10 Jan

Sintesis Empirisme dan Rasionalisme Menurut Immanuel Kant

Rasio berasal dari kata bahasa Latin ratio yang berarti akal budi. Rasionalisme adalah pendapat yang menyatakan bahwa akal budi merupakan alat yang terpenting bagi manusia untuk memahami dunianya serta mengatur hidupnya. Empirisisme berasal dari kata Yunani empeiria (berpengalaman dalam, berkenalan dengan, trampil untuk) atau dari bahasa Latin: experientia (pengalaman). Empirisisme adalah pendapat bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman.

Leibniz dan David Hume adalah pemikir sebelum Kant dimana Hume menolak pendapat bahwa manusia mempunyai pengetahuan bawaan dan dengan pengetahuan itu juga ia mempunyai kemampuan untuk mengenal alam sekitar. Menurut Hume, sumber pengetahuan adalah pengalaman. Jadi Hume adalah termasuk pemikir empirisisme. Sedangkan Leibniz berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah rasionya saja dan dari sumber inilah bisa ”diturunkan” kebenaran umum. Leibniz adalah pemikir rasionalisme.

Terhadap dua pemikiran di atas Kant berpendapat bahwa masing-masing pemikiran itu berkembang secara berat sebelah. Bagi Kant, pengalaman adalah memang bisa menjadi sumber pengetahuan. Tetapi Kant tidak berhenti sampai di situ. Kant melanjutkan kepada pertanyaan: kemudian dengan apa pengalaman itu dapat berkembang menjadi pengetahuan pada diri manusia? Dari pengetahuan alam dapat dilihat bahwa sesuai dengan hukum gravitasi, benda yang dilempar ke atas akan jatuh kembali ke bawah. Pertanyaannya adalah: bagaimana pengetahuan manusia bisa mengerti ini semua?

Kant membedakan adanya dua putusan, putusan analitis dan putusan sintetis. Putusan analitis jika dalam putusan itu predikat tidak menambahkan sesuatu yang baru karena sudah terkandung dalam subyek. Predikat hanyalah merupakan analisis atas subyek saja. Contohnya adalah ”lingkaran adalah bulat”. Konsep ”bulat” hanyalah keterangan atas konsep ”lingkaran” saja.

Putusan sintetis adalah putusan yang predikatnya tidak terkandung dalam subyek, sehingga predikatnya merupakan sebuah informasi baru. Dalam putusan ”semua benda itu berat”, konsep ”berat” tidak termuat pada konsep ”benda”, sehingga bukan keterangan atasnya. Karena subyek dihubungkan dengan predikat dengan pengalaman inderawi maka putusan itu disebut dengan putusan sintetis a posteriori. Sedangkan putusan analitis bersifat a priori murni.

Yang dipermasalahkan oleh Kant bukan dua jenis putusan di atas tetapi adalah putusan yang bersifat sintetis tetapi juga bersifat a priori. Contoh adalah putusan ”segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan a posteriori karena di dalam pengertian ”kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian ”sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. Putusan seperti contoh di atas disebut Kant sebagai putusan sintetis a priori.

Menurut Kant, baru dengan putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi segala ilmu pengetahuan dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak, dan memberi pengetahuan baru. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana terjadinya pengetahuan yang sekalipun bersifat sintetis, namun tak tergantung pada pengalaman, suatu putusan sintetis tetapi bersifat a priori.

Menurut Kant, ada tingkatan dalam proses pengetahuan manusia. Tingkat pertama dan terendah adalah pengalaman inderawi atau pencerapan inderawi. Kemudian tingkat berikutnya adalah tingkat akal budi dan tingkat tertinggi dalam proses pengetahuan adalah tingkat budi atau intelek. Intelek ini merupakan semacam pengertian atau wawasan yang mendalam.

Kant menerima pandangan para filsuf empiris yang berpendapat bahwa pengetahuan berhubungan dengan pengalaman indrawi, tetapi menurut Kant, tidak seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Bagaimana kita berhubungan dengan obyek pengetahuan di luar diri kita? Menurut Kant adalah melalui intuisi langsung, hanya saja menurut Kant, intuisi kita mengandaikan bahwa kita dipengaruhi obyek dengan cara tertentu. Kemampuan subyek untuk menerima representasi obyek disebut ”sensibilitas” atau ”kemampuan mengindrai”. Jadi, intuisi manusia adalah ”intuisi indrawi”. Efek sebuah obyek pada kemampuan representasi atau pikiran sejauh dipengaruhinya disebut ”pengindraan”. Obyek pengindraan disebutnya ”penampakan”.

Tetapi Kant menolak anggapan para pemikir empirisme bahwa pengindraan bersifat murni a posteriori. Ada dua unsur dalam penampakan obyek, yaitu unsur materi (materia) dan unsur bentuk (forma). Unsur materi adalah sesuatu yang berhubungan dengan [isi] pengindraan itu, sedangkan forma adalah sesuatu yang memungkinkan berbagai penampakan itu tersusun dalam hubungan-hubungan tertentu. Jadi, forma merupakan unsur a priori dari pengindraan sedangkan materi merupakan unsur a posteriori. Kant mengatakan ada dua forma murni pengindraan, yaitu ruang dan waktu.

Berbeda dengan Newton yang menempatkan ruang dan waktu ”di luar” manusia, Kant mengatakan bahwa ruang dan waktu keduanya adalah a priori sensibilitas, maksudnya, keduanya sudah berakar di dalam struktur subyek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan dan waktu bukanlah arus tetap di mana pengindraan-pengindraan berlangsung. Pernyataan Kant ini berakibat bahwa ada realitas yang terlepas dari subyek dan memang menurut Kant, meski memang ada ”benda pada dirinya sendiri” (das Ding an sich), realitas ini tidak bisa diamati atau diselidiki. Yang bisa kita amati dan selidiki hanyalah fenomen-fenomen atau penampakan-penampakan realitas itu saja, yang senantiasa merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk a priori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.

Langkah selanjutnya adalah setelah pencerapan indrawi berlangsung dengan skema di atas, bagaimana skema yang menghasilkan data indrawi ini kemudian menjadi suatu pengetahuan? Menurut Kant, dalam diri subyek terdapat dua kemampuan, yakni menerima data (”sensibilitas” atau ”kemampuan mengindrai”, seperti yang sudah disebut di atas) dan untuk membentuk konsep.

Kant menyebut kemampuan untuk menghasilkan konsep sebagai pemahaman, atau dalam istilah Kant ”Verstand” (akal budi). Hubungan antara kemampuan mengindrai atau ”sensibilitas” dengan kemampuan membentuk konsep erat sekali. Tanpa sensibilitas obyek tak dapat masuk dalam subyek, dan tanpa akal obyek tak dapat dipikirkan.

Kant mengatakan bahwa kegiatan akal budi (Verstand) muncul dalam putusan. Akal budi itu sendiri adalah kemampuan membuat putusan. Dalam putusan ini terjadi sintesis antara data-indrawi dan unsur-unsur a priori akal budi. Unsur-unsur a priori akal budi ini disebut Kant sebagai ”kategori-kategori”. Tanpa sintesis ini, kita bisa mengindrai penampakan, tapi tidak bisa mengetahuinya. Atau dapat dikatakan, kategori-kategori itu merupakan syarat a priori pengetahuan kita.


Menurut Kant, ada 12 kategori, yaitu:


Kuantitas

  1. Kesatuan / Unitas
  2. Kemajemukan / Pluralitas
  3. Keseluruhan / Totalitas

Kualitas

  1. Realitas
  2. Negasi
  3. Limitasi

Relasi

  1. Substansi
  2. Kausalitas
  3. Komunitas

Modalitas

  1. Kemungkinan-kemustahilan
  2. Eksistensi-Non-eksistensi
  3. Keniscayaan-Kotingensi


 

Jika ada peristiwa bahwa setelah air di dalam bejana dipanaskan menjadi mendidih maka akal budi akan bekerja dengan menerapkan kategori kausalitas terhadap fenomen-fenomen itu dan kemudian membuat pernyataan ”air dalam bejana itu mendidih karena dipanaskan dengan api”. Menurut Kant, agar obyek diketahui maka obyek harus menyesuaikan diri dengan kategori-kategori itu, dan bukan sebaliknya.

Tingkat tertinggi dalam proses pengetahuan adalah budi atau intelek (Vernunft). Kant membedakan intelek (Vernunft) dengan akal budi (Verstand). Intelek ini menghasilkan ide-ide transendental yang tidak bisa memperluas pengetahuan kita tetapi memiliki fungsi mengatur putusan-putusan kita ke dalam sebuah argumentasi. Akal budi (Verstand) seperti di sebut terdahulu adalah secara langsung berhubungan dengan penampakan, sedangkan intelek (Vernunft) tidak secara langsung berhubungan dengan penampakan, tetapi dengan mediasi akal budi. Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat di bawahnya, yakni tingkat akal budi (Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi. Intelek menerima konsep-konsep dan putusan-putusan akal budi untuk menemukan kesatuan dalam terang asas yang lebih tinggi.

Contoh, putusan ”Semua binatang itu bisa mati”, dan ”Manusia itu binatang”, lalu kesimpulannya ”Manusia itu bisa mati”. Putusan ketiga itu tidak langsung berdasarkan penampakan. Intelek yang mengusahakan kasatuan itu. Selanjutnya Kant bahkan berpendapat bahwa aturan logis intelek adalah terus mengusahakan kesatuan yang makin besar, makin menuju keadaan akhir yang tidak dikondisikan atau murni. ***

Greg, 10/01/10

Leave a Reply

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan