1110. Suasana Kebatinan

28-03-2023

Apa yang terjadi ketika kita mendengar nada 1, 2, dan 3 dalam sebuah lagu? Husserl berpendapat bahwa ketika nada 2 terdengar sekarang, saat ini, bukan berarti nada 1 terus menghilang begitu saja, seakan nada itu ‘tertahan’, mengalami retensi saat kita mendengar nada 2 saat ini. Dan nada 3-pun seakan ‘hadir’ pula, seakan sudah kita ‘antisipasi’ datangnya, mengalami protensi. Sebagian besar hidup kita akan ada dalam ‘langgam’ seperti di atas. Katakanlah kita sampai di perempatan dan ada pengatur lalu-lintasnya, merah, kuning, hijau warna lampunya. Bagi yang hobi naik gunung, ketika banyak binatang seakan tergesa turun gunung maka ini akan ada artinya, gunung mungkin akan meletus. Tapi bagi yang pertama kali wisata di kaki gunung, mungkin tidak ada pengetahuan atau ingatan soal ini, sehingga ketika ‘nada 2’ terdengar sebagai ‘turunnya banyak binatang dari puncak/lembah gunung’ tidak mengakibatkan ‘antisipasi’ apapun. Atau air laut yang tiba-tiba saja dalam jumlah banyak menjauh dari garis pantai, sebagai tanda-tanda datangnya tsunami misalnya.

Sebagian besar hidup kita ada dalam ‘langgam’ di atas. Dan sebagian besarnya itu terkait dengan soal ‘bertahan hidup’. Maka tidak berlebihan jika Gramsci kemudian mengenalkan soal ‘intelektual organik’. Atau kita mendengar soal ‘partai pelopor’. Atau juga Toynbee mengenalkan istilah ‘minoritas kreatif’. Atau juga istilah ‘entrepreneur’. Ini bukan soal ‘elitis’ atau apa mau disebut, tetapi fakta adanya ‘kesadaran temaram’ seperti disinyalir oleh Hermann Broch nampaknya memang memungkinkan hal tersebut. Tidak semua mampu dan mau ‘memajukan’ horison untuk masuk dalam ‘dunia kemungkinan’ yang bisa-bisa memang penuh dengan ketidak-pastian. Maka memang dunia seni dalam bermacam bentuknya, merupakan salah satu ‘prasyarat’ penting dalam kemajuan. Ia mengenalkan, mengakrabkan kita pada kemungkinan akan ‘batas-batas’ ditembus untuk menguak dan berani masuk dalam dunia kemungkinan-kemungkinan itu. Dan yang tak kalah pentingnya, narasi-narasi tentang dunia seni itu sebagai ‘jembatan’-nya. Dengan bahasa sebagai ‘rumah’ manusia, narasi-narasi itu semacam membuka pintu supaya dimensi kemungkinan-kemungkinan itu menjadi bagian yang tidak ‘menakutkan’ lagi.

Dengan berkembangnya teknologi komunikasi maka ‘intersubyektifitas’ menjadi semakin dimungkinkan. Apakah dengan begitu nuansa ‘elitis’ dalam bermacam bentuknya seperti dicontohkan di atas kemudian akan menghilang? Apakah meningkatnya intensitas ‘intersubyektifitas’ itu akan mengikis ‘kesadaran temaram’ dan bermacam hal menjadi terang-benderang dalam kesadaran? Faktanya berkembangnya teknologi komunikasi itu juga sekaligus mengenalkan pada kita soal post-truth itu. Disinformasi-pun juga lebih mudah merebak. Hoax-hoèx seakan tiada henti. Juga fake-famous itu. Kejahatan melalui media komunikasi-pun juga semakin membesar. Tak ketinggalan pollsterRp-pun hadir tiada henti melakukan akrobatik ‘akademik’-nya. Bahkan merebaknya ‘logika waktu pendek’ itu akan mengikis ‘kedalaman’ pula. Fanatisme-pun kemudian semakin mudah untuk ‘dibangun’. Dan itu semua bisa terjadi karena kita adalah juga manusia. Bukan artificial intelligent misalnya.

Tetapi kita memang sudah di era Revolusi Informasi, suka atau tidak. Bisa-bisa tidak hanya power yang bergeser, tetapi juga soal ‘rasa-merasa’. ‘Kesadaran temaram’ itu juga sudah ada dalam ‘habitat’ yang berubah. Sayangnya, meski habitat berubah, evolusi manusia belum menampakkan ada perubahan yang signifikan. Maka ‘rumus’-nya kemudian tetap, yang akan membedakan adalah kemampuan adaptasi-nya. Dan kita kembali ke awal tulisan, soal ‘memajukan horison’. Horison yang terus dimajukan sebagai bagian penting dalam proses adaptasi ketika habitat hidup terus berkembang. Selain juga terus menumbuh-kembangkan keberanian untuk masuk dalam dunia kemungkinan yang penuh ketidak-pastian itu. Maka prudence adalah kata kuncinya. Etika yang tidak pernah lepas dari hal timbang-menimbang adalah bayang-bayang yang tidak boleh meredup. Terlalu banyak ngibul-asal njeplak-asal mangap dan sok-sok-an gegayaan jelas tidak kompatibel lagi dengan habitat hidup yang sudah berkembang. Kelakuan seperti ini hanya akan menjerumuskan hidup bersama dalam kegelapan ketertinggalan yang kronis. *** (28-03-2023)

1111. Pajak dan Kemewahan

28-03-2023

Ketika para bintang film Hollywood itu melangkahkan kaki di atas karpet merah, segala gemerlap hadir. Tidak hanya parade pakaian dari desainer top, tetapi juga bermacam perhiasan dipakai. Juga deretan mobil mewah mengantarkan sampai di depan pintu. Glamour abis-abisan. Siapa yang tidak ingin pakai baju bagus? Bahkan bermerek juga? Siapa tidak ingin punya mobil? Maslow jelas memberikan ‘dasar teoritis’ dari bermacam hal tersebut. Tetapi mengapa kita tidak serta merta marah terhadap segala pamer kemewahan itu? Apakah karena pada dasarnya kita ingin menirunya juga? Ingin pula bermewah-mewah, dan pamer kemewahan juga? Terlebih di tengah-tengah the society of the spectacle ini? Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam kesempatan ini, pertama adalah pendapat Nietzsche soal will to power, dalam bermacam bentuknya, dalam bermacam relasi-relasi antar manusia. Yang kedua terkait berkembang-luasnya ‘masyarakat konsumsi’ dalam kapitalisme. Yang pertama dan kedua tidak dibahas lebih lanjut, tetapi yang ketiga lebih terkait dengan judul, berangkat dari pendapat Pierre Bourdieu.

Seseorang, S misalnya, menghasrati sebuah obyek O, sebagian besarnya melalui modus meniru si-model, M. Layaknya sebuah iklan rokok yang menampilkan sosok Marlboro Man itu, diharapkan akan ada yang mencoba menghisap rokok Marlboro karena meniru kenikmatan yang dibawakan oleh si-Marlboro Man. Atau meniru teman dekat yang nampak begitu nikmatnya merokok Gudang Garam Filter International, misalnya. Atau lewat warung makan yang selalu sesak oleh pengunjung, minggu depan ia mencoba makan di situ. Teori segitiga-hasrat, demikian pendapat Pierre Bourdieu di atas dikenal. Masalahnya soal tiru-miniru itu tidak berhenti begitu saja. Pada titik tertentu si-model, M, yang menjadi ‘sumber’ peniruan itu akan dirasa sebagai ‘rival’-nya oleh si-S. Rivalitas ini bisa sedemikian rupa berkembangnya, dan bisa-bisa akan mengancam keutuhan hidup bersama. Maka menurut Bourdieu perlu-lah ‘kambing hitam’ sehingga rivalitas bisa ‘disalurkan’. Macam-macam bentuk ‘kambing hitam’ ini. Sebenarnya juga tidak jauh beda dengan ‘argumen pihak ketiga’ dalam sebuah persahabatan, menurut Platon, tetapi Bourdieu melangkah lebih jauh dengan melibatkan si-kambing hitam dalam titik tertentu. Tetapi Bourdieu juga membedakan antara ‘model-internal’ dan ‘model eksternal’.

‘Model eksternal’ relatif tidak perlu ‘kambing hitam’ karena, katakanlah, memang di luar jangkauan si-S, contohnya gebyar karpet merah saat gelar Piala Oscar di atas. Terkait dengan judul bukan dimaksudkan sebagai ‘pajak kemewahan’, atau ‘pajak barang mewah’, tetapi adanya pajak itu membuat para pejabat yang ada di ranah ‘penarik pajak’, ranah negara pada umumnya, menjadi ‘model internal’. Menjadi tidak mungkin-lah dihayati seperti para selebriti yang sedang berjalan di atas karpet merah, misalnya. Jaman feodal dulu, ada juga penarikan pajak yang dilakukan kaum bangsawan, dan kaum bangsawan itu hidup mewah dan bahkan banyak ugal-ugalannya, maka si-raja kadang membuat ritual tertentu dengan bermacam ‘korban’ yang dipersembahkan pada alam-semesta yang ‘menakutkan’ itu. Maka ‘rivalitas’ itu bisa ‘diredam’ dan hidup melanjut, business as usual. Maka pula, siapa yang akan jadi ‘kambing hitam’? Supaya hidup bersama tetap melanjut sebagai business as usual? *** (28-03-2023)

1112. Menebar Angin Menuai Badai

30-03-2023

Dipindahkannya gelar Piala Dunia U-20 keluar Indonesia adalah sebuah ‘badai’, entah itu badai besar atau kecil. Apapun itu. Alasan FIFA menetapkan gelar Piala Dunia U-20 ternyata terkait dengan tragedi Kanjuruhan Malang, yang merenggut nyawa 135 korban. Dan bukan lain-lainnya. Apa pelajaran yang bisa kita raba?

Pelajaran utama adalah, ternyata kita tidak hidup sendirian di planet ini. Beberapa waktu setelah tragedi, presiden FIFA, GVI, datang ke Indonesia dan seakan datang tanpa empati sedikit-pun terkait dengan tragedi. Tebar senyam-senyum saja di sana-sini. Dari kronologi waktu sampai sekarang ini bisa dibayangkan ‘ramah’-nya GVI itu bisa dilihat sebagai ‘ada maunya’. Dan itu (ternyata) adalah pemilihan presiden FIFA 16 Maret 2023 lalu. Bertepatan dengan terpilihnya GVI kembali sebagai presiden FIFA, para tersangka tragedi Kanjuruhan di vonis bebas karena angin ternyata ikut campur tangan soal gas air mata. Di satu pihak GVI semestinya mewakili ‘suasana kebatinan’ warga-global, termasuk yang hidup di republik, yang sungguh prihatin akan tragedi Kanjuruhan itu, tetapi ia juga sedang menyongsong pemilihan presiden FIFA. Maka bisa dibayangkan bagaimana ‘akrobat’ GVI dalam hal ini. Tetapi apapun ‘akrobat’ yang dimainken GVI itu tetaplah di luar kendali kita, di luar kendali ET juga, Ketum PSSI itu. Yang dalam kendali adalah mau atau tidak ditipu. Mau atau tidak mengelola tragedi secara bermartabat?

Pelajaran kedua lebih menekankan bahwa ternyata kita tidak hidup sendirian di planet ini. GVI tentu berterimakasih atas ‘suara’ PSSI dalam pemilihan presiden FIFA di Rwanda beberapa waktu lalu. Melihat apa-apa yang terjadi sulit membayangkan ‘suara’ PSSI tidak untuk GVI. Tetapi GVI-pun paham ia tidak bisa lepas dari ‘suasana jaman’ yang berkembang. Maka keputusannya adalah memindahkan gelar Piala Dunia U-20 keluar dari Indonesia. Dan ET-pun tiba-tiba saja jadi plonga-plongo. Ngaplo, cuk ... *** (30-03-2023)

1113. "Sekte Agung" di Ranah Negara

01-04-2023

Adam Smith lahir dan menulis di tengah-tengah pergeseran dari teosentris ke antroposentris. Bergeser pada manusia sebagai ‘pusat’-nya. Dan manusia apa-adanya kemudian banyak dibahas. Diterima dengan segala ‘kewajaran’-nya, baik sisi ‘gelap’ dan potensi ‘terang’-nya. Juga di rentang waktu itu begitu besar keinginan untuk menjelaskan segala sesuatunya, katakanlah petualangan untuk menemukan ‘hukum-hukum universal’ itu begitu merebaknya. Contoh kemudian ditemukannya Hukum Gravitasi Newton, dan lain-lainnya. Di Eropa sana, pada rentang waktu terlebih setelah mesin cetak massal Guttenberg diperkenalkan. Juga bermacam karya seni, baik seni lukis, patung, sastra, drama atau juga seni musik berkembang. Gairah dan kepenasaran itu sungguh seakan menemukan momentum panjangnya. Clear and distinct juga mewarnai bermacam perjalanan di bermacam klaster kehidupan. Dengan adanya produk mesin cetak itu, masyarakat pembelajar semakin meluas juga. Meluasnya masyarakat pembelajar juga perlahan membuat pergeseran dari merkantilisme ke liberalisme menjadi ‘terdukung’. Yang bisa dikatakan gairah ‘memuncak’ pada keluarnya ungkapan laissez-faire.

Dalam The Theory of Moral Sentiments edisi terakhir (edisi 6), Adam Smith menulis dalam bagian Advertisement: “In Parts Seventh, I have brought together the greater part of the different passages concerning the Stoical Philosophy, which, in the former Editions, had been scattered about in different parts of the work. I have likewise endeavoured to explain more fully, and examine more distinctly, some of the doctrine of the famous sect.” (hlm. 3) Ketika teosentris bergeser ke antroposentris, pertanyaan berikutnya adalah apa sebagai ‘pengganti’ kitab ajaran dalam teosentrisme di antroposentrisme? Maka dalam rentang waktu itu doeloe di Eropa sana, ada gairah baru untuk membuka lagi filsafat-filsafat Yunani Kuno, ‘filsafat klasik’, renaissance, re-birth. Tak ketinggalan pula Adam Smith.

Jika dalam pasar Adam Smith meyakini bahwa soal keutamaan (virtue) ‘cukuplah sepantasnya’ saja, mengapa soal Stoicism menjadi penting? Kalau kita lihat secara lebih jauh kampanye Biden vs Trump pada pemilihan presiden terakhir lalu, nampak disana-sini Biden banyak memakai ‘idiom’ Stoa. Dan nampaknya memang bahasan soal Stoa oleh Adam Smith ini lebih untuk para pengelola negara. Ajaran Stoa yang salah satu pilarnya adalah ‘tahu-batas’ ini akan memberikan ‘garansi’ bagi pasar untuk tidak kembali lagi ke jaman merkantilisme. *** (01-04-2023)

1114. Polis dan Olah Raga

02-04-2023

Kata kunci bicara soal polis dan olah raga adalah ‘well-being’, yang digambarkan oleh WHO sebagai: a “resource for healthy living” and “positive state of health” that is “more than the absence of an illness” and enables us to function well: psychologically, physically, emotionally and socially. In other words, wellbeing’ is described as “enabling people to develop their potential, work productively and creatively, form positive relationships with others and meaningfully contribute to the community”. Maka olah raga, atau juga taman-rekreasi, atau juga jalur-sepeda, museum, ruang-hijau, dan banyak lagi adalah hal-hal perlu diperhatikan dalam pencapaian well-being ini. Tentu bermacam ‘kebutuhan dasar’ adalah syarat mutlaknya, tidak bisa diingkari lagi. Maka bicara politik dan olah raga, sebelum melebar kemana-mana, pertama-tama adalah terkait dengan ‘polis’, dengan warga-negaranya, terkait dengan manusia-manusia yang hidup dalam satu komunitas tertentu. Terkait dengan upaya bersama untuk mewujudkan well-being seperti disebut di atas. Lebih dari seperti ditulis Juvenal hampir 2000 tahun lalu, terkait dengan ‘roti dan sirkus’.

Olah raga juga bisa sebagai ‘pihak ketiga’ yang mempererat ‘persahabatan’, atau katakanlah, persatuan. Juga kemungkinan lain, seperti dikatakan oleh Juvenal, ia bisa-bisa tak jauh-jauh amat dalam posisi ‘sirkus’ seperti dimaksudkan Juvenal. Sebagai katakanlah, pengalihan isu misalnya. Sebagai bagian dari olah kuasa yang sedang membutuhkan ‘dukungan’ dari yang banyak. Maka memang olah raga, dan juga lain-lainnya seperti dicontohkan di atas, tidak akan lepas dari politik, sebab ketiga kemungkinan di atas tidak akan lepas dari keputusan-keputusan politik, dari kebijakan-kebijakan politik, akan dikembangkan seperti apa, katakanlah, olah raga itu dalam hidup bersama. Bagaimana keputusan politik ‘mengelola’ ketiga kemungkinan di atas? Dan dari situ juga kita bisa meraba –sedikit banyaknya, seperti apa sebenarnya kualitas dari si-pengambil kebijakan politik. Level sontoloyo atau tidak. *** (02-04-2023)