Pergerakan Kebangsaan

RAKERNAS II

PIDATO

PERGERAKAN KEBANGSAAN

 

 

PADA

PEMBUKAAN KONPERENSI STUDI DAN RAPAT KERJA NASIONAL II

TANGGAL 22 FEBRUARI 2009

 

DISAMPAIKAN OLEH: SOEDARYANTO

 

 

PENDAHULUAN

  • Memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan karunia dan rakhmatnya, sehingga kita dapat berkumpul di ruangan ini untuk mengikuti pembukaan Konperensi Studi dan Rakernas II Pergerakan Kebangsaan.

  • Mengucapkan terima kasih atas kehadiran segenap hadirin dalam acara ini.

  • Mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ryamizard Ryacudu yang berkenan menyampaikan pidato utama dan kepada Bapak Kristiadi serta Bapak Kwik Kian Gie yang berkenan menjadi nara sumber dalam Perbincangan tentang Prospek Politik Kebangsaan.

  • Mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Rakernas .

SANGGAR KEBANGSAAN dan PERGERAKAN KEBANGSAAN

  • Sering muncul pertanyaan apa bedanya Sanggar Kebangsaan dengan Pergerakan Kebangsaan.

  • Sanggar Kebangsaan adalah komunitas belajar yang dibangun pada tahun 2998 dan mendapat nama resmi “Sanggar Kebangsaan” pada tahun 1999.

  • Pergerakan Kebangsaan adalah komunitas politik yang dibidani oleh Sanggar Kebangsaan dan mulai bergerak secara resmi melalui Pertemuan Yogyakarta tanggal 30 Juli 2005.

  • Tidak semua anggota Sanggar Kebangsaan menjadi anggota Pergerakan Kebangsaan dan sebaliknya.

  • Sanggar Kebangsaan dan Pergerakan Kebangsaan sampai hari ini lebih merupakan “gerakan” daripada “organisasi”. Baik Sanggar maupun Pergerakan sudah melakukan kegiatan di mana-mana, tetapi keduanya tidak mempunyai pengurus maupun struktur organisasi.

  • Berbeda dengan Sanggar yang memang dikonstruksi tanpa pengurus dan struktur organisasi, Pergerakan melalui Rakernas sekarang ini akan memulai suatu proses institutional building yang diharapkan selesai selambat-lambatnya tahun 2012.

PERLUNYA MEMBANGUN SUASANA PERGERAKAN

  • Sebagai komunitas politik , Pergerakan Kebangsaan berikhtiar untuk membangun suasana pergerakan dalam kehidupan komunitasnya, yaitu suatu kondisi dinamis yang digairahkan oleh semangat pengabdian dan semangat kejuangan dalam kehidupan internal komunitas dan lingkungan di sekitarnya.

  • Untuk membangun suasana pergerakan itu, P.K. bersandar pada prinsip-prinsip self-help sebagai asas perjuangannya dan menggunakan kekuatan pengetahuan (the power of knowledge) untuk melawan takhyul politik dan memajukan ideologi gerakan.

  • Pergerakan menyadari betul betapa sulit dan rumitnya pelaksanaan cita-cita ini, yang selalu menuntut kepada semua partisipannya untuk bersedia menghadapi kesukaran-kesukaran di lapangan.

  • Meskipun sulit dan rumit pekerjaan itu harus tetap dilaksanakan, karena tanpa terbangunnya suasana pergerakan, institutional building akan membuahkan oligarkhi, jenis penyakit yang kini sangat accute menghinggapi partai-partai politik di Indonesia. Suasana pergerakan adalah prasyarat agar P.K. terhindar dari jebakan oligarkis.

BANGUN ORGANISASI : MELAWAN OLIGARKHI

  • Oligarkhi terbangun ketika para pemimpin yang dipilih secara demokratis secara diam-diam membangun komplotan dalam tubuh partai dan/atau bersekutu dengan kelompok-kelompok kepentingan lainnya untuk memperjuangkan tujuan-tujuannya sendiri , yang menyimpang dari tujuan partai dan bukan pula tujuan yang dijanjikan kepada para pendukungnya pada masa pemilihan. Mereka membangun blok kepentingannya sendiri yang terlepas dari kepentingan dan kemauan massa-anggotanya.

  • Untuk menghindari jeratan oligarkhis pada Pergerakan, institutional building dari awal harus dirancang untuk mengintegrasikan cita-cita kerakyatan (seperti persamaan dan kesetiakawanan) dan prinsip-prinsip demokrasi modern ke dalam perilaku Pergerakan.

  • Pergerakan dengan sadar harus menhindari jebakan model partai Leninis (yang disukai oleh kebanyakan partai): para pemimpin dipilih secara demokratis, tetapi setelah terpilih boleh memecat anggotanya yang dianggap tidak loyal.

  • Untuk mengintegrasikan cita-cita kerakyatan dan prinsip-prinsip demokrasi itu, telah disepakati untuk membangun mekanisme organisasi yang bertumpu pada hubungan dialektis antara tiga lembaga : Dewan Pimpinan, Dewan Kader (sebagai representasi anggota), dan Rapat Anggota.

  • Mekanisme yang dibangun melaui hubungan dialektis ketiga lembaga itu harus dengan jelas menunjukkan bahwa prinsip-prinsip demokrasi dijalankan sepenuhnya dalam kehidupan internal Pergerakan.

NASIONALISME TINDAKAN : UPAYA MEMAJUKAN KESADARAN IDEOLOGIS

  • Instrumen lain untuk mencegah jeratan oligarkhi dalam tubuh Pergerakan adalah dengan selalu memajukan kesadaran ideologis anggota-anggotanya, supaya Pergerakan mewarisi dimensi progresif dari ideologi (Pancasila sebagai ideologi yang membebaskan) dan meninggalkan dimensi konservatif dari ideologi (Pancasila sebagai legitimasi).

  • Mulai tahun 2007 dilaksanakan Gerakan Pembasisan Pancasila dan sampai hari ini masih terus berlanjut.

  • Selama mengikuti acara-acara Gerakan Pembasisan Pancasila, nampak adanya dua kelemahan yang muncul dalam persepsi masyarakat. Pertama, berkaitan dengan Pancasila, persepsi sebagian besar masyarakat masih menganggap Pancasila sebagai kaidah moral individual. Kedua, berkaitan dengan pengertian ideologi pada umumnya, sebagian besar masyarakat masih menganggap bunyi-bunyian yang tertulis dalam anggaran dasar organisasi sebagai ideologi dari organisasi itu.

  • Pelurusan kembali terhadap kesalahan yang pertama dengan menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara adalah mengatur “budi pekerti”nya negara, dan bukannya budi pekertinya orang per orang, menumbuhkan kesadaran baru pada masyarakat bahwa Pancasila sebenarnya dapat menjadi ideologi yang membebaskan mereka dari struktur-struktur yang menindas.

  • Pelurusan kembali terhadap kesalahan yang kedua dengan menegaskan bahwa ideologi harus bermuara pada tindakan, menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia sekarang sedang mengidap penyakit tuna ideologi.

  • Untuk lebih menegaskan bahwa ideologi itu merupakan seperangkat keyakinan yang berorientasi pada tindakan, dalam dua bulan terakhir ini kami memperkenalkan term “nasionalisme tindakan”, yaitu nasionalisme yang tercermin pada tindakan seseorang atau sekelompok orang sebagai buah hasil dari keyakinan akan kekuatan (bangsa) sendiri yang terintegrasi dengan motivasi, gagasan, emosi, serta nilai-nilai dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga menghasilkan tindakan yang tidak biasa dan menorehkan tindakannya itu dengan tinta emas pada sejarah dan/atau prestasi nasional.

RYAMIZARD RYACUDU

  • Dalam kaitannya dengan “nasionalisme tindakan” ini, kami berhutang budi kepada Bapak Ryamizard Ryacudu atas dua hal :

    1. Term “nasionalisme tindakan” itu kami temukan ketika kami membaca buku Bilveer Singh yang berjudul “Ryamizard Sang Penelusur Jejak Gajah Mada”, yang kemudian menggelitikan pertanyaan : nasionalisme jenis apakah gerangan yang dijalankan oleh jenderal ini ketika mengambil keputusan dan bertindak secara kontroversial ketika mengemban tugas-tugas negara.

    2. Atas kesediaannya untuk berkeliling bersama-sama kami untuk melakukan silaturahmi dengan berbagai kelompok masyarakat, berdialog mengenai persoalan bangsa dan negara, khususnya sebagai nara sumber langsung tentang “nasionalisme tindakan” berdasarkan pengalaman-pengalaman beliau sendiri.

  • Pada kesempatan ini, sekali lagi Pergerakan Kebangsaan mengharapkan kesediaan Pak Mizard untuk melanjutkan melakukan silaturahmi serupa pada waktu-waktu yang akan datang.

 

Surabaya, 22 Peberuari 2009

__________________________________________________________

Kepada, YTH
Rekan-rekan Pergerakan Kebangsaan
di tempat

Salam Pergerakan

Dengan ini saya kirimkan undangan,  beberapa berkas menyangkut Konferensi Studi & Rakernas II PK tgl 21 sd 25 Februarai 2009 di Surabaya.
Diantaranya:
1. Pedoman Pembentukan Komite
2. Undangan Konferensi Studi & Rakernas II PK
3. Blanko kepastian (daftar) Peserta & Peninjau Konferensi Studi & Rakernas II PK
4. Kerangka Acuan Konferensi Studi & Rakernas II PK
5. Draft (Rancangan Keputusan) Kode Etik Pembangunan Partai

Mengenai Draft Keputusasn yang akan dikirimkan ada 2: Pertama: Draft (Rancangan Keputusan) Kode Etik Pembangunan Partai, yang dikirimkan dalam e-mail ini. Kedua: Draft menyangkut Keputusan Prinsip, Dasar Pem,bangunan Partai Ideologis Pergerakan Kebangsaan, yang meterinya sedang disusun dan akan dikirim kemudian.
Sedangkan Disain Gladi Resik akan dibahas dalam Raker nanti, karena sifatnya bukan Keputusan melainkan Rancangan Agenda Politik PK.

Selanjutnya kabar kepastian Peserta & Peninjau dari Distrik Rekan-rekan secepatnya kami tunggu untuk membantu penyiapan akomodasi oleh panitia

Demikian kabar dari kami,
Terima kasih

Triyas Prasetyo                                     Rapael

5 Responses to “RAKERNAS II”

  1. 1
    saking imogiri Says:

    Mas Gepeng tolong di revisi Pidato Kebenagsaan pada Rakernas II oleh Sudaryanto dalam:

    SANGGAR KEBANGSAAN dan PERGERAKAN KEBANGSAAN
    *Sering muncul pertanyaan apa bedanya Sanggar Kebangsaan dengan Pergerakan Kebangsaan.

    *Sanggar Kebangsaan adalah komunitas belajar yang dibangun pada tahun 2998 (INI SEPERTINYA TAHUN 1998?)dan mendapat nama resmi “Sanggar Kebangsaan” pada tahun 2999.
    APAKAH PENULISAN TAHUN DI ATAS BENAR (2999 SEPERTINYA 1999)
    *Pergerakan Kebangsaan adalah komunitas politik yang dibidani oleh Sanggar Kebangsaan dan mulai bergerak secara resmi melalui Pertemuan Yogyakarta tanggal 30 Juli 2005.
    Thx Mas Gepeng.

  2. 2
    liek wir Says:

    # Sanggar Kebangsaan adalah komunitas belajar yang dibangun pada tahun 2998 YANG INI BELUM DIREVISI) dan mendapat nama resmi “Sanggar Kebangsaan” pada tahun 1999 SUDAH DIREVISI- MATUR NUWUN).

  3. 3
    Basri Hasan Says:

    Tujuan pergerakan sudah sangat bagus, sayang basisnya masih lemah (menurut saya).
    Selama kebudayaan fase mitologi sekarang masih dipakai sebagai basis, sulit mencapai kemajuan. Masyarakat sudah bosan dengan paradigma lama, baik yg dari SBY, suharto dan sukarno. Paradigma yg terputus tahun 1959 perlu dikembalikan kejalurnya. Kecuali rekan2 tidak menganggap kemanusiaan universal dan DUHAM sebagai sampah.

  4. 4
    Kandiawan Suryo Wicaksono Says:

    Revolusi Pola Pikir
    Seiring jalannya sejarah bangsa in The Founding Father kita Bung Karno pernah mengatakan “Revolusimu belum selesai!”, maka dari itu mendesaklah dalam waktu sekarang ini untuk membentuk dan menggali kembali pola-pikir yang sudah terkontaminasi virus-virus yang merusak dan mengubur kembali Panca Sila sebagai budaya lokal “gotong-royong” dan nilai-nilai The Founding Fathers sebagai jati diri bangsa ini. Membangun karakter kehidupan berbangsa yang lebih baik harus dimulai dari pola pikir, terutama dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai luhur kemanusiaan termasuk kesadaran terhadap arti penting pembangunan watak karakter moral bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam seluruh aspek wawasan nusantara “IPOLEKSOSBUDHANKAM” demi tercapainya kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adapun Virus-virus yang menyerang dari pemikiran yang merusak moral-moral dan sendi-sendi Panca Sila itu adalah :

    1. “Virus fundamentalis agamis” dimana masing-masing agama menunggalkan kebenarannya masing-masing dan cenderung mengarah ke fanatisme agama yang justru saling bermusuh-musuhan bukannya membuat perdamaian di bangsa yang paling heterogen ini.
    2. “Virus Kelirumologi” yaitu sebuah virus yang sering membuat salah kaprah dalam memahami gejala-gejala sosial dalam masyarakat seperti sikap yang suka bergunjing dan bergosip dianggap kebiasaan, hedonisme yang merupakan dasar alasan koruptor menjadi sebuah keharusan oleh karena tuntutan pergaulan dengan materi dan jabatan sebagai tolak ukur dalam bermasyarakat.
    3. “Virus Neo-Imperialisme” yaitu virus yang membuat bangsa ini merasa “bangsa kambing” dan merasa Inlander terhadap bangsa lain. Tetapi ingatlah kata Bung Karno “siapa yang bisa merantai suatu bangsa, kalau semangatnya tak mau dirantai? siapa yang bisa membinasakan suatu bangsa kalau semangatnya tidak mau dibinasakan?”, dan juga kata Bung Hatta “ Lebih suka kami melihat Indonesia tenggelam kedasar lautan, daripada melihatnya sebagai embel-embel abadi pada Negara asing” Begitulah pesan-pesan untuk menginsyafi nasionalisme oleh Bung Karno dan Bung Hatta sebagai The Founding Fathers bangsa ini.
    4. “Virus Individualisme” yang menggerus rasa perikemanusiaan yang melupakan bahwa kita adalah makhluk sosial sehingga justru membentuk perilaku manusia yang acuh tak acuh dan sangat mementingkan dirinya sendiri sehingga tidak bisa lagi merasakan penderitaan saudara sebangsa dan setanah airnya yang menderita akibat kemiskinan,
    5. “Virus Pragmatisme” dimana virus ini akhirnya akan menunggalkan kebenarannya masing-masing akibat pragmatisme berpikir ini menimbulkan kebenaran yang satu tidak menghargai kebenaran yang lainnya dan sering kali kekecewaan atas kebenarannya yang tidak diterima justru menimbulkan kerusuhan yang membuat perpecahan, pertengkaran yang memakai topeng suku-suku,agama-agama yang sangat meresahkan masyarakat.

    Inilah virus-virus yang timbul dari pola pikir yang diracuni dari dalam maupun luar diri kita sebagai bangsa yang berpedoman kepada Panca Sila ini sehingga kini telah hilang kepercayaan dirinya oleh karena pola pikirnya sendiri yang justu membelenggu kemerdekaan berpikirnya. Inilah Revolusi terberat yang harus dihadapi sebuah bangsa apapun. Dan bangsa apapun itu akan diambang kehancuran karena melupakan dua hal yang sangat mendasar dalam pola-pikir yaitu budaya dan sejarah bangsanya. Inilah Revolusi Pola Pikir dimana yang menjadi musuh terbesar kita adalah hawa nafsu dalam diri kita sendiri degan berbagai macam kepentingan hawa nafsunya. Revolusi Pola Pikir adalah Proses pembedahan alam bawah sadar pola pikir untuk kembali pada jati diri sehingga membentuk suatu karakter bangsa yang sesuai dengan jiwa dan semangat Panca Sila, Nilai-nilai budaya luhur dan The Founding Fathers bangsa ini untuk kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka Revolusi ini diperlukan karena telah bergesernya tatanan serta nilai-nilai budaya luhur masyarakat di masa-masa kemerdekaan dahulu dengan tatanan yang ada dalam masyarakat saat ini. Suatu Revolusi “dimasa kebangunan ini, maka sebenarnya tiap-tiap orang harus menjadi pemimpin, menjadi guru.” (Di Bawah Bendera Revolusi jilid I – Ir. Soekarno)

    Mari kita bersama-sama dan bersatu padu seluruh elemen bangsa ini untuk “Revolusi Pola Pikir” dimana yang menjadi musuh terbesar bagi manusia adalah hawa nafsu dalam dirinya sendiri.

  5. 5
    Tadjuddin Says:

    Selamat berjuang semoga jaya bersama rakyat yang butuh mitra membebaskan diri dari belenggu neoliberalisme yang menghegemoni

Leave a Reply

© 2010 Pergerakan Kebangsaan | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan