1330. The Evil Always Come from Details

23-12-2023

Jika kita membayangkan pendapat Freud tentang pembedaan antara sadar, bawah sadar, dan tidak sadar yang digambarkan seperti gunung es dimana bagian sadar ada di atas permukaan dan hanya merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan kesadaran, maka pada penampakan kesadaran mana the evil always come from details ini akan lebih sebagai ‘titik berangkat’ penghayatan?

Jika kita bicara soal ‘dunia sadar’ maka bukan pertama-tama soal detail-nya yang menjadi perhatian kita, tetapi adalah ‘apa adanya’ saja, apa-apa yang menampakkan dirinya. Langkah ‘penasaran’ lebih lanjut adalah soal apa yang sebenarnya sedang menampakkan diri itu. Perhatian kemudian melangkah ke ‘bagian-bagian’-nya. Dari bermacam langkah itu diharapkan semakin terkuak lapis-demi-lapis apa yang menjadi ‘identitas’ sesuatu itu. Atau apa esensi dari sesuatu yang telah menampakkan diri-nya pada kita seperti pada awal perhatian kita ‘tersedot’. Maka dalam percakapan sehari-hari kadang sudah ‘terandaikan’ kita bicara soal apa yang menjadi ‘identitas’ dari sesuatu itu berdasarkan ‘ingatan-ingatan’ masa lalu itu, atau taken for granted saja. The evil always come from details akan muncul karena kita sudah begitu nyamannya dengan dunia taken for granted seperti di atas sehingga ‘lupa’ bahwa kadang kita perlu kembali untuk melihat sesuatu itu sebagai ‘pemula’ dengan menunda dulu bermacam asumsi, atau ingatan, atau lainnya, untuk melihat sesuatu itu dari bermacam aspek-nya, profil-nya, atau detail-detail lainnya. Dalam debat capres-cawapres seperti sekarang ini maka yang dilempar pertama-tama mestinya adalah soal esensi. Gambar besar-nyalah yang pertama-tama dinampakkan, atau diberikan baik pada laan debat atau pada khalayak umum. Dan dalam perdebatan terkait dengan ‘gambar besar’-nya itu, lawan akan mendebat sampai se-detail-detailnya. Dan dari situ pula gambar besar yang disampaikan itu akan diketahui bagaimana pertimbangan-pertimbangannya, apakah didekati dari bermacam aspek-nya, profil-nya, dan lain-lain. Seluruh ‘dunia sadar’ yang katakanlah hanya 5% dari keseluruhan kesadaran manusia itu sedang di-optimalkan.

Maka ketika dalam debat bukan hal esensial yang lebih dulu diajukan maka memang rada-rada menjengkelkan memang. Tetapi memang ada yang sedang pasang strategi ‘obok-obok’ bagian tidak-sadar, misal mengajukan pertanyaan yang dipastikan bahwa lawan tak paham sehingga bagian ‘tidak-sadar’-nya muncul dan segera saja itu ditangkap publik untuk mempengaruhi persepsi terhadapnya. Respon publik terhadap ‘dunia tidak sadar’ sebagian besarnya memang bisa-bisa berangkat dari the evil always come from details. Hal-hal ‘kecil’ dari bermacam tarikan wajah spontan, atau gerakan tubuhnya akan serta-merta menjadi bagian lekat dari persepsinya. Lihat saja misalnya studi Mehrabian yang menempatkan bagaimana body language itu bisa sungguh menentukan keberhasilan sebuah komunikasi. Dan sebagian besarnya body language dalam sebuah komunikasi itu keluar atas dorongan bagian ‘ke-tidak-sadar-an’.

Atau lihat ketika di samping panggung ada salah satu capres yang ikut menunggui cawapres-nya debat, mengundang salah satu koleganya, dan nampak gerakan tubuh-nya menarik jaket dari yang diundang itu, dan kemudian yang-terundang sampai ‘harus’ melututkan diri, segera saja laku ‘tidak sadar’ si-pengundang itu menjadi pembicaraan netizen ketika peristiwa itu diunggah di salah satu ‘dunia ketiga’ popperian, dunia digital-internet.[1] Tiba-tiba saja penghayatan the evil always come from details itu serta-merta melekat dalam sebuah persepsi. Tak terelakkan. *** (23-12-2023)

[1] https://twitter.com/BosPurwa/status/1738210809397072181

1331. 'Super Ego' dalam Debat

23-12-2023

Mungkin jika istilah super-ego sudah dikenal di jaman Platon, ini akan disebut sebagai salah satu alasan mengapa ilmu dialektika (ilmu berdebat) ditempatkan di bagian akhir dari pendidikannya. Jadi soal bagaimana berdebat itu sudah dipersoalkan lebih dari 2000 tahun lalu. Bagaimana melihat seseorang pantas atau tidak-nya ikut mengelola polis -2000 tahun lalu, bisa dilihat salah satu-nya terkait dengan kemampuan dalam berdebat ini. Maka memang muncullah ‘guru-guru’ debat, salah satunya kaum Sofis, yang juga menjadi sasaran kritik Platon meski memang dari kalangan kaum Sofis ini banyak juga yang tangguh. Kaum Sofis dikritik salah satunya karena ia berdebat hanya untuk berdebat saja.

Super-ego itu letaknya ada di ‘bawah sadar’/‘pra-sadar’. Selain super-ego, menurut Freud ada ego yang letaknya di ranah ‘sadar’, dan id di bagian ‘tidak sadar’. Dari bermacam penampakan bertahun terakhir, dan seakan terkonfirmasi (lagi) dengan penampakan-penampakan akhir-akhir ini, bisa dilihat bagaimana ‘eksploitasi’ bagian ke-tidak-sadaran manusia memang lebih dominan di rejim sekarang ini. Bagaimana ‘rasa takut’ di-eksploitasi dengan narasi radikal-radikul itu misalnya. Juga bagaimana ‘jebakan-jebakan’ korupsi yang berujung pada ‘sandera kasus’ itu. ‘Id’ –terkait dengan insting, naluri, hasrat, juga rasa takut, yang ada dalam bagian ‘tidak-sadar’ dieksploitasi habis-habisan. ‘Prinsip kesenangan’ yang mendasari ‘id’, termasuk di sini soal ‘rasa takut’ (yang akan mengikis ‘prinsip kesenangan’) di eksploitasi sedemikian rupa sehingga ‘prinsip realitas’ yang ada di ego akan semakin tertatih-tatih. Tidak hanya ego terdampak, tetapi juga super-ego menjadi semakin tidak didengar lagi. Super-ego dimana soal baik-buruk, soal moralitas, soal etika, soal ‘empan-papan’, soal suara hati nurani, ada. Lihat misal yang akan melanjutkan rejim ini, ada dua peristiwa yang menampakkan bagaimana super-ego sudah menjadi sangat jauh, ketika ada yang bicara soal stunting dengan enteng-enteng saja dibandingkan dengan dunia binatang. Juga ketika bicara soal pajak (!) saat debat cawapres, menggambarkannya dikaitkan dengan kebun binatang. Atau lihat saja saat debat pertama ia sebagai penonton melakukan gerak tangan naik-turun supaya pendukung bersorak lebih keras, dan itu sudah diperingatkan oleh panitia debat. Tetapi saat ia naik panggung sebagai pendebat, justru kelakuan itu diulangi dengan tanpa beban! ‘Pantas-tidak pantas’ yang ada dalam super-ego itu dengan tanpa beban dicampakkannya begitu saja.

Maka penampakan dari debat cawapres kemarin itu bukan lagi soal ini boleh atau itu tidak boleh, tetapi semakin jelas bahwa ada dua ‘kubu’: yang dominan pada eksploitasi ‘id’, dan yang menganggap penting peran ‘ego’ (dan ‘super-ego’). Eksploitasi ‘prinsip kesenangan’ berhadapan dengan yang ingin membesarkan ‘prinsip realitas’ dengan didampingi oleh ‘super-ego’-nya. Dan inilah sebenarnya momentum untuk mengakhiri ugal-ugalannya eksploitasi ‘prinsip kesenangan’ ini, eksploitasi ‘id’. Dari paparan Eep Saefullah beberapa waktu lalu menjadi jelas soal momentum itu.

Eep yang mengkritisi hasil survey dari beberapa lembaga survei yang menyampaikan tingkat kepuasan pada Jokowi tinggi, menunjukkan bahwa ketika itu di dekati dengan ‘prinsip realitas’, soal harga-harga, soal pencarian kerja, soal lain-lainnya, ternyata ketidak-puasan menjadi sangat tinggi. Dalam penelitiannya di sekitar dekade 1970-an, Hofstede membedakan bermacam komunitas dalam power distance rendah dan yang tinggi. Power distance rendah akan memandang kuasa di atasnya sebagai hal yang biasa-biasa saja untuk dikritisi, yang biasa-biasa saja untuk tidak segera ikut total. Power di atasnya itu warnanya, katakanlah gelap, hitam. Tetapi komunitas dengan power distance tinggi, jauh di bawah kesadarannya, nalurinya mengatakan bahwa kuasa di atasnya itu ‘serba putih’, baik adanya. Jadi akan lebih ‘rikuh’ untuk mengkritisinya. Maka dalam komunitas dengan power distance tinggi itu jika tiba-tiba saja ditodong dengan pertanyaan puas atau tidak dengan presiden, bisa-bisa secara naluri akan menjawab: puas. Tetapi menjadi serta-merta ia buta akan realitas? Eep menunjukkan tidak. Bahkan yang oleh lembaga-lembaga survei tingkat kepuasan terhadap Jokowi itu tinggi, ternyata menurut Eep, hanya 20% responden yang akan mempertimbangkan orang-orang yang akan disarankan oleh Jokowi. Hanya 20% saja. *** (23-12-2023)

1332. Back to the things themselves

24-12-2023

Gramsci membedakan apa-apa yang ada dalam ‘bangunan atas’ (Marxian) dalam dua bentuk, political society dan civil society. Political society bisa dikatakan sebagai ‘negara’, dalam praktek terlebih melalui bermacam apparatus-nya, terutama yang mempunyai kemampuan untuk melakukan represi. Maka ‘politik negara’ ini bisa-bisa tidak hanya akan dipengaruhi oleh bermacam dinamika di ‘basis’, tetapi juga dalam arti sedang ‘merawat’ apa-apa yang terjadi di ‘basis’ karena memang dinamika ‘basis’ menguntungkan siapa-siapa yang sedang berkuasa. Melihat hal di atas maka bisa dikatakan civil society itu menghadapi dua ‘front’, pertama jelas ia akan berhadap-hadapan dengan ‘negara’, atau dalam terminology Gramsci: political society. Tetapi di lain pihak ia juga berhadapan –sadar atau tidak, dengan kekuatan yang sungguh bisa menentukan, dinamika ‘basis’. Tetapi lebih dari beberapa hal di atas, pembedaan Gramsci soal war of maneuver dan war of position perlu juga diperhatikan. Civil society tidak hanya secara potensial menghadapi war of maneuver melalui apparatus represif negara, tetapi juga war of position dari bermacam propaganda negara melalui bermacam alatnya. Jika bicara republik, maka dinamika kaum oligark yang ada di ‘basis’-pun ikut-ikutan memberikan tekanannya.

Maka adalah penting untuk kembali ‘merenungkan’ apa sih yang disebut dengan republik itu? Kita bisa mulai dari asal katanya, res-publika, urusan publik. Siapa-apa itu publik? Apakah masih mungkin ada itu ke-publikan jika tidak ada manusia-nya? Maka yang paling mendasar adalah manusia-nya, bahkan jika bentuk negara bukan republik sekalipun. Manusia, pada ujungnya adalah soal manusia. Maka back to the things themselves adalah ajakan untuk bertemu dengan manusia-manusia kongkret apa adanya. Sebagaimana manusia lain itu menampakkan dirinya pada kita. Itulah yag sebenarnya terjadi dalam Desak Anies. Apakah ia pendungkung A, B, atau C, atau tidak/belum mendukung siapa-siapa, kita ‘tunda’ lebih dahulu. Biarkan ‘lapis-demi-lapis’ masing-masing semakin mengungkapkan dirinya. Dari sekian peristiwa Desak Anies, semakin nampak bahwa sebenarnya sedang terjadi ‘gerakan kontra-kultur-oligarki’. Tiba-tiba saja khalayak kebanyakan menjadi begitu lepasnya mengeluarkan apa yang dipikirkan, apa yang dialami, apa yang diharapkan. Oligarki – olig+arki, rules by the few, seakan mendapatkan ‘anti-tesis’ yang berkembang di kalangan khalayak kebanyakan. War of position itu nampak semakin menguat di kalangan civil society. Para ‘intelektual organik’-pun semakin banyak keluar dari bayang-bayang ketakutannya. Jika ini semakin membesar, siapa yang akan kuat membendungnya? Atau, akankah apparatus represif –war of maneuver akan dimainkan secara maksimal? *** (24-12-2023)

1333. Neoliberalisme dan Dunia Binatang

25-12-2023

Apa metafora paling ‘aman-nyaman’ bagi kaum neolib untuk menjelaskan soal ‘pasar bebas’ dan survival of the fittest pada manusia lain? Dunia binatang, terutama komplit dengan habitat-nya: hutan. Hutan yang juga bisa dibayangkan sebagai ‘ultra-minimal state’. Tak banyak aturan dalam hutan, dan peraturan mendasarnya adalah seperti sudah disebut di atas, survival of the fittest. Maka tidak mengherankan jika kemudian kepentingan diri – self-interest, di tempatkan di tempat tertinggi. Biar masing-masing individu itu mau menunjukkan siapa yang paling fit. Bahkan di ‘hutan ultra-minimal state’ itupun ‘gaya’ akumulasi-nya sudah sedemikian berkembang seperti yang disebut David Harvey sebagai accumulation by dispossession. Accumulation by dispossession yang mempunyai fitur-fitur: privatisasi, finansialisasi, manajemen dan manipulasi krisis, dan soal state redistributions.

Bagaimana menghadapi liarnya ‘dunia binatang’ dalam habitatnya ‘hutan-ultra-minimal state’ ini? Maka langkah pertama adalah memahami bahwa memang ada yang tidak dalam kendali kita dan apa-apa yang masih ada dalam kendali. Sifat atau insting kebinatangan manusia itu bisa dikatakan ada di luar kendali kita. Kita tentu boleh-boleh saja mempunyai maksud baik untuk mengendalikan, tetapi tetap saja akan ada peristiwa lolos di sana atau di sini. Jika kita melihat fitur-fitur accumulation by dispossession-nya David Harvey itu, maka prinsip-prinsip dalam membuat keputusan atau kebijakan yang sering disampaikan calon presiden AB,[1] itulah salah satu gambaran dari apa yang masih ada dalam kendali. Membuat kebijakan, membuat keputusan. Jika kita mulai dari urutan prinsip dalam membuat kebijakan, AB menunjuk soal keadilan. Dan bukankah ini akan berhadapan langsung dengan state redistributions? Soal pertimbangan public interest maka ini akan menyinggung soal privatisasi. Liciknya soal manajeman dan manipulasi krisis sebagai salah satu fitur accumulation by dispossession hanya bisa dihadapi dengan akal sehat, dengan nalar yang selalu tetap terjaga bahkan ketika bermacam kedaruratan di depan mata. Dan soal finansialisasi ini, betapa lemahnya regulasi dan implementasi kita kemudian bisa melihat bagaimana perampokan melalui finansialisasi ini bisa begitu ugal-ugalannya. Maka keranjingan soal ber-metafora melalui dunia binatang ini memang harus dilawan karena bagaimana-pun juga di balik keranjingan ber-metafora melalui dunia binatang itu ternyata sedang berlangsung perampokan besar-besaran di republik. *** (25-12-2023)

[1] https://pergerakankebangsaan.org/tulisan-51, no. 1329

1334. Bukan Filipina

26-12-2023

Apakah strategi pemenangan pemilihan di satu tempat akan sama di tempat lain? Apakah jogat-joget di Filipina akan sama dampaknya ketika jogat-joget dilakukan di tempat lain? Bisa ya, tetapi bisa tidak. Kata orang: lain ladang, lain belalang. Di Filipina sana paling tidak ‘belalang’-nya tidak begitu keranjingan bertahun-tahun, berulang-ulang, melakukan ‘provokasi’ dengan mengatakan pada umat Katolik misalnya, yang setara nuansa-nya dengan istilah ‘kodran-kadrun’ itu. Atau terus dipojokkan dengan istilah ‘intoleransi’. Atau terus saja ditebarkan kecurigaan terkait dengan ‘radikal-radikul’. Adanya eksploitasi terus-menerus atas ‘rasa takut’ melalui bermacam propaganda via ‘apparatus ideologi negara’ dan juga represi dalam bermacam bentuknya via ‘apparatus repressive negara’ tentu akan berbeda penghayatannya ketika ada yang kemudian enteng-enteng saja jogetan di depan mata. Ironi, kontradiksi, paradox, atau istilah lainnya, segera saja akan akan muncul setelah merebak sikap bertanya-tanya: “Ngapain sih orang itu?” Bayangkan saja ada orang yang terus saja dipojokkan, diolok-olok berulang dan berulang, dicubit terus-terusan, bahkan ada yang sampai meregang nyawa, dan kemudian ada yang tanpa beban jogat-joget minta dukungan. Haeeeduuuuh. Seperti Filipina? Tidak-lah …. Lain ladang, lain belalang, lain buzzerRp-nya juga. Enak saja di-sama-sama-kan dengan Filipina …. Lain ..., suasana kebatinannya jauh berbeda …. *** (26-12-2023)