Pergerakan Kebangsaan

Pendapat Anda

KOMPAS, 15/11/2009

45 Responses to “Pendapat Anda”

  1. 1
    liek wir Says:

    Apakah pergerakan kebangsaan dengan pergerakan indonesia itu sama? Mohon penjelasan.

  2. 2
    Pergerakan Kebangsaan Says:

    Menjawab pertanyaan Liek Wir, soal pergerakan kebangsaan mungkin dapat ditengok di Halaman Tentang Kami.

  3. 3
    liek wir Says:

    thx semuanya…, salam buat semua rekan2 perjuangan. Kok belum ada agenda tgl 4 april 2009 di jakarta. mungkin bisa diinformasikan mengenai tempat, jam, agenda brifieng etc.

    gitu aja dech….

    salam bwt rekan2 komite bantul

  4. 4
    Pergerakan Kebangsaan Says:

    kepastian mengenai informasi agenda tanggal 4, baru akan dipastikan besok Senin, 30 April 2009
    Harap maklum.

  5. 5
    liek wir Says:

    bagaimana bila beberapa sintak yg ada di-indonesia-kan. contohnya dibawah potongan artikel ada perintah “read continue” (selanjutnya…); kemudian dibawah artikel mungkin kita habis baca tolong tambahkan ikon sperti: print/cetak. kirim ke teman, baru komentar….
    maaf ini cuman sedikit usulan buat pengelola webite ini. trims

  6. 6
    liek wir Says:

    sampai pagi ini (1 april 2009) belum ada kepastian mengenai gladi resik yg semula akan diselenggarakan di Jkt tgl 4 April. Pada hal kepastian hari senin 30 April 2009, gimana nich…..

  7. 7
    greg Says:

    (Teman2 Pergerakan Kebangsaan. Acaranya teman-teman Jakarta yang menurut rencana diadakan tgl 4 April ditunda setelah pemilihan legislatif karena persoalan telnis dan pertimbangan politis. Terimakasih) - sms dari mas gepeng

  8. 8
    basar siahaan Says:

    Horas !!!

    Bung-bung sekalian, aku hanya mau bertanya : Apakah revolusi Indonesia belum (sudah) selesai ?

    Dalam konteks ini, dimanakah posisi Pergerakan Kebangsaan ?

    Bagi kami ini penting, karena itulah dasar untuk machtforming dan pada akhirnya machtwending.

    Terakhir. “samenbundeling van alle revolutionair crahten” atau “samenbundeling van alle ‘partai/organisasi’ crahten”.

    Salam dari “Pantai Barat Sumatera”.

    Horas ! Horas ! Horas !

  9. 9
    iwan Says:

    Horas Bung Basar!!!
    Kita tidak perlu berhenti untuk terbelenggu “sudah selesai atau belum” revolusi Indonesia.
    Namun, kita harus mencari jalan untuk menemukan kembali revolusi Indonesia. Terasa menyesakkan memang melihat Indonesia hari ini, tapi suatu jalan revolusi harus dengan keyakinan dan kesetiaan.

  10. 10
    basar siahaan Says:

    Terima kasih dari Pantai Barat Sumatera.

    Kita tidak tidak “terbelenggu” Kami yakin tanpa titik berangkat yang benar tujuan menjadi tidak jelas, amburadul !

    Indonesia ini tidak saja sesak tetapi amburadul.

    Horas !

  11. 11
    kang dalidjo Says:

    Waktu saya masih kecil (dan sampai kini masih ter-ngiang2) kata Bung Karno bahwa “revolusi indonesia belum selesai”
    Paska revolusi kemerdekaan Bung Karno masih disibukkan oleh pergolakan2 yang merasa tidak puas a.l Pemberontakan Permesta, DI/TII, Kahar Muzakar, dlsb. Juga mencanangkan program berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) untuk pembangunan. Berdikari belum sampai terealisir, adanya penggulingan Soekarno. Kemudian pemerintahan dipegang oleh Orba dimana tidak melanjutkan program berdikari justru sebaliknya; membangun negeri ini di atas Hutang-2 LN anehnya justru disebut sebagai PAHLAWAN/Bpk Pembangunan, 32 tahun berkuasa tak terasa sudah. Orde reformasi mengganti orba tapi kaki tangan orba masih bercokol kuat terbukti sebuah partai pendukung status quo tak dibubarkan justru saat ini tampak ingin berkuasa kembali……
    Kami harapkan marilah kita dukung perjuangan pergerakan kebangsaan ini agar anak-anak bangsa bisa menikmati hidup lebih baik, disegani oleh negara2 lain. MERDEKA

  12. 12
    Jon Moeller Says:

    Rekan2 admin, apakah bisa dimuat di sini alamat, pengurus, dan kontak lainnya dari komite2 Pergerakan Kebangsaan yang ada di setiap distrik seluruh indonesia berdasarkan peserta rakernas II surabaya. terima kasih, Jon Moeller komite Bandung Raya

  13. 13
    Pergerakan Kebangsaan Says:

    Untuk Boeng Jon Moeller
    Pengelola website (admin) tidak berwenang untuk mengeluarkan daftar alamat/kontak Distrik PK. Namun, kami telah menyampaikan keinginan banyak kawan (seperti Bung Jon minta) kepada Komite Nasional untuk mengeluarkan informasi alamat kontak Komite Distrik PK untuk ditampilkan di web PK ini. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, daftar (database) Distrik PK se Indonesia segera dapat diupload.

  14. 14
    Veronika Says:

    Saya setuju dengan Prabowo yang memberikan komen pada artikel “Sisi lain SBY …..” Tidak hanya dalam artikel tersebut, menurut saya PK memang terlalu banyak memberikan aksen pada kata/kalimat dalam artikel2nya. Misalnya cetak tebal, huruf miring, tanda petik.
    Usul agar penulisannya sesuai dengan tatakrama/kaidah/bahasa tubuh dari komunikasi tertulis saja, misal: penyampaian dalam kalimat berita, cetak tebal hanya pada judul/subjudul, cetak miring hanya untuk pemakaian istilah yang bukan bahasa Indonesia, tanda petik yang menunjukkan suatu kata mempunyai makna yang lain dikurangi, diganti dengan kata yang jelas maksudnya. Biarkan pembaca yang menilai.

    Semoga semakin eksis.

  15. 15
    noor wee Says:

    Mas Greg, maaf tulisan Anda yang berjudul: PEMIMPIN ITU WAJIB MEMBANGUN ETOS BANGSA kami copas ke Harian Online Kabar Indonesia (Hoki) dimuat dalam kolom Opini tanggal23-Apr-2009, 16:27:58 WIB - [www.kabarindonesia.com], sekali lagi mohon ma’af dan terima kasih.

  16. 16
    lieK Wir Says:

    Sdr. Admin tolong dech di bawah setiap artikel diberikan fasilitas tambahan misalnya:
    1. print/cetak
    2. beritahu ke teman
    3. simpan artikel/download artikel yang disukai dpt dalam bentuk pdf. word/notepad

    Mengingat kalau temen-temen di daerah mau cetak artikelnya sebagai referensi akan lebih enak, ketimbang kami hrs blok, copas ke word atau notepad baru print.

    Atau kalau ingin memberitahukan kepada temen di luar daerah yang kebetulan mempunyai alamat email, termasuk sebagai langkah pengembangan PK ke daerah-daerah lain.

    Selamat berjuang temen2 PK.

  17. 17
    lare ndusun Says:

    Sebuah pertanyaan yang semakin menggelayut di hati ini; Setelah selesai pileg 2009, menghadapi pilpres 2009 meski setelah reformasi ada semacam gambaran partai terbesar belum tentu menjadi pemenang dalam pilpres.
    Nah, pokok persoalannya adalah apakah tindakan real PK dalam menghadapi situasi politik saat ini?
    Mohon penjelasan/jawaban dgn bhs yang mudah dipahami oleh semua lapisan. Trima kasih

  18. 18
    Adrianust Says:

    Anomali dalam demokrasi, bahwa suara terbanyak belum tentu benar.
    Yang dapat kita lihat dari “pesta demokrasi” pileg bahwa demokrasi yang berarti
    kedaulatan di tangan rakyat sama sekali tidak terjadi. Rakyat tetap saja tidak memiliki kedaulatan, karena rakyat (suka atau tidak suka) hanya tinggal mencontreng saja. Sejak awatl PK ingin membangun lapisan sosial baru. Ini artinya PK berkewajiban menjelaskan kepada rakyat bahwa sampai dengan hari ini, rakyat belum juga memiliki kedaulatan untuk membangun negeri ini. Rakyat membiarkan kedaulatan ini dikuasai oleh para elit politik (partai) yang seolah-olah merekalah yang bisa memperbaiki nasib bangsa ini. Para elit politik semakin menunjukkan bahwa rezim reformasi telah gagal memenuhi harapan rakyat.

  19. 19
    lare ndusun Says:

    Kemungkinan yang terjadi selama Pileg 2009 kemaren:
    1. warga masyarakat yang berhak memilih banyak yang tidak terdaftar dalam DPT, anehnya banyak juga warga masyarakat yang telah meninggal 3 tahun silam justru mendapat undangan untuk memilih; hal ini terjadi di-mana2.
    2. warga masyarakat sudah apatis dengan pemilu; hal ini ada juga yang mendapat undangan pemilu justru menikmati liburan bersama keluarga atau lebih baik di rumah karena tidak ada pilihan yang cocok.
    3. ada juga demi rp 20 rb s/d rp 40 rb untuk mengikuti kampanye salah satu partai atau mencontreng salah satu partai; sebaliknya ada juga yang mengikuti lebih satu partai sekedar mendapatkan uang bisa untuk beli beras. Salah siapa?
    4. ada lagi untuk menambah kas kampung warga sepakat contreng X untuk DPRD, contreng Y untuk DPR tk I, contreng Z untuk DPR RI, serta contreng A untuk DPD sehingga terkumpul material untuk pengerasan jalan atau terkumpul uang dibagi rata warga.

  20. 20
    Prabowo Says:

    Pergerakan Kebangsaan (selanjutnya saya sebut Peka) harus merumuskan sebuah metode baru, yaitu mengonsolidasi dua kutub ekstrim di mana Peka menjadi mediator sekaligus penyeimbangnya. Dua kutub itu adalah “kekuatan kapitalisme sejati” dan “kekuatan sosial progresif”. Ini adalah sebuah keniscayaan ketika “kapitalisme kasino” yang berkembang justru membunuh kapitalis-kapitalis sejati sekaligus unsur-unsur progresif dalam masyarakat. Saya yakin Peka mampu dan mau sejauh Peka memang berani. Bukankaj keberanian akan mengalahkan keraguan, termasuk ragu apakah dua kutub itu dapat menjadi satu kekuatan revolusioner?

  21. 21
    lare ndusun Says:

    Untuk rekan-rekan yang hadir dalam Konferensi Pers Di Jkt mohon dengan sangat agar dipublish di sini, dan rencana acara di Solo tgl 17 bln ini juga diberitakan. matur nuwun.

  22. 22
    Pergerakan Kebangsaan Says:

    Untuk Liek Wier, dan kawan2 lain:
    Untuk saat ini, website pergerakan belum memiliki fasilitas seperti yang Lik Wier minta.
    Untuk itu, kami mohon maaf atas keterbatasan fasilitas yang kami sediakan.

  23. 23
    seto Says:

    salam buat teman2 di PK, saya hanya bisa berdoa agar perjuangan teman2 PK benar2 untuk perubahan NUSANTARA.
    saya selalu melihat PK di website ini. saya arek bantul. tapi sekarang dicina.

  24. 24
    liek wir Says:

    Salam kembali buat Mas Seto di Cina, jika anda mau contact person dengan temen PK di Bantul melalui email liek_wir@yahoo.co.id

    Trims.

  25. 25
    Didi Says:

    Salam Pergerakan.

    Mohon kepada PK atau SK untuk juga mengikutsertakan kami di Jambi dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan PK atau SK. Karena kami di Jambi hanya diikutkan dalam kegiatan Stadium General & Pelatihan tenaga penggerak Reforma Agraria di Jakarta pada bulan Desember 2008 yang lalu, selainnya tidak pernah.

    Hormat kami

  26. 26
    liek wir Says:

    Kami keluarga PK Bantul ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya mBak Yun (istri Mas Dar). Semoga semua amal kebaikan beliau (mBak Yun-alm) mendapatkan pahala, diampuni segala dosanya, mendapatkan tempat di sisi-NYA. Untuk Mas Dar dan keluarga yang ditinggalkan semoga mendapatkan ketabahan.
    Amien.

  27. 27
    anak langit Says:

    tercipta dari keturunan petani, dari jamannya kakek buyut sampai sekarang petani menjadi duniaku. pemerintah sekarang mengklaim bahwa ekonomi tumbuh dan stabil.tahukah mereka apa yang dirasakan kaumku? bagaimana susahnya mau mebuat tanaman subur dengan ketiadaan pupuk bahkan yang tidak bersubsidi sekalipun? apakah mereka kira blt menyelesaikan masalah kaumku? tahukah mereka apa yang dibilang orang2 desa? urip tambah susah.siapa yang mampu menjawab keresahan kaumku? pergerakan kebangsaan???

  28. 28
    basar siahaan Says:

    kepada anak langit,

    keluhan bung dirasakan seluruh kaum tani di nusantara. Kita memang sudah terjebak dan dikunci dengan penggunaan pupuk kimia dan pestisida, rekayasa genetika tetapi pada saat yang sama kita hancurkan plasma nuftah kita.
    Mari kembali ke pupuk organik -kabarnya ongkos pembuatannya 20% dari ongkos pembuatan pupuk kimia - dan selamatkan plasma nuftah kita.

    Basar Siahaan
    salam dari pantai Barat Sumatera, Sibolga

  29. 29
    moon_nyet Says:

    Surabaya gimana? kok ngak kelihatan gerakan nyatanya?

  30. 30
    seto Says:

    bukan hanya petani yang dihancurkan oleh pemerintah!!! tapi seluruh bidang kehidupan rakyat indonesia telah dihancurkan oleh pemerintah. dan lagipula saat ini kita tdk bisa berharap banyak untuk merdekanya indonesia yang lebih merdeka. hanya kita yang bisa berbuat tuk NKRI yang tercinta ini. mari kita galangkan persatuan dan kesatuan NKRI!!!! jangan hanya kita merengek dan merengek terus, saatnya untuk BANGUN, BERDIRI, DAN BERLARI. tidak terlena terus menunggu pemerintah. sekali lagi mari kita galang persatuan dan kesatuan. jangan mengeluh, jangan terlena. mari bersama-sama kita banun kembali NKRI yang udah berantakan ini. PEMUDA, ORANGTUA, PELAJAR, PETANI, BURUH, SEMUA ELEMEN RAKYAT INDONESIA MARI BERSATU…..!!!!!!

  31. 31
    basar siahaan Says:

    revolusi memang belum selesai

  32. 32
    sukamto Says:

    kami ditrenggalek udah tahu bahwasannya revolusi belum selesai namun kami bukannya tidak mau memikirkan negeri ini tetapi mata kami udah lelah melihat berbagai macam cerita dalam lakon rentetan kehidupan perjalanan negeri ini yang nyatanya masih hanya sekedar mimpi. teman pk semua, kami didaerah bukannya setuju dan menerima keadaan ini hingga tertidur pulas setelah mukernas disurabaya dan ada yang bilang kami gak ada. tidak, tidak, tidak dan tidak. kami didaerah tidak diam tetapi kami mau bertindak secara nyata diakar rumput bukan dan bukan hanya bermain dalam tataran konsep belaka. trim dan semoga kemerdekaan ini mampu kita rasakan kelak.

  33. 33
    Susastro Says:

    tidak perlu menempatkan konsep & praktek dalam ketegangan. Keduanya
    penting dalam setiap upaya gerakan. Konsep harus diikuti praktek,
    dan sebaliknya praktek harus dilandasi konsep. Kesatuan diantara
    keduanya inilah yang dimaksud sebagai praksis. Keduanya sama-sama
    tidak memiliki kemutlakan dalam kebenaran, karena keduanya dinamis
    dan mengikuti perubahan.

  34. 34
    m.wildan Says:

    Mengenal NKRI

    Pada dasarnya manusia hidup berbagsa-bangsa, dimana keberadaan bangsa-bangsa didunia merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, karena memang tidak ada seorang manusia pun yang bisa menciptakan suatu bangsa. Bangsa adalah ketetapan Sang Maha Pencipta di muka bumi oleh karena itu setiap bangsa memiliki perjalanan hidupnya masing- masing, setiap bangsa memiliki sejarahnya masing-masing.
    Demikian juga dengan bangsa indonesia, bangsa indonesia memiliki perjalanan sejarah yang menyerupai perjalanan hidup seorang anak manusia yaitu diawali dengan kelahiran, kemudian beranjak dewasa baru mampu menetukan arah hidupnya sendiri. Bangsa Indonesia terlahir pada 28 Oktober 1928 melalui pernyataan Sumpah Bertumpah darah yang Satu, Berbangsa yang Satu dan Berbahasa yang Satu kemudian mengalami proses pendewasaan hingga hampir 17 tahun, dan baru mampu menentukan arah hidupnya sendiri dengan menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dengan membentuk Negara Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945 dengan disahkannya UUD’45 dimana tujuan daripada kelahiran, kemerdekaan dan dibentuknya NKRI bagi Bangsa Indonesia adalah untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli.Tujuan ini adalah suatu cita-cita luhur dan merupakan suatu kehendak perjuangan daripada kaum pribumi yang mengalami ketertindasan selama ratusan tahun, baik di masa Nusantara maupun dimasa Bangsa Indonesia pra kemerdekaan.
    Dibentuknya Negara Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945 sebagai bentuk kemandirian Bangsa Indonesia adalah upaya daripada Bangsa Indonesia untuk mengelola kehidupannya melalui suatu sistem organisasi yang disebut Negara.
    Negara yang dibentuk Oleh Bangsa Indonesia memiliki kewajiban untuk melindungi segenap wilayah negeri ini sebagai tumpah darahnya Bangsa Indonesia, mensejahterakan kehidupan rakyat indonesia secara Rohani maupun Jasmani dan membangun pola pikir bangsa Indonesia agar menjadi suatu Bangsa yang cerdas hingga akhirnya akan membawa Bangsa Indonesia kepada tingkatan pergaulan yang sejajar dengan Bangsa-bangsa lain didunia, tentunya semua kewajiban ini akan dapat terlaksana apabila Negara yang dibangun menjadikan Pancasila sebagai landasan idiil kehidupan kenegaraannya, dikarenakan Pancasila adalah dasar daripada kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagaimana yang dinyataka Bung Karno pada 1 juni 1945 dalam pidatonya dihadapan sidang BPUPK, Pancasila merupakan Ilmu yang telah mendewasakan Bangsa Indonesia semenjak kelahirannya hingga berani menyatakan kemandiriannya untuk menentukan arah kehidupan sendiri . dan karena Pancasila adalah ketetapan Sang Maha Pencipta Bagi Setiap Bangsa yang ingin Hidup dan tidak menghendaki kehancuran.
    Ditinggalkannya pancasila pasti akan membawa bangsa indonesia kepada kehancuran dan keterpecah belahan, hal itu dapat telihat pada saat NKRI sebagai Negara yang dibentuk oleh Bangsa Indonesia tidak menjalani kehidupan Negara berdasarkan UUD’45 melainkan UUD Amandemen 2002.
    UUD’45 merupakan bentuk nyata bagaimana mengoperasionalkan Pancasila, oleh karena itu apabila dirubah atau ditinggalkannya UUD’45 oleh NKRI berarti Pancasila tidak bisa dioperasionalkan sehingga kemerdekaan, kemandirian Bangsa Indonesia tidak pernah terbangun dan Komitmen Mengagkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli sebagai Tujuan Awal Bangsa Indonesia pun tidak akan pernah tercapai dan pada akhirnya Keadilan Sosial sebagai bentuk kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa Indonesia tidak akan pernah terwujud.
    Oleh karena itu agar Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli dapat terangkat maka Bangsa Indonesia harus segera Kembali pada UUD’45 sehingga Pancasila pun bisa dioperasionalkan dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara Indonesia.

  35. 35
    yogikresnawan Says:

    harapan saya dari dulu sangat ingin bergabung satu wadah di pergerakan kebangsaan.. bagaimana caranya untuk bergabung dengan kawan2????
    apa ada pergerakan kebangsaan di wilayah madura???

  36. 36
    gopur Says:

    Untuk admin…mohon agenda roadshow RR di publikasikan sehingga kawan2 bisa terlibat.
    Salut utk admin…………..

  37. 37
    dodik Says:

    Sebaiknya PK menyampaikan pandangan - pandangan atau sikap politiknya terhadap isu - isu aktual yg berkembang saat ini.

  38. 38
    pamungkas Says:

    Sebaiknya PK menyampaikan pandangan - pandangan atau sikap politiknya terkait dengan isu - isu aktual yang berkembang saat ini.

  39. 39
    Tri Suryaningrum Says:

    Kok tampilan layout kok kurang menarik, cenderung monoton. Oia….., kalau ingin tahu banyak organisasi ini bagaimana ya caranya selain tentunya dari webb ini.
    Saya berharap pada kesempatan ini bisa memperoleh buku-buku dari PK. Sehingga bisa mengetahui pemikiran-pemikiran PK ke depan.

  40. 40
    Seto Handoko Says:

    to admin : cara daftar forum gmn nih ??

  41. 41
    bagus indra Says:

    MERDEKA !!!

    Suatu kebanggaan n kebahagiaan tersendiri utk sy pribadi akan munculnya wadah spt ini, disaat carut marutnya kondisi perpolitikan kebangsaan spt ini ditambah dg perilaku2 elit politik kita saat ini yg lbih banyak memikirkan pembagian kue2 kekuasaan drpd mementingkan kepentingan harga diri bangsa ini, terlebih adalah kepentingan dr rakyat dr bangsa ini.
    Saya pribadi adalah salah satu anggota dr parpol, namun kehausan saya akan praktek2 ideologi sptnya tdk mampu memberikan kesegaran akan kehausan yg saya alami hinnga akhirnya saya memilih utk diam n memandang (walau dlm hati merasa tertindas n teriris)
    Semoga dg adanya wadah ini bisa memberikan suatu wadah alternatif n bsa mjd “minuman penyegar” bg orang2 spt saya…..

    MERDEKA !!!
    JAYALAH INDONESIA !!!
    BERKIBARLAH MERAH PUTIHKU !!!

  42. 42
    yudi Says:

    TerimaKasih pak..
    saya mengenal PK dari seorang teman sesama aktivis. dan telah saya baca Buku tentang PK.
    saya Tumggu kehadiran PK didaerah saya “Gresik” Jatim Indonesia. Berjuanglah Putra Indonesia, Saya Akan Senantiasa mendukung anda
    Bravo Pergerakan Kebangsaan. Salam PANCASILA

  43. 43
    Lik Gun Says:

    Gimana kabarnya Komnas PK sekarang? Apa Komitmen untuk membangun partai di tingkat distrik masih berlaku? sampai sejauhmana ini jalan? Distrik mana yang sudah siap/jalan? Saya melihat ada gejala aktivisme di KNPK. Jangan sampai PK justru menjadi tak ubahnya organisasi yang hanya memberikan doktrin tanpa melakukan apa-apa?

  44. 44
    agung swandaru Says:

    menggiring angin???

  45. 45
    Krd jember Says:

    SANTRI MENYIKAPI GLOBALISASI
    Oleh : H. Abd. Hamid Wahid, M.Ag.

    Suatu kenyataan sosial-budaya (globalisasi) yang sudah di pridiksi oleh banyak futurolog (ahli tentang masa depan), kini telah benar-benar terwujud. Globalisasi atau dunia tanpa batas, terutama dalam sekat-sekat wilayah (teritorial) dan komunikasi, telah manifes (tampak) dengan kekuatan serba cepat dan serba canggih. Kecepatan dan kecanggihan kekuatan masyarakat (manusia) abad ini, di dasarkan pada dua hal yang tak dapat di pisahkan, ketika diciptakan sebagai seperangkat mekanik maupun strategi untuk mencapai tujuannya.

    Tujuan yang dimaksud adalah, terciptanya suatu era baru secara mendunia yang tentu saja membutuhkan berbagai syarat mendasar dan realistis. Era baru yang dimaksud, yaitu lahirnya pasar ekonomi global atau pasar terbuka (global market). Di sebut pasar terbuka, disini karena mengacu pada beberapa prinsip terbuka pula, termasuk pembentukan-pembentukan wilayah (area bebas visa dan bebas bea-cukai) yang sering kita dengar dengan istilah “pasar bebas”, hal mana yang sudah dipersiapkan untuk Asia adalah Asia Free Trade Area (AFTA), besar kemungkinan beberapa tahun lagi akan diberlakukan.

    Terkait dengan momentum-momentum yang bersifat internasional, di satu sisi merupakan indikasi-indikasi kemajuan yang mendorong terciptanya kompetisi terbuka antar negara-negara yang masing-masing memiliki karakter dan keberpihakan dengan persamaan wawasan strategis jangka panjang maupun kepentingan jangka pendek. Di sisi lain merupakan ancaman (threat) tertama bagi negara-negara yang masih (terus-menerus) mengalami krisis identitas, seperti kasus Negara Palestina-Israel, India-Pakistan, Afganistan dan negara-negara kawasan teluk lainnya, yang belum terukur hingga kapan mereka dapat keluar dari krisis.

    Namun yang jelas, saat ini, selain dua kemungkinan positif dan persoalan-persoalan krisis tersebut. Tampaknya, globalisasi terus berjalan begitu saja, seperti di bukanya kran informasi dan komunikasi melalui jaringan internet dan jaringan selular lainnya, kian hari kian menemukan konsumennya. Dan oleh berbagai pihak, kenyataan tersebut telah dirasakan fungsi atau manfaatnya. Para Futurolog bilang: kenyataan ini susah kita tolak secara ekstrem, sebagaimana kekhawatiran banyak negara yang masih berkembang, seperti akan memperkeruh; paradox atau benturan-benturan antar peradaban maupun antar budaya (clash of civilizations and clash of cultures). Melainkan yang bisa kita lakukan adalah reserve dan solusi terhadap masalah-masalah baru yang diakibatkannya. Lebih dari itu, kita harus punya daya-cara baca maupun cara membangun sikap kritis, tanpa berprasangka buruk terlebih dahulu, melainkan harus lebih meningkatkan persiapan sumberdaya manusia (SDM) secara memadai, yang pada gilirannya bisa dipastikan kita dapat mengambil/menciptakan pula peluang-peluang strategis itu sendiri.

    Dalam konteks yang lebih mikro, pemahaman terhadap globalisasi ini, terkait dengan penataan ruang-wilayah di Indonesia, yang menjadi infrastruktur paling signifikan untuk suatu keberperanan masyarakat lokal dalam tatananan makro (global). Adalah masyarakat Pesantren (santri), yang memiliki basis kultur dan tradisi yang sudah mengakar sejak lama. Oleh karena itu, masyarakat Pesantren (santri) memiliki nilai lebih (urgensi) ke depan, untuk dapat merespon secara positif, dengan segi pemahaman-pemahaman yang memiliki arah yang jelas.

    Yang menjadi pertanyaan kini adalah, bagaimanakah pesantren (santri) meletakkan posisinya pada perkembangan di dalam Milenium III [1] di mana situasi persaingan global akan semakin kompleks dan batas-batas global, seperti batas teritorial, negara, bangsa, dan budaya seakan-akan lenyap. Dalam tatanan dunia baru tersebut, para kapitalis global yang liberal akan mengerumuni suatu kawasan di dalam dusun global ketika mereka membayangkan sebuah keuntungan besar, dan mereka akan segera angkat kaki ketika tidak ada lagi sesuatu yang dapat diharapkannya di sana. Mereka tak ubahnya seperti kaum nomad di masa lalu, yang merasa tidak memerlukan batas teritorial, batasnegara, atau batas kebudayaan.

    Jacques Attali di dalam bukunya Millenium (1997), mengatakan bahwa di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh setidak-tidaknya tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun terutama berdasarkan prinsip kedamaian. Kedua, adalah kekuatan militer, yang dibangun berdasarkan prinsip kekuasaan. Ketiga, adalah kekuatan pasar, yang dibangun terutama berdasarkan prinsip keuntungan. Menurutnya, dalam pertarungan di era global ini kekuatan pasar pada akhirnya akan tetap menjadi pemenangnya. Asumsi di atas barangkali ada benarnya walaupun tidak seluruhnya tepat, karena di era global di milenium ke tiga, yang dalam hitungan waktu, baru akan dimulai 1 Januari 2001 nanti, pada hakikatnya adalah mendunianya persaingan bebas yang didasarkan pada penguasaan kapital. Runtuhnya ideologi komunis di awal 1990-an sesungguhnya adalah naiknya kapitalisme ke panggung dunia dalam format yang diperbaharui.

    Sementara di satu sisi, justeru menurut beberapa futrolog lain, semisal John Naisbit dalam Megatrend 2000 (1996), justeru munculnya pola global akan juga menimbulkan kebangkitan agama pada milenium ke tiga, sebagai respon bagi kejenuhan dan kekeringan spiritual manusia. Artinya bahwa dalam kegalauan manusia melakukan persaingan yang keras di gelanggang pasar, aspek spiritualitas agama mempunyai peran untuk mengendalikan dan menyuburkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang terdistorsi. Globalisasi dalam bidang ekonomi tersebut akhirnya akan merambah kepada bidang-bidang lain seperti kebudayaan, politik, ideologi, dan lain-lain.
    Bahkan juga dalam beberapa sektor, globalisasi telah mendahului percepatan laju globalisasi ekonomi. Di dalam teknologi informasi misalnya, sekarang kita telah melihat bahwa teknologi komputer dengan dunia maya-nya (cyber space) di Internet, telah membentuk suatu komunitas manusia tersendiri yang telah lepas dari sekat-sekat negara dan batas-batas geografis, di mana informasi dari belahan dunia manapun dapat sampai ke belahan dunia lainnya dalam waktu segera informasi tersebut dimasukkan ke internet.Sungguhpun tantangan terbesar adalah tantangan globalisasi ekonomi, akan tetapi untuk mampu mempertahankan eksistensinya suatu negara atau masyarakat tentunya bukan hanya sektor-sektor ekonomi dan pelaku pasar saja yang aktif. Akan tetapi peran serta seluruh komponen masyarakat dan bangsa sangat diperlukan. Bahkan menurut Peter F Drucker (1998) dan Frans Magnis Suseno, globalisasi dianggap hanya dapat dikuasai apabila civil society, lewat LSM dan sebagainya, memainkan peranan lebih besar. (Kompas Online 16 Maret 1998 dan Opini Kompas Cyber Media 15 April 1999).

    Peranan seluruh komponen masyarakat yang dimaksud diatas adalah bagaimana kita mampu meletakkan diri kita untuk memiliki (a) daya tahan dalam percaturan global tersebut dan (b) kemampuan untuk berkompetisi dalam tatanan tersebut. Kedua hal diatas tentunya sangat erat kaitannya dengan kwalitas sumber daya manusia untuk memiliki wawasan dan informasi perkembagan global dalam segala aspeknya, pengetahuan yang luas dan memadai didalam bidang yang ditekuni dan sekaligus juga keterampilan (Skill) yang didasarkan pada wawasan dan pengetahuan diatas.
    Pesantren (santri) sebagai institusi yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dengan watak dan karakter yag akomodatif dengan budaya lokal serta karakter religiusnya, sesungguhnya mempunyai peluang peran yang sangat vital dalam perkembangan globalisasi di millenium III kini. Hal ini sekurang-kurangnya karena tiga hal:

    1. Pesantren selama ini bergerak untuk memberdayakan masyarakat sipil (civil society) khususnya di dalam mempersiapkan peningkatan kualitasnya melalui jalur-jalur pendidikan secara formal maupun non formal termasuk juga melakukan penyiapan kader-lader pemimpin masyarakat. Hal ini memberikan peluang yang besar bagi keberperanan NU karena sektor pemberdayaan SDM yang ditekuni oleh NU dan pesantren adalah merupakan sektor primadona bagi kemampuan suatu bangsa untuk memiliki daya tahan dan daya saing yang baik dalam menghadapi globalisasi;

    2. Karakter keagamaan sebagai watak dasar NU dan pesantren, memberikan peluang yang besar terhadap keberperanan keduanya karena sebagaimana dinyatakan oleh Naisbitt dalam Megatrend 2000 (1990), keagamaan justeru akan semakin mengalami perkuatan nantinya sebagai kebutuhan masyarakat global ;

    3. Kelekatan karakter budaya lokal dengan NU dan pesantren. Peluang dalam hal ini muncul karena justeru semakin dunia menyatu dalam kesatuan global, justeru warna dan karakter lokal akan semakin menguat dan manusia-manusia di belahan dunia akan semakin memperhatikan untuk mempertahankan ciri lokalitasnya. (John Nisbit, dalam Global Paradox, 1994)

    Sungguhpun demikian, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pesantren (santri) dalam kaitan milenium III dalam kerangka melakukan percepatan pembangunan kualitas SDM warganya antara lain dengan penyelarasan antara struktur dan kultur, profesionalitas dan spesialisasi, serta pengembangan wacana.
    Pengembangan wacana yang dimaksud adalah, pengembangan wacana fiqh sebagai wacana yang dominan mewarnai dan membentuk pola pemikiran NU pesantren. Sebagaimana kita ketahui, di dalam khazanah wacana NU dan pesantren, kitab fiqh mempunyai peran kunci dan kadar penguasaan tingkat kitab fiqh tertentu “berfungsi” menentukan tingkat/derajat penguasaan keagamaan seseorang, sementara disiplin ilmu-ilmu keagamaan lain seperti aqidah dan lain-lain menjadi pelengkap atau penunjang. Pada perkembangannya, fiqh yang ada sekarang sesungguhnya telah mengalami reduksi yang sangat drastis. Lebih-lebih apabila dikembalikan kepada masa Nabi, kata fiqh pada saat itu adalah berarti penguasaan terhadap seluruh ajaran agama sehingga seorang faqih sangat terpuji karena telah menguasai semua ajaran agama secara mendalam, seperti terlihat dalam sabda Nabi yang artinya: “Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, ia dijadikan orang yang menguasai pengertian yang sangat mendalam dalam ilmu agama.” Begitu pula kata tafaqquhyang dimaksud dalam firman Allah yang menganjurkan sebagian dari orang hendaknya melakukan tafaqquh fi al-Din yang artinya melakukan pendalaman dan penguasaan terhadap ajaran agama.

    Kemudian fiqh berkembang dan bidang-bidang kajian keagamaan ikut berkembang pula, maka pada masa Abu Hanifah fiqh dibagi dua ada yang disebut al-Fiqh al-Akbar yang memuat bahasan-bahasan tentang aqidah dan keimanan, adapula yang disebut al-Fiqh al-Ashghar yang memuat kajian tentang hukum-hukum fiqh, seperti wujud fiqh pada masa sekarang, sedangkan bidang kajian yang lain muncul dengan namanya sendiri seperti ilmu tasawuf, akhlak dan sebagainya. Sangat disayangkan bahwa setelah fiqh berubah seperti yang dikemukakan di atas yang berkembang sekarang hanyalah fqh dalam arti kedua, sedang dalam arti yang pertama dan ilmu-ilmu lain yang berkembang pada masa abad I H. dan terutama pada masa keemasan Islam yang waktu itu ragam bidang kajian keilmuan Islam sangat luas kesemuanya itu sudah tidak diperhatikan lagi kecuali fiqh dalam arti yang disebut terakhir.

    Maka keinginan untuk memperkaya wacana kitab kuning kiranya perlu mengembalikan bidang kajian kitab kuning kepada bidang kajian yang sangat beraneka ragam pada masa abad pertama dan masa keemasan Islam yang sempat memunculkan ilmuwan-ilmuwan dalam berbagai bidang dan tidak sedikit menyumbangkan hasil kajiannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, sehingga fiqh tidak seperti yang ada sekarang dan dikaji di pesantren di mana hanya direduksi hanya kitab-kitab madzhab Syafi’i [2] dan hal itu kurang lebih hanya terbatas pada tradisi kajian terhadap matan (teks karya asal), mukhtashar (summary, ringkasan), syarh (komentar) dan hasyiyah (komentar yang lebih luas terhadap syarh) di dalam madzhab Syafi’i. Reduksi tersebut lebih-lebih dijustifikasi dengan hadirnya pembatasan terhadap kitab-kitab yang boleh dibaca karena kualifikasinya memenuhi syarat (mu’tabarah) yang sampai saat ini belum jelas rujukan kriteria ataupun sumber munculnya pembatasan tersebut.

    Model dan tradisi yang berkembang ini tentunya membiasakan kalangan pesantren untuk terfokus pada pemahaman teks dan pengembangan pemahaman teks fiqh dalam kitab-kitab kuning. Sedangkan bagaimana aplikasi pemahaman tersebut dalam realitas empirik, dan keutuhan perpektif permasalahan dari sudut selain fiqh tentunya menjadi permasalahan tersendiri yang selama ini belum mendapat perhatian. Ini misalnya terlihat di dalam tradisi kajian yang sangat berkembang di pesantren selama ini, di mana pengkajian masalah yang bahkan dilakukan secara kolektif di dalam sebuah forum (bahtsul masa’il) adalah sekedar mencari rujukan tekstual bagi kasus yang ditemui.

    Di era tahun 1980-an akhir dan era 1990-an ini sesungguhnya telah ada upaya-upaya termasuk dari sebagian kalangan pesantren (santri) sendiri, termasuk NU untuk melihat permasalahan-permasalahan yang muncul ke permukaan tidak sekedar dengan perspektif fiqh, tetapi dengan dimensi-dimensi lain seperti dimensi teologis, politis, ekonomis, dan historis, bahkan dengan meminjam wacana yang selama ini oleh kaum pesantren dianggap masuk dalam kategori “ilmu umum” seperti sosiologi, psikologi dan ilmu kedokteran. Akan tetapi tradisi ini belum dapat tersosialisasi secara merata kepada seluruh kalangan pesantren dan bahkan cenderung untuk tabayyun (klarifikasi) di dalam sesuatu masalah yang membutuhkan dukungan disiplin ilmu lain selain fiqh, sedang pembahasannya masih tetap dalam konteks fiqh, antara lain seperti hukum bursa efek, operasi ganti kelamin, penggunaan kontrasepsi, hukum kepala negara wanita, euthanasia, dan lain-lain.

    Pada era yang sama, pemahaman pintu ijtihad yang selama ini dianggap tertutup di kalangan pesantren juga telah mengalami perkembangan dengan melakukan langkah-langkah yang masuk dalam koridor ijtihad seperti taqlid manhaji (mengikuti suatu imam dengan menggunakan metode serta instrumen ijtihad dari imam tersebut), men-tarjih beberapa pendapat yang ada baik di dalam suatu lingkup pendapat imam tertentu yang ini memerlukan pengerahan kemampuan pikiran semacam ijtihad dalam tingkat permulaan (ijtihad bi al-madzhab), bahkan yang sudah dilakukan NU di dalam salah satu MUNAS-nya telah memutuskan sistem pengambilan keputusan secara manhaji sekalipun hampir belum pernah digunakan apalagi disosialisasikan di kalangan pesantren-pesantren NU.

    Hal terpenting dalam perkuatan wacana kitab kuning di pesantren dan NU adalah pengembangan lingkup kajian dengan tidak hanya memfokuskan pada wacana fiqh dan memperluas pada dimensi-dimensi wacana keislaman lainnya seperti yang terjadi pada masa keemasan Islam. Tidak kalah pentingnya dengan hal tersebut di atas, adalah pengembalian metode-metode pengajaran keilmuan yang dulu tidak monoton seperti yang menjadi kecenderungan di lingkungan pondok pesantren dewasa ini.

    Para ulama dahulu, di dalam menyampaikan ilmunya kepada santri menggunakan metode yang bervariasi, yakni bandongan, weton, dan sorogan yang sekarang, nama-nama tersebut masih tetap menjadi sebutan di lingkungan pondok pesantren yang pelaksanaannya hanya yang pertama saja, yakni bandongan. Ini berakibat hilangnya dorongan terhadap tingkat kreatif dan sikap kritis dari para santri karena pengaliran ilmu dari kiai ke murid hanya berjalan sepihak. Padahal, apabila digunakan sorogan santri lebih aktif dan sikap kritis mereka lebih berkembang. Imam Syafi’i sendiri dalam penyampaian ilmunya sering dilakukan dengan mendialogkan materi bahasan dengan muridnya seperti yang terjadi terhadap santrinya bernama Rabi’.
    Memang pada beberapa pesantren diadakan klub musyawarah santri sebagai wahana untuk mendiskusikan pelajaran yang telah diberikan oleh kiai untuk lebih menguasai dan memperkaya materi yang telah diberikan oleh kiai pada saat mengaji, namun ini hanya ada di beberapa pesantren dan nampaknya kurang efektif dan tidak efisien, sehingga memerlukan waktu yang berlama-lama bagi penguasaan sesuatu kitab tertentu.

    Disamping itu, praktik penerapan kurikulum pesantren yang selama ini lebih mengacu pada kitab, juga perlu mendapat perhatian, misalnya dengan membuat kurikulum yang mengaju pada tema bahasan (maudlu’).
    Paiton

    Penulis,

    Keterangan
    [1] Milenium: satuan waktu 1000 tahun
    [2] Ini barangkali erat kaitannya dengan perkembangan munculnya perkuatan madzhab oleh penganut-penganutnya di Timur Tengah, sebagai kiblat perkembangan Islam Indonesia, pada sekitar abad III H. dengan munculnya madrasah-madrasah di bidang madzhab tertentu seperti madrasah Uhadiyah Tsuna’iyah tsulatsiyah dan ruba’iyah (madrasah yang mengkaji satu, dua, tiga, atau empat madzhab

Leave a Reply

© 2010 Pergerakan Kebangsaan | Entries (RSS) and Comments (RSS)

Design by PK Semarang - Powered By Sanggar Kebangsaan