02 May

Editorial: “Nasionalisme Pendidikan”

Seorang kawan yang baru pulang dari kunjungannya di negeri Cina menyampaikan kesannya; “di sana, anak-anak Sekolah Dasar berangkat ke sekolah pagi-pagi dengan penuh semangat dan wajah ceria. Ketika di tanya buat apa ke sekolah?, mereka menjawab – supaya pandai. Kenapa harus pandai?, mereka menjawab – untuk mengalahkan Amerika. Bagaimana mengalahkan Amerika?, mau perang? Jawaban mereka – tidak perang, dengan teknologi”.

Apa yang tertanam dalam benak dan spirit anak-anak Cina itu? Tidak perlu mencari-cari jawaban yang sulit. Itulah nasionalisme dan patriotisme yang berkobar-kobar yang muncul sejak dari dalam pikiran usia anak. Siapakah yang bisa mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan kekuatan potensial? Dan, itulah radikalisme dalam dunia pendidikan di Cina. Kita bisa menyebutnya radikal, karena pasti Pemerintah Cina merancang sistem dan arah pendidikan nasional mereka tidak dengan tergopoh-gopoh dan emosional. Bahwa hal tersebut dirancang dengan melihat dan membongkar permasalahan sejak dari akar (radix) nya. Maka ibarat membenahi sebatang pohon – mereka bongkar dan menyehatkannya sejak dari “radix” atau akarnya. Inilah radikalisme. Bukan soal penguasaan sains dan teknologinya yang utama ingin ditanamkan, melainkan patriotisme yang membutuhkan keunggulan. Apapun keunggulan itu, adalah prasyarat menegakkan nasionalisme di masa sekarang. Semangat “bambu runcing” saja pastilah tidak cukup untuk melanglangkan identitas kebangsaan ke penjuru jagad.

Bahwa faktanya barang produksi Cina hari ini membanjiri pasar di seluruh dunia, bukan karena keunggulan teknologi melainkan karena keunggulan mereka dalam distribusi. Kebangkitan industri Cina bukan didorong oleh “the miracle of production” seperti halnya Revolusi Industri di Eropa tempo dulu, melainkan lebih ditopang oleh “the miracle of distribution”. Apapun, kata kuncinya adalah kesadaran akan potensi yang dibangun sebagai keunggulan. Dengan populasi hampir 2 milyar manusia, Cina sadar bahwa inovasi individual bukanlah prioritas, basis kolektifitas lebih mungkin menjadi prioritas untuk dikembangkan sebagai keunggulan. Dan sekali lagi, kesadaran semacam ini hanya mungkin ditumbuhkan dari akar patriotisme.

Akan halnya Indonesia, kita patut mempertanyakan strategi dan arah pendidikan nasional. Selama ini, seolah-olah cukup Ilmu Pengetahuan dan Sains ditanamkan pada para peserta didik – tanpa perlu mempertanyakan korelasinya dengan potensi bangsa yang bisa diproses menjadi keunggulan. Mungkin cukup banyak para siswa Indonesia yang berprestasi dalam pelbagai Olimpiade Sains – tapi ke mana mereka kemudian? Seolah tanpa bekas. Barangkali mereka memang menjadi ilmuwan dan cendekiawan mumpuni, namun patut dipertanyakan bagaimana konstruksi spiritnya. Mungkin secara normatip mereka masih memiliki nasionalisme – tapi tanpa kejelasan konstruksi untuk apa mereka menjadi ilmuwan dalam konteks kebangsaan. Berbeda dengan anak-anak Cina di atas – “untuk mengalahkan Amerika” – yang secara lebih luas menyiratkan arti “Keunggulan kolektif sebagai bangsa”, bukan keunggulan individual.

Tiap pagi kita melihat anak-anak Sekolah Dasar berangkat ke sekolah diantar orang tuanya – dengan raut wajah menyiratkan ketidak jelasan. Mengapa mereka sekolah?, untuk apa sekolah? – tidak ketemu jawabannya. Atau bahkan pertanyaan itu sendiri tidak tertanam pada benaknya – karena memang tidak pernah ditanamkan. Satu hal yang barangkali tidak pernah dianggap penting dalam tata pikir para perancang pendidikan dan elite di negeri ini. Belum lagi bayang-bayang kebingungan orang tuanya - bagaimana masa depan anaknya, bisakah terus sekolah?, akankah dapat pekerjaan kelak? dan sebagainya. Maka, terlalu jauh untuk membandingkan dengan semangat dan wajah anak-anak di negeri Cina di atas. Lantas mau apa? Akankah kita tinggal diam melihat kenyataan ini? Masa bodoh dengan masa depan republik ini?

Dengan tidak perlu ikut-ikutan phobia dengan istilah “radikalisme”, yang diperlukan adalah perombakan radikal atas Pendidikan Nasional di negeri ini. Masalahnya tidak cukup hanya dengan memperbaiki UU Sisdiknas, atau menaikkan Anggaran Pendidikan dalam APBN. Dibutuhkan nasionalisme dan patriotisme dalam merancang strategi dan arah Pendidikan Nasional. Bukan sekedar pengkayaan sains dan teknologi serta para juara olimpiade sains. Ilmu Pengetahuan, sains, teknologi tidak akan ada gunanya tanpa kolektifitas kebangsaan - selain manfaat individual orang perorang yang menguasainya. Sementara masa depan bangsa ini tidak hanya membutuhkan individu-individu jenius, melainkan para cendekiawan dalam konstruksi kolektifitas kebangsaan. Pada point inilah dibutuhkan Nasionalisme Pendidikan. Suatu strategi pendidikan yang membangun konstruksi kebangsaan – bukan sekedar mencetak individu-individu jenius, apalagi latah membangun Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang tersirat hanya akan mencetak para “buruh” yang siap bersaing dalam pasar tenaga kerja internasional. Marilah kita ingat sejenak spirit pendidikan Gerakan Taman Siswa pada masa awal Kebangkitan Nasional – yang tidak hanya bertujuan untuk memproduksi individu pintar, tapi lebih mempersiapkan bangunan kolektifitas generasi yang sadar akan kebangsaannya (untuk konteks saat itu). Pun, dengan ini tak perlu lagi ada kekhawatiran terhadap “cuci otak” rekruitmen ala NII.

Indonesia punya potensi untuk menjadi Negara besar dan bangsa Indonesia juga memiliki potensi menjadi bangsa besar di panggung dunia. Mari kita lihat sejak akarnya. Apa potensi bangsa ini yang bisa didorong menjadi keunggulan kolektif sebagai bangsa besar. Maka Pendidikan Nasional akan menjadi jalan radikal untuk mempersiapkan generasi “bangsa yang unggul” di masa depan

Bahwa faktanya barang produksi Cina hari ini membanjiri pasar di seluruh dunia, bukan karena keunggulan teknologi melainkan karena keunggulan mereka dalam distribusi. Kebangkitan industri Cina bukan didorong oleh “the miracle of production” seperti halnya Revolusi Industri di Eropa tempo dulu, melainkan lebih ditopang oleh “the miracle of distribution”. Apapun, kata kuncinya adalah kesadaran akan potensi yang dibangun sebagai keunggulan. Dengan populasi hampir 2 milyar manusia, Cina sadar bahwa inovasi individual bukanlah prioritas, basis kolektifitas lebih mungkin menjadi prioritas untuk dikembangkan sebagai keunggulan. Dan sekali lagi, kesadaran semacam ini hanya mungkin ditumbuhkan dari akar patriotisme.

Akan halnya Indonesia, kita patut mempertanyakan strategi dan arah pendidikan nasional. Selama ini, seolah-olah cukup Ilmu Pengetahuan dan Sains ditanamkan pada para peserta didik – tanpa perlu mempertanyakan korelasinya dengan potensi bangsa yang bisa diproses menjadi keunggulan. Mungkin cukup banyak para siswa Indonesia yang berprestasi dalam pelbagai Olimpiade Sains – tapi ke mana mereka kemudian? Seolah tanpa bekas. Barangkali mereka memang menjadi ilmuwan dan cendekiawan mumpuni, namun patut dipertanyakan bagaimana konstruksi spiritnya. Mungkin secara normatip mereka masih memiliki nasionalisme – tapi tanpa kejelasan konstruksi untuk apa mereka menjadi ilmuwan dalam konteks kebangsaan. Berbeda dengan anak-anak Cina di atas – “untuk mengalahkan Amerika” – yang secara lebih luas menyiratkan arti “Keunggulan kolektif sebagai bangsa”, bukan keunggulan individual.

Tiap pagi kita melihat anak-anak Sekolah Dasar berangkat ke sekolah diantar orang tuanya – dengan raut wajah menyiratkan ketidak jelasan. Mengapa mereka sekolah?, untuk apa sekolah? – tidak ketemu jawabannya. Atau bahkan pertanyaan itu sendiri tidak tertanam pada benaknya – karena memang tidak pernah ditanamkan. Satu hal yang barangkali tidak pernah dianggap penting dalam tata pikir para perancang pendidikan dan elite di negeri ini. Belum lagi bayang-bayang kebingungan orang tuanya - bagaimana masa depan anaknya, bisakah terus sekolah?, akankah dapat pekerjaan kelak? dan sebagainya. Maka, terlalu jauh untuk membandingkan dengan semangat dan wajah anak-anak di negeri Cina di atas. Lantas mau apa? Akankah kita tinggal diam melihat kenyataan ini? Masa bodoh dengan masa depan republik ini?

Dengan tidak perlu ikut-ikutan phobia dengan istilah “radikalisme”, yang diperlukan adalah perombakan radikal atas Pendidikan Nasional di negeri ini. Masalahnya tidak cukup hanya dengan memperbaiki UU Sisdiknas, atau menaikkan Anggaran Pendidikan dalam APBN. Dibutuhkan nasionalisme dan patriotisme dalam merancang strategi dan arah Pendidikan Nasional. Bukan sekedar pengkayaan sains dan teknologi serta para juara olimpiade sains. Ilmu Pengetahuan, sains, teknologi tidak akan ada gunanya tanpa kolektifitas kebangsaan - selain manfaat individual orang perorang yang menguasainya. Sementara masa depan bangsa ini tidak hanya membutuhkan individu-individu jenius, melainkan para cendekiawan dalam konstruksi kolektifitas kebangsaan. Pada point inilah dibutuhkan Nasionalisme Pendidikan. Suatu strategi pendidikan yang membangun konstruksi kebangsaan – bukan sekedar mencetak individu-individu jenius, apalagi latah membangun Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang tersirat hanya akan mencetak para “buruh” yang siap bersaing dalam pasar tenaga kerja internasional. Marilah kita ingat sejenak spirit pendidikan Gerakan Taman Siswa pada masa awal Kebangkitan Nasional – yang tidak hanya bertujuan untuk memproduksi individu pintar, tapi lebih mempersiapkan bangunan kolektifitas generasi yang sadar akan kebangsaannya (untuk konteks saat itu). Pun, dengan ini tak perlu lagi ada kekhawatiran terhadap “cuci otak” rekruitmen ala NII.

Indonesia punya potensi untuk menjadi Negara besar dan bangsa Indonesia juga memiliki potensi menjadi bangsa besar di panggung dunia. Mari kita lihat sejak akarnya. Apa potensi bangsa ini yang bisa didorong menjadi keunggulan kolektif sebagai bangsa besar. Maka Pendidikan Nasional akan menjadi jalan radikal untuk mempersiapkan generasi “bangsa yang unggul” di masa depan< -->

One Response to “Editorial: “Nasionalisme Pendidikan””

  1. 1
    BM Widjajaputra Says:

    Kalau keadaran tentang nasionalisme pendidikan sudah merasuk pada jiwa-jiwa pendidik kita, wuahhh … nggak perlu kita kesulitan nyari pemimpin yang pro rakyat kelak.

Leave a Reply

© 2014 | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan