Piala Dunia segera digelar di Brasil. Kompetisi paling akbar di planet ini akan segera menyihir sebagian besar manusia di seluruh dunia. Dan keberhasilan perhelatan akbar ini, sukses atau tidaknya, salah satunya tergantung pada wasit dan tim pembantunya. Jika wasit ikut bermain, katakanlah berpihak pada satu tim saja dapat dipastikan Piala Dunia Brasil akan dikenang karena keburukannya, dan bukan yang lain.

Tentu mengelola negara tidak akan pernah bisa disejajarkan dengan sebuah pertandingan olah raga, tetapi metafora ‘wasit tidak ikut bermain’ tetap bisa kita gunakan sebagai pintu masuk memahami permasalahan pokok yang kita hadapi sebagai bangsa. Dan permasalahan itu adalah begitu mengguritanya peran pemburu rente dalam penyelenggaraan negara. Dalam praktek aktifitas pemburu rente ini kadang kita kenal sebagai kong-ka-li-kong atau pat-gu-li-pat. Menggunakan berbagai aspek yang melekat pada negara untuk mengeruk keuntungan yang berlipat-lipat jauh di luar kewajaran bagi diri sendiri atau kelompoknya.

Continue Reading »

12 Apr

Ugal-ugalan di Republik

Continue Reading »

08 Apr

Terbit: “Urip [kok] Mung Mampir Nyoblos”

URIP [KOK] MUNG MAMPIR NYOBLOS

Oleh

: Redaksi Likwan

Continue Reading »

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan