07 Nov

Pendidikan Entrepreneurship sebagai Panacea?

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, Depdiknas sedang menyusun kurikulum tentang kewirausahaan yang diharapkan selesai akhir Januari 2010 dan dapat dipraktikkan mulai tahun ajaran 2010/2011. ”Ini termasuk program 100 hari,” kata Nuh seusai rapat tingkat menteri hasil Rembuk Nasional 2009 di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. (KOMPAS, Selasa, 3 November 2009).  World Economic Forum (WEF) dalam pertemuan di Davos beberapa waktu yang lalu dalam laporannya telah juga menyatakan pendidikan entrepreneurship harus dikerjakan secara menyeluruh dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Sebelum kita melihat lebih jauh bagaimana dengan akan diterapkannya kurikulum entrepreneurship dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi ini mulai tahun ajaran 2010/2011, mungkin sebaiknya kita melihat dulu beberapa visi atau konsep pendidikan yang ada. Pembagian umum konsep dasar pendidikan adalah sebagai berikut (Diambil dari: Doni Koesoema, Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger, Grasindo, 2009, hal 164-169)

  1. Visi akademis (scholar academic vision)

Pada kelompok ini visi pendidikan lebih bersifat akademis. Tujuan pendidikan adalah untuk membantu anak-anak muda mempelajari ilmu pengetahuan yang telah terakumulasi dalam masyarakat, yaitu mengajarkan disiplin ilmu pengetahuan yang sudah pakem, seperti ilmu pengetahuan alam, matematika, sejarah, dll. Untuk itu, proses pembelajaran di sekolah diarahkan agar anak didik menguasai isi (content based) pengetahuan, kerangka pemikiran konseptual (conceptual framework), dan berbagai macam cara berpikir (ways of thinking) yang berlaku dalam disiplin ilmu tersebut. Guru berperanan sebagai sarjana-kecil yang mesti menguasai materi yang diampunya secara mendalam dan dapat mengajarkan kepada para siswa ilmu pengetahuan itu dengan gambling dan akurat.

Kelompok ini berpendapat bahwa disiplin keilmuan, dunia akademis, dan dunia pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat. Tujuan pendidikan adalah mengajarkan dan memperkenalkan disiplin ilmu sebagai perpanjangan tangan pengembangan khasanah ilmu pengetahuan yang terjadi di universitas. Untuk itu, tugas guru adalah mengantar anak didik agar bergerak maju dari tingkatan paling bawah menuju tingkatan paling atas dalam komunitas ilmu pengetahuan. Pengajaran di sekolah tidak lain adalah transmisi ilmu pengetahuan. Transmisi ilmu pengetahuan menjadi makna utama pembelajaran, dan alasan keberadaan sebuah disiplin ilmu.

  1. Visi efisiensi social

Pendidik yang memiliki visi efisiensi sosial ini percaya bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat secara efektif dan efisien dengan melatih anak-anak muda dengan kemampuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang dibutuhkan agar mereka bisa hidup di dalam masyarakat secara aktif. Tujuan sekolah adalah melatih anak-anak muda agar memiliki ketrampilan (skills) dan memahami berbagai macam prosedur yang akan mereka butuhkan ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan rumah tangga dalam keluarga mereka di masa depan, sehingga mereka memiliki  masa depan dan kualitas hidup yang produktif yang pada gilirannya mampu melestarikan dan melanggengkan berfungsinya sebuah tatanan masyarakat.

Kata kunci pendekatan ini adalah kompetensi dan kepiawaian (performance), yaitu, sebuah kemampuan praktis untuk melakukan sesuatu, kompetensi dan kepiawaian merupakan esensi utama pembelajaran. Oleh karena itu, tujuan sekolah adalah mendidik dan mengajar para siswa agar mereka semakin kompeten dan piawai melakukan berbagai macam fungsi produktif yang dibutuhkan dalam masyarakat. Tugas utama guru adalah mengatur dan menyeleksi model pembelajaran dan menciptakan strategi pembelajaran agar para siswa lebih menguasai ketrampilan, yaitu mengakuisisi perilaku yang dibutuhkan untuk menguasai suatu tujuan. Kurikulum diarahkan untuk kepentingan pengembangan ketrampilan ini. Program pembelajaran didesain berdasarkan tujuan obyek pembelajatran yang jelas, berupa kemampuan dan ketrampilan tertentu yang dapat dinilai secara obyektif-praktis. Siswa perlu menjalani banyak latihan agar mereka dapat semakin trampil dan piawai menguasai suatu ketrampilan. Siswa dipandang sebagai sosok yang belum kompeten dan terampil. Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah membuat mereka menjadi semakin kompeten dan terampil.

Pendekatan ini memandang masyarakat sebagai sebuah system yang stabil, konsisten, dan mencukupi dalam dirinya sendiri untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Keberlangsungan ini terjamin ketika sekolah dapat membantu menyuplai tenaga andal dan kompeten agar masyarakat berjalan dengan stabil dan berfungsi secara maksimal. Sekolah yang menghasilkan pengangguran dianggap tidak efektif karena tidak mempersiapkan siswa dengan ketrampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk hidup secara aktif di dalam masyarakat.

  1. Visi siswa sebagai pembelajar (learner centered)

Visi ini memusatkan diri pada pertumbuhan siswa, untuk itu sekolah mestinya menjadi tempat yang membantu pertumbuhan siswa secara integral dan manusiawi, menjadi lingkungan yang menyenangkan. Sekolah mesti menjadi tempat bagi individu untuk menemukan pertumbuhan dirinya secara alami sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan individu secara harmoni dan selaras sesuai dengan tahapan perkembangan kepribadian, fisik, intelektual, dan emosional yang mereka miliki.

Pendidik dan guru memandang bahwa siswa merupakan pusat seluruh kegiatan dalam pendidikan di mana pendidikan itu mestinya menampung dan mengembangkan seluruh kemampuan dan potensi pertumbuhan dalam diri mereka, sebab siswa merupakan pelaku utama yang mesti mengaktualisasikan kemampuan mereka yang dari sononya memang baik. Guru merupakan fasilitator utama pertumbuhan siswa. Tujuan kurikulum, pengajaran, dan pendidikan diselaraskan dengan tujuan pertumbuhan siswa, bukan hal-hal lain di luar diri siswa sebagai pembelajar..

Visi ini mempergunakan kata kunci pertumbuhan sebagai tema pusat bagi seluruh usaha pendidikan. Pertumbuhan siswa sebagai pembelajar lebih penting dibandingkan tujuan obyektif pendidikan yang ditetapkan oleh orang lain atau lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah kegiatan, terutama untuk menggali, menumbuhkan, dan mengembangkan apa yang secara inheren telah ada dalam diri siswa.

  1. Visi rekontruksi masyarakat (social reconstruction)

Pendidik pada kelompok ini memiliki visi pendidikan sebagai pembentuk tatanan sosial baru dalam masyarakat. Pendidikan memiliki fungsi sebagai alat rekonstruksi sosial di dalam masyarakat. Schiro (2004) secara ringkas menegaskan gagasan pokok itu demikian: “Para pengikut rekonstruksi sosial memiliki kesadaran terhadap berbagai macam persoalan di dalam masyarakat kita dan ketidak adilan yang telah dilakukan terhadap para anggotanya, ketidak adilan seperti ini berakar dari perbedaan ras, gender, sosial dan ekonomi. Mereka mengandaikan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memfasilitasi pembentukan tatanan masyarakat baru yang lebih adil yang memberikan kepuasan maksimal bagi semua anggotanya”.

Pengikut aliran rekonstruksi sosial percaya bahwa pendidikan merupakan sebuah proses sosial melalui mana sebuah tatanan masyarakat baru terbentuk. Mereka menaruh kepercayaan besar terhadap pendidikan, melalui disain kurikulum, program pembelajaran dll, untuk mendidik dan mengajar para siswa  tentang masyarakat tempat mereka hidup, memiliki sikap kritis dan konstruktif, serta menawarkan cara-cara melalui mana mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembentukan tatanan sosial baru dalam masyarakat. Mereka bukan hanya mengajarkan pengetahuan teoritis, melainkan memberikan pelatihan agar mereka mampu berbuat dan bertindak dalam proses pembentukan tata masyarakat baru tersebut.

(KNPK, 7/11/09)

Leave a Reply

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan