1315. Sulitnya Mengelola Keserakahan

09-12-2023

Salah satu kesibukan perjalanan manusia sejak doeloe adalah terkait bagaimana keserakahan itu dikelola. Kadang-kadang keserakahan itu dilekatkan pada istilah ‘kepentingan diri’. Kadang pula keserakahan itu dikutuk, tapi dalam kurun waktu tertentu dikatakan greed is good. Kadang keserakahan itu tidak hanya soal ‘mengumpulkan’ tetapi juga saat membeli, misalnya. Lihat bagaimana ketika discount diumumkan dalam satu counter di sebuah mall. Atau bagaimana putusan kita dalam membeli ketika di hadapan kita digelar barang-barang murah. Tak peduli apakah itu barang selundupan, atau ‘cuci gudang’, atau hasil suatu laku dumping, misalnya. Mau berkotbah soal ‘nasionalisme’ di depan barang-barang murah? Boleh saja, tetapi siap-siap saja akan kecewa pada sebagian besarnya. Maka ketika ada calon wakil presiden (!) ditanya bagaimana produk-produk lokal bisa berkibar ke kancah global kemudian dijawab dengan untuk wajib membeli produk lokal itu …[1], benarkah se-sederhana itu?

Dari bermacam catatan masa lalu, dari bermacam komunitas, jelas masalahnya tidak ‘sesimpel itu’. Lihat misalnya bagaimana logika ‘infant industry’ di bagian awal-awal berdirinya Amerika Serikat saat menghadapi gempuran industri Inggris yang saat itu sudah mencapai tingkat efisiensi tertentu sehingga produk-produknya menjadi sangat bersaing. Dan bagaimana misalnya untuk urusan penelitian negara berperan habis-habisan, sebelum ‘pihak swasta’ mampu melakukan. Juga di lain komunitas, terbangunnya rantai-produksi yang berkembang menjadi sungguh presisi. Atau melindungi per-beras-an dalam negeri untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan menetapkan tariff impor beras tinggi. Atau peran negara dalam mendorong daya saing produk-produk dalam negerinya, dan kemudian memang mampu berdaya saing di kancah internasional. Atau ada produk dumping yang masuk ke dalam negeri dan memang dimaksudkan untuk ‘membunuh’ pesaing itu? Atau produk-produk selundupan.

Maka jika ada pertanyaan “bagaimana produk-produk lokal bisa berkibar ke kancah global” yang ditujukan kepada salah satu calon wakil presiden, sekali lagi kita ulang: calon wakil presiden, dan dijawab “wajib untuk membeli produk lokal, sesimpel itu …,” maka jangan salahkan banyak khalayak spontan akan memberikan responnya: simpel ndas-mu-lah. Kualitas seperti ini mau mengelola se-tingkat negara? Amit-amit-blimbing-sayur! Makin lama kok nampak makin memuakkan saja ya …. *** (12-09-2023)

[1]Gampang banget caranya. Misalnya, Pak RT (menunjukkan ke Denny Cagur) warganya diwajibkan untuk membeli produk lokal, sesimpel itu. Jangan beli produk-produk luar negeri. Kita push produk lokal-lah. Apalagi yang UMKM” (https://herald.id/2023/12/09/gibran-terpeleset-lagi-beredar-video-go-internasional-bersama-raffi-ahmad-kiky-saputri-dan-denny-cagur/)

1316. Alegori Kereta

10-12-2023

Alegori Kereta yang dimaksud adalah dari Platon, lebih 2000 tahun lalu. Kereta adalah seperti dalam film Ben Hur, tetapi ditarik oleh dua ekor kuda. Ada sais, dan dua kuda satu berwarna putih, satunya hitam dan masing-masing mempunyai sayap, maka bisa terbang.

Sais akan berusaha keras mengendalikan dua kuda penarik kereta menuju ke atas ke tempat para ‘dewa-dewa’, ke ‘Yang Benar’. Sais menggambarkan nalar atau rasio. Ia semestinya akan selalu berusaha mengarahkan kereta ke atas. Tekad untuk selalu mengarahkan kereta ke atas ini juga akan merawat sayap-sayap yang ada di kuda. Sedangkan kuda hitam menggambarkan –katakanlah, segala hasrat perut ke bawah. Sulit dikendalikan –semau-maunya, maka kadang perlu pakai pecut untuk mengendalikan. Kuda hitam ini juga mau-maunya meluncur ke bawah saja, dan cenderung tuli. Menurut Platon, kuda hitam itu sifatnya mortal. Kuda putih menggambarkan kebanggaan keberanian, kehormatan. Biasanya kuda putih tidak perlulah sampai dipecut, tetapi dengan kata-kata saja ia sudah ikut maunya sais. Kuda putih bersifat immortal. Dalam kerangka Platon, sais bisa juga dihayati sebagai si-‘filsuf raja’, kuda putih sebagai ‘kelas serdadu’, dan kuda hitam termasuk di sini adalah ‘kelas pedagang’.

Tetapi benarkah versi ideal nalar/rasio sebagai sais akan mampu membuat kereta terus saja naik ke atas? Bagaimana dengan hasrat yang selalu digendong manusia? David Hume, dan sebelumnya Spinoza, paling tidak sudah mengingatkan hal ini, bahkan digambarkan oleh Hume bisa-bisa hasrat akan memperbudak nalar. ‘Kejahatan hasrat’ itu bisa dengan enteng-enteng saja membangun ‘kejahatan logika’-nya, demikian digambarkan Camus yang besar dan matang di tengah kecamuk Perang Dunia II. Maka memang perlulah ditambah dengan ‘latihan rohani’ melalui olah agere contra misalnya, latihan hasrat (terlebih yang buruk) ditabrakkan dengan hasrat yang lebih baik. Intinya adalah latihan terus-menerus dalam pengendalian hasrat. Jika memakai istilah ‘syarat mutlak’ apa yang digambarkan Platon itu jika boleh memilih, adalah ‘syarat mutlak’-nya. Dan jelas juga itu belumlah mencukupi, ‘syarat mencukupi’ –nya adalah ia harus juga latihan terus-menerus soal pengendalian hasrat.

Banyak yang menilai pemikiran Platon di sana-sini cenderung ‘idealistik’, tetapi apapun itu sebenarnya dalam banyak halnya bisa sebagai titik berangkat untuk menilai. Platon tidak serta merta tidak mau bergeser bahwa untuk menjadi ‘sais-nya polis’ merupakan monopoli si-‘filsuf raja’. Kelas serdadu ataupun juga kelas pedagang bisalah menduduki posisi sebagai pemimpin di ‘polis’, tetapi sungguh syarat-syaratnya memang ketat. Lihat bagaimana yang dari ‘kelas pedagang’ itu bahkan sudah melalui bertahun-tahun di tingkat kota, bertahun di tingkat propinsi, tetap saja ketika ia mengelola di ranah negara bertahun itu pula kita merasakan telanjang-nya ke-semau-maunya si ‘kuda hitam’ seperti beberapa sifat disinggung di atas. Mengapa? Karena sungguh kita lihat juga bagaimana tidak berkembang-nya apa yang menjadi ‘syarat mutlak’ dan ‘syarat mencukupi’ itu. Jadilah hidup bersama ini seakan ‘meluncur ke bawah’ saja. Sifat ‘ke-mortal-an’ dari si-kuda hitam inipun nampak sungguh sedang diingkari dengan segala konsekuensi ikutannya. Menjadi sebuah kegilaan yang sudah tak peduli lagi kanan-kiri, tak peduli lagi apa-apa yang sedang dipertaruhkan. Rusak-rusakan. Dan ke-rusak-rusak-an ini sayangnya –menurut Platon, juga akan merontokkan sayap-sayap-nya si-kuda hitam dan si-kuda putih. Akibatnya si-kuda putih-pun menjadi ikut-ikutan semakin tidak mampu untuk terbang ke atas. Maka jika ada yang nyeletuk untuk menghentikan rusak-rusakan ini perlulah revolusi itu bukanlah isapan jempol saja. Kata Platon, sering si-kuda hitam ini memang perlu di-pecut untuk bisa manut mulai terbang ke atas. Kata-kata saja tidak cukup, karena sekali lagi menurut Platon, si-kuda hitam ini memang cenderung tuli.

Lha ini kok malah mau dilanjutkan oleh anaknya yang juga dari ‘kelas pedagang’ dan bahkan baru dua tahun menjadi walikota! Terlebih lagi banyak disebut sebagai yang nalar/rasio-nya kosong jika dilihat dari kacamata ranah negara. Apa nantinya jika terpilih hidup bersama ini akan meluncur ke bawah dan akhirnya betul-betul terjerembab di dasar jurang? *** (10-12-2023)

1317. AB Yang Lebih Siap Dengan 'Pihak Ketiga'

11-12-2023

Sebagian suasana kampanye akhir-akhir ini semakin nampak ada yang sibuk menyiapkan si-‘kambing hitam’ untuk ‘disembelih’. Dengan bermacam ‘skenario’ dongeng-nya. Dan seringnya berangkat dari satu ‘prototipe’ yang kemudian ‘dipompa’ habis-habisan. Bahkan jika itu sebenarnya ada di ranah kemanusiaan-pun –tanpa beban, di-eksploitasi secara ‘dis-informatif-habis-habis-an’-pun akan dilakukan pula. Seakan sudah seperti orang-mabuk yang sedang menari-nari penuh haus darah akan ‘kambing hitam’ yang siap disembelih. Istilah ‘kambing hitam’ ini merujuk pada ‘teori segitiga hasrat’-nya Rene Girard. Si-S dalam menghasrati O (obyek) sebagian besar-nya hanyalah karena meniru (mimesis) M (model) yang menghasrati O. Tetapi pada titik tertentu, terlebih jika M-nya adalah ‘model internal’, maka akan terjadi ‘rivalitas’ antara S dan M. Untuk menghindarikan perpecahan karena ‘rivalitas’ yang terus membesar, maka dihadirkanlah si-‘kambing hitam’ sebagai yang ‘menampung’ enerji perpecahan itu. Jadi pada dasarnya ‘kambing hitam’ itu lekat dengan kekerasan.

Dari bermacam penampakan, sayangnya sebagian kampanye semakin lama semakin jelas menampakan diri sedang mengolah ‘kambing hitam’ ini. Dan bahkan seakan hanya perlu memainkan ‘surface frame’ saja karena ‘deep frame’ sudah ter-olah sejak bertahun-tahun terakhir, salah satunya lewat peran buzzerRp-buzzerRp itu. Ingin bukti? Banyak. Tuh lihat misalnya yang terakhir terkait dengan ulah-tak-tahu-batas-tak-peka dari seorang komika yang ‘diselundupkan’ dalam suatu acara. ‘Permainan kambing hitam’ ini sebenarnya terbukti sungguh bisa membuat hidup bersama masuk ke jurang kegelapan. Sindhunata sekitar 18 tahun lalu sudah banyak menggambarkannya di sela-sela bukunya tentang ‘kambing hitam’-nya Rene Girard ini.

Maka ketika salah satu calon presiden: AB, lebih banyak menggendong ‘pihak ketiga’ perlulah kita sambut dengan baik. Yang dimaksud dengan ‘pihak ketiga’ ini adalah dalam konsep persahabatan-nya Platon. Persahabatan sejati menurut Platon akan melibatkan ‘pihak ketiga’ yang menjadi kepedulian mendalam bersama dari masing-masing yang bersahabat. Dan biasanya ‘pihak ketiga’ ini merupakan hal-hal baik. Apa ‘pihak ketiga’ yang digendong AB? Sain, ilmu pengetahuan! Hal yang tak terbayangkan di masa-masa lalu, sain atau ilmu pengetahuan dimajukan sebagai ajakan untuk bersama-sama kita pedulikan. Tidak hanya ‘pembalikan’ dari ‘kambing hitam’ ke ‘pihak ketiga’ tetapi soal sain dan ilmu pengetahuan-lah yang ditawarkan sebagai ‘pihak ketiga’! Jika kita sudah lelah dengan segala dan bermacam bentuk kekerasan, ini adalah tawaran yang sungguh menarik dan layak didukung. *** (11-12-2023)

1318. TPS Mengepung KPU (1)

12-12-2023

Judul tulisan memang plèsètan dari tulisan Ketua Mao, Desa Mengepung Kota. Kalau perlu ditambah ‘anak judul’: ‘Dari Demokrasi Oligarki ke Demokrasi Genuine’. Genuine yang dari asal-usul katanya bisa juga berarti: ‘really proceeding from its reputed source’.[i] Sumber yang terjamin ‘reputasi’-nya tidak hanya input-nya, tetapi proses dan juga outcome-nya.

Remember the first rule of politics. The ballots don’t make the results, the counters make the results. The counters. Keep counting,” demikian penggalan dialog dalam film Gangs of New York (2002). Meski banyak yang meragukan, Stalin kadang diyakini mengatakan sekitar hal tersebut, katanya: “The people who cast the votes don’t decide an election, the people who count the votes do.” Tetapi entah benar atau tidak Stalin mengatakan itu, kita lihat saja yang pasti-pasti sumbernya, dikatakan oleh diktator Nicaragua Anastasio Somoza: “Indeed, you won the elections, but I won the count.” (Guardian, 17 Juni 1977) Maka memang persis seperti dikatakan oleh sang-diktator ini masalah demokrasi di rentang waktu pemilihannya sering dihadapi: soal proses coblosan-nya, dan soal menghitungnya. Mungkin sang diktator santai-santai saja ketika ia melihat penantang-penantangnya serius sekali dalam kampanye bahkan tidak kenal lelah untuk kampanye dialogis, santai dan mungkin juga sambil jogetan, karena ia –Somoza, yakin sekali ia pegang soal menghitungnya itu.

Tetapi kata-kata Somoza itu keluar ketika modus komunikasi mass-to-mass via digital-internet belumlah ada. Saat itu ia –Somoza, sedang ada di puncak kejayaan modus komunikasi man-to-mass seperti surat-kabar, dan terutama lewat media elektronik seperti radio, televisi. Ketika apa yang ditulis dari surat kabar, apa yang disiarkan radio-televisi ada dalam kontrol, maka memang bisa menjadi semau-maunya. Bahkan survei-survei terkait dengan pemilihan misalnya, jika mau Somoza bisa mendikte berapa persen tingkat elektabilitas-nya mau disebut. Itu kalau saat Somoza berkuasa sebagai diktator survei-survei semacam itu sudah ada. Apapun itu, fakta hari ini modus komunikasi mass-to-mass via digital-internet sudah sedemikian merebaknya. Apakah ini akan memberikan perbedaannya? Atau kita bisa mulai dengan bertanya, apakah Arab Springsenam tahun setelah facebook, empat tahun setelah twitter, itu akan merebak jika sosial-media tidak berkembang? Maka sulit dibantah, merebaknya modus komunikasi mass-to-mass via digital-internet telah banyak mengubah hidup bersama kita. Dan semestinya pula akan mempengaruhi kualitas demokrasi.

Yang dimaksud dengan ‘mempengaruhi kualitas demokrasi’ di atas sebenarnya tidak hanya dalam arti ‘meningkatkan’, tetapi sayangnya juga bisa ‘menurunkan’. Katakanlah, power tend to corrupt itu akan terjadi pula di era modus komunikasi man-to-man (tatap-muka), atau man-to-mass, atau juga ketika merebak modus mass-to-mass seperti sekarang ini. Lihat misalnya yang ada dalam Skandal Cambridge Analytica bertahun silam. Dengan bocor-nya puluhan juta pengguna facebook beberapa waktu sebelum pilihan presiden AS tahun 2016 yang dimenangkan Trump itu, maka dengan bantuan algoritma tertentu dibuatlah profil psikologis dari orang-per-orang pengguna, kemudian dikelompok-kelompokkan, dan dikirimkanlah pesan-pesan kampanye sesuai dengan profil psikologisnya. Bisa dibayangkan apa yang akan berkembang jika itu dilakukan secara simultan. Tidak hanya dalam ranah kapitalisme-konsumerisme-lanjut ‘one dimensional man’ itu akan terbentuk, tetapi juga dalam ‘demokrasi-lanjut’! Bagaimana jika itu terjadi dalam ‘throw-away-society’ yang bahkan disebut Paus Fransiskus sudah berkembang sebagai ‘throw-away-culture’? Maka bisa-bisa terjadi ‘loncatan-loncatan’ dari ke-‘satu-dimensi’-an ke ke-‘satu-dimensi’-an lainnya. Dulu begitu heboh-nya menyerang satu kandidat, tetapi pada pemilu berikutnya justru menjadi pendukung beratnya. Segala kritik dan bongkaran kandidat yang di lawannya dulu itu dengan enteng-enteng saja sekarang dibuang entah kemana. *** (12-12-2023)

[i] https://www.etymonline.com/word/genuine

1319. TPS Mengepung KPU (2)

12-12-2023

Maka pertarungan yang sebenarnya adalah ‘yang sedikit’ melawan ‘yang banyak’ atau ‘sisa’-nya, the rest. Atau ‘demokrasi oligarki’ melawan ‘demokrasi genuine’ –demokrasi yang berasal dari ‘yang banyak’ melalui masing-masing individu dengan hak pilih-nya. Jika hak pilih itu keluar dari individu-individu bebas, maka apapun pilihannya adalah genuine. Tidak ada urusan dengan IQ, status sosial, atau apapun itu selama ia bebas dari bermacam tekanan, apapun itu bentuk tekanannya. Dalam kebebasan-nya manusia akan menemui jalannya sendiri-sendiri sebagai bagian dari ‘masyarakat-pembelajar’. Meski ada yang ‘cepat belajar’ dibanding dengan lainnya, pada akhirnya semua akan bersinggungan dengan ‘nuansa pembelajaran’ ini. Apapun rute yang ditapaknya.

Itulah mengapa Mark Miley yang saat itu menduduki Kepala Staf Gabungan AS sono segera minta maaf sebagai akibat ia ber-foto bareng dengan Trump, yang sedang menyongsong pilpres di akhir 2020 lalu. Mark Miley terkait minta maafnya foto bareng Trump itu mengatakan bahwa itu bisa saja “created a perception of the military involved in domestic politics.”[1] Lengkapnya Miley mengatakan: I should not have been there. My presence in that moment and in that environment created a perception of the military involved in domestic politics. As a commissioned uniformed officer, it was a mistake that I have learned from, and I sincerely hope we all can learn from it.[2] Maka tekanan yang utama dalam konteks demokrasi memang berasal dari ‘yang pegang senjata’. Demokrasi akan menjadi demokrasi yang genuine salah satu syarat utamanya adalah ‘yang pegang senjata’ itu benar-benar ‘tahu batas’, seperti digambarkan dalam ‘kasus’ Mark Miley di atas. Yang perlu diperhatikan di sini adalah ‘sadar’-nya Mark Miley itu bukanlah semata ‘maksud baik’ saja, tetapi sebelumnya muncul protes di sana-sini, baru Mark Miley kemudian minta maaf. Bukan protes besar-besaran memang, tetapi itu sudah cukuplah mengusik kehormatan Mark Miley. Kata Platon, yang mendasar dari seorang serdadu itu adalah keberanian dan kehormatan.

Jika kita mengikuti sejarah ‘spoils system’ di Amerika sono, mulai dari sekitar pertengahan abad 19 maka bisa melihat bagaimana melalui Pendleton Act di tahun 1883 sistem itu dihapus. Terutama yang terkait dengan ke-pegawaian negara (federal) yang kemudian ditetapkan berdasarkan meritokrasi, bukan dengan sistem ‘patronase’. Atau katakanlah dalam pemilihan umum, pegawai negara tidak boleh diikut-ikutkan dalam politik praktis, sehingga tidak kemudian terjerembab dalam ‘politik patron’ atau ‘spoils system’ itu. Tetapi betul-betul berdasarkan meritokrasi. Pendleton Act ditetapkan karena setelah spoils system yang dimulai di era Andrew Jackson –idolanya Donald Trump, dan setelah berjalan beberapa puluh tahun ternyata justru korupsi merebak, inkompetensi juga mewabah. Mengapa? Karena yang ditunjuk sebagai pegawai adalah konco-konco partai pemenang tanpa melihat lagi prestasi atau kompetensinya. Maka harapan supaya jajaran birokrasi pemerintah itu netral bukannya tanpa alasan kuat. Maka pula mereka itu disebut sebagai PNS, pegawai negeri sipil, bukan pegawai pemerintah sipil, meski ia akan (selalu) berkerja bersama pemerintahan terpilih. Siapapun itu yang terpilih.

Maka jika mengingat istilah jalur A-B-G di jaman old rasa-rasanya bikin gemes saja, apalagi ada gejala-gejala akan diulang lagi pada hari-hari ini. Semakin gemes saja. Tidak mengherankan jika kemudian banyak yang mengatakan bahwa demokrasi di jaman old adalah ‘demokrasi se-olah-olah’. Sangat jauh dari ‘demokrasi genuine’, lha sik-pemilih faktanya memang tidak bebas. Karena tidak bebas itulah pilihannya menjadi tidak ‘ber-reputasi’. Tidak bebas tidak hanya selalu ada dalam pengawasan si-A, tetapi juga si-B. Sudah begitu lawan dari si-G tidak boleh buat cabang sampai grass-root: jadilah floating mass. Sial bener nasib si-pemilih jaman old itu. Maka biar sial-nya tidak berulang lagi, jadi what is to be done? *** (12-12-2023)

[1] https://edition.cnn.com/2020/06/11/politics/milley-trump-appearance-mistake/index.html

[2] Ibid